Babad Dalem A-II (Tjatera et.al, 1986)

Below follows Babad Dalem A, part II. dealing with Gelgel's genealogical history starting with Baturenggong's death, by Tjatera et.al (1986), p.30-61, see source below. To enhance readability, parts not pertaining directly to its contents have been omitted. Adaptations: Indonesian spelling, Brangbangan/Blangbangan > Blambangan etc. English translations and subheadings by G.Dijkman. You will find 'Babad Dalem A, part I' in the previous window. THIS ARTICLE IS UNDER REVISION.

Baturenggongs sons: 1) Pemayun and 2) Dimade (Seganing), still young, raised by their five uncles, children of Tegal Besung; Pemayun became the next king, with Batan Jeruk as his chief minister.

Baginda meninggalkan dua orang putra, tetapi belum dewasa. Yang sulung bernama Ida I Dewa Pemayun, adiknya bernama Ida I Dewa Dimade atau disebut juga Ida I Dewa Anom Seganing. Mereka diasuh oleh kelima orang pamannya, para putra Ida I Dewa Tegal Basung, yaitu Ida I Dewa Gedong Arta, Ida I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli dan I Dewa Pagedangan. Yang menggantikan baginda raja Dalem Waturenggong adalah Ida I Dewa Pemayun dibantu oleh para menteri seluruhnya dan didampingi oleh pamannya. Yang menjabat Patih Agung adalah Kriyan Batan Jeruk.

Conflicts arise as first minister Batan Jeruk is envious of Pemayun’s uncles.

Lama berselang datang pula masa huru-hura, timbul ketidakpuasan Kriyan Batan Jeruk, diselimuti oleh tiga sifat: loba, sesat dan angkuh. Itulah yang merasuk ke dalam jiwanya, ingin berkuasa sebagai seorang raja, karena sangat dendam kepada paman (pendamping) raja, timbullah huru-hara dalam kerajaan. Sedangkan Ida I Dewa Pamayun yang bertahta sebagai raja, dan adiknya Ida I Dewa Dimade keduanya belum dewasa, belum mengerti bagaimana caranya menghadapi serangan lawannya, sehingga Kriyan Patih Batan Jeruk tidak ragu-ragu lagi dan dengan tidak memperhatikan kekuatan pihak lain.

Batan Jeruk receives advice from Budhhist priest Astapaka about sitting positions in court of Pemayun and Seganing; his advice is ignored.

Adapun Kriyan Batan Jeruk, telah dinasehati oleh Sang Guru Budha (Danghyang Astapaka) ujarnya, "Janganlah Anakda menyamai raja (Dalem). Bila raja berada di balai-bali Anakda wajar duduk di bawah".

Mengapa demikian? Karena raja duduk di pangkuan, Ida I Dewa Pamayun di kanan, dan Ida I Dewa Anom Seganing di kiri. Kemudian baginda didudukkan di sampingnya, akhirnya baginda didudukkan di belakang. Itulah sebabnya Sang Guru Budha memberikan peringatan. Tetapi nasehat itu tidak diperhatikannya, bahkan hanya dibalas dengan harta benda. Kata Sang Guru, "Mana mungkin menjadi manusia. Tidak hendak saya melihat tingkah laku demikian, sebaiknya saya pergi saja dari sini".

[p.31] Percekcokan itu semakin memuncak, selanjutnya Kriyan Jeruk menentang kekuasaan raja serta menyerbu istana raja, bersama-sama dengan I Dewa Anggungan. I Dewa Anggungan ingin menggantikan untuk menjadi raja diikuti pula oleh Kriyan Pande, Kriyan Tohjiwa, karena Kriyan Pande satu keluarga dengan Kriyan Batan Jeruk, sebagai kemenakan dari sepupu, putra tertua Kriyan Dawuh Baleagung cucu Pangeran Akah.

AD 1556: War at Gelgel instigated by Batan Jeruk & Dewa Anggungan, against Kubon Tubuh and King Waturenggong’s brothers Gedong Arta, Dewa Padegang, Dewa Nusa and Dewa Bangli.

Timbullah pertempuran yang hebat di Kerajaan Gelgel, terkenal dengan perlawanan Kriyan Batan Jeruk, dan I Dewa Anggungan tahun Saka 1478 (AD 1556). Tidak diceritakan betapa hebatnya pertempuran itu, dan entah berapa lama pertarungan itu, hampir-hampir raja menderita kekalahan. Karena para menteri dan pejabat-pejabat berpihak pada Kriyan Batan Jeruk. Hanya Kyayi Kubon Tubuh masih tetap setia kepada raja. Dan keempat orang pamanda raja, yaitu I Dewa Gedong Arta, I Dewa Pagedangan, I Dewa Nusa, dan I Dewa Bangli.

Tersebutlah bahwa Kriyan Dawuh Nginte, yang bermukim di Kapal, mendengar berita bahwa Kriyan Batan Jeruk menentang kekuasaan raja, langsung ia (Kriyan Dawuh Nginte) memohon ijin kepada orang tuanya, hendak pergi ke Gelgel membantu raja menghadapi kekacauan itu. Setelah mendapat ijin ia pun berangkat memimpin pasukan rakyatnya Kriyan Patih Tuwa, dan selaku pucuk pimpinan dari para pejabat seluruhnya. Perjalanan Kriyan Dawuh Nginte diikuti pula oleh Kyayi Pandarungan, putra Kriyan Patih Tuwa. Tak terkatakan dalam perjalanan segera telah tiba di Gelgel.

Princes Pemayun & Seganing are captured.

Kebetulan kedua orang putra raja dapat ditangkap, ditahan di dalam istana oleh Kriyan Batan Jeruk. I Dewa Anggungan. Saat itu mereka yang terlibat dalam pertempuran sempat mengadakan perundingan. Maka para menteri yang semula memihak Kriyan Batan Jeruk digiring kembali untuk menentangnya, sehingga Kriyan Batan Jeruk amat jengkel dan dendam.

Segera Kriyan Kubon Tubuh tampil ke depan sebagai pemimpin pasukan bersama Kriyan Dawuh Manginte, diikuti oleh Kyayi Pinatyan, Kyayi Anglurah Tabanan, Kyayi Tegeh Kori, Kyayi Kaba-kaba, Kyayi Buringkit, Kyayi Pering, Kyayi Cagahan, Kyayi Sukahet, tidak ketinggalan pula Kyayi Brangsinga semua setuju dan mendukung keputusan perundingan tersebut. Serempak mereka masuk ke istana untuk membebaskan kedua putra raja yang sedang ditahan itu.

Kubon Tubuh safeguards the two princes, the princess is killed.

Kedua putra raja itu dapat diselamatkan oleh Kriyan Kubon Tubuh, segera dilarikan melalui lubang tembok, ke sebelah barat pasar, di rumah Kriyan Panulisan ke luar dari Pekandelan.

Tidak lama berselang, datang Kriyan Batan Jeruk, I Dewa Anggungan, mengamuk di Istana, diikuti oleh Kriyan Pande dan Kriyan Tohjiwa. Kriyan Batan Jeruk membabi buta, seorang putri raja yang masih berada di dalam istana adik dari Ida I Dewa Pemayun dan Ida I Dewa Anom Seganing, dipenggalnya. Tidak dihiraukan menghimbau mengharap belas kasihan agar tidak dibunuh akhirnya sang putri wafat tanpa perlawanan dan tidak menanggung dosa.

Demikian pula Kriyan Pande, hendak menghancurkan pintu gerbang,

[p.32] Kriyan Pande takluk sedangkan Kriyan Tohjiwa menjadi korban, terbunuh oleh Kriyan Manginte, tetapi tidak tembus oleh tombak yang bernama Barugudug, pusaka Kriyan Patih Tuwa.

Batan Jeruk is killed at Jungutan Bungahya.

Akhirnya Kriyan Batan Jeruk menderita kekalahan, ia pun minggat dari Gelgel menuju ke sebelah timur tiba di desa Bungaya, dikejar oleh pasukan bersenjata. Berkain Sudamala, berselimut (kampuh) lumut, bersuntingkan Bungahya, dikejar oleh pasukan rakyat Kriyan Nginte. Ia terbunuh di Jungutan Bungahya, sanak keluarga dan istrinya pecah belah pergi menyelamatkan diri, kemudian tiba di Watuaya Karangamla.

Dewa Anggungan surenders, ostracized from his family by his four brothers; his noble title is taken away, instead he is now called Sang Anggungan; he finds dwellings in Pulasari.

Adapun I Dewa Anggungan telah menyerah, namun dilepas dari hubungan kekeluargaan oleh keempat orang saudaranya, dan diturunkan derajat kebangsawanannya, tidak mendapat pengakuan sebagai keturunan kasta Ksatria, dan menjadi Sang Anggungan. Lagi pula pindah dari Gelgel menuju desa Pulasari setelah mengalami penurunan derajat kebangsawanannya.

Setelah Kriyan Batan Jeruk gugur, dan sanak keluarganya pergi menyelamatkan diri, tetap dikejar oleh pasukan bersenjata, Kriyan Bebengan, Kriyan Abyan Nangka, Kriyan Tusan, bersembunyi di bawah pohon jawawut, pasukan yang mengejar pun kembali. Karena terhindar dari bahaya maut, itulah sebabnya keturunannya berpantang memakan "jawa" dan "perkutut". Hentikan penuturannya.

AD 1560: Pemayun becomes King and assumes title Sri Aji Pemahyun Bekung; he is assisted by his younger brother Seganing as Bekung is deemend not smart emough.

Lanjut dikisahkan kedua putra raja itu telah dewasa, Ida Dewa Pemayun menggantikan tahta kerajaan, bergelar Sri Aji Pemahyun Bekung, pada tahun Saka 1482 (AD 1560). Dibantu oleh adiknya yaitu Ida I Dewa Anom Seganing. Sebab Sri Pamahyun Bekung kurang cerdas bila dibandingkan dengan adiknya.

Manginte, aka Gusti Dawun, becomes first minister to Bekung.

Kriyan Manginte ditetapkan sebagai menteri utama keturunan Arya Kepakisan, putra Kriyan Made Asak yaitu dua bersaudara Kriyan Asak dan Kriyan Nyuhaya. Kriyan Nyuhaya berputra Kriyan Patandakan, Kriyan Patandakan berputra Kriyan Batan Jeruk. Kriyan Manginte terkenal pula dengan nama Ki Gusti Dawun, kini disebut-sebutlah "ya Nginte", "ya Batan Jeruk".

Manginte shows magic signs: light from his fontanelle, his palms show cakra motifs.

Sebab setelah gugur Kriyan Batan Jeruk digantikan oleh Kriyan Nginte sebagai menteri utama, patih dari Sri Pamahyun Bekung, kembali menjabat patih seperti semula, bertempat tinggal di rumahnya Kriyan Batan Jeruk. Kriyan Manginte memiliki suatu keajaiban, yaitu keluar cahaya dari ubun-ubun dan telapak tangannya bergambar cakra, kentara masa ia menghambakan diri pada pangeran Kapal, di sana diperhatikan. Sebab dahulu ayahnya merantau dari desanya, pergi meninggalkan kakaknya, bermukim di desa Kapal. Demikian keterangannya.

Keamanan terjamin kembali, karena kebijaksanaan Kriyan Manginte sebagai Patih, tetap diberi julukan Kriyan Manginte, karena sebagai pengasuh raja disebut dalam kisah masa silam.

Lama-kelamaan tersebut pula bahwa Kriyan Pande menghadap kepada Sri Pemahyun Bekung, untuk memohon ampun, atas prakarsa Kriyan Manginte dan Kriyan Dawuh Baleagung ayah Kriyan Pande, yang tak terlibat karena kebijaksanaannya maka terlepas dari pengaruh buruk sepupunya. Permohonan Kriyan Pande dikabulkan dan raja pun merasa gembira olehnya, juga berkat permohonan Kriyan Manginte yang dengan setia melakukan pembelaan dahulu.

