Sedjarah Bali Kuna (Goris, 1948)

This article is a rendering of 'Sedjarah Bali Kuna' (Ancient History of Bali) by archaeologist and Bali expert Roelof Goris, written in 1948. It succinctly presents the ancient history of Bali in only 23 pages. This article is published here as background information, of interest as it states historical years, rulers and inscriptions.

Note: spelling = modern Indonesian spelling (Ejaan yang disempurnakan); plurals indicated with '2' have been substituted by reduplication; TM (Tahun Masehi) = AD; IS = S (Saka): the latter mostly removed as Goris explains the Isaka year in note 2 and does not use Isaka years in a consequent manner; ç = s; tj = c; dj = j; others (e.g.) Airlanggha = Airlangga; anggauta = anggota; bertachta = bertakhta; bhiksu = biksu; cerit(e)ra = cerita; d.l.l. = etc.; diantara = di antara; Sankgskerta = Sanskerta; tahadi = tadi; ja’ni = yakni etc.

I. Pembukaan

Meskipun sejarah Bali kuna telah diperiksa oleh beberapa Tuan ahli penyelidik, tetapi hingga saat inipun sejarah itu boleh dikatakan kurang dikenal oleh orang Bali umumnya. Hal yang demikian itu adalah beberapa sebabnya. Di antaranya boleh disebutkan:

Yang pertama: Sampai pada hari ini banyak terdapat lontar-lontar yang masih disimpan dan dihormati oleh orang Bali. Di antara lontar2 itu adalah beberapa Pamancangah- pamancangah, Babad-babad etc. Tetapi Pamancangah- pamancangah itu dikarang oleh orang Bali sesudahnya jaman Majapahit. jaitu: pada waktu kerajaan Gelgel dan Klungkung.

Selain dari pada itu ada juga beberapa lontar-lontar: seperti Kidung Harsa Wijaya. Kidung Rangga Lawe, Kidung Sunda. Usana Jawa dan Bali yang pada waktu itu hingga kini masih masyhur, yang juga terkarang pada jaman Gelgel dan Klungkung.

Umpama Rangga Lawe dikarang pada AD 1543. Isinya yaitu: kebanyakan tentang keadaan raja-raja Majapahit mulai pada AD 1293. Lagi pula nusa Bali ditaklukkan oleh Raja Majapahit pada AD 1343.

Tetapi tentang sejarah Bali kuna di antara abad Masehi yang ke-IX sampai pada abad yang ke-XIV dalam Pamancangah-pemancangah dan usana-usana itu tidak tersebut, kecuali hanya beberapa nama raja-raja kuna, seperti: Ugrasena, Jayapangus.

Yang kedua: Baharulah pada AD 1885 dua orang ahli Belanda (Dr. Van der Tuuk dan Dr. Brandes) menerbitkan tiga buah prasasti dari desa Belantih yang sekarang disimpan di Sawan dan di Sangsit dan sebuah lagi dari desa Klandis.

Pada AD 1890 Dr. Brandes menerbitkan lagi 5 buah turunan prasasti dari desa Julah yang disimpan di desa Sembiran.

Tigapuluh tahun kemudin daripada itu, barulah Dr. Van Stein Callenfels menerbitkan 25 buah prasasti yang dikumpulkan dalam sebuah buku yang bernama EPIGRAPHIA BALICA (1926). Pada tahun 1928 Panuka Tuan Residen Caron menyuruh membuat beberapa gambar foto dari prasasti lain-lain, (lebih dari 200 buah gambar).

Mulai dari tahun tersebut pengarang sejarah ini telah memeriksa gambar-gambar itu, dan beberapa prasasti yang lain-lain juga. Di antara tahun 1924-1928 Dr. Stutterheim lalu memeriksa candi-candi dan arca-arca kuna. Hasil pemeriksaan itu dikumpulkan sehingga menjadi buku yang bernama “Oudheden van Bali” (terbit pada tahun 1929-’30).

Tetapi buku itu dalam bahasa Belanda, lagi pula prasasti yang diterbitkan oleh tuan-tuan lain sebagaimana tersebut di atas, juga hanya memakai turunan huruf Belanda (Latijn) belaka, tiada disalin ke dalam bahasa Indonesia ataupun ke bahasa lain.

Itulah sebabnya maka sehingg sekarang orang Bali tidak dapat mengetahui isi dan maksud prasasti-prasasti itu. Sekarang pangarang ingin hendak menerang dengan ringkas tentang sejarah Bali kuna, dan juga pemerintahan pada waktu itu.

Singaraja, October - November 1948, Dr. R. Goris.

II. KEADAAN RAJA-RAJA

Prasasti yang paling kuna yang memakai bahasa Bali, ialah prasasti dari AD 882. Prasasti tersebut melukiskan tahun dan tanggalnya, tetapi tiada menyebutkan nama raja. Tetapi sebelumnya prasasti tersebut dibuat, ada juga beberapa prasasti yang memakai bahasa Sanskerta (Hindu kuna).

Prasasti-prasasti itu tertulis atas batu, tetapi sayang tiada memakai tanggal dan tahun. Batu-batu itu sudah rusak sekali, begitupun tulisannya kebanyakan telah hilang, sehingga tak dapat jelas dibaca lagi. Selain dari prasasti batu itu, ada juga terdapat beberapa cap-cap kecil yang besarnya ca. 2½ cm.

Cap-cap itu dibuat dari tanah liat, dan disimpan dalam stupa-stupa (1) kecil dari tanah liat juga. Pada cap-cap itu ada tertulis dengan huruf Sanskerta suatu mantra Buddha yang amat masyhur. Bunyinya:

Ye dharma hetu prabhawa
Hetun tesan tathagato hyawadat
Tesanca yo nirodha
Ewam wadi mahasramanah.

Artinya: Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha); Tuan Mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu.

Mantra itu terdapat juga di atas pintu candi Kalasan di Jawa Tengah, yang bertanggal dan bertahun AD 778. Maka itulah sebabnya kami tahu, bahwa mantra yang tertulis pada cap-cap tersebut, dibuat kira-kira pada abad Masehi yang kedelapan.

Note 1) Stupa artinya: satu bangunan dan batu yang boleh dibandingkan dengan prasada ataupun candi, umpama: stupa Borobudur di Jawa Tengah. Stupa-stupa itu buatan orang beragama Buddha. Menurut kepercayaan orang yang beragama Buddha di dalam stupa-stupa besar itu tersimpan abu, tulang ataupun gigi Bhatara Buddha.

Cap-cap itu terdapat di desa Pejeng (Gianyar) yang hingga kini masih ratusan jumlahnya tersimpan d: Bali Museum Denpasar.

Maka mulai pada jaman itulah biksu-biksu atau pandeta agama Buddha datang dan tinggal berumah di Bali.

Sebagai sudah disebutkan tadi, ja'ni terbitnya prasasti yang bertanggal dan bertahun adalah pada AD 882. Di antara AD 882-914 maka terbitlah beberapa buah prasasti yang berbahasa Bali kuna. Bahasa itu bukannya bahasa Jawa kuna (seperti yang terdapat di kekawin-kekawin) melainkan bahasa Bali kuna yang asli.

Hingga sekararang masih terdapat 7 buah dari prasasti-prasasti tersebut. Dalam prasasti itu tersebutlah keraton (istana) raja, yakni Singhamandawa, tetapi sayang sekali nama rajanya tidak disebutkan.

Sekalian prasasti-prasasti itu memakai nama bulan secara Hindu seperti: Magha, Waisakha, Asadha, Bhadrawada. dll. Tanggal wuku tiada dipakainya, tetapi yang dipakai hanya triwara saja, yang kini masih dipakai sebagai hari pasaran (pekan). Dalam prasasti-prasasti itu sering tersebut pasar Wijaya-pura, dan lagi pasar Wijaya-manggala, dan kadang-kadang pernah juga tersebut pasar Wijaya- kranta.

Kemudian dari prasasti tersebut, adalah terdapat sebuah tugu besar dari paras terletak di desa Sanur, ja'ni di suatu tempat yang bernama Blanjong. Pada sebelah menjebelah tugu itu ada terdapat prasasti, jaitu: sebagian ditulis dengan huruf Sanskerta yang berbahasa Bali kuna, dan sebagian lagi memakai tulisan Bali (kuna) yang berbahasa Sanskerta. Prasasti pada tugu itu ada tahunya juga, tetapi memakai candra-sangkala, (angkanya hilang). Yang tersebut dalam candra-sangkala itu, yaitu: Khecara - Wahni - Murti.

Artinya: diambil dari belakang: murti artinya sarira, atau badan Bhatara Siwa, dan harganya 8. Wahni artinya api, jadi harganya 3. Khecara artinya: bintang sajarah (planeet) dan harganya 9. Jadi candra-sangkala itu melukiskan tahun Saka 839 = AD 917.

Selain dari tahun, ada juga tersebut nama seorang raja yaitu: Kesari Warmadewa dan keraton (istana) baginda tersebut di Singha-dwala. Di sini Kesari artinya = singha.

Maka pada AD 915-942 (2) terbitlah lagi 9 buah prasasti atas nama Sang Ratu Sri Ugrasena. Baginda bertakhta di Bali sedang raja Sindok pada masa itu bertakhta di Jawa Timur.

Note 2) Isaka 837-864 = AD 915-942. Bedanya tahun Isaka dan Tahun Masehi (AD) adalah 78 tahun. Jadi kalau IS 1 = AD 79. Perhitungan tahun Isaka lahirnya dari raja-raja di Hindustan yang berbangsa Saka = Skyth (bahasa Yunani). Raja Saka (Skyth) yang memakai perhitungan tahun Isaka bernama Nahapana, yang menjadi raja kira-kira 46 Isaka = AD 124. Raja tersebut juga memakai wang perak menurut cara Yunani di Panjab. Wang perak itu memakai huruf Yunani dan huruf Brahmi.

Setelah berakhirnya kerajaan Ugrasena, maka adalah lagi 4 orang raja di Bali yang sekaliannya dari bangsa (kula) Warmadewa; dari bangsa itulah terlahir juga raja Kesari yang tersebut tadi. Tetapi Sri Ugrasena tiadalah memakai nama Warmadewa.

Di antara keempat raja tersebut adalah seorang yang bernama Candra-bhaya-singha Warmadewa. Baginda inilah yang membangunkan telaga (tempat mandi) di desa Manuk raya, yang sekarang umum disebut Manukaja. Telaga itu hingga kini masih ada, dan dinamai Tirtha Empul, yakni di atas desa Tampaksiring; telaga Tirta Empul itu dibuat pada AD 962. Jadi pada AD 1962 telaga itu akan berumur 1000 tahun lamanya!

Kemudian setelah keempat kerajaan Warmadewa itu berakhir, adalah tersebut seorang Ratu dari bangsa Iain, yang bernama Wijaya Mahadewi. Ratu itu tersebut dalam prasasti untuk desa Julah yang tersimpan di Sembiran. Juga selain dari nama raja ada tersebut AD 983. Barangkali baik juga kiranya jika kami sebut di sini, bahwa di salah satu museum di kota Frankfurt am Main (negeri Jerman) masih tersimpan sebuah prasasti yang menyebut nama raja: yakni: “Sri Mahadewi siniwi di Kadiri" AD 859.

Setelah berakhirnya kerajaan Wijaya Mahadewi, maka timbullah lagi suatu kerajaan yang termasyhur di antara raja-raja Bali sekalian. Raja tersebut bernama Dharma Udayana, juga bangsa Warmadewa (3) dan permaisuri baginda bernama Sri Gunapriya Dharmapatni, yakni seorang putri dari Jawa Timur. Putri tersebut adalah putri dari Makutawangsa-wardhana: sedang Makutawangsa ialah anak cucu raja Sindok, yang bertakhta di Jawa Timur. Baginda Sindok menduduki singhasana AD 929-943 sedang di Bali pada waktu itu bertakhta Sri Ugrasena.

Note 3) Menurut pendapatan Prof. Dr. Bosch, Udayana asli dari Kamboja.

Baginda Udayana beserta permaisurinya memerintah di Bali pada AD 989-1001. Sebagai yang sudah disebutkan di atas, yakni kerajaan dua sejoli (suami-istri) itulah yang paling masyhur di antara kerajaan-kerajaan lainnya.

Baginda ratu mangkat lebih dahulu di Buruan (dekat desa Kutri); di tempat itu hingga kini masiih terdapat sebuah patung (arca) besar yang merupakan Durga-mahisa-asura-mardhini. Arca itu merupakan Bhatari Durga yang sedang membunuh asura (setan), yang ada di badan seekor kerbau.

Patung itu terdapat dalam pura Kadarman di desa tersebut. Di prasasti baginda putri tersebut “lumah" (mangkat) di Buruan. Baginda Udayana mangkat kira-kira sesudah AD 1011. Baginda “lumah" (dicandikan) (4) di Banyu Wka. Tetapi di mana Ietaknya Banyu Wka itu, hingga kini masih belum dapat diketahui. Tetapi hal yang paling penting harus diceritakan di sini, ialah prasasti sampai pada masa itu terus memakai bahasa Bali kuna yang asli. Ada juga beberapa buah dari prasasti raja-raja suami istri tersebut yang masih ditulis memakai bahasa Bali kuna, tetapi prasasti-prasasti yang lain dari baginda mulai memakai bahasa Jawa kuna. Maka sejak itulah bahasa Bali kuna terus menerus tidak terpakai lagi dalam prasasti, melainkan yang terpakai hanya bahasa Jawa kuna belaka.

Note 4) “lumah" lihatlah daftar.

Barangkali baik juga kiranya jika kami ceritakan di sini sedikit tentang ceritra Calon Arang, yakni suatu ceritra yang amat masyhur dan sangat digemari di Bali. Dalam cerita itu adalah tersebut seorang putri yang dituduh oleh suaminya telah melakukan ilmu desti (black magic); ilmu itu sudah menjadikan kebinasaan bagi rakjatnya, sehingga atas perbuatannya itu iapun lalu dibuang oleh suaminya. Waktu puteri itu akan dibuang ia sangat marah atas persangkaan suaminya yang menurut timbangannya sendiri tiada sah (beralasan). Meskipun bagaimana, sekali-kali ia tiada mengaku melakukan perbuatan itu. Setelah ia dibuang barulah ia mulai melakukan pekerjaan itu. Kendatipun dalam cerita Calon Arang banyak keadaan yang bercampur dan keliru, tapi mungkinlah ada dasar-dasarnya yang benar. Boleh jadi putri Gunapriya itu yang menjadi Calon Arang.

Dari jaman itu ada tersimpan juga satu arca berupa suami-istri, keduanya berdiri, pada AD 1011; raja dan permaisuri siapakah yang dirupakan secara sedemikian itu?

Raja suami-istri itu (yaitu Gunapriya dan Udayana) mempunyai beberapa orang putra. Di antara puteranya ada seorang yang bernama Airlangga. Airlangga dilahirkah pada AD 991 di pulau Bali. Beliau pergi ke Jawa Timur dan beistrikan seorarg putri dari keraton Jawa Timur (rupanya kemanakan bundanya). Ketika Airlanggha berumur kira-kira 16 tahun, raja mertua beliau ditimpa marabahaya; negerinya diambil oleh musuh, dan keratonnya dirusakkan, sedang raja sendiripun dibunuh (AD 1006). Airlanggha lari menuju orang-orang pendeta yang bertapa di hutan. Di sana beliau tinggal empat tahun lamanya. (Di prasasti yang beliau suruh buat, tersebut lari ke Wanagiri). Pada AD 1010 beberapa orang pendeta datang ke tempatnya di hutan meminta supaya Airlangga menjadi raja. Pada AD 1019 Airlangga menerima “abbiseka" (dinobatkan menjadi raja) (5). Baharulah pada AD 1037 Airlangga mengalahkan musuh beliau. Waktu itu Airlangga membuat suatu “wihara" di gunung Pucangan. Pada prasasti Airlangga sendiri yang memakai bahasa Sanskerta, disebut: Pugawat (6).

Note 5) Nama ‘abhiseka’ Airlangga: Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Ananta wikrama Uttunggadewa.

Note 6) Prasasti itu, yang tertulis di atas batu, disimpan di Museum di Kolkata. Prasasti tersebut memakai dua bahasa: Sanskerta dan Jawa kuna.

Pada AD 1042 Airlangga masuk patapan itu. Beliau mangkat pada AD 1049. Supaya anaknya mendapat kerajaan di Bali, Airlangga mengirim Mpu Baradah, kepulau tersebut. Akan tetapi permintaan itu ditolak oleh Senapati Kuturan. Jadi kerajaan Airlangga hanya tinggal di Jawa Timur saja; seorang putera menerima Kadiri (7) dan putranya yang kedua menerima Janggala = Singhasari (Tumapel) (8).

Note 7) Raja-raja Kadiri yang diketahui dari prasasti:
AD 1104: Jayawarsa. Kekawin Krsnayana dikarang oleh mpu Triguna
AD 1115-1130: Kameswara I. Kekawin Smaradahana dikarang oleh mpu Dharmaj
AD 1135-1157: Dharmeswara = Jayabhaya. Kekawin Bharatayuddha dikarang oleh mpu Sedah dan mpu Panuluh yang mengarang juga kekawin Hariwangsa
AD 1160: Sarweswara I
AD 1171: Aryeswara? Kronca-Aryadipa = Candra
AD 1185: Kameswara II. Kekawin Wrtasancaya dikarang oleh mpu Tanakung
Ad 1194-1200: Sarweswara II = Srngga
Ad 1216: Krtajaya
AD 1222: Prang dekat desa Genter. Penghabisan kerajaan Kadiri. Mulai kerajaan

Singhasari: Raja Ken Angrok = Rajasa. Lihatlah juga note 10.

Note 8) Keraton A. bernama Kahuripan. Cihna (cap) beliau: Garuda-mukha. Kadiri = Panjalu: Keraton di Daha. Janggala = Singhasari = Tumapel: keraton di Kahuripan.

Airlangga tidak pernah menjadi raja di Bah. Akan tetapi siapakah yang menjadi raja setelah ayah bunda beliau itu mangkat?

Pada prasasti-prasasti dari AD 1022, 1023 dan 1025 tersebutlah seorang raja yang bernama: Dharma~wangsa wardhana-marakata-pangkaja-sthana-uttunggadewa. Siapakah raja itu? Adik Airlangga? Mungkinlah! Akan tetapi mulai dari AD 1049, yakni waktunya Airlangga mangkat, terdapat di Bali banyak prasasti atas nama raja lain.

Dari kumpulan prasasti itu sampai sekarang telah terdapat lebih dari 20 buah. Dalam prasasti itu nama raja disebut: Anak wungsunira kalih Bhatari lumah i Buruan, Bhatara lumah i Bañu Wka. Artinya: anak bungsu dari ibu yang telah dicandikan di Buruan dan ayah yang mencandikan di Sungai Oka. Jadi raja itu saudara bungsu Airlangga. Bunyi prasasti itu cocok sekali dengan cerita Bali yang menyebutkan bahwa bukan anak Airlangga yang menjadi raja di Bali. Disini baiklah disebutkan bahwa diceritakan dalam sebuah prasasti AD 1061 “panungsungan" orang desa Sukawana tentang Bhatari Mandul. Lagi pula di gunung Panulisan (desa Sukawana) adalah arca, yang memakai tulisan Bhatari Mandul, dan bertahun AD 1077.

Maka itu bolehlah, diduga bahwa Bhatari Mandul itu ialah seorang istri Anak Wungsu yang tiada mendapat putra. Apa bolehkah arca suami-istri keduanya berdiri yang terdapat di pura Panataran di desa Tampaksiring dipandang sebagai arca Anak Wungsu dengan permaisurinya (lain dari Bthatari Mandul)?

Setelah kerajaan Anak Wungsu, adalah sebuah prasasti yang tiada memakai tanggal dan tahun, atas nama raja Walaprabhu. Tapi jika kami hendak menyalin kata Sanskerta Walaprabhu itu, ialah raja anak-anak, dan mungkinlah nama lain untuk A.W.

Kemudian dari pada kerajaan Anak Wunggu itu bertakhtalah di Bali seorang ratu (raja putri) yang bernama: Sakala-indu-kirana-isana-guna-dharmma-laksmi-dhara-wijaya-uttunggadewi. Jika kami selidiki nama ratu itu, maka teranglah bahwa berarti:

1. Indu-kirana = cahaja bulan purnama
2. Guna-dharmma = turunan dari Gunapriyadharmapatni, yakni: ibu Airlangga
3. Hendak mengaku Wijaya = turunan raja Palembang (Sri Wijaya), dan
4. Hendak mengaku Uttungga, yakni: turunan raja Sindok di Jawa Timur. (9)

Note 9) Uttunggadewa (dewi) juga tersebut di nama “abhiseka" Airlangga dan lagi di n.a. satu raja Bali lain (lihatlah n.5)

Atas nama ratu itu (10) adalah tiga buah prasasti: Sebuah dari AD 1098 yang mungkin dapat dipercaja asli. Menurut pendapatan orang ahli keduanya prasasti itu kurang asli. Kemudian dari itu adalah dua prasasti (AD 1115 dan 1119) yang menyebut nama raja Sri Suradhipa. Mungkinlah sebuah prasasti yang disimpan di Museum Surabaya, diterbitkan juga oleh raja itu. Jalan sejarah mulai lebih terang, sejak prasasti Jayasakti: AD 1133-1150.

Note 10) Waktunya raja Sakala-indu-kirana bertakhta di Bali, raja Jayawarsa bertakhta di Kadiri (Jawa Timur); waktunya raja Suradhipa di Bali, raja Kameswara I bertakhta di Kadiri, dan waktunya Jayasakti di Bali, Jayabhaya jadi raja di Kadiri. (Lihatlah juga note 7).

Raja yang boleh disebutkan termasyhur (lain dari raja Ugrasena dan raja Dharma Udayana itu), yaitu: raja Jaya Pangus. Akan tetapi tentang prasasti raja Jaya Pangus itu adalah terjadi hal yang aneh sekali. Sampai pada saat ini adalah sekaliannya lebih dari 30 buah prasasti dikenal orang atas nama Maharaja Jaya Pangus itu. Bilangan itu lebih besar dari bilangan prasasti, yang tersimpan atas nama raja siapapun yang lain.

Atas nama Sri Ugrasena adalah 9 buah prasasti, dan atas nama raja Anak Wungsu ada kira-kira 20 buah prasasti.

Hal itu sangat mengherankan. Tetapi yang lebih-lebih mengherankan lagi, hal yang berikut: di antara prasasti-prasasti itu adalah kira-kira 30 buah yang bertanggal dan bertahun: “Ing saka 1103 srawanamasa, tithi nawami, sukla paksa, mawulu pahing, budha, wara ning-wayang-wayang...” (11)

Note 11) Di tahun AD 1181 bulan ke-1, tanggal ke-9, mawulu, pahing, buddha, wuku wayang-wayang. Lihat daftar.

Yang boleh dikecualikan ialah sebuah prasasti. Pengarang beruntung mendapatkan prasasti itu di desa Mantring (Gianyar). Di sini tersebut AD 1177. Prasasti-prasasti Jaya Pangus umum ditulis menjadi enam garis selembar, tetapi prasasti dari desa Mantring itu ditulis sampai 7 garis selembar.

Pada AD 1200 diterbitkanlah sebuah prasasti atas nama Sri Maharaja Eka Jaya, dan bundanya Sri Maharaja Arjaya deng Jaya. Dalam sebuah prasasti dari AD 1204 adalah tersebut raja: Sri Dhanadhiraja, dan istrinya: Bhatara Sri Dhanadewi. Raja itu disebutkan putra Bhatara Parameswara. Tersebut lagi sebagai “ibunira" Bhatara Parameswara itu Bhatara Guru Sri Adhikunti.

Lagi pula pada lembaran prasasti itu adalah sesuatu gambar garisan (seperti rerajahan) Bhatara Guru yang memakai empat tangan (caturbhuya). Menurut pendapatan kami, bolehlah diterka, bahwa Sri Adhikunti yang disebut “ibunira" Bhatara Parameswara itu, istri raja yang bernama Bhatara Guru yang telah mangkat.

Pada tahun AD 1260 Bhatara Sri Parameswara Sri Hyang ning Hyang, Adidewa, yang menjadi raja. Setelah itu lebih dari 60 tahun berturut-turut tak tersebut nama raja-raja.

Pada tahun AD 1284 seorang raja Jawa, yang menjadi raja penghabisan di Singhasari, bernama Krtanagara menaklukkan pulau Bali. Maka adalah dua buah prasasti AD 1296-1300, yang tiada menyebutkan nama raja, tetapi hanya menyebutkan nama “raja patih", yakni Kebo Parud: nama-nama dan pangkat menteri lain-lainnya juga bercorak Jawa, seperti menteri-menteri kerajaan Singhasari.

Tetapi pada AD 1324 mulai tersebut lagi raja Bali. Bhatara Guru (II) dan “Putunira": Sri Tarunajaya; prasasti itu dari bulan Srawana (= ke-1); akan tetapi pada bulan Asuji (= ke-3) di dalam tahun itu, hanya tersebut Bhatara Mahaguru sendiri.

Setahun kemudian AD 1325 Bhatara Mahaguru dinamai Dharma Uttungga Warmmadewa, dan tiga tahun setelah itu, AD 1328 adalah tersebut dua nama raja. Bhatara Sri Wala Jaya Krtaning Rat dan “ibunira" Bhatara Mahaguru. (12)

Note 12) Mungkinkah sebuah patung berupa seorang istri, yang disimpan di pura Panataran Sasih di Pejeng AD 1342, arca Bhatara Guru itu?

Raja Bali kuna yang paling penghabisan, ialah Bhatara Sri Asta-asura-ratna-bhumi-banten. Atas nama raja itu terdapat sebuah prasasti dari AD 1337.

Di atas gunung Panulisan (di pura Tegeh Koripan) terdapat sebuah patung berupa orang perempuan. Di belakangnya ada tulisan. Tetapi tulisan itu amat rusak dan bagian-bagian yang masih terang berbunyi: (a) stasura-ratnabumi. Tahun Isaka hilang. Tetapi adalah candra-sangkala, memakai: mata-kapak-sagara (ataupun gunung), jadi AD 1332 atau 1335. Rupanya raja Asta-asura itu yang dikalahkan oleh raja Majapahit pada AD 1343.

III. KEADAAN PEMERINTAHAN JAMAN DULU

Bagaimanakah pemerintah dilaksanakan di masa kerajaan Bali Kuna?

Dalam beberapa bagian-bagian pemerintahan, umpamanya tata usaha, undang-undang kehakiman, raja-raja disokong oleh sesuatu badan penasehat pusat. Badan penasehat pusat itu boleh dibandingkan dengan rad kerta yang ada sekarang.

Akan tetapi di jaman kuna adalah hanya suatu badan penasehat pusat, yang hak-haknya lebih besar daripada kekuasaan rad kerta yang sekarang. Badan penasehat pusat itu memakai beberapa nama. Dalam prasasti yang kuna tersebut “Panglapuan", “Samohanda Senapati di Panglapuan", “Pasamaksa", “Palapknan".

Mulai dari AD 1001 (waktu kerajaan Udayana dan Gunapriya Dharmapatni) badan itu disebutkan “Pakira-kiran i jero (makabaihan)". Badan itu beranggota: 1) beberapa Senapati; 2) beberapa pendeta (pedanda) Siwa dan Buddha (Mpungku).

Senapati itu bolehlah dibandingkan dengan Punggawa-punggawa pada masa kerajaan Gelgel ataupun Klungkung. Di daerah sendiri beliau berkuasa juga tentang kehakiman atas rakyatnya. Beliau-beliau itu mempunyai “panglapuan" sendiri-sendiri. Lagi pu!a beliau menjadi Senapati, yaitu: hulubalang di daerahnya sendiri. Golongan Senapati itu adalah sebagai berikut:

Wrsabha (Wrsanten), Pancakala, Waranasi, Tira, Danda-(wasi), Wwit, Byut, Balabaksa, Dalembunut (Balembunut), Dinganga, Kuturan, Maniringin, Pinatih, Sarbwa dan Tunggalan.

Golongan Arya-arya yang dibawah pemerintahan raja Gelgel kira-kira adalah sebagai berikut:

Kanuruhan, Wangbang, Pinatih, Kenceng, Belog, Pangalasan, Dalancang, Kuta Waringin, Manguri, Gajah Para (13).

Note 13) Lihat Berg, De Middeljavaansche historische traditie (Proefschrift Leiden, 1927). m.126; Korn. Adatrecht Bali, 1932, m.137-139, etc.

Jikalau kami perbandingkan golongan Senapati dengan golongan Arya itu, maka tiada seorangpun yang cocok namanya, kecuali Senapati Pinatih dengan Arya Wangbang Pinatih. Rupanya sejak pulau Bali ditaklukkan oleh raja Majapahit dan kerajaan atau puri di Samprangan dan di Gelgel didirikan, maka Senapati Bali kuna itu semuanya dicabut, dan diganti oleh orang-orang yang baru, yang tentu kebanyakan berasal dari Jawa Timur (teristimewa dari Kadiri).

Hanya seorang Senapati sajalah yang kami ketahui purinya, yakni Senapati Kuturan yang berpuri dekat Padangbai. Lain daripada itu boleh disebutkan, babwa: dalam suatu prasasti tentang desa Selat dari AD 1181, desa itu dinamai “Kanuruhan". Di suatu prasasti lain, yakni dari AD 1296, ada tersebut pula seorang menteri Ida Ken Kanuruhan, tetapi menteri itu bukanlah Senapati.

Dan lagi dalam tiga buah prasasti (AD 1324, 1328, 1337) tersebut Panji Singaraja, yang berpangkat Kanca ketiga. Nama-nama gria pendeta (pedanda) Siwa (Kasaiwan) tersebut, umpamanya: Air Garuda, Air Gajah, Antakunyarapada, atau Ratnakunjarapada, Binor, Dharma hanar, Hari tanten, Kanyabhawana, Kusumadanta, Lokeswara, Suryamandala, Udayalaya, etc.

Tentang gria-gria itu kebanyakan orang ahli tiada tahu letaknya. Terhadap Air Gajah barangkali kami boleh terka, yaitu suatu gria atau “wihara" dekat Goa Gajah (Bedahulu/Bedulu). Barangkali Dharma hanar terletak di desa Sawah Gunung (Gianyar) dan Ratnakunjarapada di Goa Garba, di tepi sungai Pakerisan, dekat desa Sawah Gunung itu. Di sana hingga sekarang masih terdapat pura Pangukur-ukuran. Dalam pura itu terdapat sebuah prasasti dari batu (AD 1194).

Nama-nama gria pendeta Buddha (Kasogatan) tersebut: Bajrasikhara, Badaha, Wihara bahung, Buruan, Canggini, Dharmarya, Kusala, Kuti hanar, Lwa gajah, Nalanda, Waranasi, etc.

Di antara geria-geria itu, Wihara bahung terletak di lereng Gunung Agung; Buruan terletak di desa Kutri (lihat atas, tentang tempat Gunapriya mangkat atau “lumah"). Canggini dekat desa Sakah (Gianyar). Lwa gajah mungkin sama dengan Goa Gajah. Kalau demikian benarlah di sana ada suatu gria (wihara) untuk pendeta Siwa dan lagi suatu wihara lain untuk pendeta Buddha.

Tentang Nalanda, yaitu juga nama suatu sekolah tinggi agama Buddha di daerah Benggala (Hindustan). Di sekolah agama itu banyaklah orang Tionghwa yang memeluk agama Buddha, masuk untuk mempelajari agama tersebut, umpamanya Yi Tsing (ca. AD 671-681) dan Hiuan Tsang (ca. AD 630-650).

Ketika seorang raja yang bernama Sailendra mendirikan suatu candi di Klurak (Jawa Tengah dekat Prambanan), seorang ahli yang bernama Kumara-Ghosa dipanggil dari Nalanda itu (AD 782.) Di antara AD 582-861 raja Sailendra lain menyuruh membuat suatu “wihara” di Nalanda juga. (14)

Note 14) Lihatlah Dr. A. J. Bernet Kempers, The bronzes of Nalanda and Hindu-Javanese Art (Leiden, 1933)

Waranasi juga nama kota besar di Hindustan yang termasyhur di riwajat hidup Buddha (Sekarang bernama Benares).

Lain dari Badan penasehat pusat itu, raja-raja dibantu juga oleh gerombolan pegawainya yang besar bilangannya. Ada tersebut banyak pegawai seperti: Nayaka, Ser, Samgat, Rakryan, etc. Pekerjaannya boleh disebut tulis-menulis dan lagi memungut pajak. Dalam prasasti-prasasti banyaklah jenis pajak tersebut, tetapi sampai kini kata-kata itu masih kurang terang artinya.

IV. DESA DHARMA DAN WIHARA

Apakah isi atau maksud prasasti-prasasti itu? Umumnya boleh dikatakan: pemutusan tentang perkara yang bermacam-macam. Di antaranya yang harus dikatakan yaitu:

1. Perkara antara dua buah desa tentang batas-batasnya, hak tanah, pengairan. tentang sawah etc.
2. Perkara antara dua buah desa, desa yang sebuah mohon supaya terlepas dari pemerintahan desa yang lain supaya menjadi desa yang berdiri sendiri' (“sarinten, kawakan").
3. Perkara antara sebuah desa dengan pegawai raja yang memungut pajak terlalu keras, atau melebihi dari yang telah ditetapkan.
4. Lagi pula tentang raja membebaskan suatu “dharma" atau “wihara" daripada pajak biasa. Tetapi “dharma" atau “wihara" itu harus memeliharakan sebuah candi, atau sebuah pura yang istimewa.

Barangkali baik kiranya jika isi beberapa prasasti itu dibicarakan di sini sebagai contoh.

Dalam prasasti yang terkuna (AD 882) raja telah menyuruh tuan-tuan “biksu" supaya membangunkan sebuah “partapanan" di Cintamani (sekarang Kintamani). Pertapaan itu juga dipakai sebagai “satra". Satra itu boleh dibandingkan dengan pesanggrahan yang sekarang. Di sanalah biksu-biksu yang mempunyai pertapaan itu harus menerima orang yang kemalaman di gunung. Juga harus diberikan makanan sekedarnya, begitupun tikar untuk tidurnya. Oleh karena kewajibannya itu, maka biksu-biksu mesti dibebaskan dari pajak biasa. Di prasasti itu sebagai di prasasti yang lain-lain semua, juga ditentukan tentang pembagian warisan orang yang telah meninggal dunia yang tiada beranak. Lagi pula ada tersebut sumbangan apa-apa yang akan dibayar untuk puranya. Di antara pura-pura itu seringkali tersebut “Hyang Api".

Dalam prasasti dari AD 896, jaitu tentang Kuta di banua Bharu, tersebut: apa yang harus dilakukan oleh orang Kuta itu jika ada seorang saudagar yang masuk ke desanya, begitupun kalau ada salah sebuah perahu yang mendarat kerusakan. Ada juga tersebut undahagi lancang (= kici), undahagi batu dan undahagi pengarung (= tukang tembusan).

Di prasasti tentang hal bunyi-bunyian kebanyakan tersebut: “pamukul, pagending. pa(r)padaha, parbangsi (15), pasuling, parwayang," etc.

Note 15): lihat daftar!

Di prasasti tentang desa Turunan [Trunyan/Terunyan] (AD 914) tersebut pajak-pajak apa yang akan dibayar kepada pegawai raja dan juga sumbangan apakah yang akan dibayar untuk Bhatara Da Tonta, yakni Bhatara yang paling dihormati oleh penduduk desa Turunan. Di sini juga tersebut (seperti di prasasti orang Kuta banua Bharu, AD 896) pajak apakah yang harus dibajar pada “Magha mahanawami, yakni pada tanggal yang kesembilan bulan yang ketuju. Dalam prasasti-prasasti lain pajak-pajak istimewa juga tersebut. Di tahun yang tersebut tadi (AD 914) terbitlah sebuah prasasti lagi untuk desa Turunan.

Yang diputuskan dalam prasasti itu, ialah di antara yang lain-lain dua perkara yang boleh dipandang penting disebutkan di sini. Yang pertama yaitu: orang desa Turunan yang telah pindah ke “banua" Air Rawang, yang waktu itu belum jadi desa berdiri sendiri, harus turut tetap di bawah pemerintah desa itu. Lagi pula pada bulan
Bhadrawada (kedua) mereka harus menghormati Bhatara Da Tonta yang menjadi Bhatara istimewa desa Turunan. Mereka harus “menguningkan" dan memandikan arca Bhatara tersebut. Dan lagi arca itu harus diberikan cincin bermata, dan giwang yang bermata juga.

Sebuah prasasti dari desa Buwahan (AD 994) berisi putusan raja tentang suatu perkara antara desa Kedisan dan desa Buwahan. Desa Buwahan mohon agar diceraikan dari desa Kedisan supaya boleh jadi “swatantra i kawakanya", yakni: merdeka!!!

Pada AD 1011 desa Air Rawang (yang pada AD 914 masih di bawah perintah desa Turunan) telah menjadi desa yang berdiri sendiri. Orang desa boleh memelihara kuda dan pegawai-pegawai supaya boleh jadi “swatantra i kawakanya", yakni: merdeka.

Dari desa Bila adalah sebuah prasasti (AD 1023) yang menyebutkan orang desa mohon kepada raja supaya dibebaskan dari bermacam-macam pajak. Dari sebab bilangan kaum keluarganya yang dulu berada 50 perindukan “(kuren)", sekarang hanya 10 perindukan. Permohonan itu dikabulkan oleh raja.

Maka desa Buwahan (lihat prasasti di atas, pada AD 994) bertambah besar, sehingga orang-orang desa kekurangan tanah, padang untuk ternaknya dan lagi kekurangan hutan untuk mendapat kayu (16).

Note: 16) Pada AD 1025 tanah itu tersebut: “panyangnya 900 dpa Ibanya 100 dpa".

Sebab itu lalu orang desa membeli hutan dan tanah dari raja. Setelah kami memeriksa hal pembelian itu, dapatlah diterangkan bahwa jaman Bali kuna rajalah yang berhak atas tanah dan padang begitupun hutan, yang belum dipakai oleh rakyat di desa-desa. Hutan itu dinamai “alas burwan haji", yakni: hutan hak raja tempat baginda berburu. Tanah atau hutan perburuan itu seringkali tersebut dalam prasasti-prasasti.

Di dalam kerajaan Anak Wungsu, banyaklah prasasti atas nama raja-raja yang lebih kuna diperbarui dan ditetapkan lagi. Sebuah prasasti dari AD 1061 akan disebutkan di sini. Dalam prasasti itu orang-orang “dharma" di desa Parcanigayan mohon pada raja supaya mereka tiada dipaksa menghormati dan menyungsung Bhatari Mandul. Bhatari tersebut dihormati di atas gunung Panulisan di daerah Sukawana.

Bhatari Mandul itu adalah istri Anak Wungsu yang sudah mangkat, dan juga yang tiada berputera (lihat m.9). Penduduk desa Sukawana wajib menghormatinya, mereka memelihara pura di gunung Panulisan, yang hingga kini dinamai pura Tegeh koripan. Tetapi desa Pa(r)canigayan telah menjadi desa yang berdiri sendiri, jadi tiada perlu turut menghormatinya. Permohonan desa itu dikabulkan oleh raja.

Di prasasti tentang desa Campaga (AD 1324) orang desa minta supaya dibebaskan dari beberapa macam pajak. Lantaran desa itu telah dirampas oleh desa Hyang Tumpu. Banyak penduduk yang ditawan dan orang lain telah lari ke desa lain-lain. Begitupun rumahnya banyak yang habis dirampas dan dibakar.

Prasasti-prasasti yang tersebut di atas itu boleh dipandang sebagai contoh-contoh tentang isinya prasasti pada umumnya. Barangkali ada suatu perkara yang boleh dipandang penting juga, yaitu: di manakah raja-raja yang telah mangkat, “lumah" ataupun dicandikan?

Di desa-desa dalam negara Gianyar sekarang dari desa Tampaksiring (di Utara) sampai di tepi laut (di Selatan) di antara sungai Pakerisan dan Patanu/Petanu, terdapat ratusan arca.

Arca-arca itu seringkali berupa sebagai: Bhatara Guru, Bhatara Brahma, Bhatara Gana (Ganesa), Bhatari Durga, Bhatari Parwati etc. Tetapi tentang kebanyakan arca-arca2 itu, orang ahli tiada tahu raja atau permaisuri siapakah yang “dewata" dalam arca-arca itu. Maka kebalikannya di prasasti-prasasti tersebut Bhatara ataupun Bhatari lumah (siddha-dewata) di suatu tempat. Meskipun tempat disebutkan namanya, tetapi sampai saat ini orang tiada tahu letaknya.

Raja Ugrasena (AD 915-942) lumah di Air Madatu.
Raja puteri: Gunapriya-dharma-patni (AD 989-1001?) lumah di Buruan.
Raja Dharma Udayana (AD 989-1011) lumah di Banu Wka.
Raja Dharmawangsa Wardhana (AD 1022-1027) lumah di Camara.
Raja Anak Wungsu (AD 1049-1077) lumah di Jalu, dan istrinya (Bhatari Mandul) di atas gunung Panulisan.
Sri Maharaja Jaya Pangus lumah di Dharma hanar.

Di antara tempat-tempat itu, yang sekarang sudah diketahui yaitu: Buruan terletak dekat desa Kutri, dan Jalu itu adalah suatu candi yang terletak dekat “wihara" Gunung Kawi (Tampaksiring) dan Dharma hanar terletak di desa Sawah Gunung (Gianyar). Lain daripada itu tersebut beberapa “Bhatara lumah" yang sampai pada saat ini orang belum tahu namanya, ketika beliau-beliau itu masih hidup menjadi raja, umpama raja ataupun permaisuri yang “lumah" di Banu Palasa. Buah Rangga, Candri Manik, Candri ring Linggabhawana, Dewasthana, Air Talaga dan Senamukha.

Lain daripada itu orang ahli riwayat dan barang-barang kuna, yang memeriksa pulau Bali, tiada banyak menemui candi seperti di pulau Jawa. Barangkali candi-candi itu rusak pada jaman yang telah lampau. Yang sampai diketahui, yaitu Candi Gunung Kawi, candi Dasa di daerah Karangasem, dan lag: sebuah “prasada" di desa Kapal. (18)

Note 18: Supaya lebih sempurna, bolehlah diingatkan lagi: candi Bakungan, dekat Cekik, di Jembrana yang tiada jauh dari Gilimanuk; candi di pura Susuhunan wadon di pulau Serangan: candi di campuran sungai Krobokan dan Pakerisan, sebelah utara dari Tampaksiring; candi di tepi sungai Kalebutan (sebelah barat dari desa Pejeng).

Di antara “wihara-wihara" (tempat bertapa) yang telah dapat diperiksa oleh Dr. Stutterheim dan tuan-tuan ahli lainnya boleh disebutkan:

1. di tepi sungai Pakerisan: Gunung Kawi, Kerobokan, Goa Garbha.
2. di tepi sungai Patanu: Goa Gajah dan Yeh Pulu (dekat Bedulu).
3. di tepi sungai Uwos: a) Goa Raksasa (dekat campuan Ubud), b) Jukut paku (dekat desa Nagari dan desa Singakerta (Gianyar).
4. di tepi sungai Kungkang: Telaga waja (dekat desa Sapat, Gianyar), dan
5. di tempat-tempat lainnya: Gunung Kawi (II) dekat Babitra, Goa Patinggi dekat desa Riang gede (Tabanan).

Dalam prasasti disebut juga beberapa “wihara" dan patapan (“partapanan") yang sekarang telah rusak (hilang), umpama: wihara Bahung (di lereng Gunung Agung) “wihara Bukhul", partapanan di Bukit Petung (letaknya belum diketahui); “di thanin Buru" (daerah Kintamani); di Tamblingan, di Kintamani, di Songan (daerah danau Batur); di Dharmakuta dekat Julah; dekat desa Batuan (Gianyar); di Hyang Karimama dekat desa Bangli, etc.

Tentang pura-pura yang terkuna boleh tersebut: pura Yeh Gangga (Perean, Tabanan); pura Maospahit (Denpasar); pura Panataran Sasih, pura Puser ing jagat, pura Kebo Edan di Pejeng; pura Samuan tiga di Bedulu; pura Tegeh Koripan di Gunung Panulisan (Sukawana); pura Sakah atau Canggini (Gianyar); pura Ulu Watu (Tafelhoek) district Kuta; pura Kehen di Bangli, pura Leluhur di lereng Gunung Watu Kau; pura Dasar di Gelgel, tiga-tiga itu tentu asli sekali akan tetapi diperbaiki seringkali, sehinggga pada saat ini tak ada lagi bangunan yang kuna. Tentang pura Besakih kami persilahkan membaca karangan yang paling belakang yang termuat di majalah dua-bulanan: Indonesia, bulan Juli 1948.

Kami mengharap supaya karangan ini yang sebenarnya hanya ringkasan pendek saja, dapatlah menghidupkan pikiran orang Bali sendiri sehingga mereka mulai kepingin memeriksa sejarah kuna pulaunya sendiri.

TAMMAT

DAFTAR KATA-KATA ISTILAH SANSKERTA DAN BALI KUNA ATAU JAWA KUNA

Alpabet Sanskerta

1) hump hidup (suara): a (a pendek), ā (a panjang). e (pepet pendek), o (pepet panjang). i, ī, ū, r (pa marepa) l, e. ai, o, au; 2) hurup mati (wyanyana): k, kh, g, gh, (ga-ghora), ng: c (1), ch (ca-leca), j, jh (ja-jhira?), ñ (na-nanya): t (ta-latik), th, d (da-latik?), dh, n (na-rambat); t, th (ta-thawa), d, dh (da-madhu), n, p, ph (pa-phala), b, bh (ba-kembang), m, y (2), r, l, w, ç (sa-saga), s (sa-sapa), s, h. 1) c = tj, ch = tj+h, j = dj, jh = dj+h, n = nj; 2) y = j

asadha = bu!an ke-12
asuji = bulan ke-3
bhadrawada (bhadrawanten) = bulan ke-2 (Skt. bhadrapada)
biksu = orang bertapa yang minta-minta (derwis)
budha = lihat saptawara
caitra = bulan ke-9
candi = 1) istimewa: tempat abu raja-raja; umumnya: pura kuna di Jawa
candrasangkala = bilangan tahun yang tiada memakai angka-angka tetapi kata-kata semboyan yang telah berharga angka tetap (vaste cijferwaarde).
cihna = 1) tanda 2) cap (raja) 3) nama
dharma = tempat bertapa sama dengan bangunannya etc. yang seluruhnya dibebaskan dari pajak biasa (= mahardhika = merdeka)
diwasa = hari, menurut matahari (lebih panjang daripada tithi)
jyaistha = bulan ke-11
kartika = bulan ke-4
kesari = singha
lancang = semacam kapal laut (pici) lain daripala: parahu.
lumah = 1) tidur 2) seda (Skt. prasiddha) = mangkat 3) menurut orang ahli ilmu barang kuna (archeologie) di-candi-kan = abu raja itu disimpan di sesuatu “candi"
magha = bulan ke-7
margagira = bulan ke-5
masa = bulan
mawulu = lihat sadwara
mpungku = tuanku, gelaran padanda-pedanda Saiwa ataupun Sogata
pagending = penyanyi
pahing = lihat pancawara
pamancangah - sejarah puri
pamukul = juru palu gamelan
pancawara = “wuku" lima hari: Umanis (= Legi), Pahing, Pwan (= Pon), Wage, Kali(w)on
parpadaha = juru “gupek"
parbangsi = juru serunai (dwarsfluit) (Skt. wamsi)
pausa = bulan ke-6
prasada = tempat abu raja berupa menara (toren-tempel)
prasasti = undang-undang
prasuling = juru suling (lengtefluit)
phalguna = bulan ke-8
sadwara = wuku enam hari: Tungleh, Haryang, Wurukung, Paniruan, Was, Maulu
saptawara “wuku" berhari tuju = Aditya (Redtte), Soma (Candra), Anggara, Budha, Wrhaspati, Sukra, Sanaiscara; bahasa Arab: Ahad, Senen. Selasa, etc.
senapati = hulubalang
singha = singa
sogata = bauddha = orang yang memeluk agama Buddha
srawana = bulan ke-1
stupa = lihat keterangan m1 n1
tithi = hari, menurut bulan
triwara = lihat keterangan m2
waisakha (besakha) = bulan ke-10
wara = hari, menurut macam-macam “wuku"
warsa = tahun
wayang-wayang = wuku yang ke-27
wihara = tempat bertapa, yang berisi beberapa bangunan etc. (biara)
wuku = lihat saptawara

NB. Supaya tuan pembaca tak keliru: Di Bali terdapat empat pura (berangkali lebih lagi) yang bernama Gunung Kawi.
1) Gunung Kawi, dekat desa Tampaksiring
2) Gunung Kawi, di desa Sebatu
3) Gunung Kawi, di desa Kaliki
4) Gunung Kawi, dekat desa Babitra.

Di buku “Sedjarah Kabudayan Bali” (Bali Culture Album), yang akan diterbitkan oleh firma Kolff di Djakarta si pembaca boleh mendapat beberapa gambar (lebih dari 200) tentang sejarah Kebudayaan Bali mulai dari jaman “praehistorie” sampai jaman modern. Buku itu akan diterbitkan (1) memakai keterangan bahasa Indonesia, (2) memakai keterangan bahasa Belanda dan Inggris.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24