Gaguritan Narasoma (Gde Catra &Trisnawati 2008)

Gaguritan Narasoma, Nusa Penida (Gde Catra 1990, Trisnawati, 2008)

In Old Javanese, 'Nara' means godlike creature, 'Soma' (Sanskrit) means moon. The combination of Nara and the name of a heavenly creature or god is often attested, e.g. Narayana. So the title could be interpreted as 'Moon Divinity/God from/in Nusa Penida'. Given the title, this gaguritan seems to originate from Nusa Penida. However, from the contents this is not clear.

Ida Bagus Sidemen kindly translated this gaguritan into Indonesian, and states that this story has, in fact, nothing to do with Nusa Penida, despite its title. He says: "Saya sama sekali tidak membaca ada kaitan dengan Nusa Penida, walaupun judulnya berbunyi Narasoma Nusa Penida. Cerita itu merupakan kutipan dari kakawin Mahabharata atau Bharata Yuddha yang menceritakan tentang kutukan Bahgawan Bagaspati kepada Narasoma, yang nanti akan terbalaskan dalam Perang Baratha Yuddha."

Please visit https://palmleaf.org/wiki/gaguritan-narasoma, where the original palm leaf inscriptions, Balinese script aksara and transliteration in Latin script are shown. Higly recommended!

Balinese Indonesian English
/1b/ ONG Awighnamastu nama siddham. Iseng nggawe gaguritan, tembang sinom muni bali, hulate mahirib wikan, twara takut kakedekin, buka twara nawang gending, munine pati jelamut, apang kewala ada, anggon malali, nggawe kidhung, pangkah cara anak wikan. Buka twara nawang satwa, mabuddhi mangukir langit, belogajume jalanang, i mudha mahabet ririh, suba mandadi tulis, dekdek kadi semate intuk, kudyang pacang nuptupang, satwane malu ka wuri, nggawe kidung, parwwane masalin tembang. Wenten sawijil nagara, Pupuh Sinom: Iseng membuat gaguritan (karangan puisi bernyanyi), menggunakan tembang sinom berbahasa Bali, pura-pura pintar, tidak takut ditertawai, seperti tidak tahu bernyanyi, suara campur aduk, asal ada saja, digunakan untuk melancong, membuat kidung, besar kemauan seperti orang pandai. Seperti tidak tahu cerita, berangan-angan mengukir langit, hanya menjalankan niat suka dipuji, sebagai bodoh berpura-pura pandai, setelah menjadi tulisan, hancur seperti pecahan serpihan bambu, bagaimana caranya mengatur kembali, ceritanya ngalor ngidul, menggunakan kudng, ceritanya berganti lagu. Ada sebuah negara (kerajaan),  
/2a/ ratu agung nakra wartti, mapasengan Indra Kusuma, madwe putra kakalih, ne istri kadi Hyang Ratih, ne lanang kaliwat bagus, tulen kadi Hyang Smara, tur prajnan kaliwat wakti, hajajuluk, kocap Raden Narasoma. Wayahe limolas temwang, sang natha ngandika haris, heh Raden Narasoma, enot bapa suba kelih, lyu pyanak para mantri, sami padha hayu-hayu, matur Raden Narasoma, tityang manunas mapamit, tityang durung, madwe manah makurenan. yen durung ngalahang dewa, tityang nenten ngalap rabi, sang natha ngandika alon, duh mas mirah nanakneki, nanak konden nandang majurit, dengan rajanya yang besar menguasai dunia, bernama Indra Kusuma, mempunyai anak dua, yang peremouan seperti Dewi Bulan, yang laki-laki sangat tampan, persis sama dengan Hyang Smara, juga cerdas dan sangat sakti, bernama, konon Raden Narasoma. Usianya lima belas tahun, Raja berkata dengan ramah, hai engkau Raden Narasoma, aku menyaksikan kamu sudah dewasa, ada banyak para putra dari para menteri, semuanya sama-sama cantik, Raden Narasoma berkata, saya mohon pamit, saya belum, mempunyai niat untuk kawin. Kalau saya belum menaklukkan desa, saya tidak akan mengambil istri, Raja berkata dengan pelan, duhai engkau anak permata hatiku, anakku belum cukup untuk berperang,  
/2b/ kari anom nanak bagus, matur Raden Narasoma, nadyan kari alit,hana këngguh,yadyan tityang kembul dawa. Sang natha gelis ngandika,nah keto hidhep nanakneki,cening ngelah anjak katah,teka ning mantri bhupati,panjak ada limang tali,pacang ngiring nanak bagus,matur Raden narasoma, banggayang tityang mapamit, sakewanten, ipun I Togog pamitang tityang, Osek sang prabhu ring manah, antuk putrane kari alit, matur Raden Narasoma, tityang manunas mapamit, sang natha ngandika aris, apang yatna nanak bagus, inggih sandikan sang natha, manumbah raris mamarga, masih muda bertampang tampan, Raden Narasoma berkata, walaupun saya masih kecil, tidak pernah mundur, walaupun saya direbut oleh sepuluh orang. Raja dengan cepat berkata, kalau demikian keinginan ananda, ananda punyak rakyat banyak, termasuk mentri dan bupati, rakyat ada lima ribu, yang akan menyertai ananda, Raden Narasoma berkata, biarkan saya mohon oamit, hanya, dia I Togog yang saya minta. Pikiran Raja menjadi susah, karena usia putranya masih kecil, Raden Narasoma berkata, saya mohon pamit, Raja berkata dengan ikhlas, berhati-hatilah ananku tampan, ya sesuai dengan yang ayah katakana, menyembah lalu berjalan,  
/3a/ tan carita, sang prabhu di jro pura.Kocap Raden narasoma, ngajak parekan asiki, nusup alas manggih tegal, tan carita dane mamarggi, wenten malih ne kawuwus, patapan tabla kancana, wenten sang pandhita lewih, papasengan, Ganggasati kocapan. Nanghing ke gobane yaksa, waktine kaliwat wakti, bisa nusup hane megha, bisa mahug henu cenik, bisa manjing jro ning lahut, Bhagawan ganggaspatya, twara ada manandingin, ne kacatur, paodhita tabla kancana. Bhagawan Ganggaspatya, madwe oka asiki, istri hayune kaliwat, tan pendah dadari suci, tidak diceritakan, raja yang sedang ada dalam istanya.Konon Raden Narasoma, membawa pembantu seorang, masuk ke hutan menemukan kebun, tidak diceritakan mereka yang dalam perjalanan, ada lagi disebutkan, sebuah pertapaan bernama Tabla Kencana (rumah kayu berwarna keemasan), ada seorang pendeta yang mulia, bernama, konon Ganggasati. Akan tetapi berwajah raksasa, saktinya luar biasa, mampou terbang masuk ke awan di langit, dapat menjelma menjadi anak-anak, mamou menyelam masuk ke dalam lautan, Bhagawan Ganggaspatya, tidak ada yang mampu menandingi, seluruh penjuru, pendeta Tabla Kencana. Baghawan Ganggaspatya, mempunyai anak seorang, perempuan dengan kecantikannya yang luar biasa, tidak ubahnya seperti seorang bidadari suci,  
