Babad Dalem A-I (Tjatera et al. 1986)

Below follows the Indonesian translation of Balinese ‘Babad Dalem A’, part I, dealing with Gelgel's genealogical history until & including Baturenggong's death, by Tjatera et.al (1986), p.1-30, see source below. To enhance readability, parts not pertaining directly to its contents have been omitted. Adaptations: Indonesian spelling, Brangbangan/Blangbangan > Blambangan etc. English translations and subheadings by G.Dijkman. You will find 'Babad Dalem A, part II' in the next window.

Evil giant incarnates and is slain

Pada zaman dahulu kala adalah seseorang penjelmaan yang amat sakti, berwujud buas bertaring yang tajam, mengancam seperti tingkah laku raksasa, loba, sesat, bodoh, menghina agama, durhaka pada kebajikan. Dicelanya semua ajaran filsafat kebijaksanaan yang telah ada. Suaranya menggelegar seperti deburan ombak laut memiliki kebiasaan angkuh, hatinya serba kuasa dan bandel, karena percaya pada dirinya sendiri.

Once upon a time there was a man, an incarnation of someone with very special powers, wild and sharp fangs, showing threatening behaviour as giants do, covetous, devious, stupid, contemptuous of religion, resisting benevolence. He deprecated all forms of philosophy of wisdom. He made thundering noise like crashing waves, showing signs of conceit, a powerful yet obstinate heart because he believed in himself.

Kemudian pada saat-saat keluar istana tak henti-hentinya berkeliling dengan demikian timbul ketakutan orang-orang yang melihat. Karena rupanya yang menakjubkan, tidak takut pada semua musuhnya, kehendaknya berkuasa sendiri. Itulah sebabnya ia tidak mempunyai pura. Berhasil dihancurkan dengan senjata bajra oleh Hyang Puruhutakantep (Indra). Setelah musnah ia yang penuh dosa itu kembali ke asalnya, dan selesailah sudah masanya di atas dunia.

At one time he went out of the palace gates and kept walking around frightening the people around him. Because of his astonishing appearance he wasn’t afraid of whatever foe, his wish was to rule alone. This is the reason he had no temple. Hyang Puruhutakantep (Indra) managed to slay him with a handbell. After he was destroyed, full of sins, he returned to where he originally came from, his time on this earth had ended. 

Tuhan mentakdirkan menjelma kembali, diberi hak sewenang-wenang, mereka lahir laki perempuan, dibungkus dalam seludang kelapa, dipotong dengan pedang, disucikan dengan upacara, bersemayam di lereng gunung Tolangkir.

Reincarnated in a coconut shell: King Masula-Masuli, Topulung, Gaja Wahana

God preordained that he should be born again, given the right to act without compunction, in the form of male-female twins, covered in a coconut shell. After it had been opened with a sword and purified with ceremonies, it was buried on the hillside slopes of Mount Tolangkir (Mount Agung).

Tetaplah ia dihormati, karena dirinya dinobatkan menjadi raja di Bali, baginda bergelar Sri Aji Masula Masuli. Baginda dikawinkan dengan adiknya. Cukup sudah masanya silih berganti, demikian pula tentang penjelmaannya, semuanya telah lenyap pada batas kematian. Kemudian lahir pula hanya satu orang, tetapi tidak "moksa" karena baginda memerlukan manusia di dunia. Topulung namanya. Terdorong oleh zaman "Kali" baginda bertindak sewenang-wenang, kesaktiannya telah tersohor di seluruh dunia. Baginda bergelar pula Sri Gaja Wahana, karena tabiatnya seperti Hairawana.

He was honoured because he was the anointed King of Bali, carrying the title Sri Aji (King) Masula Masuli. He married his twinsister. After many years, generations and reincarnations, everything disappeared in the face of death. Then, only one person reincarnated, but he didn’t chose to escape reincarnation (moksa) as he was in need of an earthly being. His name was Topulung. Forced by times of unrest and evil, the king behaved arbitrarily, his special spiritual powers were renowned all over the world. His other title was King Gaja Wahana, because his nature was similar to Hairawana.

Sesudah itu diceritakanlah tentang jatuhnya Kerajaan Bedahulu oleh kekuasaan raja Majapahit, karena kecerdikan Rakryan Apatih Gajah Mada, memasang siasat yang licin, ilmu ulamanya Sanghyang Wisnu.

The fall of Bedahulu

After this, the story continued with the downfall of the Bedahulu Kingdom by the might of the Majapahit King and the intelligence of general Gajah Mada, who had a cunning strategy begotten from Wisnu.

[p.2] Bagaimana tentang siasatnya? Yaitu hancurnya Kebo Waruya dahulu dan Pasung Grigis dipenjarakan di Tengkulak. Ternyata Bedahulu berhasil dikalahkan berkat kesaktian Sira Arya Damar, berhasil dengan sempurna melaksanakan perintah. Demikian alasannya.

Ada anjing hitam piaraan Ki Pasung Grigis, diperdayakan dengan tempurung kelapa yang berbulu, tetapi ia tidak benar memberikan makanan, ternyata kelancangannya itu menimbulkan mala petaka. Setelah anjing itu kecewa, keberaniannyapun hilang, sampai dengan kemudian, hentikan cerita itu demikian.

King Kalagemet (Majapahit) orders Pasung Grigis to challenge King Dedelanata (Sumbawa) in a duel, both perish.

Dikisahkan setelah Ki Pasung Grigis menyerahkan diri, bertambah besar pula kekuasaan Sri Aji Kalagemet di Majapahit, selanjutnya memberikan anugrah kepada semua menterinya, ditetapkan pula hadiah pakaian untuk Patih Gajah Mada. Kemudian daripada itu Ki Pasung Grigis diadu untuk menggempur raja besar Sumbawa yang bernama Dhedhela Natha, perbuatannya garang dan angkuh, bertaring yang kukuh, giginya tajam-tajam. Kedua matanya menonjol serta membelalak, kalau menguap suaranya bagai petir. Tidak diceritakan betapa hebatnya perang tanding itu, keduanya gugur di medan laga rohnya masing-masing menuju alam dewa Wisnu sebagai ganjaran bagi mereka yang gagah berani gugur dalam peperangan.

Bali in chaos after death King Bedaulu, Gajah Mada sends Mpu to Bali.

Adapun raja Bedahulu, telah lebih dulu wafat (terjun dalam unggun api), sehingga sunyi seni pulau Bali itu, kacau balau masing-masing mempertahankan pendapat sendiri, tak hendak menurut sesamanya. Maha Patih Gajah Mada menjadi gelisah, melihat keadaan pulau Bali hancur tanpa suatu peraturan karena tidak ada pemimpinnya. Maka beliaupun berunding dengan para Mpu keturunan Mpu tujuh bersaudara, diperintahkan agar mereka ke Bali, menyelenggarakan upacara pada sad kayangan dan pulau Bali, sesuai dengan pedoman upacara Dewa Betara di Bali, antara lain di Besakih, di Gelgel di Silayukti, di Lempuyang, pada masing-masing desa, tak tersebut lagi.

Mpu Baradah

Berturut-turut diceritakan sekejap tersebutlah Danghyang Bajrasatwa, berputra seorang bernama Danghyang Tanuhun, beliau menganut ajaran Buda, ilmunya amat tinggi, kepandaian dan kesaktiannya sama dengan Danghyang Bajrasatwa. Danghyang Tanuhun mempunyai keturunan di pulau Jawa diberi nama Danghyang Mpu Baradah, luar biasa ketajaman batin beliau di mayapada, sama dengan Danghyang Tanuhun tentang kepandaian dan kesaktiannya. Beliau (Mpu Baradah) menerima berkah dari Hyang Kuasa, untuk mensucikan bagaikan pengobatan untuk Tri-buana, di Medang Bharata-warsa, beliau berhasil menaklukkan seorang janda besar di Jirah.

Mpu Baradah’s son Bahula weds Ratna Manggali.

Danghyang Mpu Baradah berputra hanya seorang berkat keutamaan yoganya. Bahula artinya: utama. Dia (putranya) dilahirkan berkat kemahautamaan yoganya, dari keluhuran batinnya, sehingga diberi nama Danghyang Bahula. Bagaimanakah keutamaan serta ketinggian bathinnya (Danghyang Bahula)? Sama dengan Danghyang Mpu Baradah, kepandaian serta kesaktiannya di dunia, beliau menikah dengan putri Rangdeng Jirah yang bernama Ni Dyah Ratna Manggali.

Bahula’s son Mpu Tantular (Angsokanata): author of Sutasoma

[p.3] Maka Danghyang Mpu Bahula memperoleh seorang putra, mahir dalam segala ilmu, tidak tertirukan keahliannya dalam ilmu kependetaan, amat pandai bertutur kata, diberi nama Danghyang Mpu Tantular, sebab tak tertirukan keluhuran budi dan hatinnya tak berbeda dengan Danghyang Bahula kecakapannya kesaktiannya. Tidak terkatakan tentang kemashyuran di atas dunia, beliau mempunyai sifat-sifat yang baik, dewanya orang yang terkena asmara, Danghyang Angsokanata namanya yang lain, yang berhasil menggubah Sutasoma.

Angsokanata’s fourth son Kepakisan becomes adviser to Gajah Mada.

Danghyang Angsokanata mempunyai empat putra semuanya laki-laki dan mahir dalam segala ilmu, amatlah mashyur tentang kesuciannya, semua pula pintar bertutur kata, tak ubahnya seperti Danghyang Tantular kesaktian dan kepandaiannya. Yang tertua diberi nama Danghyang Panawasikan adiknya yang kedua Danghyang Sidimantra, adiknya lagi bernama Danhyang Asmaranatha dan yang bungsu bernama Danghyang Kepakisan.

Adapun Danghyang Panawasikan seperti Sang Hyang Jagapati, wibawanya, Danghyang Sidimantra ibarat Brahma kemashuran dan wibawanya. Danghyang Asmaranatha bagaikan Sang Hyang Manobawa kearifan serta kesaktiannya. Sedangkan Danghyang Kepakisan yang menjadi guru penasehat Maha Patih Gajah Mada ibarat penjelmaan Wisnu, seorang pendeta yang berbudi luhur, berhasil dalam bidang kesaktian tak terpadai.

Gajah Mada requests Kepakisan’s son Wang Bang to be given the rank of Kesatria and to become King of Bali. Kepakisan himself becomes a hermit.

Kembali diceritakan, perihal Danghyang Kepakisan yang berhasil dalam kesucian batin, tinggi ilmunya, berhasil dalam segala hal. Beliau mempunyai seorang putra, berkat yoga 'pemujaan kepada Surya' beliau memperoleh seorang putri di "Udayana Watu", dijadikan permaisuri. Entah berapa lama di antaranya, putranya telah dewasa, ayahandanya memberi nama Sira Kresna Wang Bang Kepakisan, sebab Sanghyang Hari yang selalu dipujanya dahulu. Demikian pula telah dilaksanakan upacara seperti upacara seorang kesatria utama, berkat permohonan Maha Patih Gajah Mada ke hadapan Danghyang Kepakisan sebab putranya hendak dijadikan raja yang berkedudukan di Bali.

Danghyang Kepakisan mengabulkannya, kemudian bersabda kepada putranya, demikian, "Anakku Wang Bang semoga kau memperoleh kebesaran, karena kau diminta oleh Maha Patih Gajah Mada untuk menjadi raja Bali, sejak lama permohonannya kepadaku, aku disuruhnya menjadikan engkau seorang ksatria. Itulah sebabnya aku membuat upacara penobatan seorang ksatria, sesuai dengan yang tersebut dalam Dharma Sastra, kini engkau adalah seorang kesatria. Sekarang maksudku menyerahkan engkau kepada Patih Gajah Mada, ikutilah perintahku".

Adapun Kresna Wang Bang Kepakisan tidak menolak perintah Danghyang Kepakisan, maka oleh karena itu mereka berangkat menuju Patih Gajah Mada.

[p.4] Amatlah gembira hati Gajah Mada. Segera dipersilakan duduk. Kata Danghyang Kepakisan, "Wahai Paman Patih, inilah hasil permohonan Paman Patih dahulu, sekarang terimalah anakku Sri Kresna Wang Bang Kepakisan terserah Paman Patih, saya akan kembali ke pertapaan".

Tersebutlah Sri Kresna Wang Bang Kepakisan berada di rumah Maha Patih Gajah Mada sudah cukup lama. Gajah Mada menyaksikan sendiri kecerdasannya, bertekadlah ia untuk menobatkan menjadi raja di Bali. Namun ia merasa khawatir karena belum mempermaklumkan kepada Maharaja Majapahit.

Majapahit King Kalagemet receives Gaja Mada & Wang Bang Kepakisan.

Itulah sebabnya Gajah Mada dan Sri Kresna Wang Bang Kepakisan bersama-sama menghadap Maharaja. Setelah mereka tiba di istana, Gajah Mada memohon kepada maharaja untuk menobatkan Sri Kresna Wang Bang Kepakisan sebagai kepala pemerintahan di Bali. Maharaja bersabda, "Jangan tergesa-gesa! Apa sebab demikian, masih banyak daerah-daerah belum ada pemimpinnya seperti halnya Blambangan, Pasuruhan, Palembang, Madura, termasuk juga Sumbawa. Sebaiknya tunggu dulu. Kemudian bila semua sudah tersedia, pada saat itu dikirim. Kini anak asuhmu Kresna Wang Bang Kepakisan, kuajak di sini bersamaku, agar seperti wibawaku, jangan kamu syak-wasangka!" Gajah Mada menurut segala sabda Maharaja. Maka Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, bersama-sama dengan raja Kalagemet, tinggal dalam istana Majapahit.

Wang Bang Kepakisan marries a princess, and begets three sons and a daughter. When the princess dies, his four children are are put in the care of Kalagemet.

Diceritakan Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, ketika bercengkrama di taman bunga, didatangi oleh seorang putri jelita, kemudian sang putri dirayu sehingga jatuh cinta, akhirnya mereka menikah. Hal itu telah dipermaklumkan ke hadapan Sri Maharaja Kalagemet, bahwa Wang Bang Kepakisan memperistri bidadari. Raja bersabda, "Syukurlah kalau demikian".

Lama-kelamaan, dalam waktu yang tak terbilang, dari perkawinan Sri Kresna Wang Bang Kepakisan dengan putri jelita di taman, lahirlah tiga orang putra dan seorang putri. Setelah lahir keempat putera dan putri tersebut, tiba pula saat bagi sang ibu berpulang ke alam baka. Sehingga amat duka cita Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, terharu melihat putra putrinya tanpa ibu. Maka keempat orang anak itu diserahkan kepada maharaja Kalagemet, lalu dibuatkan upacara yang cocok untuk Ksatria utama oleh raja. Kemudian anak-anak itu pun dewasa, semua memiliki kecakapan khusus, tidaklah mengecewakan bila dijadikan pemimpin/raja.

Vice-Regent Ulung in Bali goes to Majapahit King, who promises to send over a King to Bali.

Tersebutlah bahwa Patih Hulung, berunding dengan kaumnya semua. Yang dirundingkan, bahwa telah lama belum ada pemimpin di pulau Bali. Juga tentang janji Patih Gajah Mada dahulu. Mereka saling memberikan pertimbangan, lalu memperoleh suatu keputusan, Patih Hulung diutus ke Majapahit bersama-sama dengan saudara-saudaranya ialah Kyayi Pamacekan, Kyayi Kepasekan, Kyayi Padang Subadra. Setibanya di Majapahit, setelah memperoleh ijin langsung menghadap raja ketika raja sedang dihadap oleh para menteri di balairung. Disapa oleh Maha Patih Gajah Mada, dan raja mempersilakan duduk.

