Pura Paluang (Raditya 2018)

RADITYA (No.253, Agustus 2018) published an editorial (by Nyasa) and article (by Putra) on this curious temple, described in English and published in 2014 elsewhere on this site. For the time being, below article is only in Indonesian. Check out the cartoon! Selamat membaca.

paluang raditya 00 cover copy

Editorial: Nyasa

Sebuah pura di Nusa Penida, Bali memiliki kekhasan sendiri, yaitu dua pelinggih (bangunan suci di dalam pura tersebut berbentuk mobil). Tentu pelinggih "nyleneh" tersebut sakral dan difungsikan sebagai sthana ista dewata tertentu. Memang bentuk peliggih seperti itu tidak lazim digunakan di Bali dan tempat lainnya di Indonesia, karena pelinggih-pelinggih yang ada dalam pura umumnya seperti padmasana, meru, gedong, pyasan, bebaturan, dan Iain-lain. Oleh karena itu akan muncul pertanyaan, dari mana rujukan tattwa yang menjadi dasar pendirian pelinggih semacam itu?

Singkat cerita pura tersebut sudah berdiri lama (belum diketahui tahun pastinya) yang berarti sudah berfungsi sebagai tempat suci sejak lama dan masyarakat yang memanfaatkannya merasa nyaman dan tenteram secara batiniah yang berhubungan dengan religiusitas. Masyarakat yang menjadi pengempon dan penyungsung (pemuja) pura tersebut pun sangat meyakini bahwa yang bersthana di pelinggih berbentuk mobil itu adalah Ida Bhatara dan Bhatari yang Maha Mengayomi, dengan demikian paling tidak dari satu sisi, yaitu emosi keagamaan (rasa keagamaan) pelinggih yang unik itu sudah memenuhi syarat sebagai sarana keagamaan.

Di kalangan pemeluk Hindu memang tidak ada keseragaman mengenai cara mempraktikkan ajaran agama ini, tetapi yang dijadikan pedoman adalah prinsip-prinsip dasar yang memotivasi suatu tindakan. Termasuk dalam bentuk bangunan suci. Bandingkan saja bentuk bangunan suci Hindu di India dan Nusantara yang jauh berbeda, demikian jugajika dibandingkan bentuk bangunan suci Hindu di Jawa (kuno) dan di Bali. Struktur bangunan pura sebagaimana sekarang ini sebelumnya tidak dikenal di kalangan umat Hindu zaman Mataram hingga Majapahit, melainkan di sana lebih dikenal bentuk candi.

Jadi, apakah dengan demikian umat Hindu boleh membangun nyasa (simbol) suci keagamaan semaunya saja? Jawabannya mungkin "boleh" asalkan dengan pertimbangan sungguh-sungguh kehadirannya mampu memuaskan rasa religiusitas. Coba saja ingat bahwa pada masa lalu dan masih berlangsung hingga sekarang umat Hindu di Bali menjadikan batu sebagai sthana ista dewata, juga pepohonan, dan di tempat lain ada benda suci dengan bentuk kelamin laki-laki dan perempuan (lingga-yoni) yang digunakan sebagai sarana keagamaan. Ada pula simbol binatang, seperti barong dan bentuk raksasa (rangda). Semua itu tidak ada masalah dan tidak dipermasalahkan.

paluang raditya 02 kartun copy

Meskipun serba boleh dan serba mungkin, namun bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu tidak akan serta merta mendirikan tempat suci berkreasi sedemikian rupa menciptakan bentuk-bentuk sekadar mengikuti imajinasi, tetapi pendirian tempat-tempat suci umumnya dilatarbelakangi kisah mitis yang kuat. Kisah bernuansa mitis tersebut menciptakan kesan kuat di kalangan masyarakat yang mempercayainya atau yang berada di lingkungan budaya mitos tersebut, sehingga terbentuk keyakinan yang kuat akan kehadiran dewata (Tuhan) di pura yang mereka bangun. Latar belakang mitis itu pula yang kemudian turut menjadikan suatu pura berkharisma hebat, keramat atau disebut metaksu.