/3b/ mapasengan Tirthawati, tuwuhe limolas tiban, bahu mangraja sewala, hayune kadi wuwuhin, Tirthawati, twara ada papadanna. Ragane meros manglunggang, pamulune lempung gadhing, tangane madapa laywan, jariji kuku pakrining, rurus kadi bakung awri, susu lwir nuh gadhing kembar, rambute samah tur wilis, sada kening, latine ngembang rijasa, Ambul to ban ngucapang, kacarita Raden Dewi, raris munggah kapaturwan, sampunwenten tengah wengi, Tirthawati mangipi, numpenayang satriya bagus, ngajak parekan sanunggal, di tengah alase pingit, Tirthawati, raris ida matangya. Sinarwwi ngajengang canang, bernama Tirthawati, usianya lima belas tahun, baru saja menstruasi, cantiknya bertambah-tambah, Tirthawati, tidak ada yang menyamainya. Badannya ramping semampai, kulitnya putih kuning, tangane melengkung seperti melambai, jari tangannya dengan kuku yang bercahaya, lurus-lurus seperti bunga bakung sari, buah dadanya seperti buah kelapa kuning kembar, rambutnya tebal dan berwarna hitam, kalau tersenyum, gusinya berwarna merah seperti warna bunga Rijasa. Sekian yang dapat dikatakan, diceritakan Raden Dewi, lalu naik ke tempat tidur, setelah tengah malam, Tirthawati bermimpi, memimpikan seorang kesatrya tampan, ditemani seorang pelayan, di tengah hutan yang keramat, Tirthawati, lalu terjaga. Sambil mengunyah sirih, tidak mau tidur lagi,  
/4a/ nenten kayun sirep malih, melinge teken ipyan, sang hayu tumuli nangis, wenten panjrowan asiki, matur ring sang dyah harum, aduh ratau gustin tityang, punapi dwaning manangis, Tirthawati, raris ida mangandika. Kene bibi apang nawang, i tunyan nira mangipi, ngipiyang satqriya uttama, Narasoma haraneki, ngajak parekan asiki, I Togog haran puniku, yan twara kasidhayang, teken i guru ne mangkin, hana kantun, nira pacang nuduk warira. Ira manatyain ipyan, pawongane matur glis, glisang cokor i dewa, matur ring ida sang haji, hajin i dewane wakti, di jagate tan amandung, selalu ingat dengan mimpi, perempuan cantik itu lalu menangis, ada pelayan perempuan seorang, lalu bertanya kepada gadis yang berbau wangi itu, duhai paduka junjungan hamba, apa sebabnya menangis, Tirthawati, lalu dia berkata. Begini bibi agar tahu, tadi saya mimpi, memimpikan seorang ksatrya utama, bernama Narasoma, membawa seorang pelayannya, bernama I Togog, apabila tidak berhasil (menjadi suami pemuda itu), oleh Bapakku sekarang, aku tidak mau hidup lagi, aku akan (mati) (dengan) menusuk badan (dengan keris). Saya membela satya terhadap mimpi, pembantu perempuan itu cepat berkata, sebaiknya ands cepat-cepat, berkata kepada ayahanda, ayah anda terkenal sangat sakyi, tidak ada yang mampou menandingi di atas dunia ini,  
/4b/ carita sampun rahina, Sanghyang Suryya wah mijil, Tirthawati, parek ring ida padandha. Matedoh ring pajengan rama, Tirthawati sambil nangis, sang pandhita ngucap alon, duh mas mirah anak yeki, punapi dwaning nangis, Tirthawati glis umatur, inggih ratu sang pandhita, ibi sande tityang mangipi, mangipiyang, satriya anom panggihin tityang. Mawasta Narasoma, ngajak parekan asiki, kapanggih di tengah alas, di alase nene pingit, punika satriya lewih, kari anom nika guru, yan tan guru manidayang, janten tityang magemasin, nebek iba, tityang natyain ipyan. Apa te gawene suka, hidupe manandang sedih, padhandha ngucap alon, duh mas mirah anak yeki, bapa jani mamargi, mangalih satriya kang iku, bilih bapa manidayang, tan kocapan sampun mamarggi, tan carita, kapungkur tabla kancana. diceritakan sudah siang, matahari sudah terbit, Turthawati, lalu menghadap kepada beliau. Duduk bersimpuh di hadapan ayahnya, Tirthawati sambil menangis, sang pendeta berkata dengan lambat, duhai engkau permata hatiku, mengapa anda menangis, Tirthawati cepat berkata, ya Ratu sang pendeta, tadi malam saya mimpi, memimpikan, saya menyaksikan seorang satrya muda Bernama Narasoma, mengajak seorang pembantu, saya temukan di tengah hutan, di tengah hutan yang keramat, dia itu jelas seorang kesatrya mulia, masih muda ayahanda, kalau ayahanda tidak mampu (menjadikan pemuda itu sebagai suami saya), pasti saya akan mati, menusuk diri, saya sedang satya pada mimpi, Apa artinya sebuah kesenangan, kalau hidup harus memikul kesedihan, sang pendeta berkata pelan-pelan, duhai nehtgkau permata hatiku, sekarang ayah berjalan, mencari kesatrya itu, pasti bapak berhasil, tidak diceritakan sudha berjalan, ttidak diceritakan, hari esok (negeri) Tabala Kencana. (kata ‘kapungkur’ menunjukkan pergantian pupuh menuju pupuh pangkur.)  
/5a/ Sang pandhita manggagana, mider-mider di ambarane mamarggi, Raden narasoma kacatur, mamarggi ring tengah alas, wana wayah, munggah turun maaring gunung kewala pakalihan, macan warak sami ajrih. Kacarita san pandhita, ring ambara katon tejane mamarggi, ne satriya lebih puncul, sang pandhita tumuruna, -/- Pupuh Pangkur: Sang Pendeta berkelana, berjalan berputar-putra di udara, Raden Narasoma ditemukan, sedang berjalan di tengah hutan, hutan rima belantara, naik turun di gunung hanya berduaan, harimau badak semuanya ketakutan.  