[p.5] Selanjutnya Mahapatih Gajah Mada berkata, "Hai Adinda Patih Hulung dan saudara-saudara sekalian, mengapa datang kepada raja?" Jawab Patih Hulung, "Daulat Gusti Patih. Oleh karena pulau Bali terasa sepi, belum ada pemimpinnya. Itulah sebabnya kami datang menghadap Maharaja". Jawab Maha Patih Gajah Mada, "Hai Dinda Patih Ulung. Kalau demikian Dinda dapat dikabulkan". Raja merestui, seraya bersabda, "Hai kamu Patih Ulung permohonanmu kukabulkan". Kembalilah kalian ke Bali. Segera akan datang seorang raja yang akan menjadi junjungan rakyat Bali. Tetapi kalian jangan lupa memelihara pura-pura di Bali, sesuai dengan tugas kalian". Demikian sabda raja, Patih Ulung menurut dan mohon diri kembali ke Bali. Tak diceritakan lagi.

Wang Bang Kepakisan’s sons are sent off as regents in Blambangan and Pasuruhan, his daughter becomes queen of Sumbawa, and the youngest becomes King of Bali and is called Ketut Kresna Kepakisan in AD 1352. He is given a court, regal objects and followers (Aryas).

Kemudian pada hari yang baik, tatkala purnama bulan keempat, saat itu Maha Patih Gajah Mada melantik enam orang Adipati. Kini diceritakan keempat orang putra dan putri Sri Kresna Wang Bang Kepakisan setelah dilantik, masing-masing dikirim oleh Mahapatih Gajah Mada, yang tertua dijadikan Adipati daerah Blambangan, yang kedua di Pasuruhan, yang ketiga seorang putri menjadi ratu di Pulau Sumbawa, dan yang bungsu Adipati di pulau Bali.

Selanjutnya dikisahkan yang diperintahkan sebagai Adipati di Bali, bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan, bertahta di Bali tahun saka 1274 (AD 1352), mulai ada Adipati yang memerintah di luar keraton Majapahit. Disegani oleh orang-orang sakti yang tidak ada taranya, semua bersikap baik dan susila bagaikan Narayana, penjelmaan Wisnu. Gajah Mada menghadiahkan perlengkapan keraton serta pakaian kebesaran. Keris Si Ganja Dungkul yang dijuluki Si Jangkung Mangilo, dan sebilah tombak yang diberi nama Si Olang Guguh, serta piagam yang ditulis dengan emas selengkapnya. Didampingi oleh para Arya, antara lain Arya Kanuruhann, Arya Wang Bang, Arya Demung, Arya Kepakisan, Arya Tumenggung, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Pangalasan, terakhir Arya Kutawaringin. Rombongan mereka tak ubahnya seperti barisan para dewata, menempatkan dirinya di pelosok-pelosok desa.

Arya Gajah Para tiba di Bali bersama adiknya Sira Arya Getas sesudah Sira Arya Kutawaringin. Disertai oleh tiga orang waisia yaitu: Si Tan Kober, Si Tan Kawur, Si Tan Mundur. Yang menjabat Mahapatih dan penasehat adalah Arya Kepakisan, keturunan Kediri, cucu Sri Jayasaba, Sri Darma Wangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa adalah leluhurnya. Semula adalah dari kasta Ksatria Wisnu Wangsa, kemudian dijadikan Arya oleh Mahapatih Gajah Mada, sebab sebagai patih dari Dalem Ketut Kresna Kepakisan, raja pertama di Bali.

Kepakisans’s caste changed from Brahmana to Ksatria; ‘Pakis’ (paku = nail) signifies ‘he who is embedded as king of Bali’.

Asal mula dalem adalah Keturunan Kasta Brahmana, dijadikan satria oleh raja Majapahit dan Gajah Mada. Demikianlah adanya sebutan Kepakisan pada nama mereka berdua. Pakis berarti: paku = Mereka ditancapkan, seorang sebagai raja Bali dan seorang sebagai Mahapatih, juga karena memang asal keturunan kasta ksatria dan ada yang baru menjadi kasta ksatria sebagai kepala pemerintahan. Itulah sebabnya digelari Kresna Kepakisan. Demikian selanjutnya Arya Kepakisan sebagai Patih Agung, sampai turun temurun menjabat Kepala Menteri dan Demung.

King Kresna Kepakisan’s court is established at Samprangan, his ministers are given designated dwellings.

[p.6] Selanjutnya Dalem Ketut Kresna Kepakisan berkedudukan di Samprangan, dan patihnya di Nyuhaya sehingga terkenai dengan nama I Gusti Nyuhaya. Adapun para menteri yang lain diberikan tempat kedudukan masing-masing Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jrudeh di Tamukti, Kriyan Tumenggung di Patemon, Arya Demung Wang Bang Kediri di Kretalangu, Arya Sura Wang Bang Lasem di Sukahet, Arya Wang Bang Mataram tidak menetap di suatu tempat dan boleh di mana saja, Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pemacekan di Bondalem. Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toyaanyar, begitu awal mulanya atas perintah dan wewenang Patih Gajah Mada.

Tersebutlah bahwa patih Ulung, Arya Pemacekan, Arya Kapasekan, Sang Kulputih, Arya Tatar, Arya Lurah Tutuwan, Kyayi Pasek Prateka, Kyayi Gusti Pasek Kadangkan, bersama-sama menghadap Dalem ke Samprangan, diikuti oleh orang-orang Bali dengan membawa buah-buahan.

Kresna Kepakisan reminds Governor Ulung to uphold duties and build temples.

Setibanya di Samprangan segera menghadap dan menghormat kepada Dalem. Selanjutnya Dalem bersabda, "Hai kamu Patih Ulung dan saudara-saudamu sekalian. Ke mari kamu menehadap padaku". Kemudian sembah Patih Ulung, "Ampun Tuanku, kami mempersembahkan buah-buahan, namun persembahan kami tak bermutu". Dalem bersabda,"Aku menerimanya. Hai Patih Ulung dan kamu sekalian, keturunan dari Mpu tujuh bersaudara. Aku bertanya kepadamu sekalian. Ingatlah kamu pada pesan dan perintah Patih Gajah Mada dahulu? Melaksanakan kewajiban, memelihara pura-pura di Besakih, di Lempuyang, di Silayukti, dan di Gelgel. Juga membangun meru, bangunan suci, gaduh, serta pura-pura di desa-desa. Bale Agung dan menyelenggarakan upacara seperti yang dilakukan oleh leluhurmu dahulu". Demikian sabda Dalem.

Patih Ulung is scolded for neglect and his (and his offspring’s) title is degraded.

Sembah Patih Ulung, "Ampun Tuanku. Hanya baru bersifat darurat saja. Bale Agung telah selesai kami dirikan. Dalem bersabda: "Kalau demikian tidak terlaksana kewajibanmu itu, pantaslah diturunkan jabatanmu Patih Uiung, dan sanak keluargamu sekalian". Setelah Dalem bersabda, persidangan itu pun bubar. Patih Ulung dan teman-temannya telah kembali.

Rebellion in many (Bali Aga?) villages quashed by Gaja Para.

Lama kelamaan mereka yang berkuasa di Bali, terhitung sejak datangnya para Arya yang terdahulu ternyata pulau Bali tidak aman, karena timbulnya pemberontakan di desa-desa seperti Batur, Campaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Muntig, Pludu, Cintamani, Serahi, Manikliyu, Katung, Pisang, Taro, Bayan, Sikawana, Panrajon, itulah yang terutama.

Lain lagi pada sebelah timur, yaitu: Culik, Tista, Margatiga, Garbhawana, Got, ikut pula Sekulkuning, Garinten, Lokasarana, Pwahan, Bulakan, Paselatan, Tukad Keliki, Nabayu, Merita, Tegal Langlangan, Bubut Empah, Datah, Muntig, Wathudawa, Turamben, terutama desa-desa di sebelah utara Tulemben, Simbanten, Caniga, Samlakskan, Dukuh Juntal, Carutcut, Bantas, Kutabayara, Watuwayang/Kadampal, Asti, Bluhu, Bonyoh, Belong, Presandaya, Jatituhu, Darmaji, Tambakung, Ban, Panek, Pedahan, ikut pula desa-desa tetangganya itu, desa-desa yang belum mutlak dikuasai, terutama desa Datah.

[p.7] Maka dengan datangnya Sira Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas bermarkas di Toya Anyar, desa-desa itu dapat ditundukkan, juga oleh Si Tan Kober, Si Tan Kuwur, dan Si Tan Mundur, yang menyerang dari arah barat. Demikian ceritanya dahulu.

Conflicts persist, Kresna Kepakisan sends Ulung and other officials to Java.

Dalam kurun waktu yang lama, pulau Bali tetap tidak aman di bawah pemerintahan Sri Aji Kresna Kepakisan. Hampir-hampir Dalem kembali ke Jawa, dengan mengutus Ki Patih Ulung, Kyayi Pamacekan, Kyayi Kapasekan, Kyayi Padang Subadra, menghadap ke Majapahit mempermaklumkan keadaan Adipati Bali kepada raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada. Kata Kriyan Patih Gajah Mada, "Jangan, aku tak rela, dia si anak muda hendak kembali. Betapa kesaktian musuh itu? Sebab telah tunduk kepadaku dahulu. Tidak berguna keampuhanku, bila demikian, percuma aku Si Mada turunan Narayana (Wisnu). Sebagai suatu tanda, ini kerisku persembahkan kepada si anak muda serta seperangkat pakaian kebesaran. Ada pun wasiatnya untuk menundukkan para durjana, sebab seolah-olah Sisangkapancajaneya "disandangnya".

The officials return to Bali to see Kresna Kepakisan, and communicate Gajah Mada’s words.

Sesudah itu dan Gajah Mada memberikan hadiah, utusan itu mohon diri dan persidangan itu pun bubar. Konon perjalanan utusan itu, dengan perahu layar bertolak dari bubat menuju Telagorung melewati Pajarakan, ke selatan menuju Pulwayam menyusur selat Bali. Tampak pantai Kapurancak perahu itu terus melewati Jembrana, Riuman Bangkah, berputar-putar di tengah samudra kemudian menyusur arah ke timur menuju Tuban, Kelahan, Kadongayan, Intaran (Sanur) tidak diceritakan orang yang berlayar segera sampailah dan berlabuh di pantai Lebih. Segera mereka menuju arah timur laut pagi-pagi buta, untuk menghadap Dalem di Samprangan.

Tersebutlah Sri Aji Kresna Kepakisan benar-benar bagaikan Narayana keturunan Wisnu, sedang dihadap oleh para menteri selengkapnya, juru, popongo, bayangkara, menguri, pangalasan itu hadir di balairung, terutama Ki Gusti Nyuhaya putra Arya Kepakisan, sebagai patih yang mengepalai para menteri yang lain, benar-benar aktif membantu Dalem/raja. Yang kedua adalah Sira Arya Wang Bang menjabat demung. Ketiga Sira Arya Kutawaringin menjabat tumenggung, bagaikan prawira Yadu kelengkapannya. Lain lagi Sira Arya Kenceng, Sira Arya Belog, tidak ketinggalan Sira Arya Kanuruhan. Juga Sira Wang Bang diikuti oleh Tan Kober, Tan Kuwur, dan Tan Mundur, semua mengenakan pakaian lengkap.

Adapun Sira Arya Gajah Para yang tinggal di ufuk utara tidak sempat ikut serta dalam persidangan itu. Konon Sri Aji Kresna Kepakisan memakai "kampuh" hitam bergambarkan cempaka di sela-sela mendung, berkain panjang "gringsing" bertulis benang emas. Sungguh tampan caranya mengenakan "kampuh ngraja singa" menyunting bunga delima dan memakai anting-anting "meghasapatra" sebagai bersanggul karena rambutnya sampai ke pundak, cincin bermata "mingmang" dipasang pada telunjuk, yang dijarah waktu kalahnya Lawe, gelang pada lengan bermata "kemit tuwuh" di dahi permata putih, bergelung menyerupai garuda menghadap ke belakang, penuh berhiaskan permata, terselip keris Si Ganja Dungkul, bergagang gading berukir "tunjung kapatyan" berhiaskan permata, baginda duduk di balai-balai kayu cendana, berlapis permadani lengkap dengan pengawal membawa pedang, tombak di sana sini, perisai, panji-panji bertangkai lapis emas, tombak empat puluh batang diatur bersegi empat lengkap dengan alas tempat duduk dan payung.

[p.8] Dalam keadaan seperti itu, utusan itu datang yaitu Ki Patih Ulung, Kyayi Pamecakan, Kyayi Kapasekan, Kyayi Padang Subadra. Mereka (yang sedang menghadap) turun meninggalkan tempat duduknya dan berdiri di halaman sebab demikian tata cara sebagai di Majapahit. Para mentri semuanya mundur dan utusan

itulah yang diutamakan. Setelah itu mereka duduk kembali sebagai semula, memberikan hormat kepada raja, segera dipermaklumkan segala apa yang dikatakan oleh Patih Gajah Mada. "Syukurlah dan amat gembira hatiku, aku taat atas segala perintah", demikian sabda Dalem, serta menoleh pada Kriyan Patih, serempak para menteri menyambut sabda raja lebih-lebih yang didahului dengan perintahnya Gajah Mada. Akhirnya Dalem menerima Si Lobar dan dikenakan pakaian kebesaran itu, hingga wajah baginda berubah.

Kresna Kepakisan’s kris ‘Durga Dingkul’ frightens Pejeng (Bedahulu) rebels. The king’s spiritual powers see off all foes, peace returns.

Ketika pemberontak-pemberontak itu menghadap Dalem, di antaranya: Pejeng, Bedahulu, keris dihunus oleh Dalem. Tampak "Durga Dingkul", rakyat Bali merasa ketakutan, mereka merasa telah dikalahkau oleh Gajah Mada. Dalem pun bersabda, "Ini anugrah Maha Patih Gajah Mada kepadaku jangan kamu ragu-ragu, betul-betul kamu harus tunduk kepadaku”.

Semua menghormat dan bersyukur tidak satu pun yang mendurhakai sabda raja, bagaikan dewata turun ke dunia, demikian sambutan mereka, seraya mohon ampun. Para menteri semuanya gembira sambil memamah sirih dan permusyawaratan itu segera berakhir, para menteri pada mohon diri. Dalem telah masuk ke keraton, dijemput oleh permaisuri serta pelayan-pelayan istana, bagaikan tidak berada di atas dunia atas kebesaran wibawa Dalem. Tak ada yang bercahaya lagi, wabah tak berani mendekat takut akan kesaktian Dalem. Apa alasannya? Semua yang dilihat oleh Dalem hancur lebur, tidak ada uraian lagi.

King summons Pasek clan to Samprangan in order to improve temples; all Pasek are assigned specific tasks in the kingdom, rewards are promised.

Setelah aman keadaan pulau Bali ini, Dalem bermaksud untuk memperbaiki kayangan-kayangan di Bali, maka Dalem memerintahkan untuk memanggil semua pemimpin-pemimpin Pasek, Ki Pasek Gelgel, agar menghadap ke Samprangan. Sehingga semua pasek itu menghadap ke Samprangan.

Dalem bersabda, “Hai kamu Pasek sekalian, dengarkanlah wejanganku, sebab berkat kasih sayang orang-orang tuamu dahulu, hingga aku berkedudukan di Bali, sekarang dengarkanlah anugrahku kepadamu. Sebab piagam dari orang-orang tuamu dahulu, bisa terlaksana di Bali yaitu memperbaiki semua kayangan terutama di Besakih, itulah sebabnya kamu sekalian, segala kesalahanmu asal tidak bertujuan melawan perintah Dalem, tidak sampai dijatuhi hukuman mati, umpama memanjat tembok di waktu malam, aku mengampuninya. Juga sampai kemudian, tidak dikenakan hukuman mati dan rampasan olehku. Maka jangan lupa memelihara sadkayangan, penuhi segala tugas kewajibanmu. Dan bila ada kegiatan-kegiatan kerajaan kamu Pasek Lurah Gelgel berkewajiban mengatur harta benda biaya serta untuk pura tempatku memuja, kamu kuberikan dana bukti berbibit 50 (± 125 kg).