Kriyan Pande celebrates success in Sumbawa wars, but is wounded in battle; area east of Unda river is given to Manginte by the King, who finds a wife Sri Dewi Pamahyun.

[p.33] Akhirnya (Kriyan Pande) sering memperoleh keunggulan dalam peperangan, seperti di Sumbawa, satu perahu musuh itu hancur olehnya. Juga waktu musuh menyerang Bali di pantai Tuban, dengan perahu-perahu, terjadi pertempuran. Kriyan Pande tertembak, giginya rontok, dan peluru-peluru itu disemburkan dari mulutnya. Ia pun mengangkat senapan ujarnya," Semoga peluru ini mengenai musuh". Disambung oleh Kriyan Nginte, "Ya semoga berhasil. Saya memohon hadiah daerah sebelah timur sungai Unda semua!" Kriya Pande pun gembira, dan melepaskan tembakan. Banyak korban berguguran, musuh itu segera mundur. Maka daerah di sebelah timur kali Unda dimohon oleh Kriyan Nginte, raja menganugrahkan kepada Kriyan Pande. Raja amat gembira, sebab segala serangan musuh-musuhnya dapat digagalkan. Baginda pun tidak henti-hentinya bercumbu rayu di dalam peraduan, dan memperoleh seorang putri, ibarat penjelmaan Sanghyang Saraswati, bernama Sri Dewi Pamahyun.

King Bekung marries his second wife Samwantiga.

Kemudian raja (Sri Aji Bekung) menikah lagi dengan seorang putri bernama Ni Gusti Samwantiga. Raja amat cinta dan sayang kepadanya, selalu dipuja dan dipuji, karena sangat cantik, bagaikan bidadari Nilottama, manis budi bahasanya yang mempesona hati raja, tidak pernah lepas selalu berdua-duaan.

King Bekung falls out with his four uncles as they are related to (his fifth uncle) Anggungan; Bekung sends his four uncles off to remoter areas.

Pada masa Sri Aji Bekung bertahta di Gelgel, jalan pikiran beliau/baginda telah berubah, baginda tidak mau menerima pendapat-pendapat I Dewa Gedong Arta, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan, karena mereka bersaudara dengan sang Anggungan. Hal itu menimbulkan kecurigaan hati baginda dan memerintahkan mencari tempat tinggal di tempat lain, dengan pesangon berupa sawah dan ladang di mana pun tempat dituju. 

Oleh karena itu I Dewa Gedong Arta berserta istrinya pergi dari Gelgel menuju desa Manggis dan menetap di sana. Sedangkan I Dewa Nusa menuju desa Sibang serta putra-putranya. I Dewa Bangli meninggalkan Gelgel serta anak istrinya menuju Bangli sebab banyak sanak keluarganya dari pihak ibu di Bangli. Adapun I Dewa Pagedangan serta anak istri meninggalkan Gelgel, menuju desa Tohpati, sebab sama-sama tidak dicintai lagi olen raja bahkan diharapkan agar pergi jauh, itulah suatu sebab mereka meninggalkan Gelgel.

Kesudahannya raja mengalami kejatuhan, baginda tidak mengikuti almarhum Dewateng Enggong yang selalu memuja Sang Adhi Guruning Hyang.

The stories of ‘Ampik’ (a song) and ‘homa’ ceremony.

Adapun sebuah cerita seorang pencuri, dengan alasan dirinya ditanduk oleh sapi ia menderita luka, ia menuju kepada Sang Pendeta Wawu Rawuh. Karena hal itu, maka tercipta sebuah nyanyian dengan judul "Ampik". Lebih-lebih ada pula seorang mencari istrinya dengan tanda-tanda bekas bertengkar, berpura-pura saja dalam pertengkaran, ia bersembunyi di tempat pemujaan. Dilihat-lihat dijumpainyalah di sana. Itulah sebabnya tidak ada lagi yajnya "homa".

Chaos continues; Wawu Rawuh dies; his children are called ‘guru wesi’.

Masa kali Yuga semakin menjadi-jadi, raja-raja telah melalaikan darmanya "catur pariksa" (empat pedoman yang patut dihayati oleh pemimpin) juga Sang Pendeta Wawu Rawuh berpulang ke alam baka, terlepas dari penitisan kembali. Tinggallah Ida Wayahan Kulwan asal mula (ibunda) dari Deha, sebenarnya putra kedua (Made) menjadi Ida Wayahan setelah ditinggalkan oleh kakaknya yaitu Bhatareng Melanting.

[p.34] Dua orang lagi yaitu Ida Wayahan LorIda Nyoman Ler. Ada lagi yang lain yaitu Ida Wayahan WetanIda Nyoman Wetan dan Putri Ni Swabawa, ketiga orang itu putra lahir dari Keniten.

Lain pula yang bernama Ida Mas, karena Pangeran Mas mengaturkan seorang anak wanitanya, melahirkan Ida Mas. Ada lagi yang bernama Ida Patapan, lahir dari ibu seorang wanita abdi Pangeran Mas yang diperistri lalu lahirlah Ida Patapan. Sang Maha Pendeta Wawu Rawuh bersabda, "Ini anak-anakku sekalian, tidak boleh menyembah Si Patapan, sebab ia dilahirkan dari ibu berkasta Sudra".

Demikian pesannya. Dan mereka yang ditinggalkan, semua telah melaksanakan darmanya, serta dengan tenang melakukan kewajiban seorang pendeta. Tidak

ada kekurangannya, sebab telah menerima petuah dari almarhum Sang Maha Pendeta demikian, "Hai anak-anakku sekalian, agar anak-anakku semuanya disucikan (dikukuhkan) oleh kakakmu Wayahan Kilen. Sekarang kamu selain sebagai putraku juga menjadi "guru wesi" (cucu dalam penganut dharma)”, demikian nasehat beliau, para putranya semua mentaatinya.

Ida Talaga

Hanya Ida Talaga yang menolak, Sang Maha Pandita juga mengabulkan. Itu sebabnya Ida Talaga seorang pendeta berperilaku muda (walaka), namun mempunyai kepintaran luar biasa. Kata ayahnya, "Luar biasa kepintaran anakku, bila mempelajari ilmu pengetahuan, sambil berlari-lari, didapatkan pula oleh anakku". Ida Talaga dan Ida Buk Cabe, terpilih oleh raja (Sri Aji Bekung) dijadikan juru "gelung" (hiasan kepala), dan juru sembur (sembar). Ida memainkan akal upaya, maka diberitakan bahwa ia senang membeli sesuatu "apatung" tanpa membayar, sedangkan ia telah menyerahkan uang terlebih dahulu.

Kemudian Ngurah Pering menjual daging babi guling, Ida Talaga kebetulan datang ke sana. Maka Ngurah Pering, giat mengipasi babi guling itu dengan alas tempat duduk, karena terkenal Ida Talaga membeli tanpa membayar. Ngurah Pering pun berkat a, "Sudah saya kipasi dengan alas duduk". Jawab Ida Talaga." "Ya, apa boleh buat, hilang kedudukan Ngurah". Tiba-tiba yang mengipasi babi guling itu menjadi sakit perut karena kesaktian Ida Talaga. Bila Ida Talaga mandi di pancuran, air pancuran itu ditadah dengan mulut masuk ke perutnya kemudian air itu keluar dari dubur bercampur kotoran dan bila air yang keluar telah jernih, barulah Ida Talaga selesai mandi.

Kakaknya yang bernama Ida Swabawa menegur, katanya,"Mengapakah kamu tidak tetap pendirian, seperti orang lupa daratan? Bagaimana bila kamu disucikan (dikukuhkan) saja?" Jawab Ida Talaga,"Apa kelebihannya orang yang disucikan ("diniksan")? Apakah kanda akan mencapai sorga? Karena kandaseorang pendeta berasal dari manusia yang kurang sempurna?"

Akibatnya Ida Swabawa menjadi jengkel, ucapnya, "Benar seperti katamu. Kamukan laki-laki? Apa kemahiranmu?" Jawab Ida Talaga,"Bila Kanda tidak percaya saya menurunkan pohon sirih itu". Ada sepohon sirih yang menempel pada pohon kelor (sejenis tanaman pekarangan untuk bahan sayur). Segera pohon itu (pohon sirih) layu dan merambah di halaman. Gembira Ida Swabawa melihat kemampuan adiknya.

Ujarnya, “Benar-benar Kanda amat gembira, sekarang hentikanlah sirih itu demikian, agar ia kembali memanjat ke atas. Sekarang Kanda mengetahui ketinggian ilmu Adikku". Sirih itu segera dicipta kembali merayap seperti semula hidup segar oleh Ida Talaga. Kakaknya berkata," Kanda gembira, karena sirih itu kembali ke atas, Kanda saksikan atas kesungguhan Adinda".

Ida Talaga bermohon kepada kakaknya, "Bila kemudian saya mati, janganlah diijinkan untuk menghanyutkan". Suatu saat kemudian Ida Talaga berpulang, tinggal kakaknya perempuan, dan putranya bernama Ida Talagatawang.

[p.35] Pada saat pembakaran jenazannya, kali Unda itu pun banjir, semua debu jenazahnya hanyut karena perabuannya di sebuah delta sungai itu.

Demikian konon ceriteranya dan termuat dalam sebuah gubahan yang bernama "Teken Wara Marga" yang kemudian disambung oleh kakak perempuannya, "Duking wiku bangeran ika", juga tentang kegemaran Ida Talaga mengarang.

Ada pula salah seorang muridnya yang menunlis dimuat dalam karangan oleh Ida Telaga dengan judul ‘Ender’. Bahwasanya banyak karangannya yang ditulis seperti: 'Kidung Ranggawuni’.’Amertamasa’, ‘Amurwa Tembang’, ‘Patol’, ‘Wilet sih tan pegat’, ‘Sahawiji", ‘Rareng Taman’, ‘Rara Kadhura’, 'Kebo Dungkul’, ‘Caruk Mertamasa’, ‘Kakangsen’, 'Tepas’, itu semua karangan Ida Talaga. Sekalipun dioceh, beliau tidak malu-malu berterus terang saja, sekalipun diejek. Suatu saat Ida Talaga mengarang tentang istrinya Kriyan Pande, sedang hamil, beliau nyanyikan, jalannya berlenggak-lenggok, membawa waluh (sejenis labu) dan bakul jatuh terjungkir, seperti telanjang bulat kelihatan buncitnya. Suaminya marah-marah menjawab. Ida Talaga hanya tertawa.

Diceritakan pula tentang Ida Bukcabe, beliau menyamar untuk mencicipi suguhan makanan pemberian raja untuk Anglurah Agung. Beliau duduk di atas tanah di tempat ketinggian. Datang pelayan yang membawa makanan dari istana. Beliau menyapa,"Ke mana kamu bawa makanan itu?" Jawabnya: "Ini pemberian raja untuk Kyayi Agung". Ida Bukcabe berkata,"Ini kucicipi". Lalu diambil nasi itu segenggam dan lauk pauk sekaligus, dan dimakannya. Kemudian pelayan itu melaporkan kepada Kyayi Agung bahwa nasinya dimakan (dicicipi). Ki Gusti Agung rela katanya,"Sudahlah, beliau seolah-olah menghadiahkan amerta kepadaku". Hal itu segera pula diketahui oleh raja. Selanjutnya beliau yang memakan suguhan itu pergi menuju pedesaan. Ida Talaga berkata kepada Ida Bukcabe, "Bila tidak begini cara kanda lakukan, mustahil kanda hidup, karena memang sulit bergaul di istana". Ida Bukcabe menyetujui, beliau yang mengarang. "Mantri Kele" beliau batara Bukcabe yang bergeiar Padanda Kaniten. Kawin dengan seorang wanita dari Paksabali berputra Padanda Paksabali. Ida Sakti Talaga berputra Padanda Sakti Talagatawang. 