Kemudian kalau diperdebatkan secara teologis, bagaimana mungkin pelinggih berbentuk mobil bisa dikatakan menjadi sthana Hyang Bhatari Durgha (Hyang Mami), bukankah wahana Dewi Durgha berwujud seekor macan? Paling tidak demikian dalam sastra-sastra disebutkan. Namun begitu umumnya sthana Hyang Bhatari di Bali disimbolkan berbentuk gedong, bukan di-arca-kan. Hal ini berarti setiap teologi mengalami proses pribumisasi, agar menjadi dekat dengan emosi keagamaan para penganut. Demikianlah pengalaman-pengalaman religius masyarakat Nusa Penida merupakan faktor kuat bagi berdirinya pura dengan pelinggih berbentuk mobil tersebut. Mereka mengalami pengalaman esoterisnya langsung dan kemudian merealisasikannya ke alam empiris secara eksoteris, sehingga terwujudlah pura yang menjadikan mereka merasa dekat dengan dewata pujaannya dan merasa puas dapat merasa dekat dengan pujaannya itu.

LAPORAN UTAMA: Mitos Gaib Palinggih Berbentuk Mobil di Pura Paluang

image.pngDi pulau yang sejak dahulu dipandang keramat, di tanah tandus yang menyimpan banyak cerita mitis, disanalah tempat berdirinya Pura Paluang. Pura yang berada di Nusa Penida ini menyimpan sesuatu yang sangat unik, karena di dalam pura ini terdapat dua buah pelinggih berbentuk mobil. Sungguh suatu desain pelinggih tempat sthana Ida Bhatarayang sangat tidak lazim dibandingkan pura lainnya di Bali. Bagaimana latar belakang keberadaan pura ini?

Menyaksikan pura yang unik ini lantas Dr. I Made Adi Surya Pradnya, M.Fil.H., pada tahun 2015 lalu melakukan penelitian di pura ini untuk menyingkap rahasia di balik berdirinya pura dengan palinggih berbentuk mobil di dalamnya ini. Pura Paluang, demikian nama pura yang terletak di Banjar Karang Dawa, Desa Bunga Mekar, Nusa Penida dahulunya dibangun setelah adanya peristiwa mitis yang melatarbelakanginya.

Hal ini dikisahkan oleh seorang tokoh adat, yaitu I Made Merta mengatakan pada waktu dahulu masyarakat Banjar Karang Dawa hendak merabas hutan yang akan dipergunakan untuk lahan pertanian, mengingat kehidupan masyarakat adalah petani dengan keadaan geografis di Nusa Penida kering dan tanahnya berkapur, sehingga sulit mendapat sumber mata air. Kemudian saat merabas hutan beberapa batu besar yang terdapat di sekitar hutan dilemparkan ke jurang yang berdekatan dengan lautan, sampai benar-benar daerah tersebut bersih dan layak untuk dijadikan lahan pertanian.

Namun pada hari berikutnya masyarakat dibuat kaget, karena dari beberapa batu yang dipindahkan ke jurang ada sebuah batu besar yang kembali berdiri di tempatnya semula seperti sediakala. Awalnya masyarakat mengira ada seseorang yang sengaja menempatkan batu itu ke tempat semula, sehingga waktu itu batu itu kembali dibuang ke jurang, begitu seterusnya batu tersebut kembali lagi. Melihat kejadian aneh seperti itu, tiba-tiba ada suara dari alam yang didengarkan masyarakat bahwa tempat itu adalah tempat suci berstananya para dewa atau linggih Ida Bhatara.

paluang raditya 05 copy

Masih menurut I Made Merta, mendengarkan suara dan kejadian alam yang aneh dengan posisi batu yang dilempar berkali-kali ke jurang, namun kembali lagi ke tempat semula menjadikan masyarakat meyakininya dan terpanggil rasa bhaktinya kepada kemahakuasaan alam yang dipercaya sebagai kekuatan Tuhan. Oleh sebab itu selanjutnya di lokasi tersebut dibuatkan sebuah stana berupa palinggih. Pada saat membuat palinggih di tempat itu seseorang yang dipercaya oleh masyarakat untuk membuat palinggih mendapat imaginasi bahwa Ida Bhatara mesti memiliki kendaraan yang dipergunakan untuk memantau umat manusia. Kendaraan tersebut kemudian dibuat sedemikian rupa, seperti kereta, namun lama-kelamaan berubah menjadi bentuk sebuah mobil. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat terkejut, karena bentuk palinggih sangat aneh dan unik, namun masyarakat saat itu tidak tahu bahwa bentuk itu merupakan tiruan mobil, sebab di zamannya di Nusa Penida belum ada mobil, seperti saat ini.