/5b/ kacarita di tengah lurung, kagyat Naramsoma ningak, gedhene liwat nejrihin. Bapa Togog ada yaksa mangadang, jalan tandingin pahekin, iba yaksa lebih puncul, ngadang kai majalan, san pandhita ngandika wabdhane halus, duh mas mirah i bapa, swecanta ngahulahin. Raden Narasoma ngandika, iba yaksa matakon teken kai, kai twara nawang ibu, uling cenik mangumbara, sang pandhita ngandika wabdhane halus, yen tan Raden ica uga, margike simpang ne mangkin. Umah bapa di patapan, Tabla Kencana, bapa ngelah pyanak -/- asiki, Diceritakan sang pendeta, berjalan di udara seperti sinar, anak kesatrya ityu ditemukan, sang pandita lalu turun, diceritakan di tengah perjalanan, Narasoma terkejut melihat, besarnya sangat menakutkan. Pak Togog ada raksasa menghadang, mari dekati dan lawan, hai engkau raksasa tiba-tiba muncul, kau menghadang aku berjalan, sang pandita berkata dengan kata-kata yang halus, duhai engkai permata ayah, mohon anda berkenan menjadikan saya hamba sahaya. Raden Narasoma berkata, kau raksasa bertanya kepada aku, aku tidak tahu ibu, dari kecil mengembara, sang pendeta berkata dengan kata-kata halus, kalau Raden tidak berkenan juga, mari sekarang anda mampir.  
/6a/ tur hayune kalangkung-langkung, ento bapa nrahang, Raden Narasoma, brahmantya ngarungu, raris Raden Narasoma, manuding mangunus kris. Ih iba yaksa pandhita, mai nemin sadyan kai manandingin, ban ibane gede luhur, twara kai makiseran, sang pandhita brahmantya ngarungu, lah mangke masa ke huripa, ngrak mangusak-asik. Raris Raden Narasoma, managjagin raris manebek anitir, sah pandhita twara kengguh, deni twara bisa trak, katebekin, sang pandhita twara bisa matatu, kasahup Sang Narasoma, makecog sambil nebekin. I Togog kreng manumbak, Raden narasoma, -/- Rumah ayah di pertapaan, Tabla Kencana, bapak punya anak seorang, dan cantiknya luar biasa, itu Bapak serahkan, Raden Narasoma, menjadi marah setelah mendengar, lalu Raden Narasoma, menuding dan menghunus kerisnya. Hai engkau raksasa, mari lawan aku yang bersedia bertanding, apa karena badanmu besar, alu tidak akan muncur, sang pendeta marah mendengar, mari bertarung selama aku hidup, tidak ada yang berani mengganggu. Lalu Raden Narasoma, menjemput lalu menusuk berkali-kali, sang pendeta tidak kalah, karena tidak dapat luka, ditusuk, sang pendeta tidak dapat dilukai, lalu Sang Narasoma ditangkap, melompat sambil menusuk. I Togog ikut menombak dengan sekuat tenaga, Raden Narasoma,  
/6b/ nohcoh nuwekin, sang yaksa glis makebyur, nander Raden Narasoma, raris nabit, I Togog samya tan kantun, makeber ring gagana, tan kocapa niriki. Rawuh di Tabla Kancana, raris ngojog ka pamreman dyah putri, sang pandhita ngandika halus, ne bapa manidayang, karsa cening Trithawati, semu kenung, inggih puniki pisan, keni ipyan tityang ne nguni. Dini nanak apang melah, makurenan bapa ka taman sari, sang pandhita raris pesu, tan carita sang pandhita, kacarita Sang tirthawati mangrumrum, awru hatur alon, kasemaran sang dyah putri, Duh beli mas -/- ku hari, menusuk-nusuk, raksasa itu cepat terbang, menyambar Raden Narasoma, lalu dikepit, bersama-sama juga I Togog, terbang di udara, tidak diceritakan lagi. Sampai di Tabla Kencana, lalu menuju ke tempat tidur sang putri, sang pendeta berkata dengan halus, ini ayah telah berhasil, sesuai dengan keinginan Tirthawati, berwajah tersenyum, ya ini memang benar, sesuai dengan mimpi saya. Disinilah ananda baik-baik, bersuami istri, ayah akan ke taman sari, sang pandita lalu keluar, tidak diceritakan sang pendeta, diceritakan Sang Tirthawati sedang merayu, berkata dengan lambat, sang dyah putrid jatuh cinta.  
/7a/ panjakang kuda jwa tityang, swe ban mangame-ame, mangda beli mamanjakang, kalih tityang mangaturang, sahisi ning jro kadhatwan, sami beli manwenang. Napi te gahene sugih, huripe manandang lara, sang pandhita ngucap alon, duh mas mirah nanak ingwang, bapa jani mamargga, ngalih satriya puniku, Raden Narasoma mangucap. Nai hayu Tirthawati, beli tan harsane marabyan, teken panak raksasane, gurun nai marupa detya, batis nai ne mabulu, Tirthawatya manangis, raris ya ka taman sekar. Sadhya parek ring sang haji, tan kocapan sarawuhe, di taman parek ring kang kayap, kenken krana hayu prapta, -/- Pupuh Smarandana: Duhai kang emas yang aku cari, hambakanlah jiwa hamba, lama sekali saya mengharapkan, agar kakanda bersedia menjadikan saya hamba sahaya (istri), selain itu saya juga mempersembahkan, seluruh isi istana, semua kakanda yang memilikinya. Apa artinya pekerjaan kaya, kalau hidup itu memikul sengsara, sang pendeta berkata dengan lambat, duhai anakku intan permataku seorang, sekarang ayah berjalan, mencari kesatrya itu, Raden Narasoma berkata. Hai engkau Ayu Tirthawati, kanda tidak bersedia menikah, dengan putri seorang raksasa, ayah kamu berwajah raksasa, kaki kamu berbulu, Tirthawati menangis, lalu menuju ke Taman Sekar.  