Tidak diceritakan lagi, para pendeta yang berhasil memiliki kesaktiani tujuh bersaudara itu. Bagaikan "sang Sapta resi" paras beliau, sama-sama mempunyai cara dan keahlian masing-masing, dan sang Bodha melaksanakan ‘Brata Kamahayanikan’ selengkapnya. Tidak ada cela perilakuannya dalam segala hal kependetaan masing-masing berpegang pada prilakunya. Demikian keadaan di Pulau Bali, yang selalu dikenang.

Manginte replaces King Bekung, too engulfed in amorous adventures; Seganing is the crown prince; Sumbawa and Lombok nearly manage to free themselves from Bali rule, Pasuruhan and Blambangan too; spikes of unrest are spreading.

Bahwasanya Sri Aji Bekung, hati baginda semakin bingung, lupa pada kewajiban, jarang menghadiri persidangan, tenggelam dalam keindahan bercumbu rayu di dalam peraduan [royal bed]. Yang memimpin persidangan-persidangan hanyalah Rakriyan Manginte yang menentukan baik buruknya pemerintahan, karena ia ditetapkan oleh raja untuk menjabat Patih Agung. Bersama-sama pula dengan Kyayi Pinatiyan, Kyayi Kubon Tubuh, dan para menteri terkemuka yang lain. Tidak ada lain yang diagungkan adalah Ida I Dewa Anom Seganing (adik Sri Aji Bekung) karena baginda menjabat raja muda.

Dalam keadaan demikian, Sasak (Lombok) dan Sumbawa, hampir melepaskan diri dari kekuasaan raja Bali, namun dapat digagalkan oleh Pangeran Nginte. Sehingga dapat dikembalikan menjadi kekuasaan raja Bali, hanya saja ibarat setitik api tersisip dalam atap alang-alang. [p.36] Demikian pula Pasuruhan, Blambangan.

Chaos arises; bickering, accusations and strife endanger the position of King Bekung; Telabah wishes to own Pande’s wife.

Akhirnya tibalah saatnya tiba masa huru-hara, kejahatan memuncak tuduh-menuduh, saling mencurigai satu dengan yang lain, tidak tertahan-tahan lagi. Para menteri saling bercekcok [quarrel], sangat berbahaya bagi kedudukan raja untuk selanjutnya memimpin negara. Dalam pada itu, ada seorang abdinya Kriyan Pande mempunyai istri, selalu dicemburui oleh Ki Gusti Telabah. Setelah suaminya meninggal, wanita itu dikuasai oleh Kyayi Pande. Lama-kelamaan Kyayi Telabah ingat kembali akan wanita itu, dan suatu saat diberikan nasi sisa makanannya oleh Kyayi Telabah, menimbulkan kejengkelan dan dendam hati Kyayi Pande. Sebagai suatu tanda Ki Gusti Telabah memberikan nasi sisa makan (‘carikan') dan kemudian Kyayi Pande mengetahui bahwa kekasihnya demikian, sangat dendam hati Kyayi Pande kepada Kyayi Telabah.

King Bekung’s wife Samantiga’s affair with Telabah, who is murdered by Pande.

Maka ia berusaha mencari akal, dengan membuat sebuah ‘bebadong’ (hiasan pundak yang sekarang biasa dipakai oleh penari), dengan hiasan permata yang indah-indah. Apa sebab demikian? Karena diketahui bahwa seorang istri raja yang bernama Ni Gusti Samantiga, diduga berhubungan gelap dengan Kyayi Telabah, dengan pertanda (Ni Gusti Samantiga) memberikan sebentuk cincin bermata batu merah yang tak ada bandingnya.

Pada suatu persidangan besar. Rakryan Pande menghadap dengan mengenakan ‘bebadong’ itu. Raja Sri Aji Bekung melihat dan berkata, "Menanyakan bebadong Kyayi Pande; Di mana Paman mendapatkannya?" Jawab Kyayi Pande, "Memang hamba membuat. Bila berkenan di hati paduka, hamba mempersembahkannya!" Jawab Sri Aji Bekung," Apakah yang tidak ada padaku? Paling-paling saya hanya menirunya. Maka carikanlah saya permata, yang pantas saya pakai!" Jawab Kyayi Pande,"Baik, Kyayi Telabah mempunyai sebentuk cincin, bermata mirah yang tak ada bandingnya kini sedang dipakai dan berada di halaman luar". Raja berkata, "Suruh untuk meminjamkan aku ingin tahu!"

Dipinjam oleh Kyayi Pande kepada Kyayi Telabah, dan cincin itu tidak diharapkan kembali. Cincin itu pun dipersembahkan. Raja terkejut. Teringat pada Ni Gusti Samantiga, diduga berhubungan gelap dengan Kyayi Telabah.

Raja bersabda, "Pertahankan saya, Paman Pande!"  Bagaimana pun caranya, menghapuskan rasa malu dan kecewa saya". Jawab Kyayi Pande, "Daulat Tuanku. Apa yang menyebabkan? Hamba tidak tahu! Sabda Raja, "Sudahlah mustahil Paman tidak tahu. Ini adalah cincinku. Durhaka Ki Telabah. Ini kuhadiahkan kepada dinda Samantiga. Kuduga jahat Ki Telabah kepada dinda Samantiga". "Baik, bila demikian, hamba mohon untuk membunuh Ki Telabah, sekarang juga".

Dalem bersabda," Janganlah demikian Paman. Sebab keluarganya besar. Rahasiakan pembunuhannya, aturlah siasat". Kyayi Pande tidak membantah, dan langsung pergi ke tempat pemujaan Warapsari (nama tempat dekat pura Desa), dan membuat serta mengucapkan ikrar [pledge, promise].

The Kings pledges: "If Pande kills Telabah, if I don't fulfull my promise, may the gods multiply my sins and end me [?]"

Ikrar Raja, "Yang mulia Dewa di gunung Agung, bila Ki Telabah mati oleh Kyayi Pande, bila saya mengingkari janji, agar betara melipatgandakan kesalahan saya, merghentikan hasil di atas dunia". Demikian sumpah raja.

Dijawab oleh Kyayi Pande, "Yang mulia dan tertinggi Dewa di gunung Agung, andaikata tidak terbunuh Ki Telabah berkat usaha saya, agar segala derita rakyat Bali semua saya yang menerimanya". Setelah masing-masing mengucapkan ikrar, mereka memuja bersama-sama. Raja kembali ke istana, Rakriyan Pande mohon diri kepada raja, tidak terkisahkan keadaan dalam istana.

Diceritakan kembali tentang Kyayi Pande telah tiba di rumahnya, dipikir-pikirkannya berjenis-jenis daya upaya, kerahasiaan siasat itu, menggunakan siasat 'Kamandaka’.

[p.37] Entah berapa lama berselang kemudian berhasil Kyayi Pande membunuh Kyayi Telabah dengan upaya yang licik, dengan melakukan penikaman, begini ceritanya orang yang disuruh menikam.

Capung is unharmed thanks to Pande’s trickery.

Adalah seorang abdi Kyayi Pande, keturunan Panasan, bernama Ki Capung. Untuk melakukan pengabdian kepada raja, maka ia menyamar bersanggul seperti wanita. Dahulu, ketika Ki Gusti Telabah berada di Kuta, ada seorang pelaut dihukumnya, disiksa, tidak sebanding dengan kesalahannya. Orang itu didekati oleh Ki Capung. Kemudian pelaut itu menuntun tangan Ki Capung masuk ke rumah Ki Gusti Telabah, pada waktu petang sedang samar. Tetapi Kyayi Telabah telah waspada dan berhati-hati, tidak lepas selalu membawa keris.

Demikian pula ketika hendak masuk ke dalam rumah berjalan mundur seperti udang, memegang keris terhunus yang bernama "Ki Tinjak Lesung". Tiba-tiba dihampiri oleh Ki Capung, segera ditikam dengan keris yang bernama Ki Kapalangsoka. Kyayi Telabah seketika membalas, menikam seraya rebah mengenakan pelaut itu. Kata Ki Capung, "Masuk Ki Kapalangsoka". Dibalas dan katanya, "Masuk Ki Tinjak Le...” belum selesai ucapannya, seketika ia mati.

Ternyata matinya bersamaan (berdampingan) dengan si pelaut. Sehingga Ki Capung kembali selamat dengan tidak mendapat suatu cedera, karena siasat telah diatur oleh Kyayi Pande. Demikian kisahnya dan Ki Capung menjadi bangga dan angkuh.

Setelah tiba kembali, segera mempermaklumkan kepada Kyayi Pande melaporkan tindak tanduknya, dan telah berhasil, maka Kyayi Pande pun sangat gembira. Tak terkatakan pujian Kyayi Pande, dan pada suatu saat Kyayi Pande lanjut melaporkan hal itu kepada raja, atas hasil yang dicapai. Raja amat gembira menerima laporan itu.

Chaos worsens; Capung is killed in the palace.

Panjang bila dikisahkan, karena suatu rencana yang telah terlaksana. Lama-kelamaan, tidak henti-hentinya tarikan zaman kali, negara semakin kacau, sanghyang Kala menganga hendak menghancurkan dunia. Kyayi Pande menjadi kecut, karena Ki Capung mati terbunuh akibat keangkuhannya, merasa diri terbiasa di istana, ia tidak waspada lagi pada pengawal-pengawal istana. Tahu-tahu Ki Capung memanjat tembok istana, pengawal istana saat itu tidak mengetahui orang itu adalah Ki Capung. Lalu ditombak, sekaligus ia mati jatuh terguling di tanah.

Dengan matinya Ki Capung, istrinya menangis menjerit-jerit, seraya menyebut-nyebut hal-hal yang rahasia. Antara lain yang diucapkannya, "Kini ternyata kamu mati. Untuk selamanya tidak ada seperti kamu. Mengapa Ki Gusti Telabah terbunuh. Bukankah kamu yang diutus oleh Ki Gusti Pande untuk membunuhnya? Kini kamu yang menjadi korban, berkat siasat Ki Gusti Pande!" Demikianlah ujarnya seraya menangis tersedu-sedu.

Pande is rumoured to have murdered Telabah; Capung’s wife is beaten and murdered at the market by Pande’s son Byasama; Telabah takes revenge and reminds the King of his oath; Lurah Kanca is granted the right to kill Pande, fearing Kanca’s large family.

Tersiar berita ke mana-mana, bahwa Kyayi Pande merencanakan pembunuhan Kyayi Telabah. Putra Kyayi Pande bernama Ki Gusti Wayahan Byasama, mendengar pula hal itu, dan menyuruh (istri Ki Capung) agar diam, namun tidak dihiraukan, bahkan semakin keras ia menangis sambil mengumpat. Kyayi Wayahan Biyasama sangat marah, segera istri Ki Capung diseret di dalam pasar, rambutnya dijambak dan dipukuli semakin keras tersebar kata-katanya di pasar.

[p.38] Akhirnya ditikam oleh Kyayi Wayahan Byasama, sehingga mati tergeletak di

tengah pasar. Itulah sebabnya berita itu bersambung tak putus-putusnya, sudah takdir timbul kekacauan, terdorong oleh kemurkaan Sanghyang Tolangkir. Pada akhirnya berita itu sampai pula pada Ki Gusti Lurah Kanca, keluarga dekat Ki Gusti Telabah. Timbul dendam yang tak tertahan, hendak mengadakan perlawanan kepada Rakriyan Pande. Lanjut mempermaklumkan kepada raja, memohon sumpah ‘Cor Pangrarata’ raja memperkenankannya. Apa sebab demikian? Mengingat bahwa keluarga Kyayi Kanca cukup besar. Demikian alasannya.

Pande sees the King; he is fearful of the oath regarding Telabah; Seganing follows the King's pledge; Pande fears he wil die.

Adapun Kyayi Pande telah mendengar kabar berita itu segera pula menghadap raja, mempermaklumkan, katanya, "Daulat Tuanku, bahwasanya akan diadakan persumpahan berkenaan dengan matinya Kyayi Telabah". Sabda raja, "Benar!" Sembah Kyayi Pande, "Apakah Tuanku memperkenankan?" Sabda raja, "Saya ijinkan. Sebab banyak keluarganya". Setelah itu, Kyayi Pande terdiam tanpa jawaban, dan mohon diri. Selalu dipikirkan di dalam hatinya, dan menyampaikan kepada puteranya.