Kamu Pasek Prateka berkewajiban mengatur penyelenggaraan kegiatan-kegiatan itu kuberikan dana bukti berbibit 50 (± 125 kg). Kamu Pasek Padang Subadra menjadi pemangku "Sad Khayangan" menyiapkan sajen-sajen kuberikan dana bukti 50 (± 125 kg). Kamu Pasek Tatar menata kahyangan tempatku memuja, termasuk di desa-desa yang ada Bale Agung, maka kuberikan dana bukti berbibit 50 (± 125 kg). Kamu Pasek Kubakal merancang pembagian tanah di Besakih, merancang batas-batasnya kuberikan dana bukti berbibit 50 (± 125 kg).

[p.9] Kamu Pasek Salahin, Khubayan kamu berdua mengatur bale agung masing-masing kuberikan dana bukti berbibit 25 (± 62,5 kg). Adapun kamu Pasek Tohjiwa, kamu sebagai prajurit menolak musuhku kuberikan dana bukti berbibit 50 (± 125 kg). Sedangkan kamu Pasek Gaduh kamu mengatur siasat. Kamu Pasek Ngukuhin kamu orang kuat. Kamu Pasek Kadangkan, kamu adalah orang kebal senjata semoga untuk selanjutnya turunan Kadangkan kebal, maka kamu tiga bersaudara memimpin pasukan bersenjata, kalau ada musuhku, kamulah yang melawannya tanpa memilih bulu".

Demikian sabda Dalem, semua para Pasek menjawab, sembahnya, "Daulat Tuanku, kami menjunjung segala titah tuanku". Kemudian permusyawaratan itu bubar, mereka yang menghadap kembali masing-masing ke tempat tinggalnya, dengan menjunjung tinggi perintah Dalem, tidak dilanjutkan penuturannya sampai dengan mereka mempunyai keturunan.

Majapahit King Kalagemet is killed by revengeful Tanca; Tanca ik killed by Gajah Mada

Sri Raja Kalagemet ketahuan membuat onar dan suatu kebetulan menderita penyakit. Suatu kesempatan bagi Patih Gajah Mada untuk mengatur siasat. Maka diperintahkan seorang yang bernama Tanca yang mempunyai pengalaman sama dengan Gajah Mada, juga mempunyai kesaktian, untuk melakukan perintahnya, dengan alasan membedah bengkak pada tubuh raja, maka raja dipersilakan membuka segala alat kekebalannya, maka raja menelanjangi diri. Karena dendam yang tersimpan di hati Tanca, maka Tanca menusuk dengan senjata tajam, maka Sri Kalagemet pun wafat. Selanjutnya Gajah Mada membunuh Tanca, ditikam lambungnya.

Setelah wafatnya Sri Kalagemet, berkat upaya Gajah Mada dengan alasan bahwa baginda memperkosa wanita yang telah bersuami konon demikian ceritanya.

Gajah Mada chooses a handsome Ksatria for his daughter, the princess, the couple is married, blessed by Asmaranatha.

Dikisahkan bahwa seorang putri raja dibuatkan suatu swayembara oleh Gajah Mada, untuk jejaka yang menjadi suami putri yang cantik jelita itu. Dibuatkan upacara serta tempat selengkapnya disaksikan oleh pendeta-pendeta raja dengan melakukan puja-puja, mendoakan agar mereka memperoleh kesentosaan, panjang umur dan sejahtera nanti jaya dalam pertarungan.

Setelah itu adalah seseorang Ksatria yang tampan, bertingkah laku baik berasal dari Kuripan, itulah yang menjadi jodoh sang putri. Selanjutnya berkenan, pula pemuda Gegelang itu, tampan wajahnya, ibarat penjelmaan dewata, bayangan perbuatannya, timbul rasa cinta-menyinta, karena mengutamakan orang tua, sakti dan berani berdada yang bidang. Pada bulan keempat, di musim bunga, mereka dinikahkan, lengkap dengan upacara kebesaran, kemewahan yang mengagumkan, sorga bagaikan berpindah, karena hiasan emas dan permata yang dikenakan untuk menghias sampai dengan tempat pelaminan tergila-gila si kumbang mencium bau wangi-wangian. Pendeta istana bertindak memuja upacara pernikahan itu, hingga selesai.

Sang mempelai berdua bercumbu rayu, ibarat kumbang mengisap madu bunga tak diceritakan keasyikan mereka dalam peraduan. Mereka pun keluar untuk pengesahan, dipuja oleh Danghyang Asmaranatha, dengan segala upacara pengantin.

Princess gives birth to Hayam Wuruk

[p.10] Setelah itu tiada berapa lama kemudian mereka hamil, tibalah waktunya, bergerak-gerak bayi dalam kendungan, lahir pada bulan keempat ditandai hujan gerimis, angin mendesir sepoi-sepoi basa membawa bau bunga yang harum, diikuti oleh kumbang yang asyik rnengisap bunga, suara geruh sayup-sayup di ufuk utara dengan cahaya gemerlapan. Semuanya diselimuti awan, remang-remang cahaya mentari, guruh bertubi-tubi, puncak gunung berputar, karena gempa tak berkeputusan, air laut pasang naik.

Demikian tanda-tanda Dewa Asmara dipuja di tanah Jawa. Tak terkatakan penderitaan sang permaisuri, dirawat oleh seisi istana, kepayahan tampaknya, itulah sebabnya raja selalu menjaga permaisurinya, selanjutnya bayi yang ditunggu-tunggu pun lahir, dan kelahirannya berkat bantuan para pendeta dan pendeta istana. Ayahnya memberikan nama Sri Hayam Wuruk, mengingat tanda-tanda yang mendahuluinya. Dari Ibu dijuluki Sri Smara Wijaya, sebab baginda selalu mengidamkan Dewa Asmara.

Aswino is born from relations of Wengker King with his consort

Demikian pula permaisuri raja Wengker, selama enam bulan ia mencipta betul-betul dewata menjelma. Hyang Aswino lahir di musim bunga, dipuja dan dielu-elukan. Bapanya memberi nama Ihayattular dan ibunya memberi nama Smara Kejantakan, karena waktu mudanya sangat disayang oleh Sri Kalagemet. 

Begitulah para putra raja Jawa, Sang raja putri menggantikan ayahnya, contoh-contoh Gajah Mada dalam menyelenggarakan kerajaan, langsung menjadi patih, kedua kalinya, tidak henti-hentinya menghimpun kekuatan dari segala penjuru.

Lama berselang, kedua putra itu semakin besar, bertambah ketampanannya, penuh gaya tarik pada pandangannya, teramat manisnya menggoyahkan hati yang kuat, setiap yang dipandang menjadi gembira. Kemudian ayahnya menyerahkan kekuasaan, baginda menjadi pendeta sangat semarak kewibawaannya bertahta, bagaikan Dewa Asmara bertahta di Jawa karena telah ditakdirkan untuk menaklukkan musuhnya. Tersohor sampai ke pelosok-pelosok, dalam usia yang muda telah mampu menaklukan lawan dan beliau sangat disegani. Ingatlah peristiwa kerajaan Sunda, kalah dalam pertempuran di Bubat, Cina sudah takluk, telah menyatakan setia dengan ketulusan hati, berkat kecekatan Patih Gajah Mada dengan tipu muslihat, bersama dengan Patih Madu, Patih Menjung, Patih Gowi, Patih Teteg, Patih Marga Lewih, Bungsang dan Lembu.

Arya Damar becomes regent for Palembang, then dies.

Adapun Arya Damar, telah diangkat menjadi Adipati Palembang, Jaran Panolih Adipati Madura, semuanya berkat Patih Gajah Mada, yang licin luar biasa, tak tersamai dalam tindakan. Semua itu dimaklumi oleh Patih Madu, tentang kebijakan patih Gajah Mada seperti terlihat pada raja Hayam Wuruk dan Raja Wengker, yang sama-sama berwibawa dan selalu bertukar pikiran. Adapun Arya Damar sudah meninggal, digantikan oleh putranya, berkedudukan di Palaka.

AD 1380: Bali King dies at Gelgel.

Bahwasanya raja yang berkedudukan di Samprangan, telah berpulang ke alam baka, pada tahun Çaka 1302 [AD 1380].

Gajah Mada dies.

Diceritakan kembali keadaan di Majapahit, ejekan-ejekan menimpa Patih Gajah Mada. Dan ia telah cukup tua, mengerti bahwa hidupnya hampir berakhir.

[p.11] Adalah seorang pelaut, tatkala ia berlayar, mendengar sabda dewata memanggil agar Mada kembali, karena telah lama berada di mayapada, maka tersebar sampai ke Sridarbha, bahwa suara itu demikian, "Wahai aku kembali menuju alam gaib".

Tiba saatnya Patih Gajah Mada kembali ke alam baka, di tengah-tengah samudra, karena dibawa oleh pelaut, Pesannya dulu, "Kamu menggantikan aku, ambil istanaku beserta istriku. Semoga engkau persis dengan rupaku".

Memang tak berbeda dengan rupa Maha Patih Gajah Mada, dipandang oleh Ken Bebed istri Gajah Mada. Namun berbeda dalam hal bercumbu rayu, oleh karena demikian maka ia pun terjun ke dalam laut di sekitar pantai yang indah.

Raja terhenyak mendengar berita kematian itu, dan menyadari bahwa ia adalah penjelmaan dewata, lalu baginda meninggalkan persidangan. Suasana kerajaan menjadi sepi, tidak diceritakan dan lain halnya dengan baginda yang bertahta di Bali.

Bali king Kresna Kepakisan (Kudawandira) dies.

Kembali pula diceritakan raja yang bertahta di pulau Bali yaitu Sri Aji Kudawandira, yang kemudian bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan. Baginda telah berpulang ke alam baka, juga telah dilaksanakan upacara "Pelebon" sampai dengan "Penileman" sesuai dengan tata upacara seorang raja besar.

Kepakisan’s sons: (1) Samprangan (loves makeup), (2) Dewa Taruk (becomes monk)

Baginda mempunyai beberapa orang putra, tiga orang lahir dari Ni Gusti Ayu Tirtha putri Sira Arya Gajah Para, yang tertua bernama Ida I Dewa Samprangan, sangat gemar bersolek.Yang kedua Ida I Dewa Taruk, tidak tertarik hatinya untuk menjadi raja, juga beliau seorang hartawan, ingin melaksanakan darma seorang pendeta.

Daughter to Kepakisan’s nephew marries Kuda Penandang Kajar, a Blambangan prince, Tumenggung from Pasuruhan, adopted son of Dewa Taruk.

Salah seorang putri kemenakannya dikawinkan dengan jejaka yang bernama Kuda Penandang Kajar, seorang putra Kerajaan Blambangan keturunan Tumenggung Pasuruhan, yang dijadikan anak angkat oleh Ida I Dewa Taruk. Seorang pemuda yang rupawan, berilmu dan bijaksana, cerdas dalam segala pertimbangaii daya upaya, mempunyai keahlian mencari emas dan perak dalam tanah.

Kepakisan’s sons: (3) Ketut Angulesir (gambler), (4) Tegal Besung, from different mother.

Yang bungsu bernama Ida I Dewa Ketut, suka berjudi berkeliling. Ada lagi seorang putranya, lain ibu bernama Ida I dewa Tegal Besung, lahir dari Ni Gusti Ayu Kutawaringin saudara Kyai Abian Tubuh, putra yang paling muda, jarak waktu kelahirannya agak jauh bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Klapodyana, mayor of Gelgel, fails to meet King Samprangan (busy with makeup and clothes).

Bahwasanya ketika Kriyan Klapodyana Bandesa Gelgel, menghadap Ida I Dewa Samprangan, amat lambat baginda keluar ke balairung. Asyik bercermin memperbaiki gelung dan rambut, mengenakan pakaian bercermin pada air dalam tempayan.

Kyayi Bandesa Gelgel Klapodyana, sampai lama menunggu sampai dengan kurang lebih pukul 10.00 juga baginda belum muncul. Bersama-sama para menteri yang sedang menghadap, Kyayi Bandesa Gelgel dengan penuh kecewa meninggalkan balairung serta berkeluh kesah kesal kepayahan menunggu, penuh penyesalan dan kecemasan di hati mereka, karena Dalem selalu terlambat hadir, hingga permusyawaratan itu bubar tak menentu, mereka pun sama-sama kembali ke rumah masing-masing dan Kyayi Bandesa Klapodyana kembali ke Gelgel dan meninggalkan balairung Samprangan.

[p.12] Kemudian setelah kurang lebih pukul 10.00 lewat baru Dalem muncul ke balairung dalam keadaan sunyi sepi, Bandesa Kubon Tubuh sudah pergi. Sangat serig terjadi hal yang demikian.

Besung, Kepakisan’s favourite son is too young, so Klapodyana sees Ngulesir.

Selanjutnya Kyayi Klapodyana pergi menjelajah desa-desa hendak menghadap kepada Ida I Dewa Ketut Babotoh, sebab putra Dalem kecintaannya yaitu Ida I Dewa Tegal Besung, belum dewasa dan belum mampu untuk mengendalikan roda pemerintahan, itulah sebabnya berusaha mencari Ida I Dewa Ketut Angulesir, ditanyakan ke desa-desa. Telah jauh perjalanan Kyayi Bandesa Klapodyana, mereka pun tiba di desa Pandak, pada akhirnya bertemu dengan Ida Dewa Ketut, sedang menghadapi meja judi. Beliau menoleh ke kanan dan ke kiri karena merasa malu, apa lagi beliau selalu kalah dalam judian.

Tanpa ragu-ragu dengan sangat sopan dan hormat Kyayi Bandesa Klapodyana berkata, "Ampun Tuanku kini hanya Tuanku kami jadikan junjungan, sedangkan Sri Maharaja Samprangan kanda Tuanku sulit untuk dihadap". Ida I Dewa Ketut lama tak menjawab, karena rasa malunya dan berpikir-pikir, kemudian menjawab: "Adakah ilmuku untuk menjadi raja, untuk Paman jadikan junjungan tempat bernaung? Karena aku adalah seorang yang hina, miskin dan kasar?”

AD 1383: Klapodyana offers his house to Ketut Ngulesir, who moves there and calls it “Sweca Linggarsa Pura”; here he becomes king and assumes title Ketut Smara Kepakisan.

Kriyan Klapodyana menjawab, "Ampun Tuanku, tidak perlu berpanjang kalam, tegasnya Tuanku kami jadikan raja. Kalau Tuanku berkenan menduduki tahta kerajaan, ambillah rumah hamba. Hamba pindah ke kebun kelapa dan hamba mendirikan rumah di sana". 

Karena Kriyan Klapodyana bermohon dengan sangat, Ida I Dewa Ketut berkenan mengabulkannya, itulah asal mulanya Ida I Dewa Ketut bertahta di Gelgel, keratonnya diberi nama "Sweca Linggarsa Pura" tahun Çaka 1305 (AD 1383).

Baginda bergelar Dalem Ketut Smara Kepakisan, karena wajahnya tampan dan menjalankan "sad guna," menyerupai Sanghyang Mahadewa. Paha beliau bertanda "Cawiri" (tato berbentuk kepala kala), suatu tanda bahwa baginda seorang pemberani dalam pertempuran.

Pandak inhabitants are henceforth called Prasanghyang.

Pada masa yang silam, ketika Ida I Dewa Ketut berada di desa Pandak, sebelum dijemput olen Bandesa Klapodyana, beliau sangat disayang dan dijamin keperluan hidupnya oleh masyarakat Pandak, mengingat bahwa masyarakat Pandak amat setia kepada beliau, maka beliau berkata, "Kemudian bila aku menduduki tahta kerajaan, masyarakat Pandak kuangkat martabatnya, semua kujadikan “Prasanghyang". Itulah sebabnya masyarakat Pandak sampai sekarang disebut Prasanghyang.