/7b/ sambil nangis segu-segu, Tirthawati raris matur, dane tan kayun ring tityang. Hature matungtung tangis, sapuniki sang pandhita, awinan tan kayun dane, antuk tityang pyanak raksasa, bapannane yaksa, krana batise mabulu, sapunika Sang Naarasoma. Sang Pandhita turun gelis, kasahup Sang tirthawatya, nah jani suba hilang, bulune twarada kantun, kema cening enggal-enggal. Mapamit Sang Tirthawati, tan kocapan di pamreman, Tirthawati ya matedoh, inggih beli cingak tityang, bulun tityang sampun hilang, kapralina ban i guru, Raden Narasoma ngandika. Kene Hayu Tirthawati, ngedangnan mamatwa yaksa, -/-yan Bersiap akan menghadap kepada ayahnya, tidak diceritakan setelah tiba, di taman menghadap kepada ayah, apa sebabnya Ayu datang, sambil menangis tersedu-sedu, Tirthawati lalu berkata, dia (Raden Narasoma) tidak mau (menikah) dengan saya. Perkataannya disertai dengan menangis, begini Ratu Sang Pendeta, sebab-sebab dia (Narasoma) tidak bersedia (menikahi saya), karena saya putra seorang raksasa, ayahnya seorang raksasa (berbadan besar), itu sebabnya kakinya berbulu, begitu (kata-kata) Sang Narasoma. Sang Pendeta lalu cepat turun (dari tempat duduknya), Tirthawati di ambil di pangku, nah sekarang sudah hilang, tidak ada bulu lagi, ke sana anda secepatnya. Sang Tirthawati mohon diri, tidak diceritakan di temat tidur, Tirthawati duduk bersimpuh, baiklah kakanda saksikan saya sekarang, bulu saya sudah lenyap, dihapuskan oleh ayahanda saya, Raden Narasoma berkata. Begini Ayu Tirthawati, (aku) sangat keberatan bermertua raksasa,  
/8a/ sidha pejah gurune, beli suka mamanjakang, tur nganggon nai kurenan, satuhuk beline hidup, yan sidha ban nai ngamatiyang. Tirthawati glis nawurin, inggih mangkin tityang ka taman, paarek rin ida sang pandhita, pacang nguningang hatur, Tirthawati glis ka taman, sang pandhita ngandika aris, kenken krana hayu teka. Tirthawati raris manangis, matedoh pajengan rama, mamulaar hature alon, sapunapi sang pandhita, dane Raden Narasoma, rig tityang dane tan kayun, ngedangan mamatwa yaksa. Yen seda guru haji, dane kayun teke ning tityang, kayun dane mamanjakang, tur neneng pramiwwaryya, sapunika Narasoma, kalau kau berhasil membunuh ayahmu, aku suka menghamba dengan kamu, dan aku bersedia memperistri kamu, selama hidup kakanda, kalau kamu berhasil membunuhnya. Tirthawati cepat menjawab, baiklah sekarang saya ke taman, menghadap kepada sang pendeta, akan menyampaikan kata-kata (Narasoma), Tirthawati cepat ke taman, sang pendeta berkata dengan sabar, apa sebabnya Ayu datang lagi? Tirthawati lalu menangis, duduk bersimpuh di depan ayahnya, mulai berkata dengan lambat, bagaimana duhai Sang Pendeta, dia Raden Narasoma, dia sama sekali tidak mau dengan saya, tidak bersedia mempunyai mertua seorang raksasa. Apabila ayahanda (bersedia) wafat, dia (narasoma) mau dengan saya,  
/8b/ pangandikane ring tityang. Osek sang pandhita ring hati, mamireng hatur ring putra, nghing tan kodal pangandika, kewala di jro ning manah, antuk okane sanunggal, raris ngandika dumredeg, duh nanak sang hayu bapa. Nanak hayu Tirthawati, nah kema tulak enggalang, tunden mai I Narasoma, Tirthawati humatura, inggih sang pandhita, Tirthawati ngraris pesu, tan kocapan di jalan. Tan kocapan sampun prapti, ring pamreman Tirthawatya, sarawuhe ya matedoh, ngandika I Narasoma, adi hayu wawu prapta, napi pangandikan i guru, Tirthawati glis matura. -/- dia bersedia menjadikan hamba sebagai istrinya, dan diangkat sebagai permaisuri, begitu (kata-kata) Narasoma, perkataannya kepada saya. Hati sang pendeta menjadi sesak, mendengar kata-kata putrinya, akan tetapi tidak bersedia (mengemukakan dalam) kata-kata, hanya saja disimpan dalam hati, karena putrinya hanya seorang saja, lalu (ayahnya) berkata dengan gigi gemertak, duhai engkau putri ayah (seorang). Anakkku Ayu Tirthawati, nah segera kamu kembali, suruh I Nara Soma datang ke sini, Tirthawati berkata, baiklah sang pandeta, Tirthawati lalu keluar, tidak diceritakan di jalan. Tidak diceritakan sudah datang, di tempat tidur Tirthawati, begitu datang lalu duduk bersimpuh, berkata I Narasoma, adik cantik baru datang, bagaimana kata-kata ayahmu, Tirthawati cepat berkata.  
/9a/ Inggih sapuniki beli, tityang matur ring padandha, tunas tityang patin idane, manawi ida sweca, inggih beli kapangandikayang, manatuk ring taman santun, parek ring ida sang kayop. Kedeh kayun sang haji, mangda beli matur huninga, manawi ta ida kenaka, Raden Narasoma ngandika, nah jalan ka taman sekar, Tirthawati ngiring sampun, rawuh maring taman sekar. Tan kocapan ya di marggi, sampun rawuh di jro taman, Tirthawati ya matedoh, sareng Raden Narasoma, nanak ngidih kapatyan bapa, bapa tan kaliwat langkung, kedeh nanak suka mamademang. Pangandika ring cening, apang i dewa sahisina, -/- Ya begini kakanda, saya sudah berkata kepada pendeta, saya minta kematiannya (nyawanya), barangkali dia berkenan memberikan, nah kakanda diminta, agar pulang ke Taman Bunga, menghadap kepada orang yang akan mati. Kuat sekali niat sang ayah, agar kakanda yang berkata kepadanya, barangkali dia akan senang, Raden Narasoma berkata, baik mari kita ke Taman Bunga, Tirthawati sudah mengikuti, sesudah sampai di Taman Bunga. Tidak diceritakan dalam perjalanan, sudah sampai di puri Taman Bunga, Tirthawati duduk bersimpuh, bersama dengan Narasoma, anakmu minta kematianmu, ayah tidak akan terlalu menolak, kalau anak memang berniat keras akan membunuh.  
/9b/ mamanjakang Tirthawati, de ning satambete ngonang, katunan antuk daya, twara nawang kangin kawuh, Narasoma matur glisa. Antuk punika sang haji, sampun kamanah antuk tityang, sang pandhita ngandika alon, hene ada panganggon bapa, haji candra bherawa, ento nandang cening nguduh, Narasoma matur alon. Sapunapi hajyan punika, watek candra bherawa, sang pandhita ngandika alon, hene Raden narasoma, watek candra bherawa, yen suba ngarepin musuh, ento enggalang lekasang. Medal raksasa kakalih, galake kalintang-lintang, mati raksasane dadwa, nedadwa dadi -/- patpat, Begitu kta-kataku kepada ananda, agar permintaan ananda terpenuhi, bersedia menjadikan Tirthawati sebagai istri, karena anak itu terlalu bodoh, kekurangan daya pikir, tidak tahu timur barat, Narasoma berkata dengan cepat. Mengenai hal itu ayahanda, sudah saya mengerti di hati saya, sang pendeta berkata dengan lemah lembut, ini ada pakaian (jimat) ayah, bernama Haji Candra Bherawa, itu yang pantas anda gunakan, Narasoma berkata lambat. Bagaimana ajian itu, (untuk membangkitkan) segala bentuk candra bherawa, sang pendeta berkata lemah lembut, begiti Raden Narasoma, segala bentuk candra bherawa, kalau sudha berhadapan dengan musuh, cepat-cepat kesaktian itu diwujudkan. Keluar dua orang raksasa, galaknya luar biasa, mati kedua raksasa itu, yang dua (menjelma) menjadi empat, yang empat dibunuh, sekejap menjadi delapan, terus berlipat ganda seperti itu.  