Panjang bila hal itu diceritakan, kini menjelang tiba Hari Selasa Kliwon. Ketika itu, Ki Gusti Pande telah yakin akan tiba ajalnya, mengarang suatu nyanyian, ‘Nathamartha’, disambung oleh puteranya Ki Gusti Wayahan, dan lanjutannya disebut, ‘Yadin mreta ring Palugon’.

Ki Gusti Pande berkata, "Agar anakku menepati segala apa yang dirancang itu'" Jawab Ki Gusti Wayahan, "Mengapa demikian ayahanda. Seorang arsitektur membuat bangunan, mengapa tidak ditempati?" Kyayi Pande gembira mendengar jawaban putranya, serta memuji-muji.

Panjang pula bila diceritakan, kini menjelang tiba Hari Selasa Kliwon, Kyayi Pande diserbu dengan siasat peperangan, karena terbetik berita bahwa Kyayi Pande tidak ikutserta dalam persumpahan itu. Karena Ida I Dewa Anom Seganing mengikuti kehendak Kyayi Kanca, maka pada saat diadakan persumpahan Kyayi Pande tidak ikut besumpah. Demikian keterangannya.

Because of floods in the Unda, Pande in Gelgel is left helpless; he's attacked by Manginte and other officials, including Jelantik, instigated by Kanca.

Karena kesaktian raja, tiba-tiba kali Unda itu banjir, sehingga rakyat yang berada di sebelah timur kali Unda tidak kuasa membantu Kyayi Pande di Gelgel. Tak terbilang penuh sesak pasukan bersenjata menyerbu Kyayi Pande. Di antaranya Rakryan Manginte, Rakryan Abyan Tubuh, Kyayi Anglurah Tabanan, Kyayi Tegeh Kori, Kyayi Buringkit, Kyayi Kaba-Kaba, Kyayi Pandarungan, Pacung, Abyan Semal, Pegatepan, Cacaha, Pering, Cagahan, Camenggawon, Brangsinga, Jarantik.

Yang memelopori perjalanan itu tidak lain dari Kyayi Lurah Kanca. Penuh sesak pasukan bersenjata di Kerajaan Gelgel. Sebab para menteri masing-masing diikuti oleh pasukan-pasukan rakyat bersenjata, serta tabuh-tabuh di tiap penjuru, dan bedil berkelompok-kelompok. Gegap gempita sorak sambung-menyambung, di sela dengan bunyinya, ‘Ki Sekar Sandat’ yang tersimpan di taman ‘Warapsari’.

Pande tells his sons he’s going to die, as he feels tricked by the King who doesn’t fulfill his promise; Pande calls out to the gods at Gunung Agung.

[p.39] Ki Gusti Pande berkata kepada putra-putranya yang bernama Ki Gusti Plangpung, Ki Gusti Jalengkong, terutama kepada Ki Gusti Wayahan Byasama, ujarnya, "Anak-anakku, pasti ayah akan mati. Karena Ki Sekar Sandat yang tersimpan di Warapsari, telah bersuara, dan telah terkurung oleh siasat perang.

Tetapi, bila ayah tidak ke luar, ibarat mati di dalam perut. Tidak ada kesenangan lain lagi, sebab raja menghadiahkan suatu jalan untuk kemuliaan. Dan raja mengingkari perjanjiannya kepada ayah dahulu. Bila demikian kehendak raja, tepat bila disebut raja yang tidak bijaksana, takut kepada mereka yang besar warganya, tidak menepati aturan yang benar, biarlah disaksikan sekarang juga. Semoga raja tidak akan berhasil, dan semoga tidak berkeputusan kedatangan musuh terus-menerus hingga kemudian.

Wahai Yang Maha Pengasih, Paduka Bhatara di gunung Agung, yang menyaksikan dan mendengar ikrar kami, bersama raja dahulu di taman "Warapsari," setia sekata, sehidup-semati, berkat perintah raja terhadap saya untuk menghapuskan malunya. Ternyata saya derita seperti sekarang ini. Semoga berkenan paduka Bhatara memperhatikan sembah saya.

Pande asks his sons to investigate who of his followers ramain loyal, as he wishes to wage war; he asks his father Dawuh [Bale Agung] for his blessings.

Ki Gusti Wayahan menjawab, katanya, "Adakah manusia seperti saya akan mendurhaka mengingkari orangtua?" Kata Ki Gusti Pande, "Demikian itulah sungguh-sungguh Anakku. Sakarang tanya dan teliti pengikut-pengikut kita yang masih setia. Tetapi, jangan memaksa, jangan keburu nafsu, lakukan dengan selembut-lembutnya. Yang manakah boleh ikut? Baik-baik anakku memilih, jangan tergesa-gesa, agar tepat, untuk berperang habis-habisan". Ki Gusti Wayahan menjawab, "Segala perintah Ayahanda saya tidak membantah".

Kyayi Pande bertanya lagi, "Siapa gerangan yang berada di sebelah barat? Di selatan?" Jawab puteranya, "Yang bertahan di sebelah barat adalah Ki Gusti

Pandarungan. Di selatan, Ki Gusti Ngurah Bedamuka". Kata Kyayi Pande, "Kalau demikian terjang saja ke sebelah selatan. Sebab Ki Lurah Bedamuka dasarnya adalah seorang pemburu".

Selanjutnya Kyayi Pande mohon diri kepada ayahandanya. Kata Ki Gusti Dawuh, "Semoga kamu berhasil baik memperoleh kebahagiaan". Laugsung ia mohon diri dengan menyembah, diikuti oleh para cucunya sekalian, dan memuja menyatukan pikiran menurut ajaran Siwa.

Pande and his followers prepare for war; he calls on Siwa and Tri Purusa as he fears death.

Tersebutlah bahwa mereka telah bersiap-siap, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian putih yang halus. Mereka tidak hendak membunuh anak istrinya, terserah siapa saja yang berkenan mengikuti mereka. Bagaimana jadinya bila dilakukan pembunuhan pada rakyat? Jelas akan sengsara, bila melakukan pembunuhan terhadap wanita. Tujuan suci akan tersia-sia. Dan sembahnya ke hadapan Sang Hyang Siwa, "Wahai, Paduka Batara Siwa yang bersifat gaib, kini hamba mohon diri ke hadapan paduka Batara Tri Purusa. Saya akan mati, dan bila saya telah tiada berikanlah jalan untuk mendapatkan tempat yang layak. Sebab Paduka Batara bersifat Maha Besar dan Maha Halus, dan mengetahui salah atau benar perbuatan manusia, jauh dan dekat". Demikian permohonannya di dalam mencipta. Selanjutnya Kyayi Pande keluar dengan menggunakan ilmu "Sang Hyang Catur Winasa", serta senjata, dan pakaian yang dipersiapkan untuk pertempuran.

Pande sees his younger brother Anjarame, fearing death.

[p.40] Setelah tiba di luar rumah, dijumpai saudaranya yang bernama Ki Gusti Anjarame, ujar Kyayi Pande, "Dinda, tinggallah Adinda. Kanda mohon diri untuk mati sekarang juga". Jawab Ki Gusti Anjarame, "Ya, kalau keadaan begini kakak memberitahukan. Bila bersenang-senang cukup sendiri saja. Tetapi saya ikut, berjalanlah Kanda". Ki Gusti Anjarame masuk ke rumahnya seraya makan, sambil berdiri dengan kaki terbuka lebar. Kyayi Pande berjalan tanpa menoleh kiri-kanan, menyusur ke selatan, seperti tidak mengiraukan kesulitan yang dihadapi.

Anjarame follows his brother Pande to the south, scenes of heavy fighting ensue; Bedamuka flees, Anjarame is killed.

Adapun Ki Gusti Anjarame setelah makan, segera menyusul kakaknya, sambil mengamuk dengan ganas ke arah selatan, bergumul dengan sengit, tidak antara lama benteng di ufuk selatan dapat ditembus dan diterjangnya. Tak terbilang musuhnya yang berguguran, lain lagi yang menderita luka-luka, dan sebaliknya rakyat Kyayi Pande banyak pula yang menjadi korban, dan luka-luka, amat ramai pertempuran itu, campur-aduk, tikam-menikam dada, saling memenggal kepala, semua ingin mengabdi kepada tuannya, ada yang keluar ususnya, pantang mundur. Dengan rasa ikhlas Gusti Anjarame mempertaruhkan jiwaraganya, itulah sebab rakyatnya mengikuti ke arah selatan tanpa memperhatikan kanan-kiri. Terjadi pertarungan yang mengagumkan, debu berhamburan, diselimuti asap mesin, sorak-sorai [cheering, yelling] bertubi-tubi, di setiap tetabuhan [music with percussion] yang berderai-derai, ibarat ombak samudera memukul gunung, demikian umpamanya.

Bergerak-gerak Kyayi Pande, mengatur perlawanan laskar rakyatnya, dipelopori oleh Ki Gusti Anjarame, menuju arah selatan, Ken Anglurah Bedamuka dengan pasukannya serempak melarikan diri. Penyerangan Kyayi Pande berbelok ke barat, bersama ketiga orang puteranya, sebab Kyayi Anjarame telah gugur.

There is much resistance with all those wishing to serve their King; Pande remains strong.

Yang bertahan di sebelah barat Rakryan Pinatih, Rakryan Kubon Tubuh, serta rakyatnya ikut mengawal. Semua terdesak oleh Kyayi Pande. Tak terhitung mereka yang gugur antara kawan dan lawan, dan mayat bertumpuk-tumpuk. 

Selanjutnya mereka (Kyayi Pande) membelok ke utara, menyerbu pertahanan [resistance] Kyayi Tabanan, Tegeh Kori, Buringkit dan Kaba-kaba, bersama rakyat yang bertahan. Semua diterobos [penetrated, broken through] oleh Kyayi Pande, sehingga bersusun mayat kawan dan lawan. Amat ramai peperangan itu, karena terdorong niat para perwira itu untuk gugur di bawah duli [dust; expression in royal titles; the dust of your highness] yang dipertuan. Riuh suara ‘beri’ (sejenis gong) bersahut-sahutan dengan suara terompet. Panjang juga bila hal itu dikisahkan. 

Selanjutnya pasukan Kyayi Pande berputar ke timur, tetapi anggota pasukannya tinggal sedikit, dari jumlah 400 orang, tinggal 100 orang. Ada pun Kyayi Pandarungan, setelah melihat musuh mengamuk, maka ia memutar pertahanannya menjadi ke barat.

Cousins Pandarungan and Pande enter into a duel, Pande hits Pandarungan without consequence as Pandarungan is invulnerable to weapons; nevertheless, both cousins die in the duel.

Semula ia bertahan menghadap ke timur. Berhadapan dengan Kyayi Pande, dan mereka, Kyayi Pande dengan Kyayi Pandarungan bersaudara sepupu, karena Kyayi Pandarungan adalah putera Kyayi Kapal.

Sembari tersenyum, Kyayi Pandarungan menyapa, katanya, "Anda datang juga?" "Ya, saya datang juga". Ke mana tujuanmu? "Saya akan menghadap kepada raja. Kata Ki Gusti Pandarungan, "Ah Jangan. Bila saya telah mati, mungkin anda sampai ke istana". Kemudian kedua pemberani itu, saling mengacungkan ujung kerisnya di bawah susu [?] masing-masing. Kata Kyayi Pandarungan, "Tikamlah Paman lebih dulu!" Jawab Kyayi Pande, "Paman yang menikam saya lebih dulu!" Kata Kyayi Pandarungan, "Hai, kamulah yang harus menikam Paman lebih dulu!" Segera ditikam oleh Kyayi Pande, namun tidak tembus, karena kebalnya terhadap senjata.

"Keraskan, seperti menyabitlah caranya menikam Paman". Demikian perintah Ki Gusti Pandarungan. Seraya ditikam, disabit oleh Kyayi Pande. Setelah lukanya terasa oleh Kyayi Pandarungan, seketika ia membalas menikam Kyayi Pande, dadanya tembus, darahnya pun mengalir ke luar, keduanya gugur dalam perang tanding itu, Sang Hyang Atma menuju alam baka.

[p.41] Sorak-sorai gegap gempita, kedua belah pihak bertempur dengan sengitnya. Tidak terbilang mayat bertumpuk-tumpuk, ibarat bergunung mayat berlautan darah. Sedangkan Kyayi Anjarame, telah gugur mendahului di jalan raya.

Pande’s son Byasama manages to escape thanks to his father-in-law.

Sedangkan Kyayi Byasama, mampu meloloskan diri, dengan gagah berani menerobos masuk ke dalam pagar istana, bersenjata perisai dan pedang di tangan.

Ketika tiba di dalam, kacau balau berlarian orang-orang yang berada di dalam balai pertemuan itu. I Gusti Lurah Sidemen Hyangtaluh, sebagai pengawal balai pertempuran itu, adalah mertua dari Kyayi Byasama, katanya, "Biarlah kamu agar tidak terbunuh. Paman memohonkan ampun kepada raja, sedangkan ayahmu gugur untuk menebus dosanya".

Ki Gusti Byasama menjawab, "Tidak seorang pun menjadi baik, karena ulah mertua. Baik dan buruk hanya karena ayahku!” Selanjutnya ia mengamuk habis-habisan, menuju ke utara, ke timur, ke selatan dan ke barat, berputar-putar. Mayat-mayat bergelimpangan, setiap diterjang mengalami kekalahan, tidak ada yang mampu menghadapinya, juga karena dihalang-halangi oleh Kyayi Hyangtaluh, "Jangan ditombak, itu anak menantuku". 

AD 1578: Pande’s son Byasama dies along with Jalegog [Jalengkong] and Plangpung. All of Dawu Bale Agung’s grandchildren are now dead.

Namun para prajurit dan ksatria tidak mau menghiraukannya, sekalipun dicegat oleh keluarganya (Kyayi Hyangtaluh). Dikurung oleh pasukan pengawal yang bersenjata tombak, tiada berapa lama Kyayi Byasama gugur direbut dengan tombak, darah mengalir membasahi bumi persada, disambut oleh sorak gegap-gempita, pada tahun Çaka 1500 (AD 1578).

Karena gugurnya Kyayi Byasama, Ki Gusti Hyangtaluh jatuh pingsan, yang segera diusung. Sampai habis pasukan yang menyerang istana, raja (Dalem Bekung) tidak muncul ke luar, pintunya tetap tertutup, hanya Ida I Dewa Anom Seganing yang berada di halaman depan istana.

Adapun I Gusti Jalegog bersama I Gusti Plangpung, masuk ke dalam terowongan, karena kedua mereka itu hendak masuk mengamuk ke dalam istana. Tetapi tidak memperoleh arah, karena amat gelap. Kemudian, mereka pun keluar, dihadang dan direbut oleh pasukan istana. Berapakah kemampuan dua orang manusia? Kesudahannya [finally], mereka terbunuh juga. Hancurlah anak cucu Ki Gusti Dawuh Bale Agung. Riuh rendah tangis rakyat yang diam di sebelah timur kali Unda.

Pande is dead; he is praised as his people were loyal to him.

Hasrat mereka untuk membantu, tetapi terhalang oleh banjir yang dahsyat. Bila tidak banjir, mungkin hancur kerajaan Gelgel itu, hancur sampai dengan pejabat-pejabatnya, karena rakyat di sana amat setia kepada Kyayi Pande. Dulu, ketika ia masih hidup, Kyayi Pande amat menyayangi rakyat, tidak pernah memungkiri janji, jujur dan damai, tidak pernah durhaka, demikian peri laku Kyayi Pande dahulu.

Setelah hancurnya Kyayi Pande, raja pun gembira. Mayat-mayat yang berserakan diangkut ke kuburan. Dan mayat Kyayi Pande serta putera-puteranya yang gugur di dalam peperangan, semuanya dibakar oleh sanak keluarga mereka, dan abunya dihanyutkan ke lautan.

Manginte and Kanca survive the war.

Bahwasanya setelah gugur Kyayi Pande Basa di dalam pertempuran itu, Kerajaan Gelgel terasa sunyi-sepi. Karena banyak pula para menteri yang gugur berhadapan dengan Kyayi Pande dengan pasukannya. Hanya Kyayi Manginte, terhindar dari pertikaian senjata karena bertahan di timur laut. Di timur, Kyayi Kanca, juga terhindar dari serangan lawan.

Bali King refuses Bale Agung a position as royal scribe and philosopher; Bale Agung dies.

[p.42] Sedangkan Kyayi Dauh Bale Agung, setelah gugur anak-cucunya, ia sempat mengarang sebuah nyanyian yang bernama ‘Arjuna Pralabda’, dan tidak pernah melupakan menghadap raja, memohon pekerjaan tulis-menulis, karena ia seorang juru tulis filsafat-filsafat yang tinggi serta utama. Raja menolak, bahkan menyuruh kembali pulang, yang akhirnya Kyayi Dauh Bale Agung mohon diri. Lama-kelamaan Kyayi Dauh Bale Agung berpulang ke alam baka, tanpa bekas, menuju alam yang abadi.

Brangsinga cannot become the new husband for Pande’s pregnant widow, says Pinatih.

Adapun sang raja, segera mengirim utusan untuk mendapatkan Kyayi Anglurah Pinatih, membuntuti jandanya Kyayi Pande, sebab istri Pande sedang hamil. Dan putera Kyayi Bysama diasuh oleh Kyayi Pinatih. Utusan itu ialah I Gusti Brangsinga, segera tiba dan telah bertemu dengan Kyayi Pinatih serta menyatakan bahwa diutus oleh raja untuk meminta janda Kyayi Pande. Jawab Kyayi Pinatih, "Anda mempermaklumkan kepada raja, karena telah terlanjur begini ...” “Utusan itu pun mempermaklumkan perilaku Kyayi Pinatih. Raja terdiam, hanya merasakan dalam hati. [Demikian keterangannya]

AD 1580: Seganing becomes King; Bekung moves to Kapal.

Entah berapa lama raja yang menyuruh membunuh Kyayi Telabah bertahta, negara selalu kacau balau, hingga tampaklah kelmahannya. Para pejabat pun, segera membuat suatu perundingan, sehingga diangkatlah Ida I Dewa Anom Seganing sebagai raja, untuk memegang tampuk pemerintahan, pada tahun Çaka 1502 (AD 1580). Dan Dalem Pemahyun Bekung kemudian pindah dari istana, selanjutnya, berkedudukan di istana Kapal [Jero Kapal].

Brangsinga (Manguri Wiweka) becomes priest; he and Pring die.

Tersebutlah bahwa Kriyan Manguri Wiweka pendeta, Kyayi Brangsinga namanya yang lebih terkenal, ia berjanji hendak berpulang ke alam baka. Diejek oleh Ki Gusti Pring. Dilihat Ki Gusti Panyarikan sedang menyapu, "Mengapa Ki Gusti menyapu?" Jawab Kyayi Brangsinga, "Agar tidak terantuk kaki sanak keluarga yang akan melewat". Setelah selesai menyapu, seraya ia duduk, dilihat oleh Ki Gusti Pring, katanya, "Mengapa Ki Gusti merengut? Seperti babi yang garang, serta kuning rupanya?" "Mengapa rupa anda layu?" Jawabnya. Dan selanjutnya ia berpulang ke alam baka. Tidak diceritakan lagi mereka berdua itu, yang menganut ajaran Çiwa dan Budha, sama-sama kemahirannya, semua telah berpulang hangus oleh api kesaktiannya, dan dihanyutkan dalam ketinggian budinya.

Bekung is still madly in love with Samantiga.

Tersebut juga Sri Aji Bekung, semakin tergila-gila kepada Ni Gusti Samantiga, Ida Ender disuruh merayunya. "Wah, luar biasa sakit hatiku". Raja amat memuji Ida Telaga, pada saat-saat mengarang "Caruk amreta masa" itu, dan selanjutnya ditulis dalam karangan nyanyiannya. Raja berkata, "Pintar sungguh Pangeran Telaga, tetapi sayang gila-gilaan".

Jelantik’s father reincarnates into a leech and instructs his son to die in combat.

Kini I Gusti Jelantik diceritakan, sangat sedih atas kematian ayahnya yang dosanya karena mendurhaka terhadap guru, menitis [reincarnates] menjadi ‘lintah’ [leech]. Dan kematiannya melalui jalan terjun ke dalam api unggun. Ki Gusti Jelantik bertanya kepada ayahnya, memohon suatu cara untuk melebur dosanya dan itu pun diperkenankan. Ayahnya memberi petunjuk kepada I Gusti Jelantik agar melepaskan/ membebaskan ikatan dosa itu dengan jalan gugur dalam pertempuran. Maka terciptalah karangan yang berjudul: ‘Dalu dening kadalurung’, yaitu karena menurut hawa nafsu.

[p.43] Ki Gusti Jelantik melakukan pemujaan di sebuah tempat pemujaan ‘Cungkub Karoting’. Di sana ia memperoleh wahyu sabda Hyang Suksma, "Pulanglah kamu Jelantik, terkabul permohonanmu!" Demikian sabda angkasa, Ki Gusti Jelantik sadar dan langsung pulang.

The King tells Jelantik to go to Blambangan in order to destroy Pasuruhan; he leaves his pregnant wife behind.

Kemudian titah raja, "Hai kamu Jelantik, kini hendak kukirim kamu melakukan penyerangan ke Blambangan untuk menggempur Pasuruhan". Jawab Ki Gusti Jelantik, "Dengan amat gembira hamba "menjunjung titah Tuanku!". Setelah itu sama-sama pulang menuju rumahnya masing-masing, dan Ki Gusti Nginte menyetujui sabda raja.

Tiba saatnya Ki Gusti Jelantik untuk berangkat, maka berpesan kepada istrinya, "Selamat tinggal Adinda. Kanda mohon diri pergi untuk selamanya. Dan kini Adinda sedang hamil, semoga lahir anak laki-laki suatu kebahagiaanku". Istrinya amat duka cita. Ki Gusti Jelantik lanjut mohon diri kepada raja, "Bila hamba tidak kembali, sekaligus hamba mohon diri". Sabda raja, "Hati-hati, mustahil hal itu terjadi".

Jelantik dies on the battlefield, redeeming his father’s sins.

Dengan tidak banyak komentar, Kyayi Jelantik pun berangkat diiringi kurang lebih oleh 20.000 orang pasukan bersenjatakan sumpitan, bedil selengkapnya. Bertolak dari pantai Kuta, tiga hari dalam perjalanan, tiba di Panarukan Jawa, ketika hendak mendarat pisau tulisnya jatuh ke laut, tertancap sampai ke dasar samudera.

Sewaktu bertolak dari Kuta lautan seakan-akan terbagi dua, namun laju diarungi. Sekalipun demikian, tidak diperhatikan olehnya karena kesigapannya untuk bertempur, kemudian selama dua hari mendarat di hutan Panarukan, cukup perbekalan, sebab Blambangan menyiapkannya. Setelah itu, tiba di Pasuruhan, pertempuran pun terjadi bagaikan hutan lebat, senjata tombak yang pendek berhadapan dengan senjata yang sama, tombak dengan tombak, sumpitan dengan sumpitan, tak terkatakan suara bedil itu, seperti alang-alang yang terbakar suaranya. Rumput dan semak-semak hancur, karena peluru-peluru berbisa, belalang berhamburan seperti dihamburkan dan dihalaukan. Tiba-tiba Kriyan Jelantik terjebak, karena lawanya berjumlah besar. Seperti matahari yang terbit redup diseliputi awan, di sela dengan cahaya senjata. Pergulatan terjadi, tikam-menikam, tak ada yang menyerah, tombak dan sumpitan bercampur tak beraturan. Mayat berjejal-jejal, ada yang berserakan di tegalan-tegalan, lain lagi bangkai kuda dan gajah, ada yang mendengus menjelang kematiannya.