Hal yang sama juga disampaikan Jro Mangku Suar kepada I Made Adi Surya Pradnya sebagai peneliti. Jro Mangku Suar merupakan pemangku di Pura Paluang yang mengatakan eksistensi dari palinggih berbentuk mobil memang telah ada sejak dahulu. Bahkan ia mengatakan kalau nenek moyang setempat mempercayai Ida Bhatara benar-benar memantau masyarakat dengan media mobil dan sejumlah warga masyarakat mengaku pernah mendengar suara mesin mobil, terutama munculnya pada tengah malam. Beberapa orang pernah melihat secara nyata bentuk mobil tersebut, yaitu seperti mobil Jimmy Katana buatan Jepang yang merupakan produk merk Suzuki, tetapi yang membedakannya dengan mobil sungguhan adalah pada mobil gaib itu tampak ada dua ekor naga melilit di bagian depan mobil tersebut yang bentuknya sama seperti palinggih mobil yang terdapat di Pura Paluang. Mobil yang dikendarai Ida Bhatara tersebut dikenal sebagai sthana dari Sang Hyang Mami atau Hyang Mami, sebutan ini adalah kepercayaan lokal masyarakat atau teologi lokal. Mobil gaib ini konon sering keliling desa, kadang-kadang melaju di jalan, di udara, dan bahkan di atas laut yang kemudian dilihat oleh masyarakat pada malam hari yang hendak pulang ke rumah. Beberapa warga mengaku matanya silau oleh lampu mobil yang berkelap-kelip. Saat mobil tersebut coba didekati oleh warga mobil tersebut terbang ke jurang atau lautan yang terletak di sisi barat dan utara pura. Kontan saja warga tersebut terkejut dan langsung mencakupkan tangan sebagai simbol bhakti terhadap Hyang Mami.

paluang raditya 06 copy

Foto: Dr. I Made Adi Surya Pradnya, M.Fil.H. Dr. I Made Adi Surya Pradnya, M. Fil.H berpoto di depart salah satu pelinggih yang berbentuk mobil.

Cerita yang sama diutarakan I Nyoman Kresna menceritakan memang benar-benar ada mobil berjalan-jalan di malam hari. Hal ini pernah dialaminya saat malam hari, yang mana Nusa Penida saat itu belum memiliki penerangan atau lampu dan tidak mengenal istilah mobil. Masa itu keseharian masyarakat hanya pergi ke tegalan, kemudian tidur karena tidak adanya hiburan dan mempersiapkan diri untuk pergi ke ladang. Hal ini dilakukan terus menerus, namun ada kepercayaan para leluhur bahwa pada hari-hari tertentu ada suara aneh melintasi desa. Pertama-tama masyarakat ketakutan, namun karena suara aneh itu terus membikin ribut akhirnya warga masyarakat sepakat untuk mengintip untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Kemudian pada hari tertentu suara itu kembali melintasi desa memancing masyarakat ingin melihat langsung apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata setelah diintip beberapa orang mengaku menyaksikan sebuah kotak berjalan dan mengeluarkan lampu. Masyarakat menganggap hal itu adalah kereta, karena zaman itu mereka tidak mengerti mobil, dalam pemahamnnya hanya mengetahui kereta. Mereka bertutur benda kotak aneh itu mirip kereta, tetapi suaranya tidak seperti kereta kuda pada lazimnya. Selain itu di atas benda kotak gaib itu nampak ada naga melilit. Hal inilah yang dipercaya masyarakat sebagai dewa pelindung yang selalu berkeliling untuk menjaga keselamatan masyarakat.

Menurut Jro Mangku Suar, sebelum dibangunnya Pura Mobil oleh masyarakat, batu ajaib yang dulunya menghebohkan masyarakat karena dibuang berkali-kali kemudian kembali ke tempat semula dibangun palinggih bernama palinggih Lingga dengan dewa yang berstana berupa area yang diyakini sebagai Ida Bhatara Ratu Gede. Dalam konsep Agama Hindu diidentikkan sebagai Dewa Siwa, sedangkan di dalam palinggih mobil Jimmy terdapat dua arca yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai linggih Ida Bhattara Hyang Mami dalam konsep Agama Hindu dipercaya sebagai Dewi Uma dan Dewi Durga.

Berdasarkan data tersebut Pura Paluang dianggap sebagai Pura Dalem, tetapi bukan Pura Dalem Kahyangan Desa, melainkan Pura Dalem Jagat, sama seperti Pura Dalem Ped di Desa Ped, Nusa Penida.

paluang raditya 07 copy

Menurut I Made Merta, istilah sebutan sakti dari Dewa Siwa dalam pandangan lokal masyarakat pada mulanya tidak bernama Hyang Mami, melainkan Dadong Nyoman atau Dong Man. Perubahan nama dari Dadong Nyoman menjadi Hyang Mami memiliki cerita tersendiri, yaitu seorang guru PNS berasal dari Desa Banjarangkan, Klungkung, namun ditugaskan bekerja di Nusa Penida, bernama Nengah Wijana. Sebelum bekerja menjadi guru di Nusa Penida dia sudah memiliki penyakit dengan gejala seperti maag kronis yang membuatnya sering pingsan, kemudian dia memohon ke Pura Paluang dengan meminta anugerah, agar dapat disembuhkan. Pada saat melakukan persembahyangan, tiba-tiba saja dia kerauhan dan menyebut nama Hyang Mami sambil menunjuk palinggih berbentuk mobil, dan setelah kerauhan penyakitnya dapat disembuhkan. Sejak saat itu di palinggih berbentuk mobil dipuja Ida Bhattara Hyang Mami dengan teologi Hindunya diidentikkan sebagai Dewi Durga.

Mitos berkembang tentang Hyang Mami sebagai dewa yang bersemayam di palinggih berbentuk mobil rupanya telah didengarkan hampir seluruh Indonesia. Hal ini dibuktikan adanya kedatangan rombongan keluarga yang berasal dari Lombok beberapa hari setelah upacara Piodalan di Pura Paluang. Kedatangan rombongan ini membuat terkejut masyarakat, karena ternyata keberadaan Pura Paluang sudah banyak didengar oleh masyarakat di luar desa. Kedatangan rombongan Lombok juga mengherankan masyarakat, sebab ketika rombongan Lombok tiba di depan pura dan melihat palinggih mobil, mereka semuanya menangis dan terharu, sebab sebelumnya pada waktu rombongan dari Lombok melakukan tirtayatra ke Pura Besakih, karena kemalaman tiba-tiba ada mobil yang mengantarkan mereka menuju tempat tujuan dan mobil itu sama persis seperti palinggih di Pura Paluang dengan dua ekor naga melilit di bagian depannya. Kedatangan rombongan ke Pura Paluang pun sangat ajaib karena rombongan dari Lombok yang dipimpin oleh Jro Mangku istri mendapat utusan dari Pura Paluang, agar datang pada hari yang telah ditentukan untuk menghaturkan bhakti. Menurut utusan itu tempat yang dituju adalah sebelah klod kauh Nusa Penida dan utusan itu juga berpesan bahwa hari tersebut dilaksanakan upacara Piodalan. Berdasarkan hal tersebut rombongan dari Lombok berangkat ke Nusa Penida dan terus bertanya sampai akhirnya tiba di Pura Paluang dan di sana rombongan dari Lombok menceritakan pengalaman dengan Ida Bhatara Hyang Mami saat menolong mereka saat kemalaman di jalan dari Pura Besakih.

Secara umum Pura Peluang memiliki luas sekitar Are dengan pembagian luas di uttama mandala sekitar 2,5 are, kemudian madya mandala sekitar 3,5 are, dan padajaba mandala 4 are. Akan tetapi terdapat tanah pelaba Pura Paluang yang tidak terhitung ke dalam konsep struktur pura terletak disebelah timur dan utara Pura Paluang.