/10a/ ne patpat kamatyang, sakejap dadi akutus, manikel dadi punika, Raden Narasoma nawurin, punia pamitang tityang, raris ida nguruk reko, kocap glising carita, sampun puput ring wredhaya, glising amangun tutur, durmma anggen nganti tembang. Sang pandhita ngandika ya dumredeg, heh nanak Tirthawati, kalih Raden Narasoma, hene ada gelah bapa, sahisi ning jro puri, bapa nerahang, teken nanak maka kalih. Kalih nrahang kapatyan bapa, Raden Narasoma nawurin, inggih sang pandhita, tityang nupat sang pandhita, kalih tityang matujuhin, di swarga loka Raden Narasoma menjawab, itu yang saya minta, lalu konon dia belajar, konon cerita dipercepat, sudah masuk ke dalam hatinya, cepat menyusun cerita, digantikan dengan tembang durma; Pupuh Durma: Sang Pendeta berkata dengan nada marah, hai engkau Tirthawati anakkku, juga engkau Raden Narasoma, ini ada milik ayah, seluruh isi istana, ayah serahkan, kepada ananda berdua. Yang kedua Ayah menyerahkan kematian ayah, Raden Narasoma menjawab, ya sang pendeta, saya menyupat (membersihkan roh leluhur) sang pendeta, dan saya memberi petunjuk, di sorgaloka, pendeta itu cepat menjawab.  
/10b/ padandha glis nawurin. Nah ne jani lawutang bapa sedayang, Raden Narasoma glis, nebek sang pandhita, medl getih barak, padha teken getih sampi. Sang pandhita ngandika dumedeg, getih apa getih cai, ne kenken katagihang, Raden Narasoma ngucap, ya nesti pandhita lewih, getih manca warona, ento pandhita lewih. Raris mijil getihe amanca, kagyat Narasoma ninghali, ngandika jro ning manah, hene saja pandhita uttama, kewala magoba yaksa, rembesing kusuma, Bhagawan Ganggaspati. Raden Narasoma glis sumahura, inggih ratu sang haji, punika -/- durung uttama, Nah sekarang bunuhlah ayah, Raden Narasoma dengan cepat, menusuk sang pendeta, keluar darah merah, sama dengan darah sapi. Sang pendeta berkata dengan nada marah, darah apa yang kamu minta, yang mana akan kamu inginkan, Raden Narasoma berkata, kalau saja kamu seorang pendeta yang mulia, darah yang lima warna, itu pertanda pendeta mulia. Lalu keluar darah lima warna, Nara Soma terkejut melihat, dalam hatinya dia berkata, ini benar-benar pendeta yang utama, hanya saja berwajah raksasa, terjadi hujan bunga, Bhagawan Ganggaspati. Raden Narasoma cepat menjawab, ya ayanhanda yang mulia,  
/11a/ getihe ne manca warona, yan medal getih putih, ento uttama, raris medal getih putih. Sampun medal getihe uttama, sang pandhita ngandika aris, heh Raden Narasoma, besuk bapa ngawalesang, cai te mahutang pati, teke ning bapa, bapa pacang ngukum pati. Ri wekasan hana prang Bratayudha, ditu bapa managih, nusup ri sang lima sanak, ne ring paling luhura, prabhu lanang mabet istri, magelung kaklingan, di Pandhawa mandiri. Mapesengan Prabhu Dharmmawangwa, Raden Narasoma glis, nawup sang pandhita, sang kayop tumuli pejah, Tirthawati raris nangis, masasambatan, I Togog bareng mangeling. itu belum yang utama, darah yang lima warna itu, kalau keluar darah putih, itu yang utama, lalu keluar darah putih. Setelah keluar darah yang utama, sang pendeta berkata dengan lemah lembut, hai engkau Narasoma, besok ayahanda akan membalas, kamu berhutang nyawa, kepada ayah, ayah akan menghukum mati. Kalau nanti pecah perang Bharatayuddha, disana ayah akan meminta (kematianmu), menyusup kepada lima bersaudara, kepada yang paling sulung, seorang raja lelaki tetapi bergaya perempuan, mengenakan mahkota angklingan, berada di Pandawa. Bernama Prabhu Dharmawangsa, Raden Narasoma dengan cepat memangku sang pendeta, yang hendak dipangku itu lalu meninggal dunia, Tirthawati menangis, sambil berkata-kata, I Togog ikut menangis.  
/11b/ Tirthawati sambil nangis humatura, sapunapi antuk mangkin, layon sang pandhita, glis Raden narasoma, ngandika nene mangkin, kacarita, sampun puput kabhasmi. Raden narasoma ngandika dumedeg, duh hayu Tirthawati, jalan jani budal, ka mandhara ka nagari, marek ring ida sang haji, apang huninga, sang natha lan pramiwwari. Tirthawati sumahur tityang mangiringang, sakenak kayu beli, tityang ngiring pisan, kocap glising carita, gagancangan mangun gurit, sampun mamargga, di Tabla Kancana kapungkurin. Sampun rawuh di tengah alase wayah, sapalan warak sampi, Tirthawati berkata sambil menangis, bagaimana seharusnya kita sekarang, jenazah sang pendeta, cepat Raden Narasoma, berkata bahwa sebaiknya sekarang, diceritakan, sudah selesai dibakar. Raden Narasoma berkata bernada marah, hai engkau Tirthawati, mari sekarang kita pulang, ke kerajaan Mandhara, menghadap kepada ayahku, agar beliau tahu, kepada raja dan permaisuri. Tirthawati menjawab saya ikut saja, terserah kehendak kakanda, saya akan benar-benar ikut, konon cepat cerita, mengarang lagu dengan cepat, sudah berjalan, akhirnya tiba di Tabla Kencana.  