Dalam keadaan demikian, Ki Gusti Jelantik menyadari bahwa ajalnya akan tiba, mengambil tombak serta melepaskan senjatanya, ia pun menyatukan ciptanya, kemudian sebelah tangannya kena senjata, disergap dikeroyok, tangan kanan luka pula, lalu ia bersikap sebagai seorang satria yang perkasa. Selanjutnya direbut oleh musuhnya, Kyayi Jelantik pun gugur, segala dosa ayahnya telah tertebus. Wajar hal itu dijadikan suri tauladan, oleh siapa pun yang melaksanakan ‘dharma’ di dalam pertempuran, selaku pengabdian untuk menebus dosa leluhur.

Many Balinese soldier are hunted down and killed: revenge for the death of Bambangan King Juru; other manage to flee.

Setelah gugur Kyayi Jelantik [dan] pasukan rakyat Bali berlarian tunggang-langgang, ada yang bersembunyi ada pula yang terperosok ke dalam jurang yang penuh dengan lumpur, bersembunyi di semak-semak, ibarat kematian seekor musang, sebab dikejar oleh musuhnya, dicari-cari di dalam tempat-tempat yang sukar di dalam gua, setiap yang didapatkan mengejar langsung dibunuh karena membalas dendam atas kematian Sri Juru, yang dipenggal oleh orang-orang Bali dahulu. Sedangkan mereka yang dapat meloloskan diri dari pertempuran itu langsung berlari menuju perahunya. Suara tabuh-tabuhan gegap-gempita, suatu pertanda kemenangan. Tidak dilanjutkan ceritanya setelah gugurnya Kyayi Jelantik.

[p.43] Tersebutlah mereka yang dapat lolos kembali ke Bali, sudah tiba di Gelgel dan memberikan laporan/kabar. Riuh rendah tangis mereka di Gelgel, terutama duka cita para istri yang menjadi janda, sampaikan kepada Kriyan Manginte, Kriyan Manginte mempermaklumkan kepada raja.

Sabda Dalem, "Ah, Ki Jelantik mesti menang, mana mungkin ia dikalahkan musuh?" Raja menjadi amat bingung karena gugurnya Kyayi Jelantik. Suasana kerajaan Gelgel mengerikan, Kyayi Nginte terkejut dan sedih, tidak mengerti apa yang harus dikerjakan.

Jelantik’s son is born at Gelgel and is named Bogol (unarmed).

Lama-kelamaan sesudah itu, duka cita raja telah musnah, dengan lahirnya putera Kyayi Jelantik, sebab meninggalkan istri yang sudah hamil. Seorang anak laki-laki yang berparas tampan, segala upacaranya diselenggarakan oleh raja, demikian pula jaminan hidupnya. Anak itu diberi nama Ki Bogol, karena ayahnya ketika di Jawa dahulu, menanggalkan senjata, berperang tanpa senjata ("mamogol").

After Manginte’s death, his oldest son Agung Widya takes his place as first minister.

Entah berapa lama berselang, Kyayi Nginte meninggal dunia, meninggalkan dua orang putera, yang tertua bernama Kriyan Agung Widya, adiknya bernama Kriyan Kaler Prandawa, kedua puteranya itu menggantikan Kyayi Nginte, rakyatnya dibagi dua, sebagian lebih untuk puteranya yang tertua. Juga Kriyan Agung Widia diangkat sebagai Kepala Menteri, dan Kriyan Kaler Prandawa menjadi demung [chief, in drama?].

AD 1525: the Bajo in Lombok are defeated; AD 1540: Sumbawa is brought under Balinese rule once more.

Ketika Sri Aji Anom Seganing bertakhta sebagai raja, tampak menyala-nyala kewibawaannya dalam pemerintahan Beliau seorang pemberani, berakal cerdas dan pulau Bali pun sentosa, kemauan terjamin kembali. Negara makmur, laut dan gunung tak ada kurangnya, kewibawaan beliau memenuhi Tri Bhuana. Maka suku bangsa Bajo yang berada di Lombok dapat ditaklukan pada tahun Çaka 1447 (AD 1525). Demikian pula Pulau Sumbawa dikuasai kembali oleh Raja Bali pada tahun Çaka 1452 (AD 1540).

Lama-kelamaan Ki Gusti Pinatih menentang pemerintahan Raja Bali, namun dapat diatasi oleh Ki Gusti Agung Widya. Kata Ki Gusti Agung, "Apakah ia bingung? Menentang kekuasaan raja? Akan kubunuh!" Ki Gusti Pinatih pun ketakutan.

Kaler [Prandawa] begat nine sons, amongst whom Gusti Penida and Gusti Sampalan.

Kemudian dengan menggunakan kekerasan raja memenuhi tuntutan nafsu blrahinya. Istri Ki Gusti Kaler digaulinya, yang nantinya melahirkan Ki Ngurah Mambal. Para putera Kyayi Kaler sembilan orang, yang tertua Ki Gusti Penida, Ki Gusti Wayahan Kamasan, Ki Gusti Ktut Kamasan, Ki Gusti Sibetan, Ki Gusti Sampalan, Ki Gusti Tambesi, Ki Gusti Teges, Ki Gusti Ubud, Ki Gusti

Basang Kasa. Perempuan lima orang, seorang menjadi isteri raja, kawin ke Sidemen seorang, ke Sukahet seorang, ke Bontiris (Bonnyuh) seorang dan ke Tambahan seorang.

Sedangkan Kyayi Agung berputera laki-laki lima orang, yang tertua Kyayi Kedung, Kyayi Kalanganyar, Kyayi Batulepang, Kyayi Basang Tamyang, Kyayi Karangasem tetapi bukan Batan Jeruk. Perempuan tiga orang, Ni Gusti Bakas, Ni Gusti Kacang Pawos, Ni Gusti Mimba.

Sekali pun raja melakukan kekerasan dalam memenuhi hawa nafsu, menggauli istri orang lain, bahkan I Gusti Kalermemaklumi istrinya digauli, namun ia menjadi gembira. Dan berkata, "Beliau bukan buruk, beliau sangat pemurah kepada saya". Ki Gusti Mambal sangat disayanginya (oleh Ki Gusti Kaler).

[Adapun Sri Aji Anom Seganing amat banyak istri dan anak-anaknya, namanya satu persatu, tertua Ida I Dewa Anom Pemahyun, adiknya Ida I Dewa Dimade, kedua-duanya beribu Ki Gusti Ayu Pacekan putri Kriyan Agung Prandawa, dan satu orang perempuan bernama Ida I Dewa Rani Gowang. Seorang bernama I Dewa Karangasem, termasuk putera utama.

[p.45] Putera-puteranya yang lain, I Dewa Cawu, I Dewa Belayu, I Dewa Sumerta, I Dewa Pamergan, I Dewa Lebah, I Dewa Sidan, I Dewa Kabetan, I Dewa Pasawahan, I Dewa Kulit, I Dewa Bedahulu. Ada lagi putra raja yang bernama I Dewa Anom Manggis, Kyayi Barak Panji berhasil memperoleh kebesaran.

Raja Sri Seganing sangat lama bertakhta, sampai umurnya amat lanjut. Kemudian I Gusti Kamasan menikah, mohon ijin kepada raja bersama-sama dengan isterinya. Raja bersabda, "Semoga kemudian lahir seorang puteri, persembahkan padaku". Jawab Ki Gusti Kamasan, "Segala titah Tuanku, patik junjung tinggi".

During the last period of Seganing’s rule, Kamasan’s daughter Ayu Selat is given in marriage to Seganing’s son Dimade; their son would be called Agung Pemahyun; the latter married his cousin (once removed; she was his dad’s cousin) Dewi Pemahyun, Bekung’s only daughter in AD 1623.

Harapan raja tidak sia-sia, ternyata kemudian lahir seorang putri diberi nama Ni Gusti Ayu Selat, mempunyai paras yang cantik molek tak ada bandingnva, dipersembahkan kepada raja seperti perjanjiannya dahulu. Setelah sang puteri dewasa, raja telah tidak mampu memperisteri karena telah amat tua. Maka Ni Gusti Ayu Selat diperisteri oleh Ida I Dewa Dimade yang nantinya melahirkan Ida I Dewa Agung Pemahyun yang dianugrahi sebilah keris bernama Ki Gelap oleh buyutnya [great-grandfather] yang bernama Kriyan Agung Prandawa. Demikian pula putra raja yang sulung yaitu Ida I Dewa Anom Pemahyun telah menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Sri Dewi Pemahyun satu-satunya puteri Sri Aji Pemahyun Bekung. Mereka dinikahkan pada tahun Çaka 1545 (AD 1623).

Setelah lama mereka yang ibarat Sang Hyang Smara dan Ratih menikmati hidup bersuami isteri, kemudian lahir dua orang putera, sama-sama tampan wajahnya, bagaikan ketampanan Dewa Aswino (Dewa Kembar). Yang sulung bernama Ida I Dewa Anom Pamahyun seperti nama ayahnya, adiknya bernama Ida I Dewa Anom Pemahyun Dimade[Hentikan sejenak.]

AD 1623: King Bekung moves to Kapal; later he would reside in Purasi.

Demikianlah, bahwa setelah Sri Agung Pemahyun Bekung turun dari takhta, kemudian pindah dari istana Kapal, di Gelgel, menuju ke Desa Purasi karena tidak kuasa terlalu lama menahan duka cita dan murung. Beliau pun bersemayam [reside of royalty] di Purasi. Selanjutnya sempat beliau membangun sebuah pura tempat pemujaan. yang kemudian dianggap Pura Dalem pada tahun Çaka 1545 (AD 1623).

Tiba-tiba datang menghadap Ida I Dewa Anom Pemahyun, membawa suatu perintah yang harus disampaikan kepada beliau (Dalem Bekung), serta usungan dan para pengiring yang besar jumlahnya, diperintah oleh ayahnya (raja Gelgel) untuk menjemput agar Sri Aji Bekung berkenan kembali ke istana Gelgel.

"Ampun tuanku junjungan hamba, hamba disuruh menjemput Sri Paduka Tuanku agar kembali ke istana Gelgel, oleh yang dipertuan Sri Aji Seganing adinda Paduka Tuanku. Agar berkenan pula Paduka Tuanku bersemayam di istana Gelgel kembali, di tempat saya sekarang. Apalagi sekarang Paduka Tuanku telah mempunyai cucu tercinta, dan berkenan kiranya Paduka Tuanku berada dalam asuhan saya. Curahkanlah cinta kasih Paduka Tuanku kepada kami. Setia bakti saya tidak ada bedanya dengan setia bakti putri Paduka Tuanku, Dinda Dewi Pemahyun. Ia juga mempersembahkan panganjali ke hadapan Paduka Tuanku. Ternyata dengan air mata yang mengalir di pipinya benar-benar menghancurkan kalbu".

Setelah itu, dengan hati gembira, Sri Aji Bekung kembali ke istana Gelgel bersemayam dalam asuhan menantunya [son-in-law] Ida I Dewa Anom Pemahyun, di istana ‘Jero Kapal’.

King Bekung is welcomed once more at Gelgel by his younger brother Seganing; Bekung meets his twin grandchildren. He tells the two boys one day they would rule Bali; Bekung passes away.

Demikian pula tak terkatakan gembira hati Sri Aji Seganing berkat kakaknya, dan para menteri semua menyetujuinya, dan dengan hati yang tulus ikhlas menjemput kehadiran Sri Aji Bekung yang baru saja kembali. Juga amat suka cita Sri Dewi Pemahyun dengan kedua orang puteranya, pertemuan buat pertama kali, dan betapa cinta kasih dan kemesraan beliau yang mempunyai cucu (Sri Aji Bekung). Sehingga bersabdalah Sri Aji Bekung (raja tua) kepada cucu-cucunya demikian, "Wajib kamu di kemudian hari bertakhta sebagai raja Bali". Apa yang diikrarkan oleh Sri Aji Bekung disetujui oleh adiknya yaitu Sri Aji Seganing dan didengar pula oleh Kyayi Nginte, para menteri yang lain, yang kebetulan sedang menghadap raja. Entah berapa tahun berselang, tiba saatnya Sri Pamahyun Bekung berpulang ke alam baka.