Struktur bangunan utama di Pura Paluang terdapat beberapa Pelinggih utama, seperti halnya Bale Piasan merupakan tempat sesajen atau banten pada saat pelaksanaan Piodalan di Pura Paluang, selain sebagai tempat sesajen Bale Piasan juga difungsikan sebagai tempat mesandekan (istirahat) bagi pemangku atau orang suci yang nangkil ke Pura Paluang.

paluang raditya 08 foto padmasana copy

Foto: Padmasana di Pura Paluang

Selanjutnya terdapat palinggih penyimpangan Bhatara Rambut Sedana yang lazim disebut dengan Sri Sedana. Secara khusus palinggih tersebut tepat untuk meminta kekayaan, berupa harta benda karena Bhatara Rambut Sedana merupakan dewi kemakmuran yang melimpahkan segala karuniannya kepada umat Hindu di manapun berada dengan segala aktivitas yang dilaksanakan berhubungan dengan pengluaran uang dan benda lainnya dapat menghasilkan uang.

Setelah Palinggih penyimpangan Bhatara Ramhut Sedana juga terdapat palinggih Bale Menjangan sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan yang telah berjasa bagi kehidupan masyarakat Bali sekarang dengan membawa konsep desa pakraman sebagai tata kehidupan masyarakat Hindu sera konsep Tri Murti sebagai pemujaan masyarakat Hindu di Bali pada tri kahyangan. Setelah itu terdapat Gedong Penunasan, gedong ini berfungsi sebagai tempat penyimpenan pratima dan juga sebagai gedong pemujaan Ida Bhattara yang berstana di Pura Paluang.

Di Pura Paluang juga terdapat Padmasana. Padmasana sebagai pelinggih dengan atap terbuka memang tidak membatasi ista dewata dibandingkan Kemulan yang jelas ista dewatanya Tri Murti, jadi Padmasana diartikan sebagai Stana Dewa Surya juga tidak salah. Dalam setiap pemujaan atau upacara, Surya dan Tirta Surya sebagai upasaksi selalu ada, walaupun di banyak tempat tidak ngelinggihang Surya, maka saat upacara dibuatkan Sanggar Surya yang sifatnya tidak permanen.

Palinggih utama dari Pura Paluang adalah palinggih dengan bentuk mobil, palinggih tersebut berjumlah dua buah. Sesuai dengan milologi masyarakat sekitar plinggih tersebut merupakan kendaraan Bhatara Hyang Mami yang berstana di Pura Paluang. Pelinggih tersebut menyerupai mobil Katana dan VW kodok. Selanjutnya terdapat Bale Paruman tempat pemangku untuk menghaturkan sesajen ataupun amanat yang dibawa pemedek tangkil ke Pura Paluang.

Menurut I Made Adi Surya Pradnya, berdasarkan bentuk palinggih-palinggih di atas, palinggih Ji Pura Paluang, Banjar Karang Dawa, Nusa Penida Barat memiliki keunikan dari palinggih pada umumnya, yaitu berbentuk mobil, yang jika diperhatikan berbentuk mobil VW kodok dan Jimmy kotak. Palinggih ini tidak dapat dikategorikan seperti palinggih pada umumnya, karena tidak termasuk dalam kriteria palinggih pada umumnya. Palinggih ini pula sangal diyakini dan dipuja oleh umat Hindu serta memiliki pangemong seperti pura pada umumnya.

Keberadaan pura ini yang sangat unik dengan palinggihnya berbentuk mobil tentunya keberadaan dari pura ini memiliki milologi yang diyakini oleh masyarakat setempat. Mengutip pendapat Bultmann bahwa mitos adalah ekspresi dari suatu pemahaman tertentu tentang eksistensi manusia. Bultmann percaya bahwa dunia dan hidup mempunyai dasar dan batasnya dalam suatu kuasa yang terdapat di luar segala sesuatu, kemudian mitos menjelaskan kuasa ini dengan cara yang tidak lazim, karena mitos berkata-kata tentang kuasa tersebut seperti berkata-kata tentang duniawi. (Putra)

Source: RADITYA No.253, Agustus 2018 (authors Nyasa & Putra)

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24