/12a/ sapta beda ning dewa, macan warak paselyab, manadang di margya, Tirthawati, jejehe kaliwat gati. Tirthawati humatur ring Narasoma, sapunapi antuk mangkin, burone keh manadang, Raden Narasoma ngandika, eda jejeh ngajak beli, beli sing keweh, teken burone sami. Bwin satak kene burone manadang, twara beli manirigin, Raden Narasoma, ngarepang nagjagin macan, macan warake malahib, ne iba macan, ta nguda iba malahib. Sampun surup Sanghyang Diwangkara, peteng kaliwat sepi, Raden Narasoma, ngaregep raris ngalekas, medal raksasa kakalih, -/- Setelah tiba di hutan rimba, semua binatang sapi dan badak, tujuh perbedaan dengan dewa, harimau badak berkeliaran, menghadang di jalan, Tirthawati, sangat ketakutan. Tirthawati berkata kepada Narasoma, bagaimana kita sekarang, banyak binatang yang menghadang, Raden Narasoma berkata, jangan engkau takut kalau sudah dengan kakanda, kakanda tidak kesulitan, terhadap semua binatang ini. Ada lagi dua ratus binatang yang menghadang, kakanda tidak akan mundur, Raden Narasoma, menyerang mengejar harimau, harimau badak lari, hai engkau harimau, mengaka kalian lari. Matahari telah terbenam, malam yang sangat sepi, Raden Narasoma, memusatkan pikiran lalu berganti rupa, keluar dua raksasa,  
/12b/ raris manembah, pukulun dewa haji. Dwaning punapi ndawuhin tityang mangkin, pakeweh antuk napi, raris Raden narasoma, ngandika ring i danawa, iba raksasa kakalih, kai kakewehan, bahane majalan wengi. Gustin ibane istri kaleswan, apang iba manggi, raksasa matura, inggih sandika sang natha, mriki bawong tityange linggihin, Sang Tirthawatya, raris ida masunggi. Gelisang mangara tembang, sampun tigang dina di marggi, rawuh sisin nagara, tepi siring mandharaka, raksasane kakalih, sampun kawugang, ring genahne nguni. Bapa Togog kema majalan malunan, hene surat aba mulih, haturang teken sang -/- natha, lalu menyembah, hamba Ratu Sang Prabu. Apa sebabnya paduka memanggil hamba, apa ada kesulitan, lalu Raden Narasoma, berkata kepada raksasa itu, hai engkau raksasa berdua, aku kesulitan, karena harus berjalan pada malam hari. Majikanmu yang perempuan kelelahan, agar kamu tahu, raksasa itu berkata, baiklah sesuai dengan perintah anda duhai Raja, marilah duduk di bahu hamba, Sang Tirthawati lalu diusung di atas bahu. Cepat-cepat dilantunkan dalam lagu, setelah tiga hari di dalam perjalanan, sampai di tepi laut, tapal batas Mandharaka, raksasa berdua, sudah dikembalikan, di tempatnya semula. Bapak Togog sebaiknya berjalan mendahului, ini bawa suratku pulang, sampaikan kepada Raja,  
/13a/ ira dini ngantyang, I Togog nuli mamarggi, kapanangkilan, pepek sami prabhu pati. Sang prabhu katangkil di bancingah, punggawa lan prabhu pati, wenten dawuh tiga, I Togog raris prapta, sang prabhu ngandika aaris, hiba mara teka, I Togog matur glis, Raris manumbah tityang wawu prapta, mwat pakayunan ugi, putran cokor i dewa, puniki surat ida, sang prabhu nampekin, raris kabungah, surate mapulas putih. Raris kawacen ungguhane srat punika, hatur tityang sang haji, tityang mangaturang sembah, ring jeng paduka Bhaþara, antuk lungan tityang mangkin, tur labdheng karyya, polih olih putri asiki, Tityang -/- mangkin di sisin nagara, aku menunggu di sini, I Togog cepat berjalan, menuju ke tempat penghadapan, penuh para raja bawahan sedang menghadap. Raja sedang dihadap di bancingah, para punggawa dan raja-raja bawahan, saat itu kira-kira dauh tiga (jam 9.00), I Togog tiba-tiba muncul, Raja berkata dengan ramah, kamu baru tiba, I Togog cepat menjawab. Lalu menyembah, ya hamba baru tiba, hanya membawa pesan, putra paduka, ini surat beliau, Raja lalu mendekat, lalu (surat) itu dibuka, surat itu berwarna putih. Lalu isi surat itu dibaca, perkataan hamba duhai ayah, saya mempersembahkan hormat, kehadapan paduka Bhatara, mengenai perjalanan saya sekarang, sudah berhasil, mendapatkan seorang perempuan. Sekarang saya berada di tepi pantai,  
/13b/ nantos timbalan sang haji, sapunika hatur tityang, ring linggih cokor i dewa, tityang putran sang haji, I Narasoma, tityang mangkin di panepi. Sampun telas kapaca surat punika, sang prabhu suka ne mangkin, raris mangandika, ring sang mantri punggawa, kema padha lwas, mendakin Raden Mantri. Raris numbah tumenggung mantri bhupatya, tityang manunas mapamita, sang prabhu ngandika, gagambelan padha tedunang, igel-igelane sami, ring joli, pacang mamendakin putri. Gagarak sahutan lawan gagambelan, akeh wong wara-wiri, kulkul maswara, tengerane majalan, tan carita di marggi, gelising carita, sampun rawuh di panepi. menunggu utusan ayahanda, begitulah permohonan saya, kehadapan anda yang saya muliakan, saya putra ayah, I Narasoma, sekarang saya ada di pesisir. Setelah seluruh isi surat itu dibaca, raja sangat senang, sekarang dengan segera berkata, kepada para menteri dan punggawa, sekarang berangkatlah kamu semua, menjemput Raden Mantri (putra Mahkota). Semua tumengggung mantri bupati menyembah, kami semua mohon pamit, Raja berkata, semua bunyi-bunyian agar disiapkan, juga semua tari-tarian, juga tandu, akan menjemput Tuan Putri. Sorak sorai saling bersahutan dengan bunyi-bunyian, banyak orang hilir mudik, kentongan dibunyikan, tanda-tanda sudah berjalan, tidak diceritakan di jalan, cepat diceritakan, sudah sampai di tepi pantai.  
/14a/ Raris medal dane Raden Narasoma, kalih lan Tirthawati, lwir kembang sapasang, tandha mantri padha numbah, cokor i dewa wawu prapti, Raden Narasoma, nganadika ring i patih. Bapa patih ira i tuni suba teka, raris matur rakryan pati, glisang ratu munggah, raris Raden Narasoma, nunggang kuda sekar gambir. Tur mawastra sutra mabikas, nujweng manah makampuh per mas wilis, sinembar pradha, manungklit kris uttama, landheyane togog masadi, hurangkane dhanta, kakandelan mas adi. Raris mamargga kahiring antuk punggawa, tan pedh lwir di tulis, kahiring tatabuhan, di malu ngaba mamas, tan carita di margga, Raden Narasoma lalu keluar, disertai oleh Tirthawati, seperti sepasang bunga, para menteri semuanya menyembah, Tuanku baru saja datang, Raden Narasoma, berkata kepada I Patih (Perdana menteri). Bapak Perdana Menteri saya sudah datang tadi, lalu perdana menteri itu berkata, cepat-cepat paduka naik, lalu Raden Narasoma menunggang kuda Sekar Gambir. Dan mengenakakan kain sutra berkilau, meluluhkan hati mengenakan kampuh hitam berwarna keemasan, dan dilukisi dengan perada, dengan kris pusaka di pinggang, yang tangkainya berupa arca terbuat dari mas dan batu mulia, hulu sarungnya gading gajah, dengan berisi permata batu mulia. Lalu berjalan dengan diiringi oleh para punggawa, tidak terlalu jauh dari yang disuratkan dalam lontar, diiringi oleh bunyi-bunyian, yang paling depan membawa prisai, tidak diceritakan di jalan,  
/14b/ gelising satwa, di bancingah sampun prapti. Sang prabhu raris medal ka bancingah, sareng ring pramiwwari, raris Raden Narasoma, tumedun saking kuda, dampa tepi ring Tirthawati, dyah pramiwwarya, managjagin gipih. Padha gawok maninghalin Tirthawatya, hayune kadi di tulis, twara ada padha, di mandharaka nagara, putrine wahu prapti, dyah prameswarya, uduh cening Tirthawati. Sang prabhu mangraris kajrowan, Raden Narasoma ngiring, tumenggung ki demang, sami ngiring ka jrowan, di jaba tengah katangkil, tan cinarita, ginadha anggenna gending. cepat cerita, sudah sampai dihalaman depan istana. Raja lalu keluar menuju ke halaman depan istana, disertai oleh permaisuri, lalu Raden Narasoma, turun dari kuda, berdampingan dengan Tirthawati, permai suri cepat menjemput. Semua kagum menyaksikan Tuirthawati, cantiknya seperti yang sering diceritakan orang, tidak ada yang menandingi, di negeri Mandharaka, tuan putri baru datang, permaisuri berkata, duhai putriku Tirthawati. Raja lalu segera masuk ke istana, disertai oleh Raden Narasoma, tumenggung dan punggawa, semua menyertai masuk ke istana, dihadap di halaman tengah, tidak diceritakan, menggunakan tembang ginada.  