AD 1650: Lurah Singarsa and a priest meet with King Seganing; Singgarsa offers (his daughter?) Sapuh Jagat as future wife to the King’s grandson (Dimade?); King Seganing accepts the offer.

Lama kemudian Kyayi Lurah Singarsa, bersama pendeta (Bagawanta) menghadap untuk memohon restu kepada Sri Aji Seganing, pada Hari Rabu, Kliwon, Dungulan, pada hari ke-5 bulan Asuji (ke-3) Tahun Çaka 1572 (AD 1650) di istana Gelgel, di dalam persidangan para menteri.

“Hormat hamba ke hadapan Sri Paduka Tuanku. Hamba ini Ki Lurah Bang (Singarsa) menghaturkan sembah, sebab Ki Sapuh Jagat sudah tampak gadis jelita. Bagaimana maksud Tuanku? Bila Tuanku berkenan, biarlah untuk menjadi Permaisuri cucu Tuanku, semoga dapat diterima tanda setia bakti hamba, dan bahwa benar-benar dari lubuk hati hamba yang dalam ingin menjunjung tinggi Paduka Tuanku".

"Oh, begitu Paman? Baiklah kalau demikian, agar ada pula anugerah prabawaku kepada Paman. Itulah dia cucuku Dimade, agar memperisterinya”. Demikian sabda raja seraya tertawa gembira. Suasana persidangan menjadi gembira, disela oleh tertawa para menteri.

Raja bersabda lagi, "Itu amat baik. Karena Paman seorang terkemuka sebagai pembelaku. Apalagi ayahnya (Ida I Dewa Anom Pemahyun) sebagai penguasa daerah Singarsa. Wajar Paman sangat kasih sayang kepadanya, hanya saja kini belum pantas untuk berkeluarga. Nanti bila ia telah cukup dewasa saya merestui permintaan Paman!"

Dan bila hamba tidak terlalu malang, juga berkat anugerah Paduka Tuanku, agar memperoleh kesatuan dalam melaksanakan upacara/kehidupan sampai dengan kemudian pengganti-pengganti hamba yang dilantik sebagai anglurah Sidemen, tetap menghamba ke hadapan Sri Maharaja".

Persidangan itu terdiam, kemudian raja mengalihkan percakapan kepada pendeta istana seorang yang memiliki keluhuran budi yaitu Pedanda Peling, keturunan Sang Wawu Rawuh, "Oh Sang Pendeta, adakah kebenarannya, dan apakah dosanya/ keaibannya bila demikian?"

"Ampun Sri Maharaja, alihkan pandangan Tuanku kepada leluhur-leluhur kita terdahulu, yaitu sang pendeta empat bersaudara. Ternyata ia (Anglurah Singarsa) adalah sebenarnya keturunan Brahmana Mpu Sidimantra. Kini sudah dilantik sebagai Menteri atau kepercayaan Sri Maharaja, seperti kedudukan seorang kesatria yang berwibawa pula. Maka wajarlah seperti permohonannya Ki Lurah Singarsa, tetapi hanya satu-satunya yang lahir dari Anglurah saja, dan yang telah diwisuda/ dilantik untuk menduduki jabatan Anglurah, memperoleh anugerah dari Sri Maharaja.”

Raja merasa lega, dan bersabda, "Duhai Paman (Anglurah Singarsa) baiklah kalau demikian, tetapi hendaklah Paman selalu menjaga dan menghormati cucuku Dimade sampai dengan keturunan-keturunannya, lahir dan batin, demikian pula warga Paman turun-temurun, agar benar-benar setia sampai mati.

[p.47] Biia salah satu warga Paman tidak menyetujuinya, semoga ia tidak memperoleh selamat, tidak berhasil dalam karyanya, serta memperoleh neraka, dan demikian selanjutnya".

"Ampun Tuanku, segala titah Tuanku hamba junjung tinggi. Dan kini Tuanku, perhatikanlah setia bakti hamba menghamba sampai dengan menjelma kembali Sang Hyang Siwa Raditya sebagai saksi abadi. Juga Sang Hyang Suksma menjadi saksi ketulusan hati nurani hamba". Selanjutnya Kriyan Wang Bang Lurah Singarsa melakukan pemujaan dan menyembah ke hadapan raja. Sejak saat itu, Kriyan Lurah Singarsa bersama Ida I Dewa Anom Pamahyun mendudukkan Mpu Sakaton (Ida Padanda Gde Wayahan Burwan) sebagai Bhagawanta (pendeta Raja).

Juga apa sebabnya Mpu Dang Hyang Sakaton menetap di Sidemen, berkat ijin dan perkenannya raja, sebagai Bagawanta putra baginda yang bernama Ida I Dewa Anom Pemahyun, yang menguasai daerah Sidemen sejak tahun 1563 Çaka (AD 1641). Beliau seorang pendeta sakti serta penasehat dalam persidangan dan sebagai pendeta istana.

Dan Sang Singarsa (pedanda Singarsa) pindah ke arah barat laut karena beberapa lama belum ada yang disucikan sebagai seorang pendeta. Dengan suka rela beliau diam di Desa Muncan, menetap di sana dengan berkecukupan, mempunyai kedudukan yang kuat, berkat anugerah raja Sri Aji Dalem Seganing. Adapun pura pemujaannya diserahkan kepada Dahyang Sakaton serta dana buktinya.

Prandawa asks King Seganing for Anom Pamahyun (Mengwi) to become the crown prince.

Tersebut pula, bahwa Kyayi Prandawa, yang berkedudukan sebagai patih kepercayaan raja Dalem Anom Seganing juga bermohon kepada raja, memohon cucu baginda agar ada yang memimpin di daerah Mengwi, setiap daerah mempunyai pemimpinnya, maka cucu baginda yang tertua yang bernama Ida I Dewa Anom Pamahyun, seperti nama ayahnya, dalam usia muda remaja pindah ke Mengwi tahu Çaka 1580 (AD 1658), bertepatan dengan saat-saat ayahnya (Ida I Dewa Anom Pamahyun) mendirikan rumah (pasanggrahan) di Sidemen dusun Melayu (sekarang: Ulah) di sebelah barat asrama Sang Sri Seganing, usianya sudah amat lanjut, maka putranya yang sulung bertindak sebagai raja muda di Kerajaan Gelgel.

Agung Widya dies before Seganing; he is subsituted by Kedung as first minister (Patih Agung). Kyai Di Ler hands over his position to Kyai Penida.

Adapun Kyayi Agung Widya telah berpulang mendahului Sri Aji Seganing. Digantikan oleh puteranya bernama Kyayi Kedung menjabat Patih Agung. Kyayi Di Ler, juga sudah amat tua, menyerahkan jabatan kepada anaknya yaitu Kyayi Penida sebagai penggantinya. Kyayi Agung Kedung tidak memperoleh keturunan, maka ia mengangkat putera Kyayi Kalanganyar yang bernama Kriyan Agung Maruti Dimade. Juga mengangkat puteranya Kriyan Batulepang bernama Kriyan Buringkit yang bergelar Kriyan Agung di Badung.

AD 1664: Singarsa asks King Seganing for the king’s grandson Anom Pamahyunan Dimade to reside at Sidemen.

Lama-kelamaan Kyayi Lurah Singarsa menghadap pula raja Sri Aji Seganing. Memohon seperti permohonannya dahulu, yaitu Ida I Dewa Anom Pamahyunan Dimade agar menetap memimpin daerah Sidemen, sebab pesanggrahannya telah selesai, pada tahun Çaka 1586 (AD 1664).

AD 1665: King Seganing dies; Singarsa’s request cannot yet be complied with.

[p.48] Tetapi permohonan itu belum terlaksana, telah mendahului beginda Raja Sri Aji Anom Seganing berpulang ke alam baka pada tahun Çaka 1587 (AD 1665). Pada sasih "Magga", panglong 13, Hari Rabu, Wuku Sinta, menjelang pagi, sangat duka cita seisi istana. Setelah reda sedu sedan sedih dan murung di istana, dan kehancuran hati sanak keluarga serta rasa pilu dan kecewa telah musnah, kemudian diselenggarakan upacara "Pelebon" dan "Panileman".

Anom Pamahyun becomes king; he appoints Kubon Tubuh as his chief minister.

Setelah wafat Sri Aji Seganing, digantikan oleh puteranya yang sulung,termasuk putra ulama pula, bergelar Dalem Anom Pamahyun, yang juga telah mendapat persetujuan dari Raja Dalem Bekung dan Dalem Anom Seganing. Demikian kesan para menteri dan pejabat-pejabat semua.

Dalam keadaan sedemikian, Baginda Dalem Anom Pamahyun berusaha mengangkat keturunan Kriyan Kubon Tubuhuntuk menjabat Patih Agung, karena pengabdiannya yang tulus ikhlas dan terus menerus sejak dari leluhurnya dahulu. Kriyan Tangkas sebagai Patih Muda, Kriyan Brangsinga sebagai sekretaris. Semua para menteri beliau ganti dan segenap warga pasek dikembalikan untuk memegang jabatan seperti semula.

Unrest instigated by Agung Dimade who wanted Dewa Dimade to become king.

Akhirnya timbul rasa tidak puas dari orang-orang yang kehilangan mata pencaharian atau jabatannya, tampak pula kejanggalan-kejanggalan di dalam masyarakat, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang tercela, kemudian timbul pertikaian-pertikaian, dipelopori oleh Kriyan Agung Dimade, berpaling karena dengki bermaksud untuk mengangkat Ida I Dewa Dimade sebagai raja Bali karena beliau (Ida I Dewa Dimade) dapat dipengaruhi dan beliau tidak mengerti taktik dan rahasia hati seorang musuh, yang sebenarnya ibarat api terselip di dalam atap (alang-alang) pasti akan menyebabkan kebakaran.

Entah berapa lamanya Dalem Anom Pamahyun bertakhta sebagai raja Bali, maka timbul suatu huru-hara karena timbulnya kejanggalan-kejanggalan di dalam masyarakat, suatu akibat Kriyan Agung Maruti Dimade melawan pemerintahan raja.

Dengan membandelnya Kriyan Maruti Dimade, timbul rasa sayang di dalam hati Dalem Anom Pamahyun, kalau-kalau timbul dan terjetui kehancuran negara, dan merasa segan untuk berebut kekuasaan, dan tidak menghendaki terjadi suatu pertumpahan darah seperti pada masa-masa yang silam. Sekali pun belum tentu kalah andaikata mengadakan perlawanan. Hanya ingin menciptakan keamanan, kedamaian dan kesentosaan negara.

King Anom Pemahyun and his second son Anom Pemahyun Dimade flee Gelgel palace to defend the kingdom.

Maka baginda mengalihkan siasatnya, bermufakat [discussions to reach agreement] dengan para menteri dan pejabat-pejabat pemerintah, bahwasannya baginda hendak pindah meninggalkan istana Gelgel. Setelah memperoleh kata mufakat, maka serempak [all together] baginda berangkat bersama putranya yang kedua (Dimade) diikuti oleh pengawal-pengawal baginda yang dengan tulus ikhlas berhasrat mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan dan membela rajanya. Mereka berangkat menuju ke arah timur, ke istana (pasanggrahan) raja Dalem Bekung dahulu di Desa Purasi.

Kriyan Tubuh, Kriyan Tangkas, Kriyan Brangsinga bertindak sebagai pelopor memimpin perjalanan itu. Tak dilukiskan perjalanan mereka, mereka pun tiba di desa Purasi pada malam hari tahun Çaka 1587 (AD 1665). Selanjutnya berdatangan pula rakyat baginda ke timur, berhasrat membela, sampai-sampai memenuhi desa Purasi.

[p.49] Para pengawal, pasukan berani mati, dan para pengiring yang lain berjumlah tiga ratus sepuluh orang yang terkemuka. Segala perlengkapan keraton, pakaian kebesaran dibawa selengkapnya, terutama keris pusaka Ki Sudamala atau lebih terkenal dengan nama Ki Bangawan Canggu, lain lagi keris-keris seperti Ki Kidang Manolih, Ki Baru Leyak atau Ki Raksasa Tuwa, alat-alat pemujaan seperti ‘Swamba’, ‘Sangku Sudamala’, ‘lalancang’ dua buah puan dari emas dan alat-alat upakara kebesaian yang lainnya.

Prince Dimade (Dewa Anom Pemahyun Dimade) takes the place of his father Anom Pemahyun and becomes King of Bali at Gelgel; he had two sons: Dewa Pemahyun (by a mother Desak from Bakas) and Agung Jambe (by a mother from Badung); all was peaceful in the kingdom.

Tersebutlah bahwa setelah Sri Aji Anom Pamahyun meninggalkan Gelgel, Ida I Dewa Dimade menggantikan beliau bertakhta sebagai raja Bali, dengan tetap berkedudukan di istana Gelgel. Sebagai Patih Agung, Kryan Agung Maruti Dimade, putra Kriyan Kalanganyar yang diangkat anak angkat oleh Kriyan Kedung. Sebab Kriyan Kedung tidak mempunyai anak kandung, sehingga terkenal pula panggilannya Kriyan Agung Bekung. Pada masa pemerintahan Dalem Dimade (Ida I Dewa Dimade), keamanan dan ketertiban terjamin baik, kemakmuran dapat dirasakan dari pantai sampai ke gunung-gunung. Semua orang memuji raja. Baginda mempunyai putera-putera di antaranya bernama Ida I Dewa Pamahyun, beribu Desak dari Bakas, yang menerima keris Ki Gelap dari buyutnya yaitu Kriyan Prandawa. Adiknya bernama Ida I Dewa Agung Jambe, beribu dari Badung adik Kyayi Jambe Pule. [Tidak diceritakan lagi.]

Temple of Pura Ukir Anyar in Purasi is given special status because of its connection with former King Bekung.

Dikisahkan kembali tentang baginda Dalem Anom Pamahyun, tinggal menetap di Desa Purasi di pasanggrahan Dalem Bekung dahulu. Dipugar kembali pura yang semula didirikan oleh Dalem Bekung pada tahun Çaka 1555 (AD 1633), lengkap dengan upacara ‘Anapuh, angenteg", pada tahun Çaka 1590 (AD 1668). Diberi nama Pura Ukir Anyar. Bahwasannya ketika Sri Aji Bekung kembali ke Gelgel, pura di Purasi itu dipelihara oleh Kyayi Karangasem dan sanak keluarganya karena menghadap ke Purasi menyatakan kesetiaannya.

Kala itu raja (Dalem Bekung) bersabda, agar seterusnya pura itu tidak boleh dilupakan oleh ketuturunan Kyayi Karangasem, karena merupakan suatu piagam tentang percakapan Kyayi Karangasem dengan Dalem (dahulu), "Wahai anak muda (Barak), benar-benar keturunan Batan Jeruk, dan kamu sanak familiku, mulai saat ini kuserahkan pura ini. Agar kamu berdua menerimanya". Demikian keterangannya dulu, yang telah diabadikan dalam sebuah catatan.

King Anom Pemahyun’s queen consort Dewi Pamahyun dies of a heavy heart.

Diceteriterakan kembali tentang Sri Dewi Pamahyun (Permaisuri Dalem Anom Pamahyun) tetap tinggal di Gelgel, tidak ikut bersama suami dan putranya, tetapi amatlah setia kepada suaminya (pati berata). Dalam keadaan demikia, tidak henti-hentinya patni Sri Dewi Pamahyun menanggung derita, baginda Dewi sangat duka dan merana, seolah-olah menanggung beban derita sebesar gunung. Menangis tak berkeputusan, terasa olehnya penjelmaan yang hina, sangat bingung dan gelisah mengigau bahwa penderitaan tidak ada batasnya bahkan semakin keras, pada akhirnya baginda putri Dewi Pamahyun pingsan. Sebab, sekalipun beliau seorang puteri yang berbudi luhur tidak mampu juga menenangkan dirinya, akhirnya baginda wafat, mencapai sorga.

Priest Peling warns the king about chaotic times ahead; in 1778 Peling dies.

Diceriterakan kembali pula tentang Padanda Peling (Sang ing Peling) mohon diri (kepada raja) untuk pergi ke Melayu (Ulah) atau Sidemen, karena beliau mengerti dengan apa yang akan terjadi atau menimpa rakyat Gelgel kelak dan tidak bisa dipungkiri akan timbul kekeruhan terdorong oleh ‘ Kaliyuga’ dan demikian pula karena beliau sudah amat tua, hanya tinggal menunggu saat ajal akan tiba. Juga dipermaklumkan kepada Dalem Anom Pamahyun ke Purasi, tentang tujuan beliau akan berpindah ke Malayu (Ulah).

Tiada antara lama dalam tahun Çaka 1600 (AD 1678)

[p.50] Padanda Peling berpulang menuju Siwa Loka, debu jenazah beliau dihanyutkan ke Sida-nadi, ibarat lautan di pegunungan, kalau hendak ke laut tidak kuasa ke sana, karena tidak mau datang (lewat) Gelgel, sebab sedang tidak cocok dengan Singarsa, sedang dalam keadaan penuh jurang pemisah.

King Anom Pamahyun’s favourite minister Anglura Sidemen Dimade asks the king if he can move to Singarsa Melayu because of a conflict (with the King’s younger brother?); the king refuses, and reminds Sidemen that Maruti might decide to take away his noble status.

Pada waktu Sri Dalem Anom Pamahyun di Purasi, entah pada hari apa, tiba-tiba datang menghadap kepada baginda, patih kesayangan baginda dengan panganjali sembahnya, "Mohon ampun hamba, benar-benar hamba setia kepada Tuanku, hamba mohon ketulusan Tuanku untuk bermukim di Singarsa Melayu".

"Demikian pula, hamba tidak kurang setia kepada adik paduka Tuanku, sebab paduka Tuanku berdua hamba anggap sama adalah junjungan hamba sebagaimana Tuanku. Demikian maksud hamba".

"Wahai, Paman hal itu baik bagi Paman. Dua pihak yang berbeda-beda (sedang bertengkar) di dalam sebuah kesatuan. Benar, tetapi tidak sepenuhnya. Lebih baik Paman kembali pulang. Kemudian bila telah ada kesadaran untuk menegakkan kewajiban seorang Ksatria, pada saat itu saya pergi ke Singarsa. Sebab pengabdian Paman sebagai Anglurah sedang mendua muka. Kini kembalilah Paman. Ini pasukan berani mati (pengawalku) agar mengantar Paman, Paman datang ke mari tanpa pengawal. Ha, ha, itukah sikap prilaku seorang patih? Ataukah Paman cinta setia kepadaku dan tidakkah Paman sakit hati bila derajat (wangsa) para arya dihapuskan oleh si Maruti?" Demikian sabda Dalem Anom Pemayun. Kyayi Lurah Sidemen Dimade mohon diri tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

King Anom Pamahyun’s entourage consists of 310 outstanding men, amongst whom Paminggir.

Diceriterakan bahwa para pengawal dan pasukan pengaman serta pemuka-pemuka masyarakat yang mengiringkan Dalem Anom Pamahyun, tiga ratus sepuluh orang jumlah pemukanya. Sebagai pucuk pimpinan, Kriyan Kubon Tubuh yang bernama pula Kyayi Madya Karang. Dibantu oleh Ki Tangkas, Ki Brangsinga, Ki Pande, Ki Tutuwan Ki Pakis Kandel, Ki Paminggir, Ki Saganing, Ki Kamoning, Ki Kabakaba, keturunan wangsa Ksatria, antara lain: I Dewa Pasawahan, keturunan I Dewa Gedong Arta, keturunan I Dewa Kulit, keturunan I Dewa Cawu, keturunan I Dewa Pamergan, warga Keturunan Pasek Gelgel, Bandesa Koriagung. De Pasek Gelgel, De Pasek Padang Subadra, De Pasek Gaduh, De Pasek Ngukuhin, De Pacek Tohjiwa, De Pasek Tatar, De Pasek Kadangkan dan De Pasek Salahin sebagai Kubayan.

Setelah lama Dalem Pamahyun di Purasi, Dalem teringat akan kesetiaan para pengiringnya semua. Mengingat pula bahwa ada yang memegang tampuk pimpinan di desa-desa, maka baginda memerintahkan untuk menguasai desa-desa itu semua agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Baginda membuat suatu piagam, untuk mengenang kesetiaan rakyat yang berada di bawah kekuasaannya. Terdorong pula niat baginda untuk mengembalikan kedudukan mereka menurut tata terdahulu. Maka dari itu, Ki Bandesa Tangkas yang ikut mengiringkan baginda dan lainnya lagi diberikan kedudukan sebagai bandesa: Bandesa Watuaya dengan dana bukti tanah bibit 50 catu (1 catu = 2½  kg). Bandesa Babandem, keturunan Tangkas. Bandesa Simpar, Bandesa Abang, keturunan Salahin, dengan bukti ‘laluputan’. Ada pun De Pasek Padang Subrata, menjadi pimpinan Desa Tulamben, dengan gelar De Pasek Waliagung. De Kubayan, bermukim di Bulakan, ia keturunan Salahin bersama-sama dangan Ki Brangsinga. De Kubon Tubuh di Desa Kelod Kangin, banjar dengan anggota 500 KK [Kepala Keluarga; heads of family] asal Baliga.

[p.51] I Made Tutuwan, bandesa di Desa Carutcut, rakyat berjumlah 400 KK. De Pasek Gaduh, pemuka Desa Watugiling dengan penduduk 600 KK. I Gede Jaya, bendesa Simbanten dengan rakyat 300 KK. De Pasek Gelgel Wayahan, bandesa Canigaha dengan penduduk 900 KK. De Pasek Ktut Kubakal di Desa Dlungdungan dengan penduduk 200 KK. De Gurun Made Subrata di Walyagung dengan penduduk 1600 KK. I Gede Pulasari di Banjar Gede dengan penduduk 100 KK. Ki Wayan Kadungkan di Banjar Desa, penduduk 500 KK. Ktut Ngukuhin, di Banjar Tengah penduduk 1200 KK. De Pasek Tatar di Banjar Peken di sekitar pantai dengan penduduk 1100 KK.

Adapun keturunan Ki Bandesa Tangkas Koriagung, diangkat menjadi bandesa: Muncan, Sibetan, Purasi, Bugbug, Sengkidu, Timbrah, Ababi, masing-masing dengan dana bukti tanah bibit 50 catu. Bandesa Tumbu, Bandesa Seraya, itu kelompok Manikan pindahan dari Batubulan dengan dana bukti tanan bibit 100 catu. Bandesa Ujung dengan bukti bibit, 50 catu.

De Pasek Tatar, Keturunan De Pasek Panataran, diperintahkan memimpin Desa Telengan, memelihara Wale Agung Bukit Cemeng. Ki Bandesa Basang Alas, Budakeling, Bungaya, Yeh Poh, Manggis, Ulakan, Antiga, Padang, Sukahet, Sangkan Gunung, Nongan Cabola, Duda, Muntig itu semua mendapat pembagian dana bukti masing-masing dengan bibit 50 catu.

 

 

 

 

 

 

 

 

SO FAR

Source: Babad Dalem, teks dan terjemahan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat II Bali, by: Tim Penterjemah / Editor: Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha, DA; Dewa Gede Tjatera [Catra]; Ida Bagus Maka, Ida Bagus Sunu; 1986; p.30-61.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24