Lain halnya ketika baginda tiba di desa Klungkung; tidak mendapat penghormatan dari mekel Klungkung yang bernama Ki Gusti Ayung, sedang berada di sebuah bangunan terbuka di depan rumahnya. Setiba Ida I Dewa Ketut, Ki Gusti Ayung menyapa dari atas, mundar mandir, tanpa turun ke halaman. Ia bertanya,

"Hai Dewa Ketut, baru datang? Datang dari mana?" Dalem menjadi murka, lalu beliau menjawab, "Hai kamu orang-orang Ayung betul-betul kamu kurang sopan, kemudian bila aku berhasil menduduki tahta kerajaan, dan disegani oleh masyarakat Bali semua, semoga kamu menjadi surut, jadi manusia tak bermartabat, agar menjadi tukang pembersih jamban pekerjaanmu membersihkan kotoran (najis), tidak terhormat sampai kemudian.

[p.13] Dan kamu sekalian tak henti-hentinya menjadi abdi, terus menerus".

First minister Nyuhaya moves to Gelgel with his sons; about the other Aryas.

Tersebutlah bahwa Kriyan Patih Nyuhaya yang menjabat sebagai Perdana Menteri, bersama dengan para menteri sekalian ikut pindah ke Gelgel. Seorang tak ada yang durhaka, semua tunduk di bawah perintah Dalem. Pangeran Nyuhaya pindah ke Gelgel, bersama dengan putranya yang tertua yaitu Kriyan Patandakan. Sedangkan adik-adiknya yang enam bersaudara yaitu Kriyan Satra, Kriyan Pelangan, Kriyan Akah, Kriyan Kaloping, Kriyan Cacaran, Kriyan Anggan, masih tetap di Nyuhaya.

Lanjut, ia (Pangeran Nyuhaya) membuat rumah di sebelah utara pasar dan disebut Karang Kapatihan, karena ia tetap menjadi patihnya Sri Dalem Ketut Smara Kepakisan. Entah berapa lama antaranya, meninggallah Pangeran Nyuhaya kembali ke alam baka, diganti oleh Kriyan Patandhakan, sebagai Perdana Menteri. Pada akhirnya abadi kedudukan Dalem. Asal mulanya lebih rendah kedudukan Ki Gusti Kubon Tubuh oleh Ki Gusti Pinatih o!eh karena ia keturunan Wang Bang.

Adapun Ki Gusti Pinatih, lebih rendah dari Ki Gusti Patandhakan, sebab ia berasal dari Satria Kepakisan. Demikian keadaan di zaman dahulu. Adapun Ki Gusti Kaba-Kaba, Ki Gusti Buringkit dan seorang putri, itu keturunan Arya Belog. Ki Gusti Tabanan, Ki Gusti Tegeh Kori keturunan Arya Kenceng. Ki Gusti Panataran, Ki Gusti Tohjiwa keturunan Arya Wang Bang. Ki Gusti Brangsinga, Ki Gusti Tangkas, Ki Gusti Pegatepan keturunan Arya Kenuruhan. Pring, Cagahan, Sukahet keturunan dari Arya Sura Wang Bang. Manguri, Dauh, Pangalasan. Jlantik itu adalah keturunan Erlangga. Pacung, Camenggawon keturunan Tan Kober. Abyan Semal keturunan Tan Kawur. Cacaha keturunan Tan Mundur. Demikian konon ceritanya dahulu, tidak diungkapkan tentang para Arya yang lain, sebab semua telah memperoleh kesejahteraan serta mempunyai keturunan di desa-desa tempat masing-masing.

Smara Kepakisan rules Bali in peace.

Setelah lama bertahta baginda yang ibarat Dewa Asmara di Kerajaan Gelgel sebagai raja Bali, negara pun amat sentosa, tidak ada kericuhan, cukup pangan seolah-olah penjelmaan Sanghyang Tolangkir, tampan bagaikan Arjuna, tak ternadai oleh sesama manusia, lengkap dengan segala kebesarannya, disegani oleh sekalian menteri dan para pejabat bawahannya. Demikian keadaan baginda yang di Bali.

Hayam Wuruk organises great conference, all attend except King of Wengker.

Tersebut bahwa Sri Hayam Wuruk raja Majapahit, memerintahkan untuk mengundang sekalian raja yaitu: Raja Bali, Blambangan, Pasuruhan, Madura, Palembang. Hanya Ki Jaran Panolih telah meninggal, digantikan oleh anaknya.

Utusan itu masing-masing menggunakan perahu layar, bertolak pada bulan mati ke tempat tujuan, agar datang pada musim bunga hari kesepuluh bulan penuh. Berkemas-kemas di Kerajaan Majapahit, sampai dengan di depan istana dihiasi. Raja Wengker tidak bersedia untuk hadir.

King Asmara in his Sunday best.

[p.14] Lama berselang siang dan malam, waktu yang ditentukan hampir tiba. Diceritakan bahwa Sri Aji Bali, sedang dihadap di balairung, pada hari kesepuluh bulan penuh, berhiaskan gelung "Supit Urang" penuh dengan sembilan permata ratna, di dahi depan permata intan bagaikan bintang, gelung berhiaskan Garuda di bagian belakang, hiasan telinga berukir, bersuntingkan bunga cempaka kiri dan kanan, bergelang "kembang sedan" bermata intan, bercincin "susarudira" dipasang di telunjuk, sangat menarik jari-jarinya yang halus, kuku mengkilat seperti kunang-kunang, karena ditimpa sinar Surya. Gigi baginda selalu digosok bagaikan mutiara setelah baginda dua kali memamah sirih, bibir seperti mengandung kapur, ibarat tetesan madu, gusi kemerah-merahan, bingung orang-orang yang melihat baginda Dewa Asmara, juga menggelisahkan para gadis.

King Asmara looking glorious and godlike.

Tidak bedanya Dewa Asmara turun ke dunia, yang menghiasi bibirnya sehingga menghancurkan hati, ibarat anglo dari timah, tak henti-hentinya menimbulkan keindahan. Setelah itu baginda pun keluar menyisipkan keris yang bergagang emas berhiaskan permata, bersarungkan gading ibarat pembunuh asmara, kekuning-kuningan seperti lukisan, "kampuh" "randi mega maya" bergambar dengan enam emas memakai "kati wanda" permata awun-awun, dengan dasar bulatan emas, hiasan bahu dengan emas berbintang permata, bahunya bidang, di celah-celah mahkota rambut ikal yang lebat, sungguh sulit menguraikannya, pandangan matanya bersinar bagaikan matahari berkilauan seperti petir sabung menyabung. Alisnya seperti daun intaran, jelas amat menarik perhatian para gadis-gadis remaja yang mencuri pandang sangat serasi baginda memakai keris Si Tanda Langlang, sebab itulah senjata dewa Wisnu yang mampu menaklukkan musuh, lengkap dengan permadani dan payung, seperti bayangan bulan sinar permata "witangka" beserta puan kemilauan karena permata-permata yang mulia.

Orang-orang pincang, bungkuk, kerdil ikut berlari-lari. Setiba di balairung baginda duduk di singgasana yang dibuat dari cendana berlapis permadani, indah permai harum semerbak. Terdiam mereka yang menghadap, ibarat kedatangan Dewa Asmara yang bercengkrama di Himalaya, yang diikuti oleh para dewata yang lain.

King Asmara addresses the attending officials.

Dalam keadaan demikian, Kriyan Patandakan bagaikan seorang dewata menghadap raja dengan upacara lengkap serta payung. Disusul oleh Kriyan Pinatih, seperti penjelmaan gandarwa juga dengan upacara selengkapnya. Menyusul lagi Kriyan Kubon Tubuh, seperti keindahan dalam lukisan dengan upacara yang lengkap. Demikian pula dengan para menteri yang lain, tanda, juru, pangalasan, manguri, popongo, bayangkara, di antaranya: Kriyan Tabanan, Tegeh Kori, juga Kriyan Kaba-kaba bersama-sama dengan Kriyan Buringkit, Kriyan Panataran, berdampingan dengan Kriyan Tohjiwa, Ki Gusti Pring, Ki Gusti Cagahan, Ki Gusti Sukahet Camenggawon, dan Ki Gusti Brangsinga, Ki Gusti Tangkas, Ki Gusti Pagatepan. Ikut Ki Gusti Kulwaning, Baleagung, Jelantik, serta Pacung, Abyan Semal Cacaha, semua hormat menghadap Sri Smara Kepakisan. Dalem bersabda ibarat tetesan madu, "Wahai Patandakan saya disuruh menghadap ke Majapahit. Kamu sekalian ikut, kamu patih ikut semua, kamu Klapodyana juga turut bersama agar berhati-hati, jangan gugup dan janggal pergunakan sopan-santun yang terpuji, para menteri dilengkapi, untuk menghormat pada pemerintah yang tertinggi, dengan ketelitian membalas sopan-santun orang lain". Demikian sabda Dalem. Sembah Rakryan Patandakan, "Segala titah Tuanku, dengan kebulatan tekad patik junjung di atas batu kepala patik". Sembah Ki Gusti Pinatih, "Ampun Tuanku patik junjung segala titah yang dipertuan, di atas ubun-ubun, sejak permulaan".

[p.15] Demikian pula sembah Kyayi Kubon Kelapa sangat menggembirakan hati Dalem, hilang segala kebimbangan. Demikian keputusan permusyawaratan itu. Amat teratur bukan? Demikian keputusan permusyawaratan yang diambil dengan penuh tanggung jawab. 

Dalem bersabda, "Kamu Tabanan, Tegeh Kori, tidak lepas Penataran, Tohjiwa, demikian juga Pring, Cagahan, Sukahet. Kamu semua hanya bertugas menjaga keraton (tidak ikut pergi). Semoga mendapat rahmat panjang usia, selamat, ketidak puasan dan kemarahan dalam hati agar musnah. Kamu Brangsinga, Tangkas, Pagatepan, serta Kulwan, Jelantik, Camenggawon, tinggallah kamu dan kamu pula menciptakan siasat perdamaian".

"Ampun Tuanku, segala titah, patik junjung tinggi". Demikian sembah mereka yang telah luput dari kebimbangan, segala kebimbangan antara mereka yang pergi dan yang ditinggalkan.

Sabda Dalem, "Ikut serta kamu Tan Kober, Tan Kawur, dan Tan Mundur, kalian bertindak sebagai perintis jalan, agar terpenuhi segala perintah Sri Maharaja yang bagaikan Hyang Siwa". Demikian jalan permusyawaratan itu dan kemudian bubar, raja kembali ke istana, para menteri pulang ke rumah masing-masing.

Tidak diutarakan lagi tentang Sri Aji Smara Kepakisan, yang memperoleh kebesaran dan nama harum, juga tentang hubungarnya dengan sang permaisuri ibarat kumbang mencari bunga siang dan malam.

The conference in Majapahit: the Arya accompanying Asmara take one month to get there.

Kembali diuraikan tentang keadaan di Majapahit, yang sedang dihormati disembah-sembah, yang benar-benar merupakan puncak kebesaran, juga patih Madu yang sedang berwibawa. Juga Teteg, Menjung, Gowi, Marga Lewih, Ki Bungsang, Ki Lembu Wreda, kebanyakan para menteri itu telah tua, ibarat teratai manikan dengan tepung sari tak kelihatan, tidak melekat padanya yang menguasai tetapi tidak dapat dikuasai yang berupa inti sari kerohanian yang tinggi.

Kini tiba hari yang baik, diceritakan mereka yang berlayar dengan perahu. Palembang tak terkatakan lagi, telah tiba di Bubat. Adipati Madura berlabun di Pajarakan, satu minggu dalam perjalanan. Adipati Blambangan sepuluh hari dalam perjalanan, gajah, kuda selengkapnya. Sedang Adipati Pasuruhan hanya tiga hari dalam perjalanan, penuh sesak kuda dan gajah serta pengiringnya, itulah suatu tata cara perjalanan seorang pembesar. Berulang-ulang diceritakan, bahwasanya di dalam bulan terang, para Arya dari Bali yang mengiring raja Bali, selama satu bulan dalam perjalanan.

The journey to Majapahit

Baginda raja Bali dalam perjalanan itu menggunakan perahu yang dihiasi dengan tiruan tumbuh-tumbuhan melata, sebab meniru hiasan Sanghyang Smara. Setelah itu maka tampaklah riak memutih pada empat penjuru perahu seperti kuda putih, cahaya kilat merupakan talinya seperti tali emas. Berhembus angin turutan, belinya indah berhiaskan kembang gadung mekar, perahu itu bagaikan kesturi, tiangnya gading memasang layar yang tinggi dan amat indahnya, payungnya kembang angsoka dengan pucuknya, diatur pula kuncup-kuncup kayu manis merapat pada tepi-tepi atap, beralaskan kuncup angsana yang indah. Lotengnya kembang gadung yang indah dan bunga pudak (sejenis pandan) tirainya dihias dengan sulaman berlukiskan awan menipis.

Setelah itu, mereka yang berlayar dalam dua buah perahu ibarat bunga teratai yang indah, tiang panji-panjinya berujung permata mulia yang indah, menciptakan keindahan yang menarik hati, dengan pertanda setangkai kembang nagasari yang keungu-unguan, juga bunga pudak yang ditancapkan. Dalam hal demikian Kriyan Patandakan berlayar di depan dengan perahu berwarna putih ke sana kemari. Sebagai kebiasaannya Kubon Tubuh, menggunakan warna yang berlawanan yaitu warna hitam, tetap bertindak sebagai tamu terhormat, juga para menteri yang lain semua berlaku sebagai masa-masa terdahulu, berturut-turut perahunya berkelompok-kelompok. Dan selama mereka dalam pelayaran, tetap diselang-selingi hiburan.

[p.16] Di Mimba (Intaran Sanur) sehari, di Kuta satu hari, desa-desa di sekitarnya menyiapkan hidangan. Selanjutnya mereka berlayar menuju Tuban, Kelahan, Kadongayan, demikian pula Seseh, di atas samudra luas berlayar tak henti-hentinya. Tiba di Jembrana, perahu-perahu itu berlabuh memenuhi muara, semua menghadap pada Dalem, sepanjang jalan orang-orang menontonnya. Setelah sehahari mereka berada di sana, perjalanannya pun dilanjutkan.

Kagum mereka yang menyaksikan lajunya perahu-perahu itu, sungguh amat cekatan mengarungi samudra, sebab baginda dianggap bukanlah seorang manusia, tidak lain dari Hyang Asmara turun ke dunia. Kapurancak telah dilalui, melaju ke utara menyusur selat Bali, kemudian di Pulwayam dan kemudian lagi tiba di Pagilingan. Kira-kira satu minggu lama mereka dalam perjalanan, maka setelah melewati Pajarakan terus menuju Telagorung. Penuh sesak orang-orang yang menyaksikannya.

Mengapa demikian? Sebab seolah-olah Hyang Asmara yang bercengkrama, diiringi oleh para dewata di antaranya adalah Kriyan Patandakan, Pinatih Kubon Tuhuh.

Java

Diceritakan tentang di Pulau Jawa, ditulis oleh Hyang Darmaja sebuah pustaka "Kumara Singsal". Berkat kutukan Hyang Giri Natha, berwujud manusia tegap berwajah tampan juga seperti Manobawa (Dewa Asmara). Tercantum dalam Canda Purana, berkat anugrah Hyang Uma, sehingga baginda unggul dalam pertempuran, Sri Hayam Wuruk berhasil sebagai raja besar, terpuji di nusa Jawa.

Tersebut pula mereka yang berlayar, kini telah berlabuh di Bubat, dijemput dengan upacara kebesaran, santapan dan pakaian serta perhiasan emas bermata intan, sesuai dengan adat kebiasaan seorang raja besar dan bijaksana.

Lamanya enam malam mereka menginap, setiap malam ramai sekali seperti pararaksasa berdesak-desakan. Apa sebabnya demikian, sebab buat pertama kali terjadi sejak peristiwa hancurnya Raja Sunda.