/15a/ Kacarita di bancingah, sesek jeljel crik kelih, dadape kalawan barong, jogede kalawan gambuh, mangigel sowang-sowangan, baris bedil, gandrunge malalampahan. Surup Sanghyang Diwangkaram rahina maganti wengi, wayang parwane majajar, hane nonton padha lyu, tan kocapan ne di jalan, kocap mangkin, kabawos di panangkilan. Sang prabhu mapahica, teka ning para bhupati, sami padha nadah alon, sang prabhu ka puri sampun, kalih Raden Narasoma, ka jro puri, sang prabhu raris ngajengang. Tirthawati ya mangiring, Raden Narasoma munggah, ngajengang kalawan -/-ibu, Pupuh Ginadha: Diceritakan di halaman luar istana, penuh sesak besar kecil, tari baris dadap dan tari barong, jogged dan gambuh, masing-masing menari, baris yang membawa bedil, tari gandrung yang bercerita lakon. Matahari terbenam dan hari berganti menjadi malam, wayang parwa (wayang orang dengan lakon Mahabharata) sedang berjejer, penontonnya banyak sekali, tidak diceritakan dalam perjalananan, sekarang diceritakan yang sedang terjadi di tempat menghadap. Raja memberikan hadiah kepada semua para bupati, semua menerima dengan halus, Raja sudah masuk ke dalam peraduan, termasuk juga Raden Narasoma, masuk ke peraduan, raja lalu santap. Tirtha wati juga ikut, Raden Narasoma santap, makan bersama ibunya,  
/15b/ kocap glising carita, mangde gati, sang prabhu wusan ngajengang. Sang prabhu raris ngandika, ring Sang Dyah Tirthawati, pangandika manis alon, putran sira jwa i hayu, dewa apa cening magenah, Tirthawati, humatur raris manumbah. Ratu sang prabhu indik tityang, panak sang pandhita yaksi, greha ring Tabla Kancana, memen tityang sampun lampus, bapan tintyang wastanna, Ganggaspati, pandhita Tabla Kancana. Bapan tityang kapademang, antuk ida i beli, anghing sampun kaswastayang, layone kageseng sampun, paripurona rinuruban, umah sami, sampun telas ne katunjel. Engsek sang prabhu ring manah, mireng hatur Tirthawati, konon cerita dipercepat, agar menjadi cepat, ketika Raja sudah selesai santap. Raja lalu berkata, kepada Sang Diah Tirthawati, berkata dengan manis dan halus, anda ini putra siapa, di desa apa tempat tinggal anda, Tirthawati, lalu menjawab dengan menyembah. Duhai Raja, tentang diri hamba, anak seorang pendeta raksasa, rumah di Tabla Kencana, ibu hamba sudah meninggal dunia, ayah hamba bernama Ganggaspati, seorang pendeta dari Tabla Kencana. Ayah hamba dibunuh oleh, beliau kakanda (Raden Narasoma), akan tetapi sudah diswastakan (diupacarai sebagai mana mestinya), jenazah sudah dibakar, dibakar sampai habis, rumah juga semuanya sudah dengan cepat dibakar. Hati sang raja terhenyak, mendengar cerita Tirthawati,  
/16a/ sang prabhu raris ngandika, bendune kalangkung-langkung, cai Raden Narasoma, krana cai, manedayang sang pandhita. Beneh anaku kudu takonang, teken Bhagawan ganggaspati, pedhandha sampun huninga, unduk bapane ne malu, bapa manama tugelan, padha kasih, manama ne padadwanan. Sang prabhu kapakuleman, bendun ida liwat saking, Raden Narasoma, osek ring pangandikan sang prabhu, anghing Raden narasoma, tada wani, matur ring wri narendra. Sampun sami kapakuleman, tan carita di jro puri, carita di panangkilan, ki demang lawan ki demung, padha ya mapamit budal, sampun -/- prapti, Raja laku berkata, dengan sangat marah, kamu Raden Narasoma, mengapa kamu berani membunuh sang pandita. Sebenarnya kamu harus bertanya lebih dahulu, kepada Bhagawan Ganggaspati, peranda yang sudah mengetahui masa lalu bapakmu, ayahmu bersaudara kandung (dengan Ganggaspati), sama-sama saling mengasihi, bersaudara hanya berdua. Raja lalu masuk ke kamar tidurnya, beliau sangat marah, Raden Narasoma, menjadi sangat sedih mendengar cerita Sang Raja, akan tetapi Raden Narasoma, tidak berani, berkata kepada Sang Raja. Semuanya sudah masuk ke kamar tidur, tidak diceritakan dalam istana, diceritakan sekarang di ruang menghadap, Ki Demang dan Ki Demung, semuanya mohon diri untuk pulang, sudah sampai  
/16b/ ya i patih ka bancingah. Sampun wenten pukul tiga, igel-igelane sami, ne mabalih sampun budal, di bancingah sampun suhung, kocap Raden Narasoma, engsek mangkin, sang prabhu kalangkung duka. Sang prabhu raris ngandika, putrane raris kasengin, cai Raden narasoma, kenken kraoa cai ditu, di patapan Tabla Kancana, tekeng Ganggaspati, krana cai manedayang. Raden Narasoma matura, tityang nunas bendwanaji, wireh tityang kadaropon, tambete kalangkung-langkung, tityang ngaturang kasisipan, ring sang haji, heling puput haturang tityang, Kaduk pamarggine iwang, sang -/- natha ngandika haris, Ki Patih lalu ke Bancingah (bagian luar puri). Sudah ada pukul tiga (dini hari), tari-tarian semuanya (sudah selesai), para penonton sudah pulang, di bancingah sudah sepi, konon Raden Narasoma masih sedih, sekarang pikirannya terhenyak, karena Raja marah sekali. Sang Raja lalu berkata, memanggil putranya, kau Raden Narasoma, bagaimana ceritanya kamu samppai di sana, di pertapaan Tabla Kencana, berjumpa dengan Ganggaspati, mengapa kamu membunuhnya. Raden Narasoma berkata, saya mohon ampun atas kemarahan ayahanda, karena saya terburu nafsu, hamba sebenarnya sangat bodoh, saya menyatakan diri bersalah, kehadapan ayahanda, hamba serahkan nyawa hamba. Karena jalan saya telah salah, Raja berkata dengan kasih, kamu terlalu merasa diri serba bisa, hanya menuruti hawa nafsu,  
