Arca Bhatara-Bhatari di Pura Saab (Sugitawan, 2003)

This Indonesian language article is a rendering of 'Arca Bhatara-Bhatari di Pura Saab Nusa Penida' (Devine Statues at Saab Temple, Nusa Penida), a thesis by Resud Sugitawan (2003), Archaeology department at Universitas Udayana, Denpasar. Notes: contents were left out; spelling of several names of writers (e.g. in the Daftar Pustaka) were updated.

Arca Bhatara-Bhatari di Pura Saab Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, oleh Resud Sugitawan (9701420005); Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra; Universitas Udayana, Denpasar, 2003. Skripsi ini diajukan kepada panitia uian Fakultas Sastra, Universitas Udayana Denpasar sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam ilmu Arkeologi, 2003

Skripsi ini telah diterima oleh panitia ujian Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tanggal (…) 2003. Panitia Ujian; Ketua Panitia: Drs. I Gusti Ngurah Tara Wiguna, M. Hum., Nip 131273585; Ketua Panitia, Sekretaris, Drs. I Wayan Srijaya, M. Hum, Nip 131599637

Kata pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul "Arca Bhatara-Bhatari Di Pura Saab Nusa Penida Kabupaten Kelungkung." Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang wajib dalam menempuh ujian akhir sarjana pada jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar.

Berbagai hambatan dan kesulitan telah dialami dalam proses penyusunan skripsi ini. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak, baik berupa motifasi, maupun doa restu akhirnya segala hambatan tersebut dapat diatasi.

Disadari oleh penulis bahwa tulisan ini masih jauh dari yang diharapkan, hal ini diakibatkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis itu sendiri. Oleh karena itu seandainya ada penelitian yang lebih sempurna dan menemukan sesuatu yang baru di lokasi penelitian ini maka, dengan sendirinya tulisan ini juga dapat berubah dengan lebih disempurnakan. Walau skripsi ini masih jauh dari apa yang diharapkan, mudah-mudahan dapat memberikan sedikit sumbangan bagi ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu Arkeologi.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis sangat menyadari adanya bimbingan dan bantuan yang sangat berarti dari berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan rasa hormat kepada:

1. Bapak Drs. A. A. Bagus Wirawan S. U, sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana yang telah banyak membantu dalam menyediakan Fasilitas pendidikan dan kesempatan menempuh ujian.
2. Bapak Drs. I Gusti Ngurah Tara Wiguna, M. Hum, selaku ketua Jurusan Arkeologi yang banyak memberi saran dan motifasi dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Ibu Dra. Ida Ayu Adri selaku mantan ketua jurusan arkeologi yang banyak memberi motifasi dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak DR. I Gde Semadi Astra, selaku pembimbing akademis yang telah memberikan pengarahan, bimbingan dan dorongan semangat selama penulis mengikuti perkulian sampai akhir penyelesaian skripsi ini.
5. Bapak Drs. I Ketut Linus, sebagai pembimbing I, yang telah membina serta meluangkan waktu dan perhatian untuk membingbing penulis dalam menyelesaikan penulisan sekripsi ini.
6. Bapak DR. I Wayan Redig, selaku pembingbing II yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan bimbingan serta peminjaman uteratur guna menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Bapak Drs. I Nyoman Wardi, yang telah banyak memberikan dorongan dan masukan agar penulisan skripsi ini dapat cepat diselesaikan.
8. Semua staf dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana yang telah banyak membantu dalam menyediakan buku-buku literatur yang penulis perlukan.
9. Segenap staf perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Udayana yang telah banyak membantu dalam menyediakan serta meminjamkan buku-buku yang penulis perlukan.
10. Segenap staf perpustakaan dan staf instansi terkait antara lain: staf Balai Arkeologi Denpasar, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali, Perpustakaan Daerah Bali, Perpustakaan Pusat Dokumentasi Denpasar yang banyak menyediakan buku-buku yang diperlukan.
11. Keluarga besar Puri Bedulu terutama Bapak A. A Oka Astawa yang telah banyak memberi masukan dan literatur sehingga tulisan ini cepat selesai.
12. Segenap keluarga tercinta, Bapak, Ibu, serta kakak tercinta, I wayan Suka, keluarga yang ada di Jalan Batanta yang selaku orang tua wali yaitu Bli Wayan Sama beserta istri dan keponakan semua, terkhusus buat Ni Made Artini tercinta yang telah menemani serta memberi dorongan penulis selama mengikuti perkulihan sampai berakhir.
13. Teman-teman angkatan ‘97 antara lain Raisman, Yudi, Pepeng Tjok, Nona. Para kakak tingkat yaitu Rony, f.f, Gede, Alit, Gotama, Agung Wira, Wisnu. Para adik-adik tingkat yaitu Warmadewa, Ilham, Adi, Wahyu, Eko, Aris serta yang lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis ucapkan trimakasih atas bantuan sehingga tulisan ini cepat selesai.
14. Teman-teman di Kampung ST Tunjung Mekar Sebali, Tetani Club yang telah banyak memberi bantuan dalam menyelesaikan tulisan ini.

Terakhir penulis harapkan mudah-mudahan skripsi ini ada manfaatnya dan semoga Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan rahmat-Nya sesuai dengan amal bakti dan kebaikan bapak dan ibu dosen serta teman-teman semua.

Denpasar, Maret 2003 - Penulis

Abstrak

Penelitian yang dilaksanakan ini menyangkut permasalahan meliputi hubungan konsepsi yang melatarbelakangi pembuatan serta penempatan arca bhatara-bhatari dengan keberadaan masyarakat penduduknya, fungsi arca dahulu dan sekarang. Adanya ruang lingkup penelitian dan ruang lingkup permasalahan, akan dapat memudahkan dalam melakukan penelitian yang dilaksanakan, dalam tiga tahap. Tahap pertama yaitu pengumpulan data dengan jalan studi pustaka, observasi, dan wawancara. Tahap kedua yaitu pengelolahan data yaitu dengan memakai analisis tipologi, analisis kontekstual, dan analasis komparatif. Tahap yang terakhir yaitu penyajian hasil penelitian.

Secara konsepsi yang melatarbelakangi pembuatan arca bhatara-bhatari adalah yaitu konsepsi pemujaan leluhur. Berdasarkan deskrispsi dari data seni arca yang ada di pura Saab tersebut baik dilihat dari ukuran arca, bahan arca, paupun atribut yang dipakai oleh arca yaitu sama dengan yang ditemukan di Bali Daratan. Berdasarkan kenyataan tersebut, kemungkinan arca tersebut berasal dari Bali Daratan, hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan yang berkembang di Bali Daratan juga berkembang di Nusa Penida sebagai masyarakat bawahan.

Berdasarkan konsepsi di atas, datap dijelaskan mengenai fungsi arca tersebut, Pada zaman dahulu arca bhatara-bhatari dipakai untuk media pemujaan untuk memuliakan arwah para leluhur, baik itu seorang raja, kerabat raja, ataupun orang-orang yang berjasa pada masyarakat penduduknya. Bagi seorang raja media pemujaan semacam ini dipakai pula untuk menguatkan kekuasaan serta hubungan terhadap masyarakat bawahnya. Pada saat sekarang fungsi arca tersebut telah berubah tidak lagi sebagai media pemujaan kepada leluhur tapi sebagai media pemujaan untuk memperoleh kesuburan dan keselamatan.

Berdasarkan atribut ataupun ragam hias yang dipakai oleh arca bhatara-bhatari di Pura Saab lebih menunjukkan sifat seni arca zaman Bali Madya. Ciri-ciri yang dipakai mengungkap periodisasi arca tersebut adalah kain arca yang bersusun tiga, mahkota yang dipaki yaitu kirita mahkota, rambut di belakang arca banyak serta melebar sampai mempel distela arca dengan perhiasan arca yang cukup ramai.

BAB I - PENDAHULUAN: 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

(p.1) Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lampau berdasarkan sisa kegiatan yang ditinggalkan termasuk sisa manusia itu sendiri. Dimana ilmu Arkeologi bertujuan untuk merekrontruksi kebudayaan manusia di masa lampau berdasarkan peninggalan yang merupakan hasil aktivitas manusia dalam masyarakat. Telah disepakati oleh para ahli bahwa ada tiga gejala kebudayaan yang meliputi, ide-ide, aktivitas,dan karya atau benda (Koetjaraningrat, 1985:186-188). Maka dari benda yang dihasilkan manusia inilah, ilmu Arkeologi berusaha untuk merekrontruksi kebudayaan masa lalu manusia tersebut.

Secara garis besar Redman merumuskan bahwa Arkeologi adalah merupakan suatu studi yang sistematik terhadap alamiah dan tingkah laku budaya manusia melalui kajian hasil aktivitasnya di masa lampau (Charles Redman, 1973:6). Salah satu hasil dari kebudayaan itu adalah seni arca, peninggalan seni arca merupakan bagian dari peninggalan arkeologi yang dapat menunjukkan tingkat peradaban manusia di masa lampau. Di Bali peninggalan arkeologi masih hidup dan mendapat pemujaan oleh masyarakat yang memeluk agama Hindu (Kempers, 1960:5).

Berhadapan dengan benda-benda peninggalan purbakala khususnya yang berwujud arca akan dapat dipahami kehidupan di masa lampau, (p.2) sehingga dapat diketahui latarbelakang serta fungsinya dalam masyarakat baik, arca-arca peninggalan purbakala yang terpengaruh tradisi megalitik maupun klasik. Seni arca yang dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang tidak terlepas dari unsur kehidupan, relegi, atau agama serta tercermin dalam aktivitas teknis manusia itu sendiri (Selarti Venetsia 1984:307). Dalam pembuatan arca khususnya yang dipakai untuk keperluan agama harus memiliki kaidah- kaidah tertentu yang harus dipatuhi terutama dalam pembuatan arca dewa, maka dengan adanya kaidah serta ketentuan yang telah digariskan tersebut, sehingga masing-masing dewa dapat dikenali.

Penelitian terhadap masalah seni arca dapat mencapai faktor-faktor yang luas di antaranya menyangkut tipe atau langgam, periodisasi, bahan, keagamaan dan faktor-faktor yang menyangkut seniman pembuat arca tersebut, yang mana faktor yang satu dapat menunjang faktor yang lainnya.

Salah satu contohnya adalah faktor langgam akan memberi petunjuk tentang periodisasi, keinsituan, persebaran, dan sebagainya (Sedyawaty, 1994:16-78). Berdasarkan ciri-cirinya arca-arca kuno dapat dibedakan menjadi 2 yaitu arca dewa dan arca bukan dewa. Arca dewa adalah arca yang mempunyai laksana (tanda atau ciri) tertentu menurut ikonografi Hindu atau Buddha merupakan ciri dewa.

Sedangkan arca bukan dewa adalah arca yang tidak mempunyai laksana tertentu yang merupakan ciri dewa Hindu ataupun Buddha misalnya arca dwarapala, arca pendeta, ataupun arca yang berpakaian dan perhiasannya tidak memepunyai laksana tertentu yang dapat (p.3) dihubungkan dengan salah satu dewa, juga disebut dengan arca tidak berhatribut dewa tetapi didalam prasasti biasanya disebutkan dengan istilah bhatara-bhatari. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli arca jenis ini disebut arca perwujudan. Biasanya bila, diwujudkan seorang laki-laki disebut dengan bhatara dan yang perempuan disebut dengan bhatari. Penyebutan seperti ini sesuai agama Hindu yang dianut oleh tokoh yang diwujudkan ( Sri Endang 1993:10-12).

Peninggalan arkeologi yang terdapat di daerah Nusa Penida seperti lokasi penelitian tulisan ini sangat banyak jumlahnya dan kebanyakan tersimpan diberbagai pura misalnya Pura Batu Medahu, Pura Saab, Pura Meranting, Pura Mastulan, dan pura yang lain. Alasan utama penulis memilih lokasi penelitian di daerah Nusa Penida adalah:

1. Belum banyak adanya penelitian yang mengambil lokasi di daerah Nusa Penida khususnya seni arca yang ada di sana.
2. Peninggalan seni arca klasik yang terdapat di daerah Nusa penida lebih banyak berupa arca bhatara-bhatari dibandingkan dengan arca jenis lainnya baik arca dewa ataupun arca bertipe megalitik sehingga sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Bila dikaji lebih mendasar mengenai pembuatan arca bhatara-bhatari adalah diawali, adanya pemujaan terhadap jasa-jasa nenek moyang yang dianggap dapat memberikan atau melindungi yang ditinggalkan atau keturunannya. Hal ini didasari dengan adanya peninggalan sarana pemujaan berupa Menhir, Punden berudak-undak, dan arca-arca yang bentuknya (p.4) sederhana. Pada mulanya menhir sebagai lambang dari jasa-jasa roh nenek moyang dan beralih menjadi pemujaan terhadap roh nenek moyang tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, di atas bangunan berundak sebagai pengganti menhir ditempatkan arca yang bentuknya sederhana dan dianggap lambang dari roh nenek moyang. Arca tersebut dianggap mempunyai kekuatan magis untuk dimintai perlindungan dan kesejahteraan. Bagi anggota keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan. (Rumbi Mulia, 1977:34).

Setelah adanya pengaruh dari agama Hindu maupun Buddha di Indonesia, maka peninggalan arcanya mendapat pengaruh dari dua agama itu. Di samping adanya arca dewa juga didirikan arca untuk memuliakan roh suci leluhur dari seorang raja maupun kerabat raja yang dilengkapi dengan atribut dewa sesuai dengan keagamaan yang dianutnya. Arca-arca roh leluhur ini mulai muncul pada periode Jawa Timur dengan memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut misalnya menampakan wujud yang kekakukakuan, prontal dan menunjukan sikap tangan menyembah sejenis anjali mudra (Linus, 1982:16). Berbeda dengan arca-arca dari periode jawa tengah yang merupakan karya seni arca yang halus, lemah lembut, sesuai dengan konsepsi arca India.

Pengamatan terhadap jejumlah arca bhatara-bhatari yang ditemukan di Pura Saab Nusa Penida langgamnya sama dengan arca-arca pewujudan bhatara-bhatari yang ditemukan di Bali. Jika mengacu teori Rouse mengenai teknologi mode yang menekankan pengamatan perlu didasari cara pengerjaan artepak tersebut. Tipe arca-arca yang ditemukan di daerah Nusa Penida di Bali lazim ditemukan di daerah Gianyar, Badung dan Klungkung. Seperti arca-arca yang ditemukan di Pura Sibi Agung Gianyar, arca bhatara di Pura Puncak Sari, desa Nyalian Klungkung dengan ciri-ciri khusus berupa penggarapan yang agak kasar, bentuk anatomis kurang sempurna, dengan sikap yang tenang, dengan membawa bilatan pada masing-masing tangan yang dilipat di depan dada, maka tidak dapat dipungkiri bahwa wilayah Nusa Penida dulunya mempunyai hubungan erat dengan wilayah Bali khususnya Bali Selatan (Gria, 1997:36).

Unsur-unsur lokal hasil kreativitas seniman dan pengaruh faktor alam lingkungan tidak tercermin pada seni arca di Nusa Penida pada masa klasik, hal ini terkait dengan penggarapan unsur seni dengan pengaruh subyektivitas seniman dan pengaruh akibat dari hal-hal yang disediakan oleh alam lingkungannya kurang dipakai (Kluckholn, 1944:1-9). Dari sebagian besar kawasan Nusa Penida mempunyai kandungan alam berupa batu kapur namun, arca-arca dari masa klasik sama sekali tidak memanfaatkan batu kapur seperti arca tipe megalitik yang ditemukan di wilayah ini yang sebagian besar bahannya dari batu kapur justru, arca-arca yang berasal dari masa klasik menggunakan bahan berupa batu padas seperti umumnya yang ditemukan di Bali.

Berdasarkan uraian di atas dalam usulan penelitian ini diangkat beberapa contoh arca bhatara-bhatari yang ditemukan di pura Saab Nusa Penida, Klungkung sebagai obyek penelitian. Arca-arca yang tersimpan di Pura Saab Nusa Penida memiliki, ciri-ciri yang hampir sama dengan yang (p.6) ditemukan di Bali seperti arca-arca yang ditemukan di Pura Sibi Agung yang berupa arca bhatara-bhatari (Widia, 1977:37-87). Dari beberapa arca bhatara-bhatari yang ditemukan di Pura Saab Nusa Penida kemudian timbul permasalahan yang perlu dikaji lebih lanjut yaitu:

a. Konsepsi apa yang melatarbelakangi pemujaan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida?
b. Apakah fungsi arca bhatara-bhatari tersebut?
c. Berasal dari periode manakah arca bhatara-bhatari tersebut?

1.2. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai. Terutama benda-benda kuno merupakan sarana untuk mempelajari sejarah manusia dengan berbagai aspek kehidupan.

Pada prinsipnya penelitian merupakan cara mencari solusi atau pemecahan terhadap permasalahan yang ada. Demikian pula halnya dengan penelitian terhadap peninggalan seni arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu.

1. Tujuan Teoritis: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permasalahan yang telah dirumuskan di atas, dan ingin menyumbangkan pemikiran ilmiah khususnya pada ilmu arkeologi terutama dalam bidang seni arca. Sehingga dapat menambah data-data dalam perkembangan teori-teori, (p.7) konsep-konsep, dan kemajuan dalam bidang studi ikonografi khususnya di Bali.

2. Tujuan Praktis: Penelitian ini bertujuan memberikan pengertian kepada masyarakat penyungsungnya Pura Saab, mengenai konsepsi dan fungsi dari peninggalan purbakala yang mereka puja. Bagi para peneliti tulisan ini juga bertujuan menambah atau meluaskan cakrawala terhadap lokasi penelitian yang baru.

1.3. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian yang dilakukan terhadap peninggalan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida antara lain:

1. Memberi gambaran konsepsi yang melatarbelakangi pemujaan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida, sehingga dapat memberi sumbangan dalam perkembangan ilmu arkeologi.

2. Memberi sumbangan bagi masyarakat dalam memperluas cakrawala berpikir masyarakat khususnya di bidang ilmu arkeologi sesuai tri dharma perguruan tinggi yaitu berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat.

3. Mengembangkan ilmu arkeologi dan menambah data lapangan bagi penulis sejarah kususnya masalah seni arca yang terdapat di daerah Nusa Penida.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian

(p.8) Dalam suatu penelitian pokok permasalahan maupun obyek penelitian dibatasi agar dalam pengambilan data yang telah ada maupun dalam pengolahannya lebih terarah. Adapun batas ruang lingkup penelitian ini hanya ditekankan pada beberapa peninggalan arca bhatara-bhatari yang ada di Pura Saab Nusa Penida yang jumlahnya 13. Maka dipakailah hanya 4 buah arca sebagai obyek penelitian. Pemilihan hanya 4 arca sebagai obyek penelitihan karena arca-arca tersebut telah dapat mewakili arca lainnya.

Kretiria yang dipakai untuk pemilihan 4 arca tersebut adalah: (1) karena arca tersebut terletak paling luar dalam pelinggih sehingga memudahkan pengamatan. (2) 4 arca tersebut cukup utuh walau ada bagiannya yang patah dibandingkan dengan arca lainnya yang sudah aus. Dalam penelitian ini juga di gunakan data pembanding seperti arca sejenis di tempat lain di Nusa Penida juga di Bali Daratan. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yang akan dibahas yang meliputi.

a. Konsepsi yang melatarbelakangi pemujaan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida.
b. Fungsi arca bhatara-bhatari tersebut.
c. Periodisasi arca bhatara-bhatari tersebut

1.5. Tinjauan Pustaka

(p.9) Guna mendapatkan keilmiahan dari suatu karya tulis menggunakan teori dan konsep yang terkait dengan permasalahan yang akan dibahas sangat diperlukan. Bedasarkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai peranan buku dalam bentuk karya tulis yang berhubungan dengan penelitian ini sangat diperlukan. Adapun buku ataupun pendapat dari ahli untuk memedahkan [?] permasalahan yang diangkat adalah:

a. Stutterheim (1929) dalam bukunya Oudhedan van Bali menyebutkan adanya arca-arca perwujudan di antara peninggalan-peniggalan yang ditemukan di Bali. Dalam buku tersebut dilakukan klasifikasi dan periodisasi arca-arca yang ada di Bali. Diantara kekunaan di Bali, ada yang dikelompokan yaitu arca yang merupakan penggambaran / perwujudan raja dalam bentuk dewa, tapi dengan atribut-atribut yang tidak lazim dan dengan salah satu arca memegang peranan penting sesudah yang bersangkutan meninggal. Menurut Stutterheim arca perwujudan tersebut dapat di kelompokan mejadi beberapa golongan berdasarkan pertanggalan dan persamaan gaya. Kelompok-kelompok tersebut adalah:

1) Periode Hindu Bali (abad VIII-X) antara lain arca aksyobya dari kutri karena arca tersebut matanya terbuka tidak seperti arca Buddha lainnya.

2) (p.10) Periode Bali Kuno (abad XI-XIII) yaitu dapat dikelompokan mejadi 3 yaitu (1). Kelompok Gunung kawi, (2) kelompok Kutri, (3) kelompok Penulisan.

3) Periode Bali Pertengahan (abad XIII-XIV). Pada periode Bali Madya ini, pembuatan arca perwujudan semakin berkembang pesat disamping juga pembuatan arca-arca dewa dengan persebaran yang merata di seluruh Bali.

b. Endang Sri Hardihati Soekatno (1993), dalam desertasinya yang berjudul "Arca tidak Beratribut Dewa di Bali Sebuah Kajian Ikonografis dan Fungsional", mengatakan yang di maksud dengan arca perwujudan adalah wujud atau penggambaran atau lambang yang digunakan sebagai pembadan roh, waktu upacara kematian berlangsung.

Oleh karena itu menurut beliau arca-arca yang digunakan atau diperuntukan bagi orang yang telah meninggal, sebaiknya dinamakan arca perwujudan tetapi lebih sesuai jika disebut dengan arca leluhur, karena fungsinya lebih cenderung kepada pengormatan atau pemujaan kepada nenek moyang atau leluhur di samping itu pula arca tersebut dibuat karena kebutuhan para keturunan untuk mengormati leluhurnya yang telah meninggal. Kemudian dalam desertasinya beliau mengelompokan arca-arca tersebut berdasarkan ciri-cirinya.

Pengelompokan tersebut adalah arca dari sebelum abad XII dengan ciri memakai mahkota berupa jataka mahkota, rambut di belakang telinga sedikit, kain yang di pakai tidak bersusun. Sedangkan arca sesudah abad XIV (p.11), dengan ciri mahkota berupa kiritamahkota, berhias kelopak bunga padma, rambut di belakang telinga dalam atau melengkung melebar, dan kain bersusun biasanya bersusun tiga.

c. J.L Moens (1919) dalam tulisannya yang berjudul "Hindu-Javaansche portretbeelden: Çaiwapratiṣṭa en Boddhapratiṣṭa” mengatakan pembuatan arca perwujudan bukanlah keinginan para pemuja untuk memuja atau menghormati orang yang telah mati; tetapi karena kaitannya dengan pelepasan jiwa orang yang telah meninggal dari hal-hal dunia fana.

Pembebasan itu menurut Moens tampak dari atribut arca perwujudan misalnya bunga mekar atau kuncup yang ada di tangan arca perwujudan itu melambangkan pelepasan jiwa. Ciri lain yaitu adanya siput yang keluar dari rumah siput sebagai pengganti sangka ini melambangkan adanya kehidupan yang bahagia. Adapun ciri khusus yang ditunjukan oleh arca perwujudan adalah: (1) dengan sikap tangan dilipat ke depan di samping badan, masing-masing memegang kuncup bunga ataupun bunga mekar.(2) kedua tangan didepan perut, dengan bunga ditelapak tangan atau kosong (3) tangan kiri di depan perut, tangan kanan disamping dada. Bila arca perwujudan yang menggambarkan manusia biasa pada umumnya rambut disanggul, apabila seorang raja dilukiskan dengan memakai mahkota seperti kirita mahkota atau juga karanda mahkota. Dari pendapat Moens tersebut berarti ada persamaan ciri antara perwujudan dengan arca bhatara-bhatari yang berfungsi sebagai (p.12) lambang pelepasan jiwa orang yang telah meninggal dari ikatan keduniawian.

d. Dalam buku Sejarah Bali (1980) [?] menyebutkan bahwa kebersamaan ciri atau langgam arca antara Bali dengan Nusa Penida ini erat kaitannya terhadap hubungan Bali dengan wilayah-wilayah Nusa Penida pada masa lalu karena pada periode belakangan masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550) wilayah Nusa Penida mulai menjadi bagian kerajaan Bali. Hal ini berakibat adanya transfermasi budaya Bali ke daerah ini. Hal lain terlihat dari bahan yang dipakai dalam pembuatan arca yaitu batu padas sehingga kalau dikaitkan dengan fungsi arca perwujudan maka jelas arca ini dulunya sengaja didatangkan dari Bali dengan tujuan untuk pemujaan leluhur mereka yang ada di Bali atau juga untuk tujuan tertentu misalnya penguatan kekuasaan seorang raja terhadap wilayah ini.

e. I Ketut Linus (1974:12), dalam tulisannya yang berjudul "Sedikit Tentang Hubungan Konsepstual Antara Candi di Jawa dengan Pura di Bali," mengemukakan dengan adanya konsepsi "Brahman Atma Aikyam," di dalam upanisad yang pada dasarnya menganggap bahwa brahman adalah tunggal dengan atma, maka berarti atma adalah suci sebagai halnya dengan brahman. Namun dalam kehidupan ini, yaitu dengan adanya karma maka atma selalu terpisah dari brahman yang mengakibatkan atma tidak suci lagi. Agar bisa kembali menunggal dengan brahman, maka dilakukan upacara penyucian alma yang disebut (p.13) dengan srada di Bali dikenal dengan nama memukur. Setelah itu atma dianggap siddha dewata dan disamakan dengan dewapitara. Berdasarkan pandangan yang demikian maka dewapitara berarti pitara yang telah suci dan dapat menduduki tempat yang sama dengan dewa. Konsep ini menimbulkan penggabungan penyembahan roh leluhur yang telah suci beserta penyembahan terhadap dewa.

f. I Made Gria (1996) dalam Forum Arkeologi dengan tulisannya yang berjudul "Unsur Budaya Bali Selatan di Nusa Penida Kajian Seni Arca Masa Klasik", menyatakan berdasarkan pengamatan yang dilakukan masuknya unsur budaya Bali Selatan diperkirakan berlangsung setelah abad X, karena pengamatan di lapangan membuktikan, bahwa di wilayah Nusa Penida belum ditemukan peninggalan seni arca masa Hindu Bali abad VIII. Peninggalan seni arca yang ditemukan di sini kemungkinan didatangkan dari Bali Selatan mengingat langgam arcanya sama dengan yang ditemukan di Kabupaten Gianyar, Badung, dan Klungkung. Begitu pula dengan material untuk pembuatan arca ini batu padas yang jarang ditemukan di wilayah ini. Indikasi lainnya tidak tampak adanya kekhasan penggarapan seniman lokal, seperti yang diketahui daerah Bali Utara menerapkan ciri-ciri muatan lokal.

g. Thomas F. O'Dea, (1985) dalam bukunya Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal menyatakan bahwa munculnya simbol-simbol seperti arca pemujaan tidak semata-mata bertujuan untuk kepentingan religius tetapi juga terkandung muatan lain bagi penguasa pada masa itu, dalam (p.14) arti simbol-simbol penghormatan terhadap raja dan tokoh-tokoh kerajaan ataupun keluarga raja dalam bentuk arca-arca untuk menanamkan kekuasaan-kekuasaan di wilayah tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh Malinowski pemujaan ini merupakan suatu ungkapan perasaan sikap dan hubungan sekunder antara anggota dengan para pemimpin.

1.6. Metode Penelitian

Sehubungan dengan upaya untuk memecahkan permasalahan dalam suatu karya tulis ilmiah maka dipakailah suatu metode terlu agar dapat memudahkan kegiatan penelitian, sehingga hasil yang diharapkan dapat memenuhi sasaran. Dalam penelitian ini digunakan dua tahapan metode yaitu: Tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data.

1.6.1. Tahap Pengumpulan Data

Pada tahap pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1. Studi Kepustakaan adalah merupakan pengumpulan data berupa sumber tertulis terutama buku-buku laporan penelitian oleh para peneliti terdahulu di daerah Nusa Penida. Sumber dari studi kepustakaan menjadi sumber sekunder untuk melengkapi data primer dan selanjutnya dilakukan analisis terhadap data.
2. Observasi yaitu cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan untuk mengamati obyek yang diteliti secara detail kemudian dilakukan pendeskripsian obyek (p.15) dalam hal ini pendeskripsian dilakukan terhadap arca bhtara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida baik langgam arca, periodisasi, ataupun material dari arca tersebut.
3. Wawancara dipakai untuk melengkapi data yang telah ada baik melalui studi kepustakaan maupun observasi. Metode wawancara juga digunakan untuk menjawab persoalan mengenai fungsi arca-arca bhatara-bhatari yang ditemukan di pura Saab Nusa Penida.

1.6.2. Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, maka tahap berikutnya adalah analisis data yang meliputi.

1. Analisis Tipologi adalah analisis data yang diperoleh melalui observasi berupa deskripsi tipe atau langgam, material, periodisasi arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida kemudian dilakukan analisa mengenai persamaan baik ciri, langgam, material atau periodisasi. Dari beberapa tempat ataupun pura yang menyimpan peninggalan arkeologi maka digunakan hanya satu tempat yaitu di pura Saab sebagai obyek penelitian sedang tempat lain sebagai data pembanding atau penguat data.

2. Analisis Kontekstual adalah analisis yang menitik beratkan pada hubungan antara suatu benda dengan benda lainnya atau lingkungannya. Dari analisis ini akan diperoleh jawaban mengenai fungsi arca bhatara- bhatari, yang ada di Pura Saab Nusa Penida.

3. (p.16) Analisis Komparatif dalam hal ini karena sedikitnya penelitian arkeologi di daerah Nusa Penida maka penulis memakai analisis komparatif yaitu menggunakan perbandingan dengan arca bhatara-bhatari yang ada di Bali yaitu arca yang terdapat di Pura Sibi Agung, Gianyar. Perbandingan dilakukan mengacu pada persamaan ciri, baik bentuk, hiasan serta bahan arca.

4. Tahap Penyajian pada tahap ini seluruh hasil penelitian dengaan didasarkan pada analisis data yang telah dilakukan disusun untuk dijadikan sebuah karya tulis. Tahap ini diharapkan tercapai suatu bentuk penyajian berupa laporan ilmiah berbentuk skripsi yang ditulis dengan tatacara yang telah ditetapkan dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

BAB II - TINJAUAN UMUM TRADISI PENGARCAAN PADA MASYARAKAT BALI KUNO ABAD VIII-XIV

2.1. Sepintas Tentang Sejarah Raja-Raja yang Memerintah Pada Masyarakat Bali Kuno Abad IX-XIV

Bukti peninggalan prasasti tertua yang dapat digunakan sebagai sumber sejarah Bali fase awal, berupa prasasti-prasasti yang tertulis pada materai-materai tanah liat dan dimasukkan ke dalam Stupika yang ditemukan di Desa Pejeng, Tatapi dan Blahbatuh Kabupaten Gianyar (Budiastra dan Widia, 1980: 16).

Prasasti-prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan menggunakan huruf pranagari. Di antara materai-materai tersebut ada yang memuat mantra yang disebut dengan ye - te mantra. Materai-materai tersebut tidak memuat angka tahun sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti kapan Bali memasuki zaman sejarah. Menurut Goris materai-materai tersebut berasal dari abad VIII (Goris, 1948: 3). Jika benar demikian, maka Bali memasuki zaman sejarah mulai abad VIII.

Selanjutnya ditemukan 7 buah prasasti yang bertipe Yumu Pakatahu. Prasasti-prasasti yang dimaksud yaitu Prasasti Sukawana AI (804 Saka), Bebetin Al (818 Saka), Trunyan AI (833 Saka), Trunyan (833 Saka), Bangli Pura Kehen A ( - Saka), Gobleg Pura Desa I (836 Saka), Angsri A tanpa angka tahun (Goris, 1954:53-62).

Prasasasti lain yang lebih muda yaitu prasasti Belanjong, kecuali memakai bahasa Bali Kuno juga mempergunakan Bahasa Sansekerta ; hurufnya Bali Kuno (p.19) (untuk yang berbahasa Sansekerta dan huruf Prenegari (untuk yang berbahasa Bali Kuno. Prasasti ini berangka tahun 835 Saka (AD 914). Menyebut nama raja yaitu Sri Kesariwarmadewa dan Kratonnya, yaitu Singhadwala (Kempers, 1977: 42). Berdasarkan isi prasasti-prasasti berikutnya yang lebih muda, diperkirakan Warmadewa [ian = itu?] nama keluarga raja atau dinasti yang memerintah Bali sampai abad ke-13 AD.

Pemakaian huruf Prenagari pada Prasasti Blanjong dan materai lanah liat Pejeng, Tampaksiring ataupun Blahbatuh menurut De Casparis huruf Prenegari ini mempunyai persamaan dengan India Selatan daripada dengan huruf prenegari yang digunakan pada prasasti-prasasti Jawa Tengah (Kempers, 1977:43).

Persamaan huruf Prenegari pada prasasti Bali dengan huruf Prenegari India Selatan dan pemakaian bahasa Bali Kuno pada prasasti-prasasti Bali tertua membuat kita menduga adanya kontak langsung dengan India Selatan pada abad ke 8-9 AD (Kempers, 1977:43).

Berdasarkan data prasasti yang dipahatkan maka barulah mulai tahun 835 Saka diketahui raja-raja yang memerintah di Bali. Urutan raja-raja tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sri Kesari Warmadewa

Raja ini diketahui dari tiga prasasti yaitu Prasasti Blanjong Sanur, Prasasti Panempahan dan Prasasti Malat Gede (Kartoatmodjo, 1967:24). Bagindalah raja Bali yang pertama memakai gelar Warmadewa, sehingga untuk sementara dapat dikatakan baginda merupakan cikal bakal dinasti Warmadewa di Bali. Prasasti Blanjong Sanur yang dikeluarkan atas nama raja (p.19) ini menggunakan dua macam bahasa, serta dua macam huruf. Bagian yang menggunakan huruf Prenegari menggunakan bahasa Bali Kuno dan bagian yang berhuruf Kawi menggunakan bahasa Sansekerta. Prasasti menggunakan angka tahun Sake Bde Sara Wahnimurti atau 835 Saka (Shastri, 1963:31-32).

Yang menarik perhatian adalah ketiga prasasti tersebut pada hakekatnya menggambarkan kemenangan raja Sri Keswari Warmadewa terhadap musuh-musuhnya hanya dua diantara musuh-musuh itu dapat diketahui yakni Gurun dan Suwal. Perlu ditambahkan bahwa lokasi Gurun dan Suwal sampai sekarang ini belum diketahui secara pasti. Di antara para ahli ada yang berpendapat bahwa Gurun sama dengan Lombok. Dewasa ini pendapat lain mengatakan bahwa Gurun mungkin identik dengan Nusa Penida (Semadi Astra, 1997:57).

2. Sang Ratu Sri Ugrasena

Masa pemerintahan raja ini dari tahun 827-846 Saka yang diketahui dari prasasti yang berbahasa Bali Kuno yaitu: Prasasti Srokodan (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI (855 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Barunya AI (855 Saka), Dausa Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa Bukit Indrakila BI (846 Saka) dan Prasasti Gobleg Pura Batur A (Goris, 1954: 63-72).

Di antara prasasti Raja Ugrasena yang terpenting yakni prasasti Babahan I (839 Saka) menyebut gelar Pitamaja yang merupakan gelar kuno orang-orang Jawa terutama disebutkan dalam prasasti dari Dieng (Sumadio, 1984:295).

3. Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa dan Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi

(p.20) Raja suami istri ini memeritah pada tahun 877-889 Saka yang diketahi dari prasasti Manikliu AI (877 Saka), Manikliu BI, C yang berasal dari 877 Saka dan prasasti Kintamani A tahun 889 Saka (Goris, 1954: 74-76). Raja ini menggunakan gelar Warmadewa sehingga digolongkan keturunan Warmadewa.

4. Candrabhayasingha Warmadewa

Raja ini memerintah pada tahun 882 Saka berdasarkan sebuah prasasti yaitu prasasti Manukaya (Goris, 1954:75). Memperlihatkan angka tahun prasasti ini dapat dikatakan bahwa pemerintahannya tejadi ditengah-tengah pemerintahan raja Tabanendra Warmadewa. Berdasarkan hal ini diperkirakan pada masa ini di Bali memerintah dua orang raja yaitu Tabanendra dan Jayasingha. Kemungkinan lain raja Jayasingha merebut kekuasaan dari tangan Tabanendra beberapa waktu akan tetapi kemudian dapat direbut kembali oleh Tabanendra (Sumadio, 1984:296).

5. Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa

Raja ini memerintah tahun 897 Saka yang diketahui dari sebuah prasastinya yakni prasasti Sembiran All (goris, 1954: 77). Prasasti ini berbahasa Bali Kuno dan menyebut raja yang terdahulu dicandikan di Bwah Rangga, namun Bwah Rangga belum diketahui.

6. Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi

(p.21) Sama halnya dengan raja Janasadhu Warmadewa prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Wijaya pun diketahui baru sebuah, yakni prasasti Gobleg Pura Desa II (905 Saka). Damais cenderung mengatakan bahwa ratu ini berasal dari Jawa Timur berasal dari jabatan-jabatan yang dipakai dalam pemerintahan, menurutnya ratu ini merupakan putri Sindok yang bergelar Sri Isanatunggawijaya (Damais, 1955:227).

7. Sri Gunapriya Dharmapatni dan Sri Dharmmodayana Warmamewa

Raja suami istri ini mulai pada tahun 911 Saka. Gunapriya Dharmapatni ikut memerintah sampai dengan tahun 928 Saka. Hal ini diketahui karena dalam prasasti Batur Pura Abang A (933 Saka) namanya tidak disebutkan lagi. Sedangkan Udayana memerintah sampai tahun 933 Saka berdasarkan prasasti terakhir yang berkenaan dengan baginda.

Menarik perhatian pada masa pemerintahan raja suami istri ini, beberapa buah prasastinya mulai menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti-prasasti yang sudah berbahasa Jawa Kuno yaitu: prasasti Belahan A (916 Saka), Besakih, Pura Batu Madeg (933 Saka), Ujung (932 Saka). Hal ini disebabkan karena Sri Gunapriya Dharmapatni yang di Jawa lebih terkenal dengan nama Mahendradatta merupakan putri dari Jawa Timur yakni putri Makutawangsawardhana cicit raja Sindok (Goris, 1948:6).

8. Sri Sang Ajnadewi

Raja ini memerintah mulai diketahui dari prasasti Sembiran AIII berangka tahun 938 Saka (Goris, 1954: 95). Prasasti menyebut Desa Julah (p.22) yang dirusak oleh musuh. Memperhatikan isi prasasti tersebut rupanya di Bali tejadi huru-hara. Raja ini tidak menggunakan gelar Warmadewa sehingga tidak dapat diketahui bahwa baginda keturunan dinasti Warmadewa atau bukan.

9. Marakata

Raja ini memerintah dari tahun 944-947 Saka dengan gelar Paduka Haji Sri Dharmawangsa Marakata Pangkaja Sthanattunggadewa. Selama pemerintahannya beliau telah mengeluarkan sejumlah prasasti antara lain prasasti Batuan (944 Saka), Sawan AI/Bila I (945 Saka). Tengkulak A bertahun Saka 945, Bwahan B bertahun 947. Beberapa prasasti singkat juga ada yang dikeluarkan pada masa pemerintahannya yaitu prasasti Kesian Pura Sibi I (945 Saka), Pura Sibi II (948 Saka). Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Pura Sibi IV dan Pura Kehen B (Saptono, 2000: 18).

10. Anak Wungsu

Raja ini memerintah tahun 971-999 Saka (1049-1077 M) dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja ini sering beliau disebut sebagai paduka Haji Anak Wungsunira Kalih Bhatari Lumah I Burwan, Bhatara Lumah I Banu Wka yang artinya adalah paduka raja anak wungsu baginda berdua (suami istri), yaitu ratu yang dicandikan di Burwan (Gunapriya Dharmapatni) dan raja yang dicandikan di Banu Wka (Udayana).

Ada sekitar 31 prasasti yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu atau yang dapat diidentifikasi sebagai prasasti-prasasti yang terbit dalam masa pemerintahannya. Raja Anak Wungsu memerintah cukup lama yaitu sekitar (p.23) 28 tahun ini menandakan bahwa beliau memerintah sangat bijaksana dan dengan kondisi kerajaan dalam keadaan aman dan stabil (Amerta, 2001:64).

11. Sri Maharaja Sri Walaprabhu

Setelah pemerintahan raja Anak Wungsu berakhir kemudian muncul seorang raja yang bergelar maharaja yaitu Sri Maharaja Sri Walaprabhu yang memerintah antara tahun 1001-1010 Saka. Dalam sejarah Bali Kuno raja ini adalah yang pertama kali menggunakan gelar maharaja setelah ratu Wijaya Mahadewi. Goris menyatakan bahwa Walaprabhu merupakan nama lain dari Anak Wungsu (1948: 18). Prasasti-prasasti yang dikeluarkan atas nama raja ini adalah prasasti Babahan II, Ababi A dan Klindis (Goris, 1954:26).

12. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmi Dhara Wijayottunggadewi

Ada tiga buah prasasti yang terbit pada masa pemerintahan ratu Sakalendukirana yang telah ditemukan yaitu prasasti Pengotan BII (1010 Saka), Belantih (1020 Saka), Sawan C/Pengotan BII bertahun Saka 1023 (Goris, 1954: 27-28). Raja Sakalendukirana memerintah selama 13 tahun, Goris mencoba menghubungkan ratu ini dengan salah satu kerajaan Sumatra yaitu Sriwijaya. Sedangkan Damais menghubungkan ratu ini dengan raja Sindok yang berkuasa di Jawa Timur berdasarkan kata Isana yang tercantum dalam gelar raja Sakalendukirana (Saptono, 2000:19).

13. Sri Maharaja Sri Suradhipa (1037-1041)

Setelah ratu Sakalendukirana maka naik tahtalah raja Sri Maharaja Sri Suradhipa. Prasasti yang dikeluarkan baginda antara lain prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi dan Tengkulak D.

14. Sri Maharaja Jayasakti (1055-1072 Saka)

Raja Suradhipa digantikan oleh Sri Maharaja Jayasakti. Sejak jaman Jayasakti ini muncullah berturut-turut nama beberapa raja yang menggunakan unsur jaya, yaitu

15. Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya (1155 Saka),

16. Paduka Sri Maharaja Jayapangus pada tahun Saka 1099-1103

17. Paduka Sri Haji Ekajaya Lencana dengan Sri Maharaja Arjaya Dengjaya (1122 Saka).

Raja-raja tersebut mempunyai kesejajaran waktu dengan raja-raja yang berkuasa di Jawa Timur terutama pada masa Kediri (Semadi Astra, 1997:77-78).

18. Bhatara Guru I ( Sri Adikuntiketana)
yang oleh Goris disebut sebagai Bhatara Guru I. Prasasti ini disebut prasasti Bangli, Pura Kehen C dengan menggunakan huruf serta bahasa Jawa Kuno. Setelah Raja ini berkuasa maka terjadi kekosongan kekuasaan selama 56 tahun, kermudian muncul raja baru yang bernama Bhatara Parameswara Hyang Ning Hyang Adidewalancana.

19. Bhatara Parameswara Hyang Ning Hyang Adidewa Lancana (1182 Saka).
Kekosongan kekuasaan yang cukup lama ini belum mendapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi. Beliau mengeluarkan sebuah prasasti yaitu (p.25) prasasti Bulihan B (1182 Saka) yang dianugrahkan kepada wakil-wakil Desa Bulihan (Karaman I Bulihan) (Goris, 1954:41).

20. Bhatara Sri Mahaguru (1248-1250).
Raja ini tercantum pada prasasti Srokodan berangka tahun Saka 1246.

21. Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat,
raja ini tercantum dalam prasasti Selumbung yang berangka tahun 1250 saka. Dalam menjalankan pemerintahannya beliau didampingi oleh ibunya yaitu Paduka Tara Sri Mahaguru yang merupakan janda dari raja Mahaguru atau Bhatara Guru II (Semadi Astra, 1997:81). Dengan demikian, pengganti Bhatara Guru II ini tidak lain adalah putranya sendiri raja Walajaya Krtaningrat.

22. Sri Astasura Ratna Bhumi Banten (1259 Saka).
Prasasti yang diterbitkannya adalah prasasti Langgahan yang bertahun Saka 1259 (Goris, 1954:44). Keterangan penting lainnya mengenai raja ini terdapat dalam sebuah arca yang tersimpan di Pura Tegeh Koripan di puncak Gunung Penulisan. Pada belakang arca terpahat prasasti yang huruf-hurufnya sangat rusak, sehingga sulit untuk membaca secara jelas. Hanya saja masih ada sedikit bagian yang dapat dibaca, yaitu: “... stasura ratna bumi banta..." atau “... atasura ratna bumi banten...” (Goris, 1954:44). Pada bagian atasnya terdapat candra sengkala yang bernilai (1) 257 atau (1) 254 (Sumadio dkk, 1990:313).

2.2. Latar Belakang Keagamaan Masyarakat Bali Kuna Abad VIII - XIV

Data-data mengetahui keagamaan yang dianut oleh masyarakat pada abad VIII-XIV dapat kita ketahui dari berbagai peninggalan yang ditemukan di (p.26) berbagai tempat di Bali. Data-data tersebut adalah berupa prasasti yaitu prasasti tertua (sebelum pemerintah raja Udayana) tidak menjelaskan corak keagamaan pada waktu itu, tetapi dari nama-nama pendeta yang memakai nama unsur Siwa, mungkin dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut pada masa itu adalah Siwaisme. Akan tetapi di samping Siwaisme rupanya agama Buddha juga sudah berkembang di Bali sejak abad ke 8 terbukti dari penemuan Stupika tanah liat dengan materai berisi mantra-mantra Buddha di dalamnya (Hardianti, 1993:125-126).

Data lain mengenai perkembangan keagamaan masyarakat Bali Kuno yaitu data terbaru yaitu ditemukan Stupa dan Stupika di situs Kalibukbuk Singaraja (Suantika, 1996:89-105). Data ini menandakan bahwa lokasi Kalibukbuk merupakan salah satu pintu masuk agama Buddha di Bali. Adanya dua agama besar tersebut semakin jelas pada masa pemerintahan raja Udayana-Gunapriya Dharmapatni (AD 989-1001) karena prasasti-prasastinya yang menyebut Mpungku Sewasagota, yaitu mereka yang bertugas memimpin upacara-upacara agama yang berkenaan dengan agama Siwa (Sewa) dan Buddha (Sagota). Meskipun dua agama tersebut sering ditemukan bekas-bekasnya tetapi dalam perbandingan jumlahnya agama Siwalah yang lebih banyak dibandingkan dengan agama Buddha.

Pada jaman Bali Kuno abad XI-XIV ini terdapat dua kelompok pendeta seperti yang disebutkan di atas. Peranan golongan pendeta tersebut tidak hanya penting waktu dilangsungkan upacara agama tetapi juga dianggap mempunyai kekuatan magis yang dapat membantu menguatkan raja (Kartoatmodjo, 1966:11). (p.27) Keduanya mempunyai hubungan saling hormat menghormati dalam artian raja sebagai pengendali pemerintahan akan berusaha menerapkan prinsip-pnnsip keagamaan sehingga kedudukan golongan ini menjadi istimewa. Hal tersebut mudah dipahami mengingat kemampuan para pemuka agama tersebut dalam bidang keagamaan dan juga sastra.

Di samping memuja dewa-dewa pantheon Hindu dan Buddha masyarakat Bali juga memuja tokoh-tokoh yang mempunyai jasa atau orang-orang dihormati oleh masyarakat pada waktu itu. Pemujaan terhadap tokoh-tokoh ini muncul sebelum datangnya pengaruh dua agama di atas. Bukti-bukti pemujaan tersebut antara lain berupa menhir, punden berundak ataupun arca-arca yang bentuknya sederhana (Soejono, et.al., 1993:204-210).

Setelah datangnya pengaruh dua agama Hindu dan Buddha muncullah pemujaan yang berupa arca-arca yang oleh Endang Sri Soekatno disebut arca tidak beratribut dewa atau lebih cocok kalau disebut dengan arca leluhur (Endang Sri Soekatno, 1993:188).

Berdasarkan prasasti diketahui bahwa pada masyarakat Bali Kuno pengaruh konsepsi di atas masih dipakai sehingga muncul pemujaan kepada tokoh-tokoh dengan sebutan bhatara seperti misalnya Bhatara Da Tanta, Bhatari Mandul, Bhatara Bukit Humintang dan sebagainya. Rupanya mereka ini merupakan semacam dewa lokal yang mungkin berasal dari tokoh manusia atau seorang raja yang telah diperdewa.

2.3.Tradisi Pengarcaan Pada Masyarakat Bali Kuno Abad VIII-XIV

Sebelum membahas tradisi pengarcaan pada masyarakat Bali Kuna Abad VIII-XIV perlu kiranya dibahas sedikit mengenai tradisi pembuatan arca pada (p.28) zaman prasejarah. Ada tradisi pada zaman prasejarah mengenai pemujaan roh leluhur dan kekuatan-kekuatan alam. Tradisi ini di dasari oleh suatu kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap saat orong tersebut meninggal. Arwah-arwah dari orang yang telah meningggal bisa mempengarui jalan kehidupan orang-orang yang masih hidup, terutama bila orang telah meninggal sangat berjasa pada masyarakat (Redig,2000:45).

Dalam perkembangan media pemujaan dan sebagai media penghubung terhadap orang yang telah meninggal tersebut dibuatlah suatu media pemujaan yang berupa teras berundak yang di atasnya kadang-kadang disertai sebuah menhir yang melambangkan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui guna mencapai tingkatan yang lebih tinggi tersebut. (Soekmono, 1973:73).

Di Bali banyak didapatkan arca menhir atau arca megalitik seperti di Pura Besakih Keramas (Purusa, 1980), di Pura Penataran Jero Agung Gelgel Klungkung dan tempat lainnya.

Kemudian setelah semakin kuatnya pengaruh Hindu di Indonesia khususnya di Jawa banyak meninggalkan pengaruh seni arca Hindu, yang kemudian berkembang di Jawa Tengah. Arca-arca di Jawa Tengah banyak menghasilkan seni arca klasik yang berkerakter kelemahlembutan sesuai dengan konsepsi dengan kedewataan India. Di antaranya arca dewa Wisnu di candi Banon, Arca Budha di Borobudur, maupun arca-arca di candi Prambanan yaitu berupa arca Siwa (Soekmono, 1977:97).

Di Bali karakter arca seperti yang disebutkan di atas terutama ditemukan pada stupika-stupika tanah liat yang banyak ditemukan di daerah Pejeng, Tatiapi (p.29) dan Blahbatuh sedangkan arca -arca Hindustis dapat disebutkan contohnya arca Siwa yang terdapat di Pura Putra Bhatara desa Bedulu (Redig, 2000:47).

Di samping memuja dewa-dewa dari panteon Hindu dan Budha pada periode Bali Kuna muncul pemujaan kepada tokoh-tokoh raja yang sudah diperdewa seperti arca-arca, di Candi Belahan yaitu arca perwujudan Erlangga yang diwujudkan dalam bentuk arca Wisnu di atas Garuda. Sedangkan di Bali data-data mengenai tradisi pengarcaan terhadap tokoh-tokoh penting atau seorang raja dapat diungkap melalui dua sumber yaitu prasasti dan arca. Namun kedua jenis data ini rupanya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan satu dengan lainnya. Prasasti tertua yang menyebut tokoh yang memakai gelar bhatara yang kemungkinan tokoh raja yang diperdewa yaitu prasasti Trunyan AI. Dalam prasasti ini menyebut Bhatara Da Tonta.

Berdasarkan prasasti Trunyan AI tahun Saka 813 dan prasasti Trunyan B tahun Saka 833 dapat diketahui bahwa arca "Bhatara Da Tonta" sudah ada tahun 813 Saka / AD 891 (Linus, 2002:15). Di dalam prasasti juga disebutkan tentang adanya penyebutan tokoh bhatara dengan sebutan lumah I yang berarti "meninggal di atau bersemayam di" menunjukkan tokoh bhatara tersebut memang tokoh manusia yang sudah meninggal atau diperdewa.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai nama-nama tokoh bhatara yang disebutkan dalam prasasti, berikut ini dibuat daftar nama bhatara beserta prasasti sumbemya, disertakan pula nama prasasti menurut kode yang disusun oleh Goris yang dikutip oleh Endang Sri Soekatno.

Tabel 1: Daftar Nama Tokoh Bhatara

  Kode prasasti Nama prasasti Tahun (AD) Nama Bhatara
1 003 Trunyan AI 911 Bhatara da tonta, Bhatara di trunyan
2 004 Trunyan B 911 Sda
3 304 Batur A 1001 Bhatara kulit byu
4 352 Batuan 1022 Bhatara I baturan
5 357 Ujung Hyang 1040 Bhatara banuka
6 404a Dawan (Lutungan) 1053 Bhatara ring antakunjarapada
7 407 Dausa Aji 1061 Bhatara Mandul, Bhatara Bukit Humintang
8 436 Pandak Bandung 1071 Bhatara lumah I burwan, Bhatara lumah I banu wka
9 446 Bwah 1077 Bhatara ing air kanakan taralaya
10 507 Gobleg 1115 Bhatara bukit tunggal
11 605 Batur 1181 Bhatara I tuluk byu
12 631 Cempaga A 1181 Bhatara ganapati ring tumpuhyang, bhatara ring dharma hanar
13 1006 Cempaga B - Sda
14 632 Sukawati B - Bhatara ri dharma hanar
15 634 Peguyungan - Bhatara I burwan
16 630 Sarin Buana A - Bhatara teken Iwir aprbhawa
17 701 Sawah Gunung 1194 Bhatari I jro I (L) eng
18 803 - 1324 Bhatara ring candrimanik
19 811 Langgahan 1337 Bhatara patapan langgahan
20 1012 Penebel (sumantaya) - Bhatara sang I dalem

Tabel 2: Daftar Sebutan Anumerta

  Nama Tahun (AD) Nama raja Sebutan anumerta
1 Kintamani A (air mih) 967 Sri Ugrasena Sang ratu sang siddha dewata sang lumah di airmadatu
2 Sembiran All 975 - Sang lumah di bwah rangga
3 Buwahan A 994 - Sang lumah ring nusadwa
4 Batuan 1022 - Haji sang lumah ing ngertaga
5 Ujung Hyang 1040 Dharma udayana Bhatara banu wka
6 Pandak Bandung 1071 Dharma udayana, Mahendradatta gunapriya Bhatara lumah i banu burwan, Bhatari lumah i burwan
7 Peguyangan - Mahendradatta gunapriya Bhatari I burwah
8 Sawan All (bila II) 1073 Marakatapangkaja Sang lumah ing camara
9 Gunung kawi - Anak wungsu Haji lumah ing jalu

Berdasarkan data-data yang disebutkan di atas menunjukkan adanya semacam pengarcaan seorang tokoh baik raja ataupun orang dihormati yang telah berjasa pada masyarakat pada waktu tersebut. Contohnya adalah arca yang terdapat di Pura Puncak Penulisan yaitu arca sepasang 933 Saka yang diduga sebagai arca perwujudan Raja Udayana dan Mahendradatta (Stutterheim, 1929:82).

Namun ada juga hasil pengarcaan yang berupa arca dewa/dewi yang (p.32) mempunyai nama sebutan lain yan diduga merupakan arca perwujudan manusia (raja yang sudah diperdewa). Contohnya adalah arca Siwa Mahaguru Di Pura Sibi Agung dengan sebutan Kakisangsara dengan tangan di depan perut, arca Hariti di Penataran Panglan dengan sebutan bhatari I banu palasa juga arca Parwati dengan sebutan Sang Ring Guha dengan sikap tangan kedua tangan di depan perut. Dari data di atas maka arca ini merupakan arca dewa dengan tujuan untuk memuliakan seorang raja atau dewi atau bisa disebut atau dimasukan arca perwujudan berdasarkan sikap tangan dan inskripsi yang terdapat pada arca (Ardiati, 1993:140-157).

2.4.Persebaran Arca Bhatara Bhatari Abad VIII-XIV

Persebaran arca bhatara bhatari di Bali umumnya lebih dominan ditemukan di daerah belahan Bali timur. Hal ini diketahui dari sejumlah laporan yang diterbitkan para peneliti asing memfokuskan wilayah penelitiannya di daerah Gianyar. Pada awalnya memang pemah berkembang pemikiran seolah-olah pengaruh Hindu keberadaan awalnya di Bali timur (Gianyar). Akan tetapi dari hasil penelitian yakni dengan penemuan pecahan gerabah Arikamedu India Selatan yang diperkirakan berasal dari awal abad Masehi (Ardika, 1989:24) diduga kedatangan pengaruh India di Bali sejak itu dan Bali utara merupakan pintu gerbang masuknya pengaruh Hindu Buddha, karena di samping temuan prasasti yang sering memuat nama-nama wilayah yang ada di Bali utara, lokasi pelabuhan kuno (Manasa) serta sejumlah temuan arkeologi termasuk situs Buddha (Kalibukbuk) ditemukan di wilayah ini salah satu diantaranya temuan arca perwujudan baik bhatara atau perwujudan bhatari yang cukup banyak ditemukan.

(p.33) Bila memperhatikan persebaran arca pewujudan (bhatara bhatari) yang ditemukan dari Bali utara sampai Bali timur dalam bentangan waktu yang lama, tampak masih memperhatikan kesamaan unsur yang menjadi benang merah dari keberadaan seni arca pada masa itu. Ciri yang tampak jelas terkesan dari pengarcaannya yang sederhana, bentuk terkesan kaku dan kedua tangan depan membawa bulatan atau sikap menyembah.

Terkait dengan fungsinya sebagai arca persembahan leluhur, timbul permasalahan apakah tradisi itu berlaku umum di masyarakat atau arca tersebut merupakan perwujudan tokoh tertentu. Mengenai pengerjaan yang kasar, sementara ini ada pendapat menyebutkan kesederhanaan itu sengaja dibuat karena merupakan arca persembahan leluhur yang telah tiada sehingga simbul yag dibuatkan menyerupai badan mayat (lepas dari ikatan keduniawian).

Pendapat ini perlu dikaji apa tidak mungkin ada aspek lain lagi mengingat karya seni pada masa itu sudah memasyarakat, sehingga tidak tertutup kemungkinan dikerjakan banyak seniman dengan sistem pengerjaan yang manual sudah tentu tidak akan menghasilkan karya yang simetris.

Memperhatikan persebaran arca di beberapa daerah di Bali, tampak dominan adanya di wilayah Bali utara bagian timur, kabupaten Badung bagian timur, Bangli, Gianyar dan Klungkung. Kesemua wilayah itu bila ditarik garis lurus dari utara ke selatan tampak merupakan jalur persebaran arca-arca di lintasan wilayah ini temuannya cukup padat. Di Bali utara intensitas temuannya banyak di sejumlah Pura Desa Tejakula, Julah dan Bondalem (Ambarawati, 1993:12).

Umumnya tipe arca yang ditemukan merupakan arca perwujudan, arca dewa yang lebih dominan arca Ganesa. Bentuk arca sangat sederhana, sebagian besar (p.34) berukuran cukup kecil. Bentuk dan ukurannya hampir mirip di antaranya ditemukan di Pura Puseh Jempanang, Belok Sidan dan wilayah Petang (Astawa, 1997:15) dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Dari pengamatan di lapangan secara garis besar dapat diketahui ada tiga tipe arca yang sementara dapat diketahui yakni arca-arca digolongkan pada masa Bali Madya yang ditemukan di beberapa daerah Bali, antara Lain Singaraja, Badung, Gianyar, Klungkung, Tabanan, Bangli. Ukurannya hampir sama, kendati penggarapannya berbeda namun benang merah keberadaannya masih tampak kental dari kesederhanaan penggarapan bentuk arca masih kaku, kurang anatomis, hiasan mahkota merupakan susunan daun lotus disusun secara bertingkat di kiri dan kanan mahkota terdapat hiasan berbentuk sayap tangan membawa bulatan.

Tipe yang kedua arca-arca yang ditemukan di Batukaang, Catur Kintamani yang mempunyai ukuran besar. Tipe ketiga arca-arca versi Penulisan yang diperkirakan periode Bali Kuna.

Dalam perkembangan periode belakangan yang digolongkan pada pembabakan Bali Madya. Sejumlah arca tipe ini secara prosentase ditemukan cukup banyak dan hampir merata di beberapa daerah in merupakan indikasi bahwa terjadi pergeseran dan pembaharuan tatanan budaya sebelumnya seni hanya diperuntukkan golongan keraton (kerajaan), seolah-olah hanya kerajaan boleh menikmati karya seni yang tinggi.

Namun dalam perkembangan belakangan seni merakyat dan pelaku senipun tidak hanya berlaku khusus seperti sebelumnya namun melibatkan masyarakat sehingga karya yang dihasilkan kurang bagus. Kenyataan ini tidak terlepas dari perkembangan budaya dari kraton ke sekitarnya (p.35) yang sebelumnya hanya raja yang dibuatkan patung pemujaan.

Namun belakangan tradisi ini juga berlaku pada masyarakat umumnya. Pada periode belakangan terjadi lagi pergeseran budaya pengarcaan berdasarkan tradisi Bali bahwa pada masa berkuasanya Dalem Waturenggong di Bali (AD 1460-1550) pembuatan prathistha permanen dalam bentuk arca dihapuskan oleh Dangyang Dwijendra dan diganti dengan puspasarira (Proyek Bantuan Sosial, 1982:150).

Dari sedikit uraian di alas dapat disimpulkan persebaran arca perwujudan baik bhatara atau bhatari di sejumlah daerah tampak merata, hanya jumlah temuan masing-masing wilayah berbeda. Ciri khas tertentu yang tampak menjadi ciri khusus dari perkembangan arca perwujudan tokoh yaitu bentuk kurang anatomis, dibuat kaku, kedua tangan membawa bulatan (kuncup teratai).

Berdasarkan data di lapangan dapat dikatakan bahwa persebaran arca perwujudan dari abad VIII sampai abad XIV menunjukkan intensitas yang terus meningkat terbukti dari jumlah temuan yang terus meningkat dan mencapai puncaknya mulai abad X-XIV yaitu periode Bali Kuno dan Bali Madya dan berakhir sejak pemerintahan Dalem Waturenggong (Gria, 2000:71-76).

BAB III: TINJAUAN LOKASI - PURA SAAB NUSA PENIDA

3.1. Kondisi Geografis Pura Saab Nusa Penida

Kecamatan Nusa Penida merupakan salah satu dari 4 (empat) kecamatan dalam wilayah kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung, yang berada di seberang lautan dan terbagi dalam tiga pulau kecil yaitu: Pulau Lembongan, Pulau Ceningan dan Pulau Nusa Penida. Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut:
1. Sebelah Utara: Selat Badung
2. Sebelah Timur: Selat Lombok
3. Sebelah Selatan: Samudra Indonesia
4. Sebelah Barat: Selat Badung

Keadaan topografi Nusa Penida adalah bukit berbatu dengan ketinggian tempat berkisar antara 0.75 meter sampai dengan 480 meter dari permukaan laut. (Suarta,1992:20-21). Kenyataan di lapangan memang daerah Nusa Penida merupakan daerah yang kritis. Hal ini dapat dibuktikan dengan keadaan tanahnya yang bercampur dengan batu-baluan yang dapat digolongkan sebagai tanah yang berformasikan kapur, serta sebagian besar keadaan bukit-bukitnya masih agak gundul, sehingga merupakan tanah kritis fisik. Di samping itu curah hujan di wilayah Nusa Penida masih relatif rendah, sehingga daerah ini sering mengalami kekeringan. Dengan adanya kenyataan ini pemerintah telah turun tangan dengan jalan memberikan (p.36) bantuan berupa penanaman pohon penghijauan melalui proyek Dinas Perkebunan dan Pertanian Nusa Penida seperti pohon gamal, jambu mente, dan pohon yang lainnya, yang disesuaikan dengan iklim di Nusa Penida.

Secara Geografis Nusa Penida terletak pada 8°40'54" Lintang selatan. Untuk mencapai Nusa Penida dapat ditempuh dari Denpasar menuju Klungkung, Kusamba. Dari pantai Kusamba dengan menggunakan perahu bermotor menyeberangi Selat Nusa kurang lebih 1 jam sampai di Toya Pakeh, atau dari pantai Sanur dengan menggunakan perahu bermotor kira-kira dua jam sampai di Nusa Penida. Dari Toya Pakeh sampai di Sampalan ditempuh dengan angkutan umum, (Laporan Penelitian Arkeologi, 1996:1). Secara administrasi Kecamatan Nusa Penida terbagi ke dalam 8 desa yang masing-masing membawahi beberapa dusun/banjar.

Mengenai lokasi Pura Saab adalah terletak di daerah desa Batu Madeg Kecamatan Nusa Penida. Lokasi Pura Saab terletak di desa Batu Madeg dengan kondisi alam perbukitan yang kering dan berbatu dan Pura Saab sendiri terletak di puncak perbukitan tersebut yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Namun sekitar pura banyak ditumbuhi kayu besar seperti hutan dengan binatang liar banyak berkeliaran seperti kera serta binatang lain. Berbeda dengan sekitar lokasi pura dekat pemukiman yang kering dan tandus.

3.2. Struktur dan Fungsi Pura Saab

(p.38) Mengenahi struktur Pura Saab dapat diuraikan bahwa Pura Saab mempunyai persamaan dengan pura yang ada di Bali yaitu terdiri tiga halaman yaitu jaba sisi, jaba tengah, dan jeroan. Berdasarkan komposisi bangunan dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Pada jaba sisi terdapat bale kulkul dan wantilan.(2) Pada jaba tengah terdapat bangunan berupa bale bertiang dua belas, bale tiang enam, bale tiang delapan dan dua bangunan apit lawang. (3) Pada jeroan pura terdapat bangunan yang terdiri dari bangunan bale bertiang enam tempat fragmen arca bhatara-bhatari dan arca naga tersimpan, di sebelah utaranya terdapat bangunan pengaruman tempat arca bhatara-bhtari, arca pendeta dan arca ganesa tersimpan. Bangunan lain yaitu Padmasana, Meru tumpang sembilan, Meru tumpang tujuh (sebagai bangunan inti), Gedong Penyimpenan Pretima,Sumur dan Bale bertiang enam tempat arca Naga dan fragmen arca bhatara-bhatari tersimpan dan dedangkan arah orientasi pura sendiri mengadap ke barat (lihat sketsa denah Pura Saab).

Sebelum membahas mengenai fungsi Pura Saab akan dibicarakan sedikit mengenai pengelompokan pura-pura di Bali. Pura yang ada di Bali sangat banyak jumlahnya secara umum Pura-pura tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan (1). Sasaran yang dipuja yang meliputi: Pura sebagai tempat memuja leluhur yang diperdewa atau dewa Pitara dan Pura sebagai tempat memuja para dewa dengan berbagai manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa. (2). Berdasarkan penyungsungnya. Berdasarkan (p.39) penyungsung atau masyarakat yang memuja pura tersebut maka pura dapat diklasifikasikan menjadi empat meliputi:

(a). Pura yang penyungsungnya berasal dari satu keluarga atau mempunyai hubungan darah (genealogis) yang biasa disebut sanggah atau merajan.

(b). Pura yang penyungsungnya berasal dari satu wilayah yang sama atau administratif tentorial (desa Adat). Pura jenis ini disebut dengan Kahyangan Tiga yang terdiri atas Pura Puseh, Pura Bale Agung dan Pura Dalem (Linus, 1981:7-9).

(c). Pura yang penyungsungnya mempunyai kepentingan yang sama atau fungsional. Pura jenis ini misalnya Pura Subak dengan penyungsungnya para petani, Pura Melanting yang dipuja oleh masyarakat pedagang, yang para penyungsungnya tampa membedakan keturunan ataupun asal mereka. Pura Subak biasa disebut Pura Ulun Siwi dan banyak juga yang menyebut Pura Masceti, terutama masyarakat dari kabupaten Gianyar.

(d). Pura yang penyungsungnya mempunyai ikatan keagamaan secara umum (Kahyangan Jagat). Para penyungsung pura jenis ini dipuja oleh masyarakat umum tampa membedakan keturunan atau asalnya (Team Peneliti Sejarah Pura Institut Hindu Dharma, 1980:13-18). Pura jenis ini misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Dang Kahyangan. Pura Sad Kahyangan menurut kitab Upadesa ialah Kahyangan Agung Penyungsungan Jagat yang jumlahnya enam meliputi Pura Lempuyang (timur) tempat memuja Dewa Iswara, Goa Lawah (tenggara) memuja Dewa Maheswara, Pura Ulu Watu (barat daya) memuja Rudra, Pura Watukaru (Barat) memuja Mahadewa, pura Bukit Pangelengan (barat laut) memuja Sangkara, dan Pura Besakih (timur) memuja Siwa (Rata, 1991:52-53).

(p.40) Berdasarkan lontar Kesuma Dewa dan Padma Bhumi Pura Sad Kahyangan memiliki persi yang berbeda walau ada yang sama. Pura Sad Kahyangan yang merupakan tempat stana dari dewa-dewa di atas mempunyai hubungan dengan dasaksara yaitu sepuluh aksara suci yang merupakan lambang para Dewa yang terdiri dari:

1. Di timur Pura Lempuyang, merupakan tahta Iswara Aksaranya sa.
2. Selatan Pura Andakasa, merupakan tahta Brahma aksaranya ba.
3. Barat Pura Batu Karu, merupakan tahta mahadewa aksaranya la
4. Utara Pura Batur, tahta Wisnu Aksaranya a
5. Tengah Pura Dalem Puri di komplek Pura Besakih, tahta bhatari Pretiwi aksaranya i
6. Tenggara Pura Goa Lawah, tahta Mahesora aksaranya na
7. Barat Daya Pura Uluwatu, tahta Rudra aksaranya ma
8. Barat Laut Pura bukit Pangelengan, (Gunung mangu) tahta Sangkara aksaranya si
9. Timur Laut Pura Besakih, tahta Sambu aksaranya wa
10. Tengah Pura Penataran Agung Besakih, tahta Siwa aksaranya ya.

Kesepuluh Kahyangan di atas merupakan tempat pemujaan atau persembahyangan seluruh umat Beragama Hindu, dua buah terletak pada arah tengah yaitu Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri di komplek Pura Besakih. Oleh karena dua Kahyangan Jagat itu dijadikan satu maka menjadilah sembilan yang dari kesembilan tersebut merupakan pelinggih (p.41) atau sthana Nawasanga yang terletak diseluruh penjuru mata angin pulau Bali (Rata, 1991:33-61).

Bertitik tolak dari uraian di atas maka pura secara umum berfungsi sebagai berikut.

1. Pura untuk memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan) dengan segala manifestasi-Nya (dewa).
2. Pura sebagai tempat memuja leluhur (Linus, 1979:26-28).

Berdasarkan uraian di atas untuk mengetahui fungsi dari Pura Saab dapat kita ketahui, dari struktur bangunan yang ada di halaman jeroan pura.

Berdasarkan data bangunan yang ada pada jeroan Pura, yang menjadi bangunan inti adalah bangunan Meru dan Padmasana. Meru merupakan sebuah bangunan monumental yang terbagi atas tiga bagian yaitu dasar, badan, dan atap. Meru dapat dikatakan replika dari simbul gunung suci. Fungsi dari meru sendiri adalah sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa atau semua manifestasinya dan berfungsi juga sebagai tempat pemujaan Dewapitara atau Atmasiddhadewa (roh suci leluhur). Berdasarkan bentuk bangunannya, maka fungsi meru sebagai tempat pemujaan dewa-dewa dan sebagai pedarman dapat dibedakan berdasarkan pedagingan (Panca Dhatu yang ditanamkan pada waktu melaspas meru tersebut), juga dari puja mantra pada waktu upacara piodalan. Sedangkan untuk mengetahui fungsi meru berdasarkan tumpangnya masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut karena meru (p.42) untuk memuja Tuhan dan leluhur tidak dapat dibedakan secara jelas. Meru seperti halnya candi adalah simbul anda bhuana (alam semesla) yang terdiri dari tiga bagian yaitu Bhurloka, Bhwahloka dan Swahloka. Menurut lontar Andhabhuana tingkatan meru meru merupakan simbol dari lapisan alam besar dan alam kecil (makro dan mikrokosmos). Jumlah tumpang meru selalu ganjil karena ada pandangan yang mempercayai bahwa angka ganjil merupakan angka suci, dengan satu bilangan ditengah dianggap sebagai penyeimbang (Wiratemaja, 2001:32-34).

Meru sebagai tempat stana dari Tuhan dapat berdasarkan tumpangnya dapat dibedakan yaitu: meru tumpang 3 dihubungkan dengan dewa trimurti yaitu Brhma, wisnu, Siwa. Meru tumpang 5 dihubungkan dengan 5 manifestasi tuhan yang disebut dengan Panca Dewata yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, Mahadewa, dan Icwara. Meru tumpang 7 dapat dikaitkan dengan tujuh manifestasi Tuhan atau dikaitkan juga dengan Sapta Dewata dan juga yang mengbungkan dengan Sapta Psi yaitu Bagawan Wyasa, Bagawan Sukra, Bagawan Janaka, Bagawan weraspati, Bagawan Narada dan bagawan Kanwa. Meru tumpang 9 dikaitkan dengan Dewata Nawa Sanga yaitu sembilan penjuru mata angin yaitu Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa, Mahesora, Rudra, sangkara, Sambhu. Meru tumpang 11 dihubungkan dengan Eka Dasa Ludra dan dianggap pula sebagai pelinggih dewa Siwa. Namun jumlah tumpang meru sekali lagi tidak mutlak dipakai, sebagai acuan dalam mengetahui fungsi dari meru itu sendiri karena, meru tumpang 11 juga ada sebagai tempat pemujaan (p.43) leluhur seperti misalnya pedarman raja dalem Waturenggong dalam bentuknya memakai meru tumpang 11 sebagai tempat pemujaannya (Rata, 1991:92).

Bangunan inti yang kedua yang terdapat di Pura Saab yaitu Banguna Padmasana. Istilah Padmasana berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri kata Padma dan Asana. Kata Padma berarti teratai dan Asana berarti tahta atau tempat duduk. Pengertian Padmasana tersebut, dalam seni arca yang bersipat Hindu dan Budha diwujudkan sebagai lapik arca yang berupa delapan helai daun bunga teratai baik ganda maupun tunggal.

Penggunaan Istilah Padmasana kemudian berkembang, digunakan untuk penamaan sebuah pelinggih. Padmasana sebagai pelinggih berfungsi sebagai tempat duduk Dewa Siwa. Dalam kehidupan keagamaan di Bali, pelinggih Padmasana pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

(a) bagian dasar atau kaki disebut tepas,memakai hiasan kura-kura.
(b) bagian badan disebut dengan batur, memakai hiasan pepalihan dan bagian belakangnya terdapat hiasan garuda atau angsa.
(c) bagian puncak berbentuk singgasana dengan prabha pada bagian belakangnya serta tampa atap. (Patera, 1996:211-213).

Berdasarkan bangunan inti tempat pemujaan yang ada di jeroan dari pura Saab maka, dapat dijelaskan bahwa fungsi dari pura tersebut adalah tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widdhi dalam berbagai manifestasi beliau (informan: I Wayan Kecen).

3.3 Status Pura Saab Nusa Penida

(p.44) Berdasarkan pemujanya, Pura Saab dipuja oleh seluruh umat Hindu yang ada di Nusa Penida tampa membedakan status sosial ataupun pekerjaan, maka pura ini dimasukan sebagai Pura Umum atau sebagai Khayangan Jagat masyarakat Nusa Penida. Pengemong atau penyungsung yang bertanggung jawab atas piodalan dan pemeliharaan pura dilaksanakan oleh tiga desa yaitu desa Batu Kandik, desa Batu Madeg dan desa Klumpu yang terdiri dari 350 KK. Hari piodalan di Pura Saab jatuh pada Rabu Umanis Medangsia. Pada hari itulah masyarakat melakukan persembahyangan yang terdiri dari berbagai desa diseluruh Nusa Penida.

Biasanya piodalan berlangsung tiga hari dengan berbagai rangkaian upacara dan pada puncak piodalan inilah arca-arca yang ada di Pura Saab diturunkan serta dihiasi kemudian diaturkan sesaji atau banten.

BAB IV: ANALISIS ARCA BHATARA-BHATARI PURA SAAB NUSA PENIDA

4.1 Deskripsi Arca Bhatara-Bhatari Pura Saab Nusa Penida

Berdasarkan data-data yang dapat diamati di lapangan yaitu di Pura Saab Nusa Penida menunjukkan populasi temuan yang paling banyak menyimpan tinggalan arkeologi daripada pura lain di daerah Nusa Penida.

Data-data tersebut didominasi oleh arca perwujudan bhatara-bhatari. Menurut pengamatan dilapangan juga dari laporan Penelitian Balai Arkeologi Denpasar diketahui jumlah temuan adalah 13 arca bhatara-bhatari yang cukup utuh, 18 fragmen arca bhatara-bhatari. Dari 13 arca bhatara-bhatari yang utuh terdiri 7 buah arca bhatara dan 6 arca bhatari. Sedangkan arca jenis lain yang ditemukan antara lain 2 arca pendeta, 1 arca Ganesha, 2 arca Naga yang utuh satu buah, dan arca Nandi yang keadaannya sekarang sudah agak aus dan banyak bagian yang patah sehingga sudah tidak jelas bagian-bagiannya dan dalam penelitian ini tidak dimasukkan karena data mengalami kerusakan seperti yang dijelaskan di atas.

Adapun deskripsi dari arca bhatara-bhatari tersebut antara arca yang satu dengan yang lainnya mempunyai banyak kesamaan maka dipilihlah 4 arca yang dipakai bahan penelitian. Pemilihan 4 arca ini karena dianggap telah mewakili arca-arca yang lainnya.

Selain adanya banyak kesamaan dan hanya dalam ukuran arca yang berbeda juga mengingat dari sifat data yang sulit diobservasi sembarangan, misalnya data tidak boleh diturunkan dari tempatnya sembarangan, pengukuran boleh dilakukan tapi dilakukan oleh pemangku di sana disamping itu arca-arca tersebut sangat dikeramatkan oleh masyarakat sehingga sulit diobservasi (informan Mangku Suparta)

Adapun deskripsi arca-arca bhatara-bhatari tersebut antara lain sebagai berikut.

3.3.1. Arca Bhatara Pura Saab Nusa Penida (foto 1, gambar 1)

Arca ini tersimpan disebuah pelinggih yang disebut pengaruman bangunan menghadap ke Timur, dengan atap seng dan bahan bangunan dari batu kapur dan kayu.

a) Keadaan Arca: arca dibuat dari batu padas yang cukup keras, arca dipahatkan dalam sikap berdiri tegak di atas asana dengan pola padma pola ganda berbentuk segi empat dan menempel pada sebuah stela dengan sisi sejajar dengan puncak datar. Sikap tangan ditekuk pada samping kanan-kiri pinggang dengan tangan dikepalkan dengan masing-masing tangan membawa bulatan dengan hiasan seperti kembang.

b) Ukuran Arca: tinggi arca keseluruhan: 48 cm; tinggi arca: 42 cm; lebar arca: 16 cm; tebal arca: 14 cm; tinggi stela: 42 cm; lebar stela: 16 cm; tebal stela: 5 cm; tinggi padmasana: 7 cm; panjang padmasana: 12 cm.

c) Bagian-bagian Arca: (p.47) Stela berbentuk segi empat panjang dengan sisi sejajar dengan puncak datar, tetapi bagian samping agak atas sedikit aus. Asana (lapik) arca bentuknya segi empat dengan hiasan pola ganda (padmaganda).

d) Ciri-ciri Badaniah: Kepala arca besar, rambut dibelakang melebar sampai stela, muka agak bulat, dahi lurus, alis tipis, hidung kecil, pipi tembem, bibir kecil/tipis, mulut tertutup, telinga sedang, badan sedang, bahu kecil, dada sedang, pinggang besar, pinggul besar, tangan sedang, kaki pendek, jari kaki besar.

e) Pakaian dan perhiasan: Mahkota berbentuk hirita makuta berhias kelopak bunga padma bagian atas bulat, hara (kalung) berhias pola sulur seperti badong. Keyura (gelang lengan) 2 buah dengan motif simbar segi tiga. Kankana (gelang tangan) tali polos susun tiga. Udara banda (tali perut) berbentuk pola hias sulur dan bunga seperti simbar ditengahnya memakai hiasan garis lurus dikaitkan pada kanan kiri (p.48) pinggang. Uncal berhiaskan pola hias garis lurus. Kancut seperti pita lebar yang menjulur ke bawah sampai menyentuh lapik arca, dengan hiasan garis vertikal dengan belahan di bagian bawah Padangada (gelang kaki) tidak tampak. Antarya (kain bawah) panjangnya sampai pergelangan kaki dengan hiasan garis-garis dan bersusun tiga.

3.3.2. Arca Bhatara Pura Saab Nusa Penida (Foto 2, gambar 2)

Arca ditempatkan sama dengan arca di atas yaitu ditempatkan di sebuah bangunan yang disebut Pengaruman yaitu pelinggih yang dibuat dari batu kapur dan kayu dengan atap seng dengan bangunan menghadap ke Timur.

a) Keadaan Arca: Arca dibuat dari batu padas yang cukup keras, arca dipahatkan dalam sikap berdiri tegak di atas padmasana pola ganda berbentuk segi empat dan menempel pada sebuah stela dengan sisi sejajar dengan puncak datar. Sikap tangan arca ditekuk kedepan arca perut dengan menggenggam bulatan seperti kembang.

b) Ukuran Arca: tinggi arca keseluruhan: 49 cm; tinggi arca: 43 cm; lebar arca: 8 cm: tebal arca: 6 cm: tinggi stela: 43 cm; lebar stela: 12 cm; tebal stela: 5 cm; tinggi padmasana: 7 cm; panjang padmasana: 17 cm.

c) Bagian-bagian Arca: (p.49) Stela berbentuk segi empat panjang dengan sisi sejajar puncak datar. Asana (lapik arca) berbentuk padmasana pola ganda bentuk segi empat, dengan kaki sebelah kiri dan padmasana bagian kiri juga patah.

d) Ciri-ciri Badaniah: Kepala arca besar, rambut belakang melebar melekat sampai stela,wajah tembem, dahi datar, alis tipis, hidung kecil, pipi datar, bibir tipis kecil, mulut tertutup, telinga kecil, bahu tegak, dada busung kedepan, perut kecil, pinggang sedang, pinggul kecil, tangan sedang, kaki pendek, jari kaki besar-besar.

e) Pakaian dan Perhiasan Arca: Mahkota berbentuk kirita makuta berhias kelopak bunga padma, bagian atas berupa bulatan. Hara (Kalung berhias pola sulur, bagian tengahnya melebar, bagian ujung sebelah kiri bersambung dengan ikat pinggang. Keyura (gelang lengan) berjumlah 2 buah dengan motif simbar segi tiga. Kankana (gelang tangan) bersusun tiga polos.

Udara Banda (tali perut) berhias pola sulur dan bunga. Sampur (p.50) sampai sebatas lutut dengan pola garis lurus. Uncal berhiaskan pola garis lurus. Kancut sampai pergelangan kaki berbentuk pita panjang dengan hiasan garis lurus. Padangada (gelang kaki) tidak kelihatan. Antarya (kain bawah) sampai batas lutut dengan pola hias garis lurus bersusun tiga. Kundasa berbentuk daun dengan hiasan garis di tengahnya.

3.3.3. Arca Bhatari Pura Saab Nusa Penida (foto3, gambar 3)

Arca tersimpan atau ditempatkan di pelinggih sama dengan arca Bhatara seperti di atas yaitu pelinggih yang bernama pengaruman.

a) Keadaan Arca: Arca dibuat dari batu padas yang cukup keras, arca dipahatkan berdiri tegak dengan sikap berdiri samabhangga, dengan asana berbentuk segi empat pola ganda. Arca menempel pada stela segi empat panjang dengan sisinya sejajar dan bagian atas agak melengkung. Sikap tangan (mudra), tangan ditekuk kedepan di samping pinggang dengan masing-masing tangan membawa bulatan seperti bunga.

b) Ukuran Arca: tinggi arca keseluruhan: 50 cm; tinggi arca: 43 cm; lebar arca: 20 cm; tebal arca: 14 cm; tinggi stela: 43 cm; lebar stela: 22 cm; tebal stela: 5 cm; tinggi padmasana: 7 cm; panjang padmasana: 22 cm.

c) Bagian-bagian Arca: (p.51) Stela berbentuk segi empat panjang sisi sejajar puncak datar dengan bagian kanan-kiri atas ada lengkungan. Asana berbentuk padmasana pola ganda berbentuk segi empat dan bagian kanan depan pecah begitu pula kaki sebelah kanan juga pecah.

d) Ciri-ciri Badaniah: Kepala arca agak besar, rambut bagian belakang melebar menempel pada stela arca, wajah agak panjang, dahi datar, alis arca tipis, hidung sedang, pipi datar, bibir tertutup seperti tersenyum, telinga besar, bahu sedang, dada dibusungkan kedepan dengan buah dada besar, perut kecil (ramping), pinggang kecil, pinggul sedang, tangan besar dengan jari tangan juga besar, kaki sedang dengan telapak kaki dan jari kaki besar-besar.

e) Pakaian dan perhiasan: Mahkota berbentuk hirita makuta berhias seperti bulatan-bulatan semakin keatas semakin mengecil seperti kelopak bunga padma dengan bagian paling atas berupa bulatan. Kundala (hiasan telinga) berbentuk seperti daun dengan ujungnya meruncing yang menjulur (p.52) ke bawah sampai ke bahu. Hara (kalung) berbentuk seperti badong berhias bentuk sulur-suluran daun. Keyura (gelang lengan) seperti pita bergaris tiga dengan bagian luar berbentuk simbar. Kankana (gelang tangan) bersusun tiga polos tanpa hiasan. Udara banda (tali perut) memakai hiasan emas-emasan. Sampur digantung di kanan kiri arca menjadi satu dengan lengkungan ditengah sampai di lutut. Upawira berbentuk pita dengan pola hias garis vertikal. Uncal berhias garis-garis metintang horisontal. Kancut berbentuk pita lebar menjulur ke bawah dengan menyentuh tengah-tengah kedua kaki dengan pola hias garis-garis vertikal. Atarya (kain bawah) panjangnya sampai ke pergelangan kaki dengan hiasan garis dan kelitan bersusun dua.

3.3.4. Arca Bhatari Pura Saab Nusa Penida (foto 4 gambar 4)

Arca tersimpan di pelinggih seperti arca di atas yaitu pelinggih yang bernama pengaruman.

a) Keadaan arca: arca dibuat dari batu padas, arca dipahatkan berdiri tegak dengan sikap berdiri samabhangga, dengan asana pola ganda. Arca menempel pada stela segi empat panjang dengan sisi sejajar dan bagian atas melengkung dengan bagian kanan pecah. Sikap tangan arca (mudra), tangan ditekuk kedepan disamping pinggang dengan membawa. bulatan, namun telapak tangan kiri arca patah.

b) Ukuran arca: tinggi arca keseluruhan: 55 cm; tinggi arca: 45 cm: lebar arca: 25 cm; Tebal arca: 20 cm; tinggi stela: 45 cm; lebar stela: 20 cm; tebal stela: 4 cm; tinggi padmasana: 10 cm; panjang padmasana: 19 cm.

c) Bagian-bagian arca: Stela arca berbentuk segi empat panjang dengan sisi sejajar dengan puncak datar dan bagian sisi atas agak melengkung. Tapi stela bagian atas kanan pecah. Asana berbentuk segi empat polos.

d) Ciri-ciri Badaniah: Kepala arca besar, rambut melebar dibelakang menempel pada stela sampai di bahu, wajah oval, dahi lebar, alis tipis, hidung sedang, pipi tembem, bibir tertutup, telinga besar, bahu sedang, dada dibusungkan kedepan dengan buah dada besar dan buah dada bagian kiri pecah sebagian, perut kecil (ramping), pinggang agak kecil, pinggul sedang, tangan besar dan jari tangan juga besar, kaki sedang dengan jari dan telapak kaki besar. Kepala arca bagian depan kiri sampai wajah dan mata pecah.

e) Pakaian dan perhiasan (p.54): Mahkota berbentuk kirita makuta berhias seperti bulatan-bulatan semakin keatas semakin mengecil menyerupai kelopak bunga padma dengan paling atas berupa bulatan, namun mahkota depan bagian kiri pecah. Kundala (hiasan telinga) berbentuk daun panjang sampai bahu dengan hiasan garis-garis ujungnya runcing. Hara (kalung) berbentuk seperti badong berhias motif emas-emasan. Keyura (gelang lengan) seperti pita dengan hiasan garis bulat dan bagian sisi luar berhias seperti simbar dengan hiasan seperti emas-emasan. Kankana (gelang tangan) bersusun tiga tebal polos tanpa hiasan. Udara banda (tali perut) polos tanpa hiasan hanya menyerupai pita dengan sedikit garis-garis. Sampur digantung di kanan kiri arca menjulur ke bawah dan menyatu di depan lutut arca dengan pola hias garis-garis. Kancut berbentuk pita lurus dari pinggang sampai disela-sela telapak kaki dengan hiasan garis lurus bagian bawah seperti berlipat. Atarya (kain bawah) panjang sampai pergelangan kaki bersusun tiga.

Selain arca bhatara-bhatari yang jumlahnya cukup banyak di Pura Saab Nusa Penida juga terdapat arca-arca jenis lainnya yang mempunyai peranan sangat penting di dalam masyarakat dan mendapat pemujaan yang lebih dibanding arca bhatara-bhatari. Arca-arca tersebut adalah arca Ganesa (foto 5) yang berdasarkan ciri-cirinya diperkirakan berasal dari periode Bali Kuna (abad X-XIII), arca Pendeta (foto 6), dan arca Naga (foto 7) dengan (p.55) ukuran yang juga cukup kecil seperti halnya arca bhatara-bhatari (Balai Arkeologi Denpasar, 1996:8-25).

4.2 Latar Belakang Konsepsi Pemujaan Arca Bhatara-Bhatari di Pura Saab Nusa Penida

Konsep menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, berarti pengertian, pendapat (paham) rancangan (cita-cita dan sebagainya) yang telah ada dalam pikiran. (Poerwadarminta, 1984: 520). Namun dalam Kamus Umum Besar Indonesia, konsep berarti: 1) ide atau pengertian dari peristiwa konkret; satu istilah dapat mengandung dua yang berbeda; 2) gambaran mental dari obyek proses atau apapun yang ada di luar bahasa (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, t.t:456). Sehingga pengertian konsep secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pelaksanaan dan pemakaian sesuai dengan fungsi yang dijalankan, seperti halnya dengan konsep yang melatarbelakangi arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida yang dipakai sebagai obyek penelitian penulis.

Sebelum membahas mengenai konsepsi yang melatarbelakangi pemujaan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida terlebih dahulu akan, diuraikan sedikit mengenai yang dimaksud arca bhatara-bhatari.

Menurut Goris kata bhatara dapat berarti (1) tempat Tuhan, komplek bangunan suci untuk menyembah dewa, (2) berarti juga raja yang telah wafat dan disucikan atau diidentifikasikan sebagai dewa, (3) raja yang (p.56) masih hidup, (4) dewa atau betara (Goris, 1954 b: 233, Granoko, dkk, 1985:6). R. Soekmono pemah mengatakan bahwa kata bhatara adalah suatu istilah yang diperuntukan bagi raja yang telah wafat dan diperdewa Soekmono, 1974:136). Sedangkan dalam kamus bahasa Jawa Kuno (Kawi-Indonesia) kata bhatara dapat juga berarti ketuhanan, hal kedewaan, gelar dewa, raja, pembesar (Mandiwarsita, 1978: 42). Terakhir yaitu dalam kamus kecil Sansekerta-Indonesia kata bhatara diartikan dengan pangeran, dewa, tokoh yang sangat dipuja (para dewa atau orang-orang yang tergolong lapisan masyarakat terhormat, sarjana); sekelompok pendeta Siwa (Semadi Astra, dkk, 1982:154).

Secara etimologis kata bhatara adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bhatr yang berarti pelindung. Jadi bhatara ialah manifestasi dari kekuatan suci Sang Hyang Widhi (Tuhan) untuk memberi perlindungan terhadap ciptaannya (P.H.D, 1967:11). Pengertian kata bhatara seperti ini kiranya dapat dibandingkan dengan fungsi awatara dari salah satu kepercayaan Hindu, yaitu perwujudan Sang Hyang Widhi (Tuhan) (sebagai Wisnu) yang turun ke dunia untuk menegakkan dharma atau memberi perlindungan terhadap manusia (Sogata, 1973:13). Lebih jauh dinyatakan bahwa dalam pandangan Hindu dikenal 4 zaman yang dikenal dengan Catur Yuga, terdiri dari Kerta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Di zaman Kali Yuga inilah dunia sangat terombang-ambing dan muncul awatara sebagai penyelamat (Sogota, 1973:14).

(p.57) Sejalan dengan pengertian kata bhatara sebagai pelindung, maka di Bali kata bhatara ini digunakan pula untuk menyebut roh-roh suci para rsi, roh raja-raja, roh orang yang berjasa dan rohaniar. Demikian pula roh leluhur yang telah disucikan dari dosa-dosanya melalui persembahan suci permohonan pengampunan yang tiada hentinya oleh anak cucu serta keturunannya, maka arwah leluhur itu telah dapat disamakan kedudukannya dengan dewa dan disebut bhatara (Cipta, 1996:40).

Dalam berbagai karya tulis ilmiah seperti skripsi pada Fakultas Sastra Universitas Udayana arca bhatara-bhatari sama dengan istilah arca perwujudan. Nama atau istilah arca bhatara adalah arca yang menunjukkan karakteristik laki-laki dan bhatari adalah arca yang memperlihatkan karakteristik perempuan namun dengan sama-sama memperlihatkan atribut yang berbeda dengan atribut dewa (Suastika, dkk, 2001:25).

Sedangkan istilah arca sendiri berarti "perwujudan jasmani" jadi arca perwujudan merupakan perwujudan dewa yang dipuja oleh penganutnya untuk tujuan pemujaan (Ayatrohaedi, 1981:10).

Penelitian terhadap arca perwujudan atau bhatara-bhatari dimulai pada tahun 1903 oleh H. Kern, yang mengemukakan isi Kitab Nagarakretagama. Pada waktu itu untuk pertama kalinya diketahui adanya kebiasaan di kalangan masyarakat Jawa untuk membuat arca bagi raja yang sudah meninggal dalam bentuk arca dewa, dengan roman muka disesuaikan dengan si mati (Kern, 1918:4).

(p.58) Pemikiran tersebut di atas dilanjutkan oleh J. Brandes yang pada tahun 1906 mengatakan bahwa arca semacam itu ditempatkan di bangunan suci sebagai peringatan bagi para pemujanya, agar mereka ini masih dapat selalu menghormatinya sesudah ia meninggal. Arca tersebut dalam bentuk arca dewa yang dipuja semasa hidupnya. Jadi di antara arca-arca yang ditemukan sekarang terdapat arca-arca perwujudan, meskipun tidak diketahui menggambarkan siapa (Brandes, 1896:53). Brandes tidak dapat menunjukkan arca-arca mana saja yang merupakan arca perwujudan, kecuali arca Prajnaparamita yang diperkirakan menggambarkan seorang ratu dari Jawa.

Mengikuti pemikiran Brandes ini beberapa peneliti lain menunjukkan beberapa arca yang dapat dikaitkan dengan tradisi seperti tersebut di atas. Rouffaer adalah yang pertama kali menghubungkan arca dengan tokoh historis. Arca tersebut adalah arca Wisnu di atas Garuda yang ditemukan di Petirtaan Belahan. Arca ini oleh Rouffaer diduga merupakan penggambaran raja Airlangga. Pendapat Rouffaer didasarkan atas dipakainya gambar garuda sebagai lambang maupun penyebutan "garuda lanchana" sebagai tanda dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Airlangga.

Berdasarkan pendapat Brandes tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa arca perwujudan dibuat karena kebutuhan para keturunan untuk menghormati leluhurnya yang sudah meninggal. Menurutnya alasan pembuatan arca perwujudan karena keinginan pemuja untuk memuja atau (p.59) menghormat orang yang telah mati, karena hal tersebut berkaitan dengan pembebasan jiwa atau roh orang yang meninggal dari hal-hal yang mengikatnya dengan dunia fana.

Lambang pembebasan ini menurut Moens tampak pada arca perwujudan, seperti misalnya bunga mekar atau kuncup (Lotus-rozet atau Lotus-knop) yang ada di tangan arca-arca perwujudan itu melambangkan pelepasan jiwa (Moens, 1919:499).

Stutterheim juga memiliki pendapat yang sama dengan Moens melihat arca perwujudan berdasarkan penyimpangan dalam atribut meskipun Stutterheim menetapkan suatu arca sebagai perwujudan tanpa penjelasan mengenai alasannya (Sri Endang, 1993:12-22).

Sebelum membahas konsepsi yang menjadi latarbelakang adanya penempatan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida, terlebih dahulu kita bahas awal adanya pembuatan arca bhatara-bhatari secara umum. Pembuatan arca seperti ini berawal dari zaman pra sejarah berupa pembuatan sarana pemujaan yang ditujukan kepada arwah nenek moyang atau leluhur karena mereka (leluhur) di masa hidupnya dianggap telah berjasa pada masyarakatnya. Maka pada saat mereka meninggal dibuatkanlah sarana pemujaan untuk menghormati jasa-jasa mereka. Dalam kehidupan masyarakat megalitik mereka sudah mengenai adanya kepala suku sebagai pimpinan (Soekmono, 1973:77).

Setelah kepala suku itu meninggal maka didirikan menhir yang semula sebagai lambang dari penghormatan terhadap jasa-jasa nenek moyang kemudian beralih fungsi sebagai benda pemujaan terhadap kepala suku tersebut. Dengan berbagai (p.60) upacara tertentu roh kepala suku tersebut dianggap dapat turun ke dalam menhir untuk bersemayam dan berhubtingan dengan para pemujanya.

Sebagai media pemujaan, dan media penghormatan yang menjadi kedatangan roh, maka menhir tersebut ditempatkan pada bangunan teras berundak (piramid). Bangunan teras piramid ini merupakan bentuk bangunan yang ditata semakin ke atas semakin kecil dengan berbentuk undagan-undagan (Poesponegoro, 1993:210-238).

Bangunan teras piramid tersebut merupakan replika dari bentuk gunung. Pada saat itu gunung dianggap merupakan tempat alam arwah yang abadi sehingga dipandang sebagai gunung suci (Soejono, 1977:287).

Kepercayaan seperti itu muncul karena adanya anggapan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Artinya roh seseorang tidak lenyap pada waktu orang tersebut meninggal, tetapi, tetap hidup serta roh tersebut memiliki kelanjutan dalam wujud-wujud rohaniahnya. Karena itu, roh leluhur dianggap sangat mempengaruhi jalan kehidupan dari keturunannya di dunia ini (Sartono Kartodirdjo, dkk, 1975:190).

Demikian juga halnya dengan keadaan yang berlangsung di Bali. Orang Bali masih percaya bahwa seseorang yang telah meninggal, yang hancur adalah badan kasarnya saja, sedangkan rohnya masih tetap hidup dan menempati tempat yang tinggi di dunia ini. Hubungan antara orang yang telah meninggal dengan keturunannya tetap berlanjut. Sehingga pada waktu-waktu tertentu roh orang yang telah meninggal tersebut, dimohon (p.61) kehadirannya untuk memberikan perlindungan kepada keluarga yang yang ditinggalkannya, (Rata, 1979:3).

Adanya bukti-bukti di atas memberi petunjuk, bahwa pemujaan terhadap roh leluhur telah dikenal oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Setelah pengaruh Hindu maupun Buddha berkembang di Indonesia, konseps kepercayaan kepada roh leluhur rupa-rupanya terus berlanjut dan bercampur dengan kebudayaan kedua agama tadi, sehingga muncul juga adanya kepercayaan terhadap dewa.

Adanya pemujaan terhadap roh leluhur dan mendapat pengaruh Hindu maka dibuatlah arca-arca pemujaan dengan atribut yang menyimpang dari arca dewa. Supaya nantinya, dapat membedakan antara arca untuk leluhur dengan arca untuk memuja dewa. Arca-arca pemujaan leluhur ini dikenal di kalangan peneliti dengan nama arca perwujudan, yang laki-laki dikenal dengan sebutan bhatara dan perempuan bhatari. Pada dasarnya arca pewujudan atau bhatara-bhatari dibuat dengan upacara keagamaan, dan nantinya akan dipakai sebagai media pemujaan terhadap roh suci tersebut. Melalui perwujudan inilah diharapkan roh mereka, berkenan turun dan nantinya menjadi tempat pemujaan terhadap arwah mereka. Perwujudan demikian dikenal pula dengan sebutan protista (Moens, 1919:50).

Selanjutnya J.L. Moens menyebutkan secara umum ciri-ciri arca perwujudan sebagai berikut: (1) Dalam wujudnya sebagai manusia biasa arca perwujudan dilukiskan dengan rambut disanggul. (2) Sebagai seorang raja, dilukiskan dengan memakai mahkota baik, karanda makuta yaitu (p.62) mahkota yang bentuknya bertingkat-tingkat, atau kirita makuta yaitu mahkota yang ujungnya makin ke atas semakin mengecil dan berisi permata. Tangannya dalam sikap menyembah dengan kuncup bunga di antara ujung jarinya. Kuncup teratai tersebut bermakna adanya kebebasan bagi roh leluhur dari ikatan-ikatan yang masih bersifat keduniawian (Moens, 1919:498).

Ciri-ciri lain dari arca bhatara-bhatari atau perwujudan adalah sikap arca kekaku-kakuan. Sikap kekakukakuan tersebut mirip dengan arca-arca perwujudan dari zaman Majapahit. Namun arca-arca perwujudan majapahit biasanya menggunakan arca dewa sebagai arca perwujudan raja, dan lain halnya di Bali yang lebih mendekati sifat-sifat kemanusiaan. Arca perwujudan tidak memakai laksana khusus seperti halnya arca dewa, biasanya ciri khusus arca perwujudan hanya dapat dilihat dari sikap arca yang kaku dengan laksana berupa kuncup bunga berbeda dengan arca dewa yang biasanya mempunyai laksana khusus yang mejadi ciri khas dari arca dewa yang diarcakan (Muljana, 1983:128).

Hal ini dapat dianggap sebagai pengecualian yang didasarkan atas adanya anggapan atau kepercayaan tertentu terhadap tokoh yang diarcakan. Selanjutnya disesuaikan dengan sifat dan karakter dari tokoh yang diarcakan tersebut. Sebagai contoh arca pewujudan Mahendrata di Kutri sebagai arca durga yang bertangan lebih dari dua (Ardana, 1981:16).

Tinggalan seni arca sebagai produk seni budaya dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan manusia penciptanya. Sebagai contoh (p.63) dapat dikemukakan di sini ialah peninggalan arca Buddha di Sempaga Sulawesi Selatan, Jember Jawa Timur, Bukit Siguntang (Bernet Kempers, 1959:31-32).

Di Bali peninggalan bersifat Buddha dapat ditemukan di Goa Gajah. Kesemuanya itu memberi petunjuk tentang kemungkinan pernah berkembangnya agama Budha di tempat tersebut. Demikian pula dengan diketemukannya arca-arca yang bersifat Siwa di Jawa maupun di Bali, merupakan suatu pertanda bahwa di tempat-tempat tersebut pernah berkembang atau dianut agama Hindu (Ardana, 1981: 12).

Suatu hal yang menarik dari peninggalan arca-arca ialah adanya perbedaan nilai arca antara suatu daerah dengan daerah lainnya. Perbedaan mana kiranya merupakan suatu tanda dari adanya perkembangan agama yang diwakili oleh peninggalan suatu arca, yang sesuai dengan kondisi dan lingkungan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa secara konsepsi yang melatarbelakangi pemujaan arca bhatara-bhatari di Pura Saab adalah konsepsi pemujaan terhadap roh leluhur. Baik itu seorang raja, atau roh orang-orang yang berjasa pada suatu masyarakat, dan dengan berbagai upacara keagamaan, maka arwah orang-orang tersebut sudah dianggap menyatu dengan dewa penitisnya (Linus, 1974:2).

Mengenai asal-usul arca yang terdapat di Pura Saab Nusa Penida baik arca bhatara-bhatari maupun arca-arca lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1). Berdasarkan ukuran arca yang terdapat di Pura Saab Nusa Penida memiliki ukuran yang cukup kecil, hal ini menunjukan adanya suatu indikasi bahwa arca tersebut dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat (p.64) lain dengan cukup mudah.

(2). Bahan yang digunakan dan pembuatan arca memakai batu padas, hal ini memberi indikasi bahwa arca tersebut bukan buatan lokal dari daerah Nusa Penida karena arca tersebut terbuat dari batu padas bukan batu kapur yang lazim terdapat di daerah Nusa Penida.

(3) Bentuk perhiasan atau laksana arca mempunyai persamaan yang lazim ditemukan di Bali Daratan, hal ini wajar karena Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan pulau Bali walaupun sekarang secara administratif masuk wilayah Bali.

Berdasarkan deskripsi data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa arca-arca bhatara-bhatari yang ditemukan di Pura Saab Nusa Penida memang sengaja didatangkan atau dibawa dari Bali Daratan. Kenyataan ini sesuai dengan kepercayaan orang Bali yang masih berlaku sampai sekarang apabila keluarga keluar wilayah bermukim ke wilayah lain, unsur-unsur yang terkait dengan pemujaan leluhur masih terbawa. Misalnya membuat bangunan pemujaan untuk leluhur yang di Bali dikenal dengan sebutan sanggah kemulan. Budaya demikian ini berlaku sejak dulu, bahkan desa-desa kuno di Bali seperti di sejumlah desa di Tamlingan tradisi memendaktaulan sampai sekarang masih berlangsung. Tradisi ini dikenal sebagai memendak taulan, artinya memendak leluhur untuk diistanakan di tempat pemujaan di wilayah pemukim dasa-desa yang baru (Geria, 1993:45).

Bertititk tolak dari pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa arca-arca yang terdapat di Pura Saab Nusa Penida berasal dari Bali, hal ini (p.65) menunjukan bahwa kepercayaan yang berkembang di Bali Daratan juga lazim berkembang di Nusa Penida, sebagai daerah bagian. Pada saat itu Nusa Penida sendiri merupakan daerah bawahan dari kerajaan Bali (Informan Mangku Sulandri). Berdasarkan kenyataan inilah arca bhatara-bhatari juga arca lainnya dari masa klasik di Nusa Penida mempunyai kesamaan dengan yang ditemukan di Bali Daratan.

4.3 Fungsi Arca Bhatara-Bhatari Pura Saab Nusa Penida

Masyarakat Bali pada umumnya sampai sekarang mempunyai kepercayaan bahwa benda-benda peninggalan purbakala dianggap masih memiliki kekuatan magis (keramat). Bahkan sering dianggap bahwa suatu peniggalan tidak diperkenankan untuk dilihat apalagi memegangnya Menurut A.J. Bernet Kempers bahwa peninggalan purbakala di Bali sama sekali tidak mati. Tradisi setempat (lokal) tidak dapat dikesampingkan, khususnya tradisi kepercayaan terhadap peninggalan-peninggalan purbakala tersebut, sebab masa sekarang dan masa lalu tidak dapat dipisahkan (Bernet Kempers, 1960:5).

Pada zaman sebelum masuknya pengaruh Hindu, bangsa Indonesia telah mengenai berbagai kesenian baik musik, lukis, patung dan sebagainya. Khususnya dalam bidang seni patung dibuat dalam bentuk dan hiasan yang sangat sederhana. Hal ini bukan berarti para seniman tidak mampu membuat karya seni yang bermutu tinggi akan tetapi yang dipentingkan adalah nilai religius yang terkandung dalam karya seni tersebut.

(p.66) Peninggalan-peninggalan yang dihasilkan seperti dolmen punden berundak adalah berfungsi sebagai sarana untuk mengadakan hubungan dengan roh nenek moyang, sedangkan arca dibuat adalah merupakan lambang atau perwujudan dari nenek moyang (Soekmono, 1973:73).

Erwin Ponofsky, yang pendapatnya dikutif oleh Kippenberg dalam buku yang berjudul "Iconography" dalam buku The Encyclopedia of Religion berpendapat bahwa dalam kesenian ada tiga tingkatan makna yaitu yang pertama bertalian dengan pengetahuan tentang keadaan alami, pengetahuan tentang benda-benda, bangunan, keindahan alam dan sebagainya. Dalam hal ini setiap seniman harus melihat suatu benda hubungannya dengan benda lain. Sebab hanya dalam hubungan dengan benda-benda lainnya sesuai kesenian dapat diketahui arti yang sesungguhnya. Tingkat yang kedua meliputi motif-motif karya seni serta arca-arca. Tingkat ini merupakan bidang ikonografi dalam arti sempit untuk mengetahui makna yang melatarbelakangi pembuatan sebuah arca. Tingkat ketiga adalah prinsip nilai-nilai simbolis. Tahap ini merupakan bidang ekonologi (Ratnaesih Maulana, 1992:15).

Pada masa selanjutnya masa klasik dengan datangnya pengaruh Hindu di Indonesia, arca dibuat sebagai lambang dewa atau Tuhan Yang Maha Esa dengan arca sebagai lambang roh leluhur masih juga dibuat. Perlu juga dikemukakan bahwa, gununglah yang dianggap sebagai tempat beristananya para roh-roh leluhur dan para dewa, yang turun dari khayangan (Linus, 1974:1).

Kenyataan seperti ini disebabkan oleh adanya pengaruh (p.67) yang datang pada mulanya masih murni dalam artian belum bercampur dengan penyembahan kepada roh leluhur yang merupakan unsur kebudayaan asli Indonesia, kemudian bercampur dengan kebudayaan Hindu yang datang pada masa selanjutnya.

Masyarakat Bali sampai dewasa ini mempunyai kepercayaan bahwa benda-benda peninggalan purbakala yang disimpan di pura-pura atau tempat suci dianggap masih mempunyai kekuatan magis. Oleh karena itu benda peninggalan tersebut masih tetap disucikan, dan pada hari-hari tertentu dilakukan pemujaan untuk memberi persembahan terhadap arca-arca tersebut. Di samping karena tradisi yang sudah demikian kuatnya di masyarakat akan fungsi dari peninggalan-peninggalan arkeologi, maka perbedaan ukuran juga dapat memberikan petunjuk penting suatu arca dalam komplek suatu pura atau suatu wilayah.

Mengenai perbedaaan dalam ukuran arca mungkin pula disebabkan karena adanya faktor kreativitas seniman, faktor kondisi alam, dan faktor perbedaan status sosial dari yang diarcakan. Contohnya adalah cara memperoleh bahan baku dapat mempengarui juga dalam ukuran arca sehingga, di satu pihak arcanya besar dan di lain pihak sangat kecil.

Untuk mengetahui fungsi arca-arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida dalam kehidupan masyarakat di masa lampau, perlu kiranya dilihat berbagai aspek-aspek tentang arca bhatara-bhatari yang terdapat di Pura Saab Nusa Penida. Jadi untuk mengetahui fungsi arca tersebut dalam masyarakat di masa lalu, perlu diperhatikan secara mendetail arcanya.

(p.68) Adapun maksudnya adalah untuk dapat mengetahui alam pikiran manusia penciptanya yang berwujud simbol-simbol tertentu. Dengan demikian diharapkan dapat mengetahui arti kemudian fungsinya dalam masyarakat Sebelum membahas mengenai fungsi arca bhatara-bhatari di Pura Saab, perlu diuraikan fungsi arca bhatara-bhatari secara umum. Untuk mengetahui fungsi arca tersebut secara umum perlu pula diketahui fungsi upacara Craddha, karena munculnya arca perwujudan atau bhatara-bhatari erat kaitannya dengan adanya upacara Craddha, dan juga berkaitan dengan tradisi pendirian sebuah candi. Dalam kaitan ini dengan mengutip pendapat Kern (Soekmono, yang mengatakan bahwa arca perwujudan dibuat berhubungan dengan raja yang telah wafat (Soekmono, 1977:3).

Ini adalah tradisi yang sudah biasa terjadi pada zaman Majapahit, yaitu tradisi untuk mengabadikan seorang raja yang telah wafat dengan membuat sebuah arca sebagai perwujudan dan kemudian meletakkan pada ruangan suci bangunan candi (Suastika, 2001:25-26).

Dalam kitab Nagarakretagama terdapat keterangan mengenai upacara Sraddha. Pelaksanaan upacara Sraddha ini dimaksudkan untuk menghormati wafatnya Sri Rajapatni nenek moyang raja Hayam Wuruk (Muljana, 1979:39). Untuk jelasnya, berikut akan diberi kutipan dari Nagarakretagama (yang diambil dari Kern, 1918:64) dan sekaligus terjemahannya (diambil dari Muljana, 1965:55).

"Enjing purna makalani wijil nirapiarekimadhyaning sabha Ghurunang kahala çangka, len padaha genjaran iharep osongkhya mangdulur, ring singhasana Çabhilaruhur, Ring singhasana cabhitaaruhur manasakohanan winursila, sakwe sang para sogatahwan atuha tales apupulamujo sukrama."

Artinya: "Pada pagi hari di bulan Purnama Sanghyang Puspasarera dikeluarkan dan dihormati, Gemuruh sambut menyambut dengung sangka, gamelan menjemput datangnya; yang didudukannya di atas singhasana indah setinggi orang dan dihormati, eemua pendeta Budha, tua muda semuanya berkumpul memujanya”

Kutipan di atas memberi petunjuk bahwa dalam upacara Sraddha tersebut ada perwujudan penting disebut puspacarira. Puspacarira ini adalah boneka yang dibuat dari bunga-bungaan, maksudnya sebagai wakil atau wadah dari roh yang akan dilepas diantar ketempat persemayaman terakhir. Pembuatan puspacarira ini dilakukan dua kali, pertama, dibuat setelah upacara pengangkatan roh dari tempat bersemayamnya, kemudian dibakar. Abu sisa pembakaran ini ditaruh dalam kelapa gading yang dibungkus dengan kain. Ini adalah proses awal puspacarira. Kedua, kepala gading sebagai tempat menyimpan abu tadi dihias dengan bunga-bungaan serta diberi perarai (gambar muka orang-orangan). Puspacarira inilah yang kemudian diarak ke laut (Soekmono, 1977:24).

(p.70) Melalui proses upacara tersebut di atas, roh orang yang telah meninggal dianggap telah suci dan menyatu dengan dewa penitisnya. Roh-leluhur tadi, sewaktu-waktu sangat diharapkan kehadirannya guna memperoleh pemujaan atau memohon perlindungannya, karena itu diperlukan media perhubungan. Sebagai media perhubungan untuk roh-roh leluhur yang telah suci, dibuatlah arca pratista (arca perwujudan) lengkap dengan pedharmanya (tempat arca pratista distanakan). Pendirian pedharmaan serta pembuatan arca perwujudan atau pratista diuraikan pula dalam kitab Nagarakretagama pupuh 69 sebagai berikut:

"Prajnaparamita puri ywa panelah ring rami sanghyang sudharma, prajnaparamita kriyan ulahaaken çrijna widdhy appralesta, saron pandita wrdha tanragala labdha weca sarwwagamajno, saksat hyang mpu bhrada mawaki sirang detrpini twasnarendra" (Kern, 1918: 73-74)

Artinya: "Prajnaparamita purilah padharman (Sang Hyang Sudharma) dalam masyarakat ditegakan, pemberkahan arca prajnaparamita dilakukan oleh Crijnawidhi, layak pendeta tua paham betul tentang pengetahuan agama dan tantra, Laksana jelmaan mpu Bhrada yang menyebabkan gembira hati sang raja" (Muljana, 1983:201).

Upacara Sraddha di Jawa dapat disamakan dengan upacara memukur (nyekah) di Bali. Kemudian perwujudan yang berupa puspacarira dalam upacara Craddha dapat disamakan dengan nyekah. Sekah berarti sekar atau bunga.

(p.71) Jadi fungsi dari arca perwujudan tersebut adalah sebagai sarana untuk menghubungkan diri yang ditujukan kepada rasa suci leluhur atau bhatara-bhatari (Ardana, 1974: 32).

Begitu pula fungsi dari arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida pada masa lalu adalah sebagai media penghormatan dan pemujaan terhadap arwah seorang raja yang sangat berperan dalam kehidupan mereka. Kemungkinan raja yang telah menguasai Nusa Penida berasal atau berkedudukan di Bali Daratan. Kesimpulan ini didukung bahwa Pulau Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan Pulau Bali, sehingga Nusa Penida merupakan bawahan pemerintahan Bali Daratan. Setelah Pulau Nusa Penida menjadi bagian kekuasaan Bali, barulah ada pengaruh budaya Hindu masuk ke daerah tersebut. Indikasi ini didukung oleh beberapa faktor yaitu pertama arca bhatara-bhatari di Pura Saab memiliki bahan baku padas yang berarti pemanfaatan sumber daya alam lokal tidak dipakai karena kondisi geografis Nusa Penida yang merupakan bentangan alam yang memiliki kandungan batu kapur bukan batu padas. Kedua ukuran arca bhatara-bhatari dapat dibilang kecil maka sangat mungkin dibawa dengan mudah dari tempat jauh kemungkinan berasal dari Pulau Bali. Ketiga bentuk dan ragam hias yang ditunjukan oleh arca tersebut sangat lazim terdapat di Bali Daratan.

Setelah masuknya budaya Hindu ke daerah Nusa Penida dengan terbawanya berbagai simbol berupa arca pemujaan, maka dengan sendirinya masyarakat mempunyai hubungan dengan masyarakat Bali Daratan. Di sini tercermin tindakan penghormatan terhadap terhadap leluhur raja-raja (p.72) ataupun tokoh-tokoh kerajaan yang pernah berkuasa. Melalui ritus-ritus pemujaan baik dalam bentuk arca menandakan adanya kebersamaan baik sikap, pengaruh budaya, agama, kepercayaan sehingga memperkual hubungan antara masyarakat dengan pemimpinnya. Kenyataan seperti ini juga tercermin pada raja-raja di Jawa yang dibuatkan pemujaan yang berbetuk arca dewa (bercirikan salah satu atribut dewa) yang tujuannya untuk mengukuhkan kekuasaannya. Bagi masyarakat arca-arca tersebut sebagai simbol penghormatan terhadap jasa raja-raja tersebut semasa pemerintahannya.

Contohnya adalah arca perwujudan Airlangga sebagai Wisnu duduk di atas garuda (Sumadio, t.t:100).

Contoh lainnya yaitu adanya pemujaan Ganesa dengan Gamparan di Pura Darma Kutri. Gamparan disini sebagai lambang bahwa Airlangga tetap menjadi penguasa Bali namun karena dia memerintah di Jawa Timur maka kekuasaannya di Bali dilambangkan dengan gamparan. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan adik Airlangga yaitu Marakata (Amerta, 2001:20-45).

Kalau dilihat fungsi arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida pada saat sekarang, maka dapat dikatakan bahwa sampai saat sekarang arca-arca tersebut tetap dikeramatkan oleh masyarakat penyungsunnya. Kenyataan ini diketahui dari observasi yang dilakukan yang mana arca tersebut tidak boleh dipegang semabarangan kecuali oleh orang-orang tertentu. Pada saat hari piodalan arca-arca ini diturunkan kemudian diadakan penyucian (pembersihan), kemudian arca dirias dan selanjutnya diaturkan sesajen. Pada saat upacara piodalan inilah semua umat mengadakan (p.73) persembahyangan bersama, dan juga melakukan pemujaan terhadap arca-arca yang tersimpan di pura tersebut.

Pemujaan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan perlindungan dan keselamatan bagi masyarakat penyungsungnya atau memberi kesuburan bagi tumbuhan atau ternak masyarakat. Karena air suci yang diambil dari pura selain digunakan oleh penyungsung untuk diri sendiri juga masyarakat memercikannya juga pada tumbuhan dan ternak supaya mendapat keselamatan dan kesuburan. Sehingga dapat dikatakan bahwa arca bhatara-bhatari yang ada di pura Saab Nusa Penida pada saat sekarang tidak lagi berfungsi sebagai pemujaan kepada leluhur, tetapi lebih condong dipakai sarana pemujaan untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi / Tuhan.

4.4 Periodisasi Arca Bhatara-Bhatari Pura Saab Nusa Penida

Untuk mengetahui periodisasi arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida perlu kiranya dibahas sedikit mengenai awal munculnya arca perwujudan di Bali. Munculnya kepercayaan terhadap arwah leluhur dimulai pada zaman prasejarah dengan berbagai sarana pemujaan seperti punden berundak, menhir dan yang lainnya (Soekmono, 1973:60-77).

Setelah adanya pengaruh Hindu arca-arca untuk leluhur tetap dibuat arca perwujudan yang diperkirakan muncul yaitu sejak abad X yaitu masa pemerintahan Udayana dengan arca Durga Mahisasuramardhini yang diduga sebagai perwujudan Gunapriyadharmapatni. Kemudian abad XI muncul di Jawa Timur pada zaman Singosari dan Majapahit, dengan arca Wisnu di (p.74) atas garuda sebagai perwujudan Airlangga dan arca Hari-Hara yang diduga sebagai arca perwujudan Kertarajasa. Bahkan pada zaman Majapahit yaitu pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk kira-kira abad XII sampai abad XIII tradisi pembuatan arca perwujudan ini nampaknya semakin meluas.

Perbedaan mendasar antara arca perwujudan di Jawa dengan Bali terlihat dari arcanya yaitu kalau di Jawa arca pemujaan leluhur atau perwujudan diwujudkan dengan arca dewa sedangkan di Bali lebih menyerupai wujud manusia dengan berbagai hiasan.

Untuk mengetahui periodisasi arca bhatara-bhatari di pura Saab Nusa Penida perlu dibahas beberapa model periodisasi peninggalan-peninggalan arkeologi yang ada di Bali. Model periodisasi tersebut adalah sebagai berikut.

1) Periodisasi menurut model Sutterheim:
a. Periodisasi Hindu Bali (Hindoe Balische Periode) 8-10
b. Periodisasi Bali Kuno (Oud Balische Periode) 10-13
c. Periodisasi Bali Pertengahan (Middel Balische Periode) 13-14

2) Periodisasi menurut model Ida Bagus Mantra:
a. Zaman Hindu Bali (abad 8-10)
b. Zaman Bali Kuno (abad 11-13)
c. Zaman Hindu Jawa (abad 14-15)
d. Zaman Modern (abad 20 sampai sekarang)

3. Periodisasi menurut model I Wayan Widia:
a. Zaman Hindu Bali (abad 8-10)
b. Zaman Bali Kuno (abad 10-13)
c. Zaman Hindu Jawa (zaman Bali pertengahan abad 13 - 14)
d. Zaman kontak dengan Dunia Barat (modern)

4. Periodisasi menurut model I Gusti Gde Ardana:
a. Periode Hindu Bali (abad 8-10)
b. Periode Bali Kuno (abad 11-13)
c. Periode Bali Pertengahan (abad 14 -19)
d. Periode Bali Modern 20 sampai sekarang

(p.75) Dari model-model periodesasi tersebut di atas, masih ada yang perlu ditambahkan yaitu periode prasejarah; karena arca-arca pra sejarah ada
pada satu rangkaian sejarah bila kita membicarakan sejarah perkembangan arca di Bali (Redig, 2000:43-44).

Periodisasi yang sering dipakai oleh para peneliti untuk mengungkap periodisasi arca-arca yang ada di Bali yaitu periodisasi menurut Sutterheim.

Berikut diuraikan sedikit mengenai pendapat Sutterheim tersebut:

1) Seni arca periode Hindu Bali abad VIII-X

Langgam arca-arca periode ini menunjukkan sifat intemasional, karena dijumpai juga di Malaka, India, Nepal, Tibet dan Asia Tengah (Cakrawan, 1988:12-13). Arca-arca paada periode ini memperlihatkan ciri kelemahlembutan, kegemuk-gemukkan, sikap tenang, mata setengah terbuka dan memperlihatkan ekspresi kedewaan. Contoh arca yang bersifat Siwaistis ditemukan di Pura Betara Desa Bedulu sedangkan yang bersifat Bodhis yaitu dijumpai dalam stupika-stupika tanah liat,
(p.76) yang banyak didapatkan di daerah sekitar Pejeng, Tohpati dan Blahbatuh (Budiastra dan Wayan Widia, 1978:16).

2) Seni arca periode Bali Kuno abad X-XIII

Ketika Bali memasuki zaman Bali Kuno (abad XI-XIII) di Jawa terjadi perubahan pusat peradaban dari Jawa Timur ke Jawa Tengah. Tinggalan arca Jawa Timur saat itu (abad XI atau XII) dalam beberapa hal masih memperlihatkan ciri-ciri Jawa Tengah, seperti yang diperlihatkan arca Wisnu di atas garuda di Candi Belahan. Sedangkan di Bali jenis ini ditemukan di Goa Gajah berupa arca Pancoran juga arca Siwa berangka tahun 945 saka (1022 Masehi), arca Umamahesvaramurti berangka tahun 948 saka (AD 1026) (Redig, 1997:172-173).

Arca periode Bali Kuno dapat dikelompokkan lagi yaitu:

a. Kelompok Penulisan: Ciri-ciri arca ini adalah kekaku-kakuan kedua tangan diletakkan di atas perut dan memegang benda yang menyerupai Lotus sebagai benda ritualnya. Termasuk dalam kelompok ini adalah sepasang suami istri yang dipahatkan dalam sikap duduk di atas lapik berhias padmaganda. Ditinjau dari gaya dan persamaan langgamnya maka Sutterheim menempatkan arca ini berasal dari tahun 933 saka [AD 1011].

b. Kelompok Goa Gajah: Dalam kelompok ini termasuk sebuah arca Ganesha secara naturalis mirip kepada Ganesa di Singosari, arca pancoran di Goa Gajah yang mempunyai kesamaan dengan arca pancoran di Candi Belahan, hal (p.77) ini terlihat dari sikap berdiri maupun dalam bentuk roman muka arca.

c. Kelompok Kutri: Arca kelompok ini adalah arca Durgamahisasuramardhini di Pura Bukit Darma Kutri dengan ciri khususnya berupa prabha tinggi, penggirnya bergigi, mahkota bentuk silinder horisontal dan hadirnya elemen sangkha bersayap. Arca lain dari kelompok ini adalah arca hariti di Goa Gajah dan arca Amogapasa (Pura Bukit Darma Kutri).

d. Kelompok Gunung Kawi: Ciri khas dari kelompok ini adalah memakai huruf Kediri Kuadrat, permukaan arca halus, tetapi ekspresi kaku seperti kelompok Penulisan. Contoh arca dalam kelompok ini adalah arca Betari Mandul (Pura Gunung Penulisan). Arca ini oleh Sutterheim dimasukkan ke dalam kelompok Gunung Kawi karena inskripsinya berhuruf Kediri, dengan angka tahun Ad 1077.

3) Seni arca periode Bali Madya abad XIII-XIV

Telah disebut di atas bahwa arca-arca yang bercirikan kekaku-kakuan telah berkembang di Bali sejak abad XI dan masih berlangsung sampai abad XVI. Sedangkan di Jawa Timur baru mulai zaman Majapahit, karena itu dalam hal ciri kekaku-kakuan Bali tidak dipengaruhi oleh Majapahit. Tetapi dari segi lainnya misalnya dalam hal ragam hias yang dimaksud antara lain: penggunaan ‘ronronan’ [Bal.: wreath of a crown, worn as an ornament; kind of girdle; Shadeg, 2007:416] di kanan (p.78) kiri mahkota dan mahkota berbentuk cecandian dengan petitisnya yang lebar. Salah satu sampel arca Majapahit yang memperlihatkan ragam hias seperti itu adalah arca Siwa dari Mojokerto. Ragam hias seperti itu di Bali berkembang sampai sekarang dengan berbagai variasi (Redig, 1997:174).

Berdasarkan uraian di atas, kemudian dihubungkan dengan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida, sehingga nantinya dapat diketahui periodisasi arca tersebut. Karena dari data tertulis mulai kapan pengaruh Hindu masuk ke Nusa Penida tidak ada maka, dipakailah data-data arca khususnya arca bhatara-bhatari yang ada di Pura Saab untuk mengetahui persoalan tersebut.

Mengenai periodisasi arca bhatara-bhatari yang ada di Pura Saab memiliki beberapa persamaan dengan arca yang ada di Bali. Untuk dipakai perbandingan agar diketahui periodisasi arca tersebut digunakan arca yang ada di Bali sebagai data pembanding yaitu arca perwujudan bhatari di Pura Sibi Agung. Persamaan ciri tersebut mengacu pada hal-hal sebagai berikut: bahan arca berupa batu padas, mahkota berbentuk kirita makuta berhias kelopak bunga padma, bagian atas mengecil dan bagian atas agak bulat dengan rambut belakang arca melebar dengan kanan kiri mahkota menggunakan ronronan. Antarya berbentuk pola hias garis panjang sampai pergelangan kaki, dengan hara berhias pola sulur bagian tengah melebar. Kankana tali polos susun tiga, upawita berbentuk pita, keyuura atau gelang lengan berjumlah dua dengan motif gambaran bentuk segitiga. Udarabanda berbentuk pita lebar di tengah dengan motif (p.79) gambar bentuk segitiga, kundala berupa ratna kundala, uncal berbentukpolos. Asana berbentuk padmasana pola ganda bentuk segi empat, dan mudra atau sikap tangan yaitu kedua tangan di samping pinggang dengan membawa bulatan, kain arca bersusun tiga (lihat foto 2 dengan foto 8).

Berdasarkan adanya persamaan ciri tersebut di atas, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Endang Sri Hardiati Soekatno, beliau membedakan arca perwujudan tersebut berdasarkan cirinya yaitu:

1. Kelompok arca dari sebelum abad XIII, dengan ciri: mahkota berupa Jalakamakuta, rambut di belakang telinga sedikit dengan kain tidak bersusun

2. Kelompok dari sesudah abad XIII, dengan ciri: mahkota berupa hiritamakuta berhias kelopak bunga padma, rambut di belakang telinga dalam melengkung lebar dengan kain bersusun-susun.

Berdasarkan persamaan ciri arca bhatara-bhatari yang terdapat di Pura Saab Nusa Penida dengan data pembanding yaitu cara bhatari di Pura Sibi Agung Gianyar dan juga adanya klasifikasi yang dibuat oleh Endang Sri Hardianti Soekatno di atas, maka dapat dikatakan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida berasal dari periode Bali Madya yaitu mulai abad XIII-XIV AD.

Sedangkan kemungkinan pengaruh Hindu masuk ke Nusa Penida sebelum abad XIII atau awal abad X karena peninggalan sebelum abad X tidak pernah ditemukan di Nusa Penida, namun berdasarkan prasasti Blanjong (835 Saka; AD 913) ada disebutkan tentang kemenangan raja Sri Kesari Warmadewa atas daerah Gurun dan Suwal, (p.80) yang diperkirakan Gurun adalah Nusa Penida (Semadi Astra, 1997:57).

Kenyataan di lapangan dapat juga mendukung pendapat tersebut karena peninggalan arkeologis sebelum abad X belum ditemukan. Namun perlu diingat kemungkinan mulai pesatnya perkembangan budaya Hindu masuk ke daerah Nusa Penida dengan perpindahan berbagai benda-benda pemujaan yang bersifat Hindu yaitu pada zaman Bali Madya yaitu sekitar abad XIII-XIV.

Data lain yaitu sebuah prasasti yang tergolong baru yang ditemukan di Merajan Nyoman Jaya dari Banjar Maos yang isinya tentang pengeling-ngeling (pemberitahuan) tentang tanah bukti serta batas-batasnya dari Pura Maos tersebut. Prasasti berasal dari tahun 1815 saka/ 1893 AD. Namun, dengan ditemukan tulisan Dewa Negari pada salah satu prasasti tersebut, ada suatu indikasi bahwa prasasti tersebut merupakan salinan dari prasasti tembaga yang ditulis dengan Dewa Negari. Kemudian salinan itu diterbitkan kepada masyarakat karena diperlukan oleh Cokorde I Dewa Agung Puri Kaleran, Klungkung (Balai Arkeologi Denpasar, 1996:8-22).

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN

5.1. Kesimpulan

(p.81) Berdasarkan uraian di atas, maka di bawah ini sampailah pembicaraan pada kesimpulan. Perlu diketahui bahwa kesimpulan ini hanyalah bersifat sementara dan belum dapat dipastikan kebenarannya secara mutlak, dan sewaktu-waktu akan dapat berubah. Apabila di kemudian hari ditemukan data atau timbul teori baru yang lebih akurat tentang arca-arca ini, maka dengan sendirinya kesimpulan ini juga akan mengalami pcrubahan.

Adapun hasil kesimpulan dari uraian di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida mempunyai latar-belakang konsepsi pemujaan terhadap roh leluhur seorang raja atau tokoh kerajaan yang berperan terhadap masyarakat penyungsung Pura Saab Nusa Penida. Berdasarkan ciri-cirinya arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida dapat dimasukkan sebagai pratistha dari seorang raja atau seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakat. Dilihat dari deskripsi arca bhatara-bhatari Pura Saab Nusa Penida yaitu bahan arca batu padas ukuran arca yang tergolong kecil, bentuk arca baik perhiasan ataupun atribut arca memiliki persamaan dengan arca Pulau Bali, maka dapat disimpulkan bahwa arca-arca ini dibuat di Bali Daratan dan kemudian dibawa dan dipakai sebagai media pemujaan di Nusa Penida.

(p.82) Kalau dihubungkan dengan konsepsi yang melatarbelakangi pemujaan arca perwujudan dengan arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida yaitu pemujaan terhadap roh suci leluhur (raja), maka dapat disimpulkan bahwa konsepsi atau kepercayaan yang berkembang di Bali Daratan juga berkembang pada masyarakat Nusa Penida, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang harmonis baik antara raja maupun masyarakat pusat (Bali Daratan), dengan masyarakat bawahan ( Nusa Penida).

2. Fungsi arca bhatara-bhatari di Pura Saab Nusa Penida adalah sebagai media pemujaan untuk menghubungkan diri dengan roh suci leluhur. Karena roh suci tersebut pada masa hidupnya sangat berperan dalam masyarakat. Adanya arca-arca pemujaan ataupun ritus-ritus lain sebagai penghormatan terhadap leluhur ataupun dewa-dewa dengan sendirinya dapat berfungsi untuk menguatkan atau mengukuhkan pengaruh seorang raja terhadap masyarakatnya. Indikasi ini menunjukkan adanya kebersamaan baik sikap, pengaruh agama, ataupun budaya, antara penguasa pada waktu itu dengan masyarakat bawahannya. Adapun fungsi sekarang sebagai media pemujaan terhadap bhatara-bhatari (istilah lokal) yang dituiukan kepada Ida Sang Hyang Widhi/ Tuhan dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan keseahteraan kepada masyarakat.

3. Periodisasi arca bhatara-bhatari Pura Saab Nusa Penida lebih mengarah periodisasi Bali Madya abad XIII-VIV. Periodisasi ini berdasarkan atas ciri-cirinya. yaitu mahkota berupa Kiritamakuta, rambut di belakang (p.83) telinga banyak dan melebar sampai di stela, dan dengan kain arca bersusun yaitu bersusun tiga.

5.2. Saran-saran

Dalam rangka melestarikan budaya leluhur yang mempunyai nilai tinggi, maka sebagai generasi muda ditunrut berpartisipasi melestarikan peninggalan arkeologi. Sehubungan dengan hal itu diharapkan adanya kerjasama yang baik di kalangan ahli arkeologi dengan instansi-instansi terkait.

Karena pentingnya arti peninggalan arkeologi tersebut bagi masyarakat dengan dikramatkannya arca tersebut, khususnya masyarakat penyungsung Pura Saab Nusa Penida ataupun masyarakat Bali. Maka, sepantasnyalah benda-benda tersebut dijaga kelestariannya baik oleh masyarakat ataupun instansi yang berkaitan dengan hal tersebut. Baik dengan jalan memberikan perhatian, pembinaan serta pengarahan tentang arti pentingnya peninggalan-peninggalan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ardana, I Gusti Gede (1974) - Unsur-Unsur Megalitik Dalam Kebudayaan Bali,
    Lembaga Fakultas Sastra Universitas Udayana
  • Ayatrohaedi, dkk (1986) - Kamus Istilah Arkeologi I. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Balai Arkeologi Denpasar (1996) - Laporan Penelitian Survey Ikonografi Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan => Geria, Made - Survei Ikonografi Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, LP A Balai Arkeologi Denpasar (tidak terbit), 1996
  • Bambang Sumadio (1984) - Sejarah Nasoinal Indonesia II, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka
  • Bernet Kempers, A.J. (1960) - Bali Purbakala. Petunjuk Tentang Peninggalan-Peninggalan Purbakala di Bali, disalin oleh Drs. R. Soekmono, Seri Candi 2, Cetakan II Jakarta.: Balai Buku Ikhtiar
  • Bernet Kempers, A.J. (1977) - Monumental Bali, Introduction to Balinese Archaeology. Guide to the Monuments; Van Goor Zonen Den Haag
  • Brandes, J.L. A. (1896) - Pararaton (Ken Arokj. Of Het Goek Der Koningen Van tumapel En Van Majapahit, Weltevreden. Albrecht en Co
  • Budiastra, I Putu dan Widia, I Wayan (1978) - Stupika Tanah Liat. Museum Bali, Denpasar Proyek Pengembangan Museum Bali
  • Cakrawan Cok Rai (1988) - Arca-Arca Perwujudan di Beberapa Pura di Desa Saba Blahbatuh Gianyar, Skripsi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar
  • Cipta, I Wayan (1996) - Bhatara Da Tonta di Desa Trunyan (Suatu Kajian Dari Sumber Prasasti), Skripsi Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar
  • Damais, Louis-Charles (1955) - Études d’épigraphie Indonésienne IV, "Discussion de La Date Des Inscription, Bulletin De I’École française d’Extrême-Orient, Paris XLV II
  • Ekawana, I Gusti Putu (1983) - Selembar Prasasti Raja Patih Kbo Parut, dalam PIA III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudavian, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
  • Endang Sri Hardiati Soekatno (1993) - Arca Tidak Beratribut Dewa di Bali Sebuah Kajian Ikonografis dan Fungsional, Desertasi Biding Ilmu Pengetahuan Budaya Pengkususan Arkeologi, Universitas Indonesia Jakarta
  • Goris, R. (1948) - Sejarah Bali Kuno, Singaraja
  • Goris, R. (1954) - Prasasti Bali I, NV. Masa Baru Bandung
  • Granoka, Ida Wayan Oka, Dkk (1985) - Kamus Bali Kuna - Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidkan dan Kebudayaan; Jakarta
  • Gria, I Made (1996) - Unsur Budaya Bali Selatan di Nusa Penida Kajian Seni Arca Masa Klasik, Forum Arkeologi, Balai Arkeologi Denpasar
  • Kern, H. (1918) - De Nagara Kertagama V.G VIII 1-32
  • Koentjaraningrat (1985) - Pengantar Ilmu Antropoiogi, Aksara Baru Jakara
  • Kluckhohn, C. & O.H. Mowrer (1944) - Culture and Personality, A Conceptual Scheme, American Anthropologist, XL-VI: 1-29
  • Linus, I Ketut (1974) - Sedikit Tentang Hubungan Konsepsi Cand di Jawa Dengan Pura di Bali, Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar
  • Linus, I Ketut (1979) - Pura Rambut Siwi, Proyek Sasana Budaya Bali Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Linus, I Ketut (1981) - Pengelompokan Pura Di Bali (Suatu Tinjauan Dari Segi Fungsi), Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar
  • Linus, I Ketut (1982) - Beberapa Patung Dalam Agama Hindu (Pendekatan dari Segi Arkeologi), Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar
  • Mandiwarsito, L. (1978) - Kamus Bali Kuna - Indonesia, Nusa Indah, Flores
  • Moens, J.L (1919) "Hindu-Javaansche portretbeelden: Çaiwapratiṣṭa en Boddhapratiṣṭa” seri terjemahan
  • Muljana, Slamet (1965) - Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Majapahit, Balai Pustaka, Jakarta
  • Muljana, Slamet (1980) - Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya, Bhatara Karya Aksara Jakarta
  • Muljana, Slamet (1983) - Pemugaran Perasada Sejarah Leluhur Majapahit, Yayasan Inti Indayu Press, Jakarta
  • O’Dea, Thomas. F. (1985) - Sosiologi Agama, Suatu Pengenalan Awal, Yayasan Sodilaritas Gajah Mada, C.V. Rajawali Jakarta
  • Poesponegoro, Marwati Djoned & Nugroho Notosusanto (1993) - Sejarah Nasional I (ed 4), Balai Pustaka, Jakarta
  • Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1979) - Sejarah Bali, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali
  • Rata, Ida Bagus (1979) - Konsepsi Dasar dan Perkembangan Fungsi Pura di Bali, Fakultas Sastra Universitas Udayana
  • Rata, Ida Bagus (1991) - Pura Besakih Sebagai Kahyangan Jagat, Disertasi Pascasarjana Universitas Indonesia
  • Redig, I Wayan (1996) - Ciri-Ciri Ikonografis Beberapa Arca Hindu Di Bali (Studi banding Dahulu dan Sekarang), dalam Iwayan Ardika dan I Made Sutaba, Dinamika Kebudayaan Bali, Upada Sastra Denpasar
  • Redig, I Wayan (2000) - Arca Dewa-Dewi atau Bhatra-Bhatari Koleksi Museum Bali, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Kebudayaan, Museum Negeri Propinsi Bali
  • Redman, Charles L. (1973) - Research and Theory in Current Archaeology, New York: A Whiley Interscience Publication
  • Rumbi, Mulia (1977) - Berapa catatan tentang arca-arca yang disebut arca tipe Polinesia, Pertemuan llmiah Arkeologi I, Cibulan, Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta
  • Sartono Kartodirdjo, dkk (1975) - Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka Jakarta
  • Sedyawati, Edi (1973) - Permasalaan Telaan Iconografi Dari Sumber Jawa Kuna, dalam majalah Arkeologi I No 4, Fakultas Sastra Universi[tas ...?]
  • Sedyawati, Edi (1994) - Pengarcaan Ganesa masa Kediri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Seniman, LIPI-RUL
  • Saraswati, Selarti Venetsia (1983) - Temuan Arca Durga Mahesasura Mardini dari Kepung, Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi, Cisarua
  • Semadi Astra, I Gde (1982) - Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia, Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Pemda Tingkat I Bali
  • Semadi Astra, I Gde (1997) - Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII: Kajian Efigrafis, (disertasi tidak dipublikasikan) Yogyakarta; fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada
  • Shastri, N. D. Pandit (1963) - Sejarah Bali Dwipa, Bhuana Saraswati, Denpasar
  • Soekanto [Sukarto?] Kartoatmojo (1966) - Penyelidikan Empat Buah Prasasti Baru di Bali, Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar
  • Soekmono, Dr.R. (1973) - Pengantar Sejarah Kebudayaan [Indonesia], Kanisius Jakarta
  • Soekmono, Dr.R. (1977) - Candi Fungsi dan Pengertiannya, disertasi Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta
  • Soghata, Ida Bagus Sigra (1973) - Panca Srada, Diktat Buku Agama, Klungkung
  • Stutterheim, Dr.W.F. (1929) - Oudheden Van Bali. Het Oude Rijk van Pejeng, Kirtiya Liefrinck Van Der Tuuk, Singaraja
  • Suarta, I Nyoman (1992) - Adat Dalam Hubungan dengan Pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya di Nusa Penida", Skripsi Fakultas Hukum Agama Institut Hindu Dharma Denpasar
  • Suastika, I Made dkk (2001) - Benda Cagar Budaya di Pura Gede Ulun Negara Dusun Tegeha, Sempidi, Badung. Proyek Dinas Kebudyaan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung
  • Team Peneliti Sejarah Pura Institut Hindu Dharma (1980) - Pura Sad Kahyangan, Proyek Penelitian / Inventarisasi Pura Tempat Ibadah Daerah tingkat I Bali Institut Hindu Dharma, Denpasar
  • Widia, I Wayan (1977) - Tinjauan Seni Arca Pura Sibi Agung dan Sekitarnya, Saraswati; Majalah Tidak Berkala Museum Bali, Denpasar
  • Wiratemaja I Gusti Ngurah Agung (2001) - Pura Tegeh Koripan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Skripsi Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar

DAFTAR INFORMAN

1) I Wayan Kecen. Spd, 52 tahun, Guru / Ketua panitia piodalan pura Saab; Alamat: Br Tulad, Desa Batu Kandik, Nusa Penida, Bali
2) Mangku Suladri, 52 tahun, petani/pemangku Pura Saab, Br Tengansa Desa Klumpu, Nusa Penida, Bali
3) Mangku Suparta, 47 tahun, petani/pemangku Pura Saab, Br Pangkung Anyar Desa Batu Madeg, Nusa Penida, Bali

Source: Resud Sugitawan (2003) - Arca Bhatara-Bhatari di Pura Saab Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; tesis, Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra; Universitas Udayana, Denpasar.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24