Setiap subuh mereka menikmati keindahan, kemudian ke kota, Maharaja Majapahit menyuruh menumpang pada perumahan para patih, untuk menerima jamuan berupa santapan, pakaian, hiasan emas yang indah, seperti kebiasaan para raja-raja besar. Bahwasanya pada suatu pagi Sri Maharaja Hayam Wuruk, ketika pergantian bulan mati di hari pertama bulan terang, permulaan musim bunga. Ibarat penjelasan Narayana tampan dan budiman.

Singgasana yang berhias berwarna-warni dengan yang hadir ibarat dewata, di antaranya raja Bali, Blambangan, Pasuruhan, demikian pula Palembang. Madura, mereka laksana sang Ketu Chandra, Bajra Surya, Singgala bayu dan Kalingga seperti padma ghosa berhati kuat seperti permata "padma", berlayar dengan sampan, karena ketangkasannya sebagai raja. Sri Aji Wengker Rama Bhadra Cwino, mengikuti musim semi. Demikian keindahan tata cara raja, sama-sama raja yang berwibawa, segala tindakannya mengikuti pendeta raja, sebab raja menganut ajaran Budha.

[p.17] Sangat megah pakaian yang dikenakannya, seperti langit tempat berkumpul permata-permata mulia, demikian bersebelahan dengan raja Wengker, duduk di singgasana yang gemerlapan, karena ditimpa oleh sinar permata "Witangka" yang seperti bulan. Penuh dengan hiasan emas permata intan dikenakannya.

Di depan Patih Madhu, sangat manis tutur bahasanya, seperti seorang dalang di atas panggung. Penuh sesak hadirin menyaksikan. Di belakangnya adalah patih Teteg, Menjung, Gowi, Marga Lewih, Bungsang, yang terakhir patih Lembu.

Suasana hening ketika datang sang prabu, ibarat mentari terbit di celah gunung di timur laut, bedanya hanya baginda berada di atas dunia, saat-saat itu, para Adipati telah ada di tempat menunggu. Dengan berpakaian kebesaran yang lengkap, sedang menanti sabda Maharaja. Pakaian yang dikenakan penuh hiasan emas bermata intan, tidak kurang alas permadani, demikian pula puan semua, disongsong dengan upacara oleh para menteri di Majapahit, dengan alas permadani dan payung kebesaran selengkapnya.

Setelah itu untuk segera para Adipati menghadap, maka patih Madu diperintahkan untuk menjemput. Demikian pula Patih Teteg, Patih Menjung, Patih Gowi, Patih Marga Lewih. Sabda Maharaja, "Kalian yang menjemputnya, dilakukan serempak, dengan mengutamakan tata cara sopan santun yang tinggi masing-masing agar berbuat sebijaksana mungkin, yang ke jurusan barat, ke barat, yang jurusan ke selatan ke selatan, langsung ke timur, terus ke utara, dengan tata cara seperti semula". Patih Madu menghormati dengan panganjali tiga kali berturut-turut, disusul oleh Tegeg, Menjung, Gowi, Marga Lewih, sembahnya "Ampun tuanku, segala telah patik junjung tinggi".

Sangat menarik tingkah mereka menghormat, membungkuk dan menunduk, bertutur bahasa menurut gaya lama, tampak seperti dalam lukisan.

Setelah itu, ada seorang mengenakan pakaian "kampuh" dengan cara "Ngara-jasinga" molek dan serasi seperti "padapa" dengan tampan membungkukkan badan merendah, menoleh dengan gaya yang halus. Kecuali itu diutarakan pula tentang istana yang amat luas bersegi empat halamannya sampai dengan balairung, pintunya hitam dengan permata intan (mirah). Balai-balainya berhiasan emas, sangat gemerlapan, karena bunga-bunganva seperti kilat, pintu gerbang berukir menjulang tinggi, sungguh indah puncaknya disentuh oleh cemara yang bergoyang.

Istana itu dikelilingi dengan taman yang indah, gadis-gadis bercengkrama, ibarat bidadari di Sorgaloka. Sungguh amat suci, bagaikan aliran air sungai Gangga. Apa sebab demikian? Karena aliran air langsung dan bening dari istana.

Kagum mereka yang melihatnya. Setelah itu diceritakan Patih Madu sudah tiba pada tujuannya sangat menarik. Baginda raja Bali, tertegun mereka yang melihat rasa-rasanya baginda bukan seorang manusia, persis Dewa Asmara yang selalu menciptakan rasa cinta di atas dunia.

The officials are welcomed individually.

Demikian Patih Teteg, menjemput Adipati Blambangan. Patih Menjung menjemput Adipati Pasuruhan, Patih Gowi menjemput Adipati Palembang, Patih Marga Lewih menjemput Adipati Madura. Setelah mereka tiba di tempat tujuan masing-masing menghormat seraya membungkuk, katanya, "Ampun Tuanku, patik tidak bersopan santun. Paduka Adipati Bali, yang tampan seperti dalam lukisan, sangat manis ibarat banjir madu. Benar-benar ibarat kembang gadung dan kecubung, tingkah laku molek bagaikan banjir madu". Demikian sembah Patih Madu dengan tutur kata yang manis dan menawan.

[p.18] Tersenyum raja Bali, seraya menjawab, "Semua yang Paman katakan itu tidak tepat, sebab saya seorang yang kurang terampil, tidak paham bertata laksana". Patih Madu tersenyum dan sembahnya, "Seperti apa sembah patik, Tuanku. Bagaimana mungkin seorang seperti Tuanku, bila tidak penuh dengan pengetahuan, segala yang manis ada pada diri Tuanku, terpikat hati siapa pun yang melihat, seolah-olah mencurahkan hujan keindahan". Baginda yang ibarat dewa Asmara menyatukan keinginan bersabda, "Maafkanlah atas kebodohan saya, sebenarnya Paman Patih Madu sumber kemuliaan, manis dan bertingkah laku bijaksana, ramah-tamah menyenangkan hati rakyat, sejak muda pintar berbahasa, simpatik menyenangkan hati atasan, sangat paten seorang patih muda yang menawan". Daulat Tuanku, sudahlah Tuanku, patik terlalu lancang agak berkepanjangan bersenda gurau kehadapan Tuanku yang ibarat kumbang mabuk asmara sedang mengisap sari. Patik hanya diutus untuk, menjemput Tuanku". Demikian kesimpulan sembah para patih masing-masing.

The delegation meets Hayam Wuruk, the Maharaja of Majapahit.

Segala titah Sri Maharaja disampaikannya. Setelah itu terus berkemas dan lanjut, berangkat tanpa ragu-ragu, teratur rapi, dengan perlengkapan yang cukup, Patih Madu dan yang Iain-lain berjalan terdepan. Mengapa demikian? Memang demikian tata cara seperti di Majapahit. Diikuti oleh para Adipati beriring-iringan. Tersebutlah tingkah laku baginda yang seperti dewa Asmara.

Telah tiba di depan Sri Maharaja Majapahit, membungkuk menghormat menyentuh kaki sampai kagum mereka yang melihat, rasa-rasanya Dewa Asmara menjelma. Sri Maharaja pun tersenyum. Setelah itu baginda (raja Bali) duduk dengan amat sopan, di bawah naungan hiasan berbentuk bunga angsoka yang indah.

Para menteri lengkap pula dengan segala tatanya, dan baginda raja disanding oleh adindanya yaitu Ida I Dewa Tegal Besung. Barulah Kryan Patandakan, Kryan Patih Kubon Tubuh, di belakangnya adalah Pacung Abyansemal dan Cacana, berlaku pantas sesuai dengan petuah raja dahulu.

The King of Wengker also meets Hayam Wuruk.

Di sebelah timur, Bali dengan para menteri dan pengawal, di sebelah barat Blambangan, Pasuruhan, serta Palembang. Maharaja Majapahit bersabda, "Berbahagia saya karena kalian hadir, terlalu lama kiranya belum juga saya sempat bercakap-cakap dengan kalian". Demikian sabda Maharaja, para Adipati menjawab, "Kami pun merasa amat bahagia atas titah yang dipertuan". Raja Wengker ikut pula dalam penghormatan itu, karena kedua baginda dianggap rajanya. 

Kemudian datang suguhan sirih pinang dalam puan emas, dibawa oleh dayang-dayang dengan gayanya masing-masing, dihiasi dengan pucuk nagasari.

Para Patih di sebelah barat adalah Teteg, Menjung, ikut pula Gowi dan Marga Lewih. Adapun yang di sebelah timur Patih Madu, berbusana yang tampan, berselimut (kampuh) sutra-pitola dengan cara yang rapi bersusun seperti dalam lukisan. Para Adipati menghormat, menerima suguhan itu. Raja Bali menghormat dengan lemah lembut, dengan gayanya tersendiri, sehingga tertarik hati siapa yang melihatnya. Demikian pula kedua maharaja itu, sehingga tidak sedikit wejangannya bagaimana caranya memimpin daerah dengan rakyatnya.

Hayam Wuruk asks Asmara about a black ‘cawiri’ sign on Asmara’s thigh.

Setelah berpanjang kalam, tiba-tiba Sri Maharaja Hayam Wuruk bertanya kepada raja Bali, sabdanya, "Wahai Anakku yang bagaikan Dewa Asmara menjelma, jangan kesal dan kecewa, saya ingin bertanya kepada Anda bahwa terbentik berita, konon ada warna hitam (belang) pada pahamu Anakku? Ingin benar saya melihatnya".

"Ampun Maharaja, benar amat cacat badan saya". Sabda Maharaja, Cobalah!" Disuruh untuk memperlihatkannya, maka kain (wastra) segera disingkapkan, dipertunjukkan ke hadapan Maharaja Majapahit. Sri Aji Bali berkata dengan amat sopannya, "Saya mohon ampun dan permisi ke hadapan Maharaja".

[p.19] Tampak seperti gambaran "cawiri" (tato berbentuk kepala Kala) suatu pertanda jaya dalam dunia sebagai penjelmaan Hyang Aswino. Setelah itu baginda keduanya bergembira. Dan bersabda Maharaja Majapahit bagaikan penjelmaan Siwa. Sabdanya, "Bagaimana pula tentang rakyat kita yang di sebelah timur gunung Kawi? Apakah mereka setia?". 

Raja Wengker tersenyum, sama-sama bergembira pula, sebab baginda sama-sama berwibawa. Dalam keadaan demikian, maka dihadiahkan oleh Maharaja berupa pakaian (wastra) disertai dengan sembilan keris yang berukirkan arca berbentuk "Nagapaça". Sabda Maharaja Majapahit, "Ini suatu pertanda bahwa saya mencintai bersatu jiwa dengan Anda". Sembah raja Bali, "Ampun Tuanku, saya menjunjung tinggi titah yang dipertuan, ibarat Sanghyang Siwa menguasai Tribuana ini".

End of daily meetings; Hayam Wuruk misses the Sunda princess.

Setelah itu, permusyawaratan itu pun bubar, kedua Sri Maharaja baginda masih di istana, karena baginda Maharaja amat rindu, terbayang kemolekan sang putri dari kerajaan Sunda. Sedangkan para Adipati yang lain masing-masing telah pergi menuju pesanggrahan, termasuk para menteri dan pejabat-pejabat yang lain serta para pengawalnya. Gadis-gadis termenung melamun tak berdaya, mengenang mereka (adipati) yang telah kembali.

Tidak lain hanya Adipati Bali selalu terbayang di hatinya yang sedang dimabuk cinta. Karena tingkah laku baginda selalu menawan amat manis, sungguh tak ada yang memadai selama-lamanya, bila diandaikan sebagai bunga cempaka dirangkai dengan bunga "lembong" (jenis-jenis bunga cempaka). Dikisahkan bahwa Sri Maharaja dalam istana dilayani oleh permaisurinya, santapan dengan segala rasa yang lezat, serta seisi istana mempersembahkan pakaian pengganti, serta pencuci kaki. Tidak diceritakan keadaan Maharaja di waktu malam.

After the first day, the Wengker King leaves conference; the others stay on for a month; end of conference.

Keesokan harinya pagi-pagi, Maharaja Wengker kembali pulang. Sedangkan tamu-tamu para Adipati setiap hari menghadap Maharaja, tidak lain, hanya jenis filsifat semata yang dibicarakannya.

Para Adipati kurang lebih satu bulan berada di Majapahit tibalah saatnya para Adipati itu mohon diri ke hadapan Maharaja Hayam Wuruk dengan perantaraan Patih Madu. Maharaja Hayam Wuruk menghadiahkan satu perangkat pakaian, serta petuah agar berhati-hati memimpin negara, mengutamakan "Manawa Sasana" seperti beliau yang berjasa pada negara, maka para Adipati kembali ke daerahnya masing masing dengan perahu layar.

King Asmara returns to Bali; his keris is lost in the Canggu river, but returns, hence its name ‘Ki Bangawan Canggu’, aka ‘Ki Naga Basukih’, or ‘Ki Sudamala’.

Kini dikisahkan perjalanan baginda raja Bali, bahwa baginda telah tiba di kali Canggu, tiba-tiba keris baginda terjatuh dan tenggelam ke dalam sungai. Kemudian, sarung keris tersebut diperlihatkan (di atas sungai), keris itu datang dengan sendirinya memasuki sarungnya, maka keris itu diberi nama "Ki Bangawan Canggu" yaitu keris hadiah dari Maharaja Majapahit, keris yang dianggap Ki Naga Basukih, keris berukiran naga yang mengagumkan, amat bertuah, semula bernama "Ki Sudamala" sebab mempunyai fungsi untuk menyucikan negara.

Selanjutnya mereka berlayar dengan perahu, dan tidak dikisahkan keadaan mereka dalam perjalanan, dan telah tiba di daerahnya masing-masing. Adapun Kyayi Patandakan, Pinatih, Kubon Tubuh, sangat terpuji di Majapahit, bagaikan para dewata gandarwa mengiringi perjalanan raja.

Death of Hayam Wuruk and King of Wengker lead to chaos.

Entah berapa lamanya, baginda yang berkuasa di Majapahit, tiba suatu masa, yang menghancurkan negeri, wafatnya Maharaja Hayam Wvruk dan raja Wengker. Tak ada lagi yang memegang kendali pemerintahan, para perwira saling berebutan untuk memperoleh kewibawaan. Bingung seperti kemasukan setan, tikam-menikam sesama kawan, para perwira berguguran beserta anak buahnya.

Hayam Wuruk’s regalia are sent over to Bali.

[p.20] Kekayaan istana yang berupa emas, permata, terutama senjata (keris), dipindahkan ke Pasuruhan, Blambangan, terutama ke Bali termasuk pula ke Madura. Diceritakan bahwa Adipati Madura Jaran Panolih, menyelenggarakan suatu upacara (yadnya), untuk membuktikan leluhurnya, apakah tidak memperoleh surga?

Para pendeta pun diundang dan para raja-raja dari luar daerah terutama raja Bali, Blambangan, Pasuruhan, Palembang, Cina, dan Makasar. Ternyata Maharaja Rum, juga diundang tapi tak berkenaan hadir, katanya, "Itulah rakyatku, kendatipun semua kukuasai jangan-jangan akan memenuhi Pulau Madura. Tak hendak saya menghadapi upacara (yadnya)". Demikian kata raja Rum.

Bali King Asmara visits deserted Majapahit.

Tersebutlah bahwa Sri Smara Kepakisan, berlayar diiringi oleh para pejabat tinggi negara, dengan tata cara seperti terdahulu. Perjalanan Sri Smara Kepakisan telah tiba di Majapahit, baginda terpukau melihat keadaan negara sunyi sepi, tak ada seorang pun lalu lalang di jalan raya. Hal itu menimbulkan kekecewaan di hati baginda, teringat cinta kasih Sri Hayam Wuruk dan raja Wengker kepadanya dahulu waktu baginda menghadap. Baginda bertanya-tanya kepada para menterinya sekalian, sebab musabab kehancuran kerajaan itu.

King Asmara meets Siwa Waringin.

Belum berakhir percakapannya itu di tengah perjalanan tiba-tiba baginda berjumpa dengan seorang pendeta yang bernama Çiwa [Siwa] Waringin, beliau masih hidup waktu runtuhnya Majapahit itu, karena beliau mempunvai pengetahuan yang tinggi, sehingga mampu meloloskan diri sekehendak hati, beliau ditanya oleh Sri Smara Kepakisan sebab musabab hancurnya Majapahit. Kata sang maha pendeta Siwa Waringin, "Wahai Tuanku Raja Bali, yang ibarat Hyang Aswino menyinari dunia. Makanya Tuanku menyaksikan Kerajaan Majapahit hancur lebur, karena telah tiba suatu masa, yang mengakibatkan kehancuran negara.

Waringin explains the destruction of Majapahit: greed, heresy and conceit led to civil war; enters one-eyed evil god Kala.

Kini jiwa manusia diliputi oleh tiga sifat buruk (tri meda) yaitu loba, sesat dan angkuh, menyimpang dari kebenaran. Sri Hayam Wuruk menyadari saat tibanya masa kehancuran itu, baginda dan raja Wengker pun wafat. Oleh karena itu tidak ada lagi yang memegang tampuk pemerintahan, para menteri dan para perwira bertengkar, saling berebutan mencari kewibawaan, tak hendak mengalah antara sesamanya. Panik bagaikan kemasukan setan terpikir olehnya bahwa tak ada orang lain melebihi dirinya, timbul huru-hara, disebabkan karena selalu bermabuk-mabukan (minum minuman keras), cela mencela, berkelahi sesama teman, bersekutu berkelompok-kelompok, dalam waktu singkat timbul perang saudara.

Setelah itu muncul pula "Sanghyang Kala" bermata satu, ujarnya, "Hancur, hancur". Demikian sabda Sanghyang Kala. Setiap orang yang mendengar itu berguguran, rakyat mengalami kehancuran, kini di Majapahit seperti tertimpa kapaknya Indra, sehingga kembali seperti semua berupa hutan", demikian ceritanya Siwa Waringin.

King Asmara organises ceremony in Madura, alas to no avail.

Terhenyak hati raja Bali (Sri Smara Kepakisan), katanya dalam hati “Tidak berbeda semua yang hidup (tumbuh), tidak luput dari suka dan duka, kematianlah mengakhiri hidupnya". Kemudian baginda mohon diri pada sang pendeta untuk melanjutkan perjalanan, segera tiba di Madura, Baginda dijemput untuk mengikuti upacara itu. Setelah selesai upacara itu, raja-raja sekalian diutamakan diberikan suguhan selengkapnya. Namun upacara itu tak berhasil, karena arwahnya tidak bebas oleh upacara yang terganggu. Sedangkan upacara itu ramainya bukan kepalang.

Finally, the soul of Adipati Madura [= Rum?] is redempted from suffering.

[p.21] Dan setelah berakhir upacara itu, para raja kembali ke daerahnya masing-masing. Entah beberapa lama antaranya, pada akhirnya arwah leluhur Adipati Madura memperoleh kebebasan, karena kesaktian seseorang yang melakukan "Tapa rare" bersama Jangga ing Kayu Manis. Bagaimana caranya? Hanya dengan korban (caru) nasi segenggam dan seekor itik. Bagaimana pula tanda-tandanya? Ditanyakan pada pohon beringin, dijawab. Pada laut dijawab. Lebih-lebih pada api, dijawab. Pancuran menjawab. Patung di pura menjawab. Jawabannya semua sama, bahwasanya arwah itu telah bebas dari penderitaan. Tak terkatakan betapa gembiranya Adipati Madura.

King Asmara wishes to organise a ‘Bhiseka’ ritual in Keling.

Tersebutlah bahwa raja Bali (Sri Smara Kepakisan) baginda bermaksud melaksanakan upacara "bhiseka" mengenakan gelung "supit urang" mengundang seorang pendeta (Brahmana) ke daerah Keling. Semua maksud baginda terkabulkan. Pendeta itu datang menurut tujuannya, tiba-tiba sampai di pegunungan Wasuki, maka dilihat [dibuat?] sebuah "Padmasana" di puncak gunung itu, menyala berkobar-kobar, kemudian dilihat pula Sanghyang Maha Dewa sabdanya, "Hendak kemana tujuan Sang Pendeta?""Ampun, saya hendak ke Gelgel". "Apa yang hendak dilaksanakan?" "Saya disuruh memuja oleh raja Bali, bahwa baginda akan melaksanakan upacara biseka". "Wahai...”

Mahadewa at Mount Besuki speaks to Brahman priest.

Ternyata Sanghyang Mahadewa mengacungkan tangannya, ke luar api dari dalamnya, seraya berkata, "Apa ini Sang Brahmana?" "Itu adalah Pacagni". "Kemana kulemparkan? Apakah ke dalam hatimu Sang Brahmana? Atau pada leher sang Brahmana?" Seketika Sanghyang Mahadewa menghilang.

King Asmara receives Brahmana priest at court and is blessed by Mpu Kayu Manis. Brahmana priest leaves; kingdom Gelgel thrives.

Sang Brahmana berpikir-pikir, bukan karena takut pada kematian, namun terdorong oleh kesetiaannya pada janji. Beliau melanjutkan perjalanan menuju Gelgel. Setiba di Gelgel, langsung menuju istana, suatu kebetulan di jumpa raja sedang duduk-duduk di balai-balai. Raja turun dan balai-balai menjemput kedatangan Sang Brahmana, seraya menyapa, "Datang pula Sang Brahmana?" Ya, saya sempat datang". Silakan duduk di depan saya, silakan".

Setelah duduk bersama-sama, Sang Brahmana kagum melihat paras muka raja Bali yang persis seperti sanghyang Manadewa. Selanjutnya Sang Brahmana menceritakan bahwa terlambat datang, karena terhalang di tengah perjalanan bahkan hampir mengakhiri hayatnya.

Raja Bali pun berkata, "Itu semuanya karena takdir, sedangkan perjanjian itu akan berakhir setelah 42 hari". Selanjutnya raja Bali mohon untuk disucikan (diniksan). Setelah sepakat, maka raja Bali masuk istana dan telah diputuskan pesanggrahan Sang Brahmana adalah di Taman Bagenda. Tidak suatupun yang kurang tentang suguhan dan penghormatan raja Bali seperti biasannya terhadap seorang pendeta.   

Pada suatu hari yang baik, Sri Smara Kepakisan dilantik disucikan o!eh Mpu Kayu Manis, dan telah selesai memberikan petuah-petuah. Sang Brahmana kembali ke daerahnya, pergi tanpa rintangan. Kedudukan raja di Gelgel semakin kuat, negara aman dan sentosa.

AD 1460: Smara Kepakisan dies; Waturenggong replaces him as king. Bali is peaceful.

Diceritakan bahwa Sri Smara Kepakisan cukup lama bertahta sebagai raja Bali, kini datang saatnya baginda berpulang kembali ke alam baka, dengan pertanda yang baik pada tahun Saka 1382 [AD 1460].

[p.22] Baginda digantikan oleh putra mahkota yang telah dinobatkan sebagai raja muda sejak tahun Saka 1380 (AD 1458) dan selanjutnya setelah wafat Sri Smara Kepakisan, langsung Sri Waturenggong menggantikannya, memegang tampuk pemerintahan dengan kekuasaan penuh di pulau Bali, tetap seperti sedia kala negeri aman sentosa sewaktu beliau bertahta.

Government officials also die and are replaced by sons.

Lama kelamaan para menteri yang telah tua telah tidak ada lagi semuanya berpulang, semua digantikan oleh putranya, dengan kedudukannya tetap sebagai semula. Antara lain Ki Gusti Batan Jeruk putra Rakryan Patandakan, Ki Gusti Abian Tubuh, Ki Gusti Pinatih, kesetiaannya seperti orang tuanya masing-masing, dan para menteri yang lain tetap di tempatnya masing-masing. 

Tidak jauh berbeda dengan adat istiadatnya dahulu. Baginda raja amat berwibawa, benar-benar seperti keberanian singa, pandai dan bijaksana mengikat hati rakyatnya, tak terkatakan kesentosaan daerah rakyat kerajaan, terpengaruh oleh ketinggian budi rajanya, amat terpuji kebijakan baginda mengendalikan roda pemerintahan, terlebih-lebih pemberani dan mempunyai kesaktian dalam pertempuran.

Peaceful king Waturenggong is compared to Wisnu Murti.

Baginda raja bagaikan Hyang Wisnu Murti di kala bertangan empat, lengkap dengan senjata, gada, cakra, terutama Sinandaka, Si Sangka Pancajanya. Manakah yang dimaksudkan? Keris Si Lobar yang terpenting, bagaikan gada atau cakranya, sedang Si Tanda Langlang, Si Bangawan Canggu, ibarat Si Sangka Pancajaniya. Itulah senjata-senjata Wisnu yang mengagumkan membasmi musuh, angkatan perang piaraan baginda tersebut "Dulangmanghap" dengan pasukan inti sebanyak 1600 orang, seperti Kalantaka, dipimpin oleh Kriyan Ularan, seperti Kala-mertiu, pantaslah keturunan Pasung Grigis di masa yang silam.

AD 1512: Blambangan king Juru refuses to grant his daughter Ni Bas to Bali King Waturenggong; war ensues; Bima Cili takes her to Pasuruhan; king Juru dies.

Pasukan itu yang dikirim untuk menyerang Dalem Juru, pada tahun 1434 Saka atau sama dengan tahun AD 1512, karena berdosa tidak berkenan menyerahkan putrinya yang bernarna Ni Bas kepada Sri Waturenggong. Hal itu yang menyebabkan raja Bali hilang batas kesabarannya dan memendam rasa dendam, yang diakibatkan pula oleh kelicikan Si Bhima Cili, yang menyerahkan putrinya itu ke Pasuruhan, hanya tinggal Sri Juru di Blambangan. Karena rasa dendam maka diserang oleh raja Bali, sampai menemui ajalnya, terkutuk oleh perbuatannya yang durhaka terhadap Sang Maha Pendeta.

Nirartha: from Majapahit to Daha, becomes a Shivaist.

Hormat saya kehadapan Danghyang Nirartha, tak ada taranya, beliau sebagai simbul kerokhanian yang maha suci, dan semoga tak terkutuk oleh Para Dewa untuk menceritakan hal ikhwal beliau, semoga semua memperoleh kesempurnaan. Begini konon riwayatnya dahulu, beliau dari Majapahit pindah ke Daha, karena permintaan Danghyang Panataran. Beliau berputra laki-perempuan. Sejak itu beliau menjadi penganut Çiwa dan dianggap putra dalam dharma agama.

Nirartha moves to Pasuruhan; with king Juru’s sister he begets three sons by family name of Keniten; relations with Sri Juru worsen; Nirartha leaves for Bali.

Beliau, Danghyang Nirartha, pergi ke Pasuruhan, atas permintaan Danghyang Panawasikan, di sana beliau berputra laki-laki dua orang. Kemudian beliau pindah ke Blambangan dihadiahi oleh Sri Juru, berputra tiga orang laki-laki dan perempuan. Mereka kelahiran Keniten [Kaniten] semuanya. Kemudian hubungan antara ipar beliau (Sri Juru) karang serasi, dinasehati oleh Sang Putri Keniten, sehingga beliau menyeberang ke Pulau Bali. Dituduh bahwa beliau memasang guna-guna, karena bahunya harum tanpa wangi-wangian, setiap disentuh juga berbau harum dan tak ada celanya, sebab keringat beliau memang berbau harum seperti bunga mawar, sehingga Sri Juru menjadi tergila-gila.

Nirartha’s wife (= Ni Bas = Patni Kaniten?) writes a poem on love sickness.

Istrinya disuruh mengarang tentang dirinya, itulah sebabnya tercipta nyanyian "Sapasira Sang Jampyang Wulangun? (Siapa yang mampu mengobati sakit asmara?) "oleh Patni Kaniten ibarat sanghyang Saraswati". Danghyang Nirartha berkenan memberikan isinya. Sangat panjang bila hal itu dikisahkan.

AD 1489: Nirartha, his wife and kids cross over from Blambangan to Bali; King Juru was killed as result of Nirartha’s curse.

Danghyang Nirartha selanjutnya pindah dari daerah Blambangan menyeberangi lautan dengan menggunakan waluh (sejenis labu) milik para pelaut, tangan dan kakinya digunakan sebagai dayung dan kemudinya. Sedangkan istri beliau dan ketujuh orang putranya, diangkut oleh para pelaut menggunakan perahu bocor, dalam waktu singkat tiba di Kapurancak, di Pantai Pulau Bali.

[p.23] Demikian konon riwayatnya, gugurnya Sri Juru seolah-olah karena kutukan Sang Pendeta Nirartha, dengan rahasia membalas dendam menghancurkan musuh, sebab Sri Aji Waturenggong ibarat Hyang Pasupati, yang mengirim Sri Juru ke alam neraka. Bahwasanya pada zaman dahulu, ketika Danghyang Nirartha tiba di Bali tahun 1411 Saka, tiba di Kapurancak, ditinggalkan oleh para pelaut itu.

A shepherd and monkey show Nirartha the way.

Tinggallah beliau dengan seorang istri dan tujuh orang putranya, maka dijumpainya seorang gembala, ditanyakan jalan ke arah timur. Kemudian beliau langsung berjalan menyusup di hutan-hutan, berjumpa dengan kera berloncat-loncatan dan ribut-ribut. Kata Sang Pendeta, "Hai kamu kera dapatlah kamu memberi jalan kepadaku?"

Nirartha enters the mouth of a giant snake, finds a lotus flower, and comes out totally black-skinned; one of his chilren disappears, buried at Melanting temple; an earthworm later reincarnates as a woman.

Tiba-tiba beliau berjumpa dengan naga yang menganga lebar setinggi badan manusia, Sang Pendeta masuk ke mulut naga itu. Sampai di dalam, dilihat sekuntum bunga teratai, segera dicabutnya. Beliau pun keluar serta warna kulitnya yang semula kekuning-kuningan berganti menjadi hitam pekat. Anak istri beliau lari tunggang langgang, ketakutan melihat warna Sang Pendeta hitam itu.

Namun kemudian putra putranya dapat dikumpuikan kembali, hanya hilang seorang meninggal beliau dianggap bersemayam di pura Melanting, sebagai akibat atas keutamaan restu yang dianugrahkan oleh Sang Pendeta dahulu, memuja tempat yang sudah ditemukan. Pada saat itu didengar pula oleh cacing tanah, menyebabkan bebas dari penderitaannya, menjelma sebagai seorang wanita.

Sang Pendeta terkejut, katanya, "Siapa engkau bersimpuh di sebelahku ini?" Wanita itu menjawab, "Ampunilah saya Sang Maha Pendeta, saya semula hidup di dalam tanah sebagai cacing tanah, karena sangat suci rahasia batin Sang Pendeta sempat saya dengarkan, maka saya berubah menjadi begini," demikian konon ceritanya dahulu.

Dengarkanlah lagi wahai para pembaca, jangan durhaka kepada Sang Pendeta, agar disadari badan wadah ini bersatu dengan jiwa unluk memperoleh kesempurnaan diri, sebab badan wadah ibarat seekor lembu, jiwa itu bagaikan pengembala.

At Gading Wani, Nirartha cures people from a plague.

Kini lanjutkan lagi kisahnya, bahwa Sang Pendeta Nirartha telah sampai di desa Gading Wani. Suatu kebetulan di desa Gading Wani berjangkit wabah, masyarakat terhindar dari wabah itu karena sisa kunyahan sirih Sang Nirartha. Segera De Bandesa mengetahui hal itu, dan belajar pada Sang Pendeta dengan sangat tekun dan hormat, sampai-sampai De Bandesa mohon disucikan. Itulah sebabnya tercipta kidung "Sebun Bang Kung", yang memuat kumpulan restu anugrah Sang pendeta kepada De Bandsa.

At Mas, Prince Mas grants Nirartha one of his daughters.

Tersiar berita ke desa Mas dan Pangeran Mas segera menjemput beliau Sang Pendeta, dalam waktu singkat Pangeran Mas disucikan. Lama Sang Pendeta di sana. Pangeran Mas menyerahkan seorang putrinya sebagai tanda setia seorang murid (sisia) kepada guru (nabe) yang disebut "pangguruyuga”.

Beliau (Sang Pendeta) mempunyai sebuah telaga, tempat beliau bercengkrama di sebelah timur desa Mas, beliau mampu berdiri di atas daun teratai, sambil mengail. Beliau memandang ke arah Tohlangkir, tiba-tiba kaki beliau tenggelam sepergelangan. Beliau pun menggerutu, “Amatlah sucinya Dewa-Dewa di Bali, terutama Hyang Mahadewa, tidak dapat disamai".

At Gelgel, Waturenggong orders Dawuh Baleagung to meet Nirartha; Baleagung asks him questions on warfare and flattery, which Niarartha evades.

Lama-kelamaan, di Kerajaan Gelgel tersiar pula berita tentang Danghyang Nirartha bahwasanya ada seorang pendeta sakti seperti Logawe. Sehingga baginda raja Bali, yaitu Dalem Waturenggong mengutus Kyayi Panulisan Dawuh Baleagung untuk menjemput beliau sang Pendeta. Tidak diceritakan perjalanan utusan itu, menunggang kuda putih, berpayung putih, dan semua pakaiannya putih, hanya giginya tampak hitam.

[p.24] Setelah tiba di desa Mas, Kyayi Panulisan Dauh Baleagung turun dari kudanya, sebab suatu kebetulan De Bandesa menghadap Sang Pandeta di suatu tempat bangunan terbuka di muka rumah. De Bandesa menyapa I Gusti Dauh Baleagung yang baru datang", I Gusti baru datang? Silakan duduk di atas!" Jawabnya", Baiklah". Selanjutnya ia pun duduk, dekat menghadap Sang Pandeta. Mereka bercakap-cakap, banyak percakapan I Gusti Dauh Baleagung, terutama mempermaklumlah bahwa diutus oleh raja untuk menjemput Sang Pendeta agar datang ke Gelgel. Percakapan itu dilanjutkan oleh I Gusti Dauh Baleagung, bertanya kepada sang Pendeta Nirartha", Ampun Sang Pendeta, apakah yang harus diterapkan di masyarakat?" Jawab Sang Pendeta, "Kalau secara ilmu pengetahuan begini. Bila secara kerokhanian begini!" Terdiam I Gusti Dauh seraya memamah sirih, kemudian bertanya lagi, "Ampun Sang Pendeta, bagaimana tentang pengeterapan ilmu perang?" "Baiklah, bila secara ilmu pengetahuan begini. Kalau menurut kerokhanian begini!" Lagi terdiam l Gusti Panyarikan, seraya membuang sepahnya dan menyirih kembali, lalu bertanya, "Bagaimana tata laksana bercumbu rayu?" "Baiklah, kalau secara ilmu pengetahuan begini, kalau secara kerokhanian begini".

Panyarikan (Dawuh Baleagung) stops asking questions, and receves blessing at Mas.

Kembali terdiam I Gusti Panyarikan, sambil membuang sepahnya, dan mengganti dengan sirih baru, selanjutnya bertanya, "Ampun Sang Pendeta, bagaimanakah pengetrapan tentang keyakinan yang tinggi?" "Ya, itu semuanya telah ada. Secara ilmu pengetahuan begini. Dalam kerohanian, begini!"

Kyayi Panyarikan terdiam kehabisan akal, seraya pindah tempat duduk ke tempat yang lebih rendah. Karena lama terdiam, Sang Pendeta bertanya,"Mengapa terdiam? Tidak bertanya lagi kepada saya? Hanya sedikit yang diutarakan, sedangkan amat banyak yang masih ada". Jawab I Gusti Panyarikan, "Bagaimana tidak, ibarat menimba lautan, berapa pun banyaknya alat untuk menimba, mustahil tak berisi!" Setelah itu, maka tak dikisahkan lagi tentang mereka, masuk ke pasanggrahan, di sana di desa Mas, I Gusti Panyarikan disucikan.

Nirartha and officials go from Gelgel to Padang [bai]; the King orders Panyarikan to accompany Nirartha to Paryangan, where Mpu Kuturan did yoga.

Adapun perintah raja, "Paman agar datang hari ini pula". Tetapi terlambat, mereka kembali ke Gelgel bersama Sang Pendeta sehari sesudahnya. Mereka telah tiba di Gelgel, dari Gelgel langsung menuju teluk Padang, karena raja telah berada di Padang.

Setelah tiba di teluk Padang, tampak Dalem Waturenggong agak sendu, dan menggerutu," Sudah tua Paman Panyarikan, tidak menepati janji. Seperti bukan perbuatan orang tua". Dalem pun bersabda "Paman Panyarikan, antarkan Sang Pendeta ke Paryangan di tempat Mpu Kuturan beryoga dahulu".

The King meets Nirartha.

Di luar Paryangan, para penggawa berkumpul, yaitu I Gusti Batan Jeruk, Kyayi Gusti Pinatyan, Kyayi Gusti Abyan Tubuh, Kyayi Gusti Lurah Kanca, Kyayi Gusti Lurah Brangsinga, Pagatepan, Tangkas, Kyayi Gusti Lurah Jelantik, Pasinggahan, Camenggawon, Ki Gusti Tabanan, Tegeh Kori, Kaba-kaba, Buringkit, Ki Gusti Kapal, yang di depannya Ki Gusti Penataran, Tohjiwa, dan lagi Pring, Cagahan, Sukahet. Demikian pula Pacung, Abyan Semal, Cacaha, itu semua menurut pengaturan tempatnya masing-masing, tidak dikisahkan para menteri yang lainnya semua, telah siap semua masuk ke dalam pasanggrahan. Tak terlukiskan penghormatan dan suguhan raja kepada Sang Pendeta, lengkap segalanya yang baik dan nyaman. Raja menemui Sang Pendeta, seraya menyapa," Duhai Pendeta baru datang?" "Benar Tuanku. Saya kira Tuanku kecil hati.

[p.25] Janganlah demikian terhapdap Kyayi Nanak Panulisan. Oleh karena Sanghyang Dharma tidak mungkin habis". Hati Sang Raja menjadi gembira dan tidak bermurung lagi. Selanjutnya Sang Pendeta bertanya". Mengapa Tuanku tidak menjala ikan, atau berburu?" "Wahai kami sangat malang, apa pun kami tidak peroleh!" "Silakan Tuanku, sekarang cobalah kerahkan lagi untuk menjaring atau menjala ikan!" 

Segera diperintahkan oleh raja, setelah jaring dan jala dipasang, banyaklah ikan dan binatang tertangkap, kedatangannya itu berkat daya tarik dari sang Pendeta. Raja amat senang dan kembali ke Pasanggrahan. Sang Pendeta tetap pada paryangan Mpu Kuturan dahulu.

The King and Nirartha return to Gelgel, crossing the Unda river.

Tak terkatakan malam berlalu, keesokan harinya pagi-pagi raja kembali ke Gelgel. Sang Pendeta dan Dalem menjadi satu kereta, didahului oleh Kyayi Panyarikan. Iringan-iringan di belakangnya terdiri dari Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Pinatih, Kyayi Kubon Tubuh, dan para menteri yang lain, sama-sama menunggang kuda, semua menggunakan payung kertas. Tiba di sungai Unda, kebetulan dalam keadaan banjir, kereta-kereta itu berhenti. Sang Pendeta bertanya, "Mengapa kalian berhenti dalam perjalanan?" "Ya, karena kali itu banjir, tidak bisa dilewati". Bagaimana Tuanku, tidaklah dapat menggunakan ilmu "Aswa-siksa?" "Ya saya tidak tahu Sang Pendeta". Selanjutnya baginda raja memertanyakan hal itu, dan segera pula diberitahu.

Setelah itu cemetinya diangkat, ujungnya api dan pangkalnya amerta (yang menyebabkan hidup). Segera kuda itu melompat menerjang ke dalam banjir, ternyata kakinya tenggelam hanya sepergelangan saja. Kagum semua mereka yang melihat, tak terkatakan dalam perjalanan, segera tiba di Gelgel.

Nirartha (Wawu Rawu) blesses the King.

Sang Pendeta disuguhkan suatu Pasanggrahan. Luar biasa penghormatan raja dan setiap bulan mati dan bulan purnama, Dalem disucikan oleh Sang Pendeta. Raja berhasil menikmati kesucian dan ketinggian rohani, merasuk pada jiwanya, bersemarak pula kewibawaan Dalem, karena Ida Sanghyang Widhi Wasa selalu ada padanya. Hanya saja pensucian Dalem belum dikukuhkan. 

Sedangkan Pangeran Dawuh, amat rajin menghadap Sang Pendeta memohon restu, sangat diutamakan, diabadikan dalam kidung "Wukir Padelengan," tentang keselamatan hidupnya, diciptakan atas restu Sang Pendeta dengan lagu "Sumaguna".

Nirartha (Wawu Rawu) blesses poet Dauh Baleagung; a list of his poems.

Adapun pada masa-masa yang lampau Pangeran Dauh Baleagung telah sering melakukan pensucian diri atas perkenan para Bujangga di Bali kira-kira tujuh kali, namun tidak ada yang meresap."Baru kali ini berhasil berkat Sang Pendeta Wawu Rawuh, juga berkat setianya berguru, juga dilukiskan di dalam sebuah karangannya "Sebagai orang buta berburu dengan meraung-raung di hutan penuh rawa". 

Demikian setelah Pangeran Dawuh disucikan oleh Sang Pendeta Wawu Rawuh, menjadi lebih cakap dan tekun, banyak karangannya, antara lain: Rareng Canggu saha Wilet, Wukir Padelegan, Sagara Gunung, Karas Nagara, Jugultua, Wilet Manyura, Anting-anting timah.

A list of Nirartha’s writings.

Sedangkan karangan Danghyang Nirartha antara lain: Gugutuk menur, Sara Kusuma, Ampik, Hewer, Legarang, Mahisa Langit, Darma Pitutur, Mahisa Megat Kung, terutama karangan-karangannya yaitu, Dharma Putus, Usana Bali, Anyang Nirartha, Wasista sraya.

Dawuh gives his daughter in marriage ot Nirartha, two sons are born: priest Sakti Peling & Sakti Manuaba.

[p.26] Pangeran Dawuh mempersembahkan seorang putrinya kepada Danghyang Nirartha, diterimalah oleh sang guru, setelah itu diserahkan kepada putranya Ida Wayahan Ler. Kemudian, lahirlah Pedanda Sakti Peling, dan Pedanda Sakti Manuaba, bagaikan matahari dan bulan kedua putra itu atas ketinggian ilmunya. Yang lebih tua kemudian mensucikan adiknya. Sekian dahulu tentang riwayat Sang Pendeta Wawu Rawuh.

Tegal Besung dies, leaving five sons Anggungan, Gedong Artha, Dewa Nusa, Dewa Bangli and Dewa Pagedangan [in reality, these were Ketut Ngulesir’s sons].

Diceritakan kembali bahwa pada masa Sri Watu Renggong bertahta, sangat besar kekuasaanya di Kerajaan Gelgel (zaman keemasan Gelgel), tiba pula saatnya Ida I Dewa Tegal Besung berpulang ke alam baka. Tinggal lima orang putranya laki-laki yaitu: I Dewa Anggungan, I Dewa Gedong Arta, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan, semua setia mendukung kekuasaan Sri Watu Renggong, baginda yang memerintahkan kerajaan Bali (Gelgel) karena mereka bersepupu. Dalem menganugerahkan tempat tinggal pada mereka masing-masing dan sandang pangan secukupnya. Mereka sedang remaja, sehingga belum banyak dapat diceriterakan tentang kegiatan mereka.

Princess Ni Bas (Blambangan) refuses Baturenggong’s hand in marriage; he wants to avenge himself as her father King Juru asks Bima Cili [her halfbrother] to take the princess to Pasuruhan.

Kembali dikisahkan, bahwa baginda Raja Bali (Sri Watu Renggong), amatlah gelisah, karena ditolak lamarannya, serta Sang Putri idamannya sangat benci, juga raja Bali sangat dendam kepada Sri Juru yang menuruti kehendak putra-putrinya akibat kelicikan Si Bima Cili, menyodorkan saudaranya ke Pasuruhan. Mengapa putri tidak tertarik kepada Baginda Raja Bali? Sebab sebelumnya, telah diutus seorang pelukis wanita ke Bali, untuk melukis wajah raja Bali. Kemudian pelukis wanita itu kembali, membawa sebuah lukisan dan diberikan kepada sang Putri (Ni Bas). Ketika dibuka, dilihat paras raja Bali dalam gambar, tengkuknya menonjol, botak, badan pendek dan gemuk, ketika membuka kaki (sikap istirahat dalam berbaris) kelihatan kemaluannya besar dan batangnya membengkok, itu yang menyebabkan sang putri benci habis-habisan.

Katanya, "Lebih baik tidak laku terus menjadi perawan tua, dibandingkan bersuamikan orang demikian. Bila dipaksakan untuk kawin dengannya, baiklah aku terjun ke laut, untuk apa selama hidupku selalu menderita," demikian tuturnya, lebih baik mati karena tidak suka, namun hanya tipu muslihat Si Bima Cili, karena ia (Si Bima Cili) bersaudara dengan Sang Putri tetapi lahir dari selir, sedang Sang Putri lahir dari ibu Keniten.

He said: “It is better not to be an old virgin than to be the wife of such a man. If it comes to a forced marriage to him, I will come down to the sea, why eteral earthly sufering in my lifetime?”. It is better to be dead because of a lack of mutal liking, than to suffer trickery of Si Bima Cili, because he is related to the princess, albeit born to a woman of lower birth, whereas the Princess was born of a Keniten mother.

Baturenggong deploys 1600 troops to Blambangan led by Ularan.

Karena dendam raja Bali, akhirnya mengirim pasukan tempur "dulang mangap" sebanyak 1600 orang, dipimpin oleh Patih Ularan. Bagaikan Kalantaka hendak mencabut nyawa laiknya, berangkat dengan 25 buah perahu. Lain lagi yang menggunakan sampan. Dalem berpesan, "Wahai Paman Patih Ularan, apabila mati dua sepupuku, janganlah dipenggal lehernya", yang diperintah bersedia.

Despite request by Baturenggong not to do so, Ularan kills King Juru. Juru is killed because of Wawu Rauw’s curse; Baturenggong’s mission proves successful.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, mereka segera tiba di Blambangan, kebetulan Sri Juru beranjangsana ke pantai, tiba-tiba disergap oleh "Dulang mangap". Raja Blambangan gugur, terpenggal lehernya oleh Kyayi Ularan, dalam keadaan perang tanding, banyak menderita luka-luka karena sumpitan, seperti terlukis di dalam topengnya (tapel) hiasan telinganya permata mirah gemerlapan, dijarah oleh Kyayi Ularan sampai dengan kepalanya (Sri Juru).

Adapun permaisuri-permaisuri raja Blambangan, bubar lari tunggang langgang, sebab istrinya 200 orang. Tak terkatakan Sang Putri Keniten, tidak ingat akan hubungannya kakak beradik. Sedang Sang Raja Putri segera dilarikan oleh Bima Cili ke Pasuruhan. Hanya Sri Juru gugur menjadi korban, akibat durhaka pada Sang Pendeta Wawu Rawuh ketika beliau bermukim di Blambangan.

[p.27] Baginda menjadi korban, bagaikan kena kutukan. Tujuan peperangan raja Bali ke Blambangan dapat berhasil baik.

Ularan offers Juru’s head to Baturenggong, who is furious; Ularan says it was a duel. Baturenggong grants him land, but never wants to meet him again; Ularan settles in Patemon.

Alkisah Patih Ularan, telah tiba di Bali (Gelgel) menghadap raja Bali, seraya mempersembahkan kepala Sri Juru lengkap dengan hiasan telinganya. Raja Bali murka dan bersabda, "Mengapa kau memenggal dua-pupu-ku? Pesanku padamu dulu kan tidak diperkenankan memenggal?' Sembah Kyayi Ularan, "Tidak tersangka-sangka oleh hamba, penderitaan hamba, panik diserang dengan sumpitan. Kemudian terjadi perang tanding yang sengit, mengadu kegagahan dan keberanian". Sabda Dalem, "Ya, hanya sekarang, akhir pertemuanmu denganku. Daku memberikanmu hadiah (tanah) yang luasnya cukup dengan bibit 200 (200 catu) bagi imbalan pengabdianmu. Sebagai ganjaranmu tidak menepati perintahku, tidak lagi akan bertemu denganku". 

Selanjutnya ia (Patih Ularan) dengan hormat mohon diri, pergi dengan langkah yang tidak menentu, terhenyak hatinya mengenang keputusan raja dan prilaku pengabdiannya. Seraya pindah ke utara Gunung Tohkangkir, bermukim di desa Patemon, turun menurun di sana, ibarat cabang-cabang pohon kayu, ada yang berbuah ada yang tidak. Demikian kenyataannya. Tidak diceritakan lagi tentang Patih Ularan.

AD 1512: Besides Blambangan, also King Bungkut in Nusa Penida is slain thanks to Ngurah Jelantik’s help; Sumbawa is vanquished; AD 1520: Lombok is conquererd.

Tersebut pula Sang Raja Bali ibarat Hyang Wisnu menjadi kecintaan dunia, takluk daerah sebelah timur Puger di bawah kekuasaan baginda, setelah gugurnya Sri Juru di Blambangan, semuanya tunduk pada raja Bali daerah-daerah Blambangan, Puger, Pasuruhan demikian pula Nusa Penida dengan rajanya Dalem Bungkut telah ditaklukkan berkat bantuan Ngurah Jelantik, dengan keris Ki Pencok Sahang. Termasuk pulau Sumbawa, tunduk pada raja Bali, bersamaan tahunnya Saka 1434 (AD 1512).

Dan Pulau Lombok juga dikuasai pada tahun Saka 1442. Amatlah aman tenteram negara Bali, sebab tidak ada rakyat berniat jahat semua segan pada kemampuan raja. Apakah di antaranya keunggulan baginda? Baginda mahir ilmu kuda (açwa siksa) menahan derasnya aliran air, faham pada ilmu Catur winasa (empat jalan Kehancuran) yang dipergunakan untuk menaklukkan lawan seluruhnya. Kagum senusantara ini.

In the early days of Baturenggong’s kingdom, attempts by Ki Moder, an Islam representative from Mecca, to murder the king fail.

Perhatikan kembali, pada masa Sri Waturenggong masih jejaka, ada utusan dari mekah, bernama Ki Moder, menghadap hendak mengislamkan raja Bali membawa pisau cukur dan gunting, pisau itu disayatkan pada telapak kaki baginda, pisau itu tumpul susut seperti diasah dengan gurinda. Sedangkan guntingnya diguntingkan bulu tangan dan kaki baginda akhirnya gunting itu patah. Benar-benar baginda penjelmaan Wisnu, sedang bertangan empat (catur buja), kata-kata tajam dan apa yang baginda katakan semua terjadi sehingga Ki Moder gagal dan kembali ke negerinya berkat perintah baginda raja Waturenggong.

Ministers’ origins explained: Batan Jeruk’s origins lie with Kepakisan family; Gusti Jelantik is the son of Gusti Pangalasan Pasimpangan; Baleagung has a son named Pande Bhasa.

Panjang bila diuraikan berkat pengabdian yang tinggi dari para menteri di negara Bali, yaitu Kyayi Batan Jeruk, ia adalah perwira keturunan Kepakisan. Kyayi Pinatih perwira keturunan Wang Bang, Kyayi Klapodyana keturunan Çiwa Waringin. Ketiga-tiganya adalah menteri utama kerajaan Gelgel. Lain daripada itu Ki Gusti Tabanan keturunan Sira Arya Kenceng. Ki Gusti Kaba-kaba keturunan Sira Arya Belog, yang amat berani tidak pernah gentar menghadapi musuh. Selanjutnya Ki Gusti Kapal keturunan Arya Dalancang. Ki Gusti Brangsinga, Tangkas, Pagatepan mereka keturunan Arya Kanuruhan sebagai juru tulis (sekretaris). Ki Gusti Pring, Cagahan, Sukahet keturunan Arya Wang Bang asal Lasem.

[p.28] Adapun Pangeran Dawuh Panulisan Baleagung, ia sudah dilantik menjadi Bhagawan (pendeta) berputra Kyayi Pande Bhasa. Dan Ki Gusti Pangalasan Pasimpangan ia telah lanjut usia, putranya bernama Ki Gusti Jelantik. Demikian pula Pacung, Cacaha, Abyan Semal, semua itu para menteri pemberani melawan musuh, keturunan orang kebal setia mengabdi pada raja, seperti adat istiadat di Majapahit sekedudukan di bawah satu atap, tidak beda seperti kelompok Gandarwa.

Nirartha’s older brother Angsoka is called to Bali by Baturenggong, but Angsoka refuses to become the king’s main priest; King Baturenggong is finally blessed/inaugurated/deified? by Nirartha.

Sedangkan Baginda raja semakin risau hati, karena belum dilantik sebagai pendeta. Adalah seorang Mpu bernama Mpu Angsoka, kakak dari Danghyang Nirartha (Danghyang Wawu Rawuh). Beliau (Mpu Angsoka) yang mengarang "Smara Racana" dikirim ke Bali. Dibalas oleh adiknya (Danghyang Nirartha) dengan sebuah kidung "Sara Kusuma". Demikian kisahnya, akhirnya raja Bali mengirim utusan untuk menjemput Mpu Angsoka, baginda raja hendak berguru (Nabe). Namun Danghyang Angsoka tidak berkenan ujarnya. "Di Bali telah ada adik saya yang lebih tinggi ilmunya daripada saya. Pantas untuk dijadikan guru baginda raja". Karena demikian pesan Danghyang Angsoka, maka kesudahannya baginda mohon disucikan dan baginda dikukuhkan oleh Danghyang Nirartha.

Setelah dikukuhkan baginda raja dianugrahi ilmu pengetahuan tentang para patih, raja, untuk mempunyai rakyat yang banyak, sebagai bhagawan, namun baginda raja tak berkenan. Seperti para dewata? Juga tak berkenan. Karena menimbulkan kepayahan, dan sempat menjadi buah bibir. Yang dimohon adalah yang tidak berwujud, yang tidak dapat disebut-sebut, yang tidak kuasa dipikirkan, tenang tentram. Baginda raja pun dianugrahi hal itu oleh Danghyang Wawu Rawuh.

Two hundred of the king’s wives were also blessed.

Baginda melaksanakan kesucian itu dengan baik, ilmu ke-Tuhanan telah merasuk meresap di dalam diri baginda raja, lepas antara guru (nabe) dengan murid, tidak ada duanya, hanya satu. Yang satu itupun telah meresap demikian kecakapan baginda raja. Para istri baginda raja 200 orang semua disucikan menurut jenjang nista-madya-utama.

Gelgel thrives under King Waturenggong, who takes good care of the hungry.

Kerajaan Celgel (Bali) aman dan tentram ketika bertahta Sri Waturenggong. Orang yang mencuri karena kelaparan, diberikan jaminan. Raja bersabda, "Mengapa kamu mencuri?" Sembahnya, "Karena hamba kurang makan!" "Tidakkah kamu menerima bagian pangan?" "Sembahnya," Hamba tidak diberikan oleh petugas itu". Itulah sebabnya baginda raja memberikan jaminan dan memarani petugas itu. Dan baginda raja dianggap mempunyai kesaktian, sampai dengan wabah dan hama juga merasa takut, terdororg oleh persatuan dan kesatuan rakyat Bali. Sehingga barang-barang murah harganya, tanam-tanaman tumbuh subur.

Shiwaist Nirartha welcomes Buddhist priest Astapaka; fire rituals (Yajnya) are organised.

Kemudian Sang Pendeta Budha tiba di Bali. Sang Pendeta Siwa (Danghyang Nirarta) menyapa," Wahai datang pula anakku Astapaka," Sang Pendeta Buda menjawab Katanya", Ya, Anaknda datang menghadap Ramanda, dan perkenankanlah Anaknda bertanya. Mengapa Ramanda belum melaksanakan homa (yajnya api)?" "Sebab belum ada yang merestuinya". "Kalau demikian, sekarang Anaknda merestui Ramanda". Baiklah Ramanda setuju dengan usulmu!"

[p.29] Segera kedua orang pendeta itu membuat yajnya api (homa yajnya), lengkap dengan segala upacaranya, tak terkatakan betapa cepat pelaksanaannya.

Ida Siwa (Danghyang Nirarta), berada di tengah-tengah unggun api diselimuti nyala api, namun beliau tak terbakar, ibarat orang mandi. Sedangkan Mpu Astapaka (Maha Jina), beliau membangun yajnya itu di Iuar di bawah pohon angsoka, api itu menjilat-jilat, namun laba-laba mampu membuat sarangnya di atas unggun itu. Kagum mereka yang melihatnya, setelah yajnya itu dilaksanakan, pohon-pohonan berbuah amat lebat, pohon kelapa berbuah 200 butir tiap pohon, padi-padi di sawah juga amat lebat buahnya. Yajnya itu berhasil baik, juga berkat keluhuran budi baginda raja.

Ministers Batan Jeruk, Pinatih, Kubon Tubuh are unable to accompany the king against the enemy invading Bali, after a battle with many victims; the enemy withdraws.

Takut sekalian musuh-musuh, raja Bali di nusantara, ini tak ada yang mampu menghadapi kesaktian raja Bali, Sri Waturenggong, maka ketika ada penyerangan musuh dari luar pulau Bali menyerbu di Kelahan, baginda raja Bali mampu mengarungi lautan dengan pedati [horse-drawn cart], sehingga mundurlah musuh itu. Kaki lembu yang menarik pedati itu, hanya tenggelam sepergelangan saja. Tampak Baginda raja Bali sayup-sayup di tengah lautan. Pasukan "dulang mangap" yang ikut mengarungi samudra itu banyak yang gugur. Yang masih hidup menggantungkan diri di roda pedati baginda raja. Para menteri merasa kecewa karena tidak sanggup mengiringi baginda raja, di antaranya Kyayi Ki Gusti Batan Jeruk, Ki Gusti PinatihKubon Tubuh, dan sejumlah menteri yang lain. Musuh yang telah mundur itu tidak dikejar oleh baginda raja, dan baginda raja kembali ke Kuta diiringi oleh para menteri sekalian. Dihitung-hitung pasukan yang gugur, seperti banyaknya korban dalam pertempuran. Ki Gusti Batan JerukPinatih, Gusti Kubon Tubuh, serta para menteri sekalian, mempermaklumkan ke hadapan baginda raja, sembahnya, “Kami mohon ampun, tak mampu mengiringi Paduka Tuanku. Jelas, bahwa kami tidak berguna, sebab tidak mampu membalas jasa yang dipertuan".

Sabda baginda raja: “Janganlah demikian, saya selalu senang, karana kalian memang tidak mampu mengarungi [cross, wade or sail through] sejauh itu!" Para menteri amat gembira hatinya mendengar sabda baginda raja yang bersungguh-sungguh itu.

The ministers return home; Baturenggong forbids his wives to go aboutin an open palanquin.

Setelah itu baginda raja kembali ke istana, disambut dengan segala kemewahan, sesuai adat kebiasaan raja-raja yang berkuasa. Karena para menteri semua mempunyai perumahan di Gelgel, maka mereka berada di sana selama satu minggu, barulah mereka kembali ke wilayahnya masing-masing. Tidak ada kegiatan baginda raja, selain bercengkrama menghimpun para pengarang. Baginda mahir dalam hal ungkapan-ungkapan, maka tatkala mengantar permaisuri, tidak diperkenankan singgah di desa-desa dengan usungan [draagstoel; palanquin] terbuka.

Baturenggong is an unrivaled ruler; famous for his courting skills, he forbids beautiful girls to show themselves.

Dalem bersabda, bahwa bila ada rakyat mempunyai istri cantik, anak gadis cantik remaja, jangan dipamerkan. Karena baginda Dalem merasa sulit untuk menahan nafsu birahinya. Tak terkatakan baginda raja, telah sampai ke puncak tujuannya, dalam hal ketatanegaraan, juga dalam ilmu perang, tidak kurang kemahiran baginda dalam hubungan asmara, mempunyai keyakinan yang tinggi, dan mampu menunjukkan sesuatu dengan jelas dan nyata. Tak ada bandingnya baginda raja Waturenggong.

The king has become ruler of Lombok, Sumabawa, Bali, Blambangan, Puger [Jember] and Nusa Penida. He is still at loggerheads with Pasuruhan, Mataram.

Itulah sebabnya, Lombok, Sumbawa, terutama Bali, Blambangan, sampai dengan Puger, Nusa Penida, semuanya dapat dikuasai oleh baginda. Hanya dengan Pasuruhan, Mataram, baginda bermusuhan. Mereka mengirim lagu yang kurang lebih isinya "ibarat bermain-main jengkrik. Aku pijat saja agar ia menjadi marah, kemudian kepalanya kusiram dengan air panas agar mati dengan segera". Akhirnya kiriman itu dibalas oleh baginda raja Bali, dengan menantang habis-habisan, Hyang Takmung seorang ksatria yang pintar diperintahkan untuk membalas oleh baginda raja.

Baturenggong commissions people to live in Lombok and Sumbawa.

[p.30] Selama baginda bertahta, dan setelah Lombok serta Sumbawa ditaklukkan baginda sempat beranjangsana [go on tour] di pulau itu, dengan perahu layar disertai para menterinya. Sesuai tugas seorang pemimpin besar yang mempunyai daerah luas. Lama baginda bercengkrama di sana, sehingga beberapa pengiring baginda berkenan menetap di Lombok dan di Sumbawa, juga mendirikan sebuah pura Lingsar.

At the end of his life, Baturenggong hands out instructions regarding religious fire ceremonies “manusa/pitra jajnya”.

Lama kiranya Maharaja Waturenggong bertahta di Bali, sebagai seorang raja besar, kerajaan Gelgel mencapai zaman keemasan, usia baginda pun semakin lanjut. Sempat baginda menyelenggarakan suatu pertemuan besar, memberikan petuah kepada sanak keluarga baginda, serta para menteri dan kepada pemuka-pemuka masyarakat seluruhnya, baginda menganugrahkan piagam-piagam kepercayaan yang mengandung tata upacara "manusa yajnya" dan "pitra yajnya" selengkapnya.

AD 1550: Baturenggong dies

Konon telah tiba saatnya baginda raja berpulang ke alam baka, dinyatakan dengan sebuah Candra-Sangkala "Sapangrenga sang pandita muang catur janma" yaitu tahun Çaka 1472 (AD 1550). Selanjutnya baginda disebut-sebut Dewateng Enggong.

END OF BABAD DALEM A - PART I

Source: Babad Dalem, teks dan terjemahan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat II Bali, by: Tim Penterjemah / Editor: Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha, DA; Dewa Gede Tjatera [Catra]; Ida Bagus Maka, Ida Bagus Sunu; 1986; p.1-30

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24