/17a/ cai te kalangkung bisa, twara cai nuhut angkuh, hidhepang pangajah bapa, kema magedi, bapa teken cai helas. Sang natha kapakoleman, Raden narasoma ngraris, medal ka bancingah reko, I Togog raris humatur, cokor i dewa lungha kija, tityang ngiring, I Narasoma ngandika. Bapa Togog nira lwas, manglalana nira jani, I Togog nuli matura, tityang ngiring jwa i ratu, apang bareng jele melah, tityang ngiring, nak tityang mamanjak. Raris Raden Narasoma, kacarita sampun mamarggi, ucapang di jro pura, Dewi Madri kawuwus, hari -/- sang Narasoma, seharusnya kamu meresapkan pelajaran ayah, sekarang pergilah kamu, ayah dengan kamu telah ikhlas (berpisah). Raja lalu masuk ke tempat tidurnya, Raden Narasoma lalu ke luar menuju bencingah, I Togog cepat menyapa, Anda akan pergi ke mana, saya ikut serta, I Narasoma berkata Bapa Togog aku pergi jauh, aku akan berkelana sekarang, I Togog lagi berkata, saya akan ikut dengan Ratu, baik buruk akang ikut juga, saya ikut, karena saya memang hamba sahaya. Lalu Raden Narasoma, diceritakan sudah berjalan, diceritakan sekarang dalam istana, yang bernama Dewi Madri, adik Sang Narasoma,  
/17b/ raris malahibn, manutug ida i raka. Katutugan ida di jalan, Raden Narasoma glis, ngandika wabdhane alon, adi hayu nguda milu, awak luh pareng lwas, kema mulih, Dewi Madri humatura. Beli tityang bareng lwas, kija beli tityang ngiring, yadin beli pacang seda, mangda sareng tityang lampus, Raden narasoma ngandika, semu brangti, kahunus krise enggal. Raris kahameng-amengang, krise ken Dewi madri, Dewi Madri matur alon, yadin tityang pacang lampus, lamun sampun beli tan ica, tityang ngiring, gelisang tityang pademang, Raris Raden Narasoma, alu lari mengejar mengikuti kakaknya. Beliau tersusul di jalan, Raden Narasoma cepat, berkata dengan perkataan halus, duhai adikku cantik, mengapa ikut, kamu perempuan tidak boleh ikut merantau, sebaiknya anda pulang, Dewi Madri berkata. Kakak, saya ikut pergi, kemana saja kakak saya akan ikut, walaupun kakak akan mati, supaya saya ikut mati, Raden Narasoma berkata, agak marah, lalu menghunus keris dan cepat. Lalu diacung-acungkan, keris itu ke hadapan Dewi Madri, Dewi Madri berkata dengan halus, walaupun saya harus mati, kalau kakak tidak memberikan, saya tetap akan ikut, sebaiknya cepat bunuh saya. Lalu Raden Narasoma  
/18a/ krise kawugang malih, ngandika wbdhane alon, adin beli nagih milu, nah ket jalan lwas, tumuli glis, kahugang ring cacupu mas. Raden Narasoma mamaargga, nusup alas wus adoh punang nagari, pemargin ida anarung, rawuh di tengah alas, tan carita, lampahe Narasoma sampun, kacarita di Mandharaka, sedih kingking Tirthawati. Kalih ida pramiwwarya, langkung sedih putrane hilang maka kalih, pramiwwari glis humatur, inggih sang prabhu, putrane twarada kantun, lanang istri apisanan, sapunapi antuk mangkin. Sang Prabhu Indra Kusuma, mangandika, -/- Pupuh dadurang = Pangkur: kembali memasukkan keris itu dan berkata dengan lambat, duhai adikku memang ingin ikut serta, nah mari kita berjalan, dan (Dewi Madri) disembunyikan dalam periuk kecdil terbuat dari emas. Raden Narasoma berjalan, masuk ke tengah hutan dan sudah jauh dari negaranya, jalannya bergerak dengan cepat, sampai di tengah hutan, tidak diceritakan, perjalanan Narasoma, (sekarang) diceritakan di Mandharaka, Tirthawati sangat sedih. Juga beliau permaisuri, menjadi sangat sedih karena kedua putranya hilang, permaisuri ceoat berkata, duhai sang Raja, kita tidak ada putra lagi, laki perempuan secara bersamaan, bagaimana sekarang kita bertindak. Raja Indra Kusumka lalu berkata,  
/18b/ ring ida pramiwari, ngandika wabdhane halus, duh ida pramiwwarya, depang sakitin, de ning iya salah angkuh, bani ngamatyang bapana, temahannane twara becik. Matur Sang Dyah Tirtawatya, ring sang prabhu hatuare Sang Tirthawati, wenten pangandikan sang lampus, Bhagawan ganggaspatya, pangandikane, pacang ngwalesang lampus, ring okan cokor i dewa, pacang ngwalesang pati. Besuk reke wenten Prang Bratayudha, irika pacang ngwalesang pati, nusup teke satriya puniku, mawasta Dharmma Kusuma, diPandhawa, sapunika pangandikan sang lampus, Bhagawan Ganggaspatya, tur wakti -/- kalintang lewih. kepada permaisurinya, berkata dengan kata-kata yang halus, duhai dinda permaisuriku, biarakan mereka sakit, karena dia telah berbuat salah, berani membunuh ayahnya, karma palanya jelas tidak baik. Lalu berkata Sang Dyah Tirthawati, kepada Raja, kata Sang Tirthawati, ada perkataan beliau yang telah wafat, Bhagawan Ganggaspati, katanya, akan membalaskan kematiannya, terhadap putra paduka, akan membalas kematian. Nanti konon akan ada, Perang Bharatayuddha, di sana saatny akan membalaskan kematian, (areah Ganggaspati) akan menyusup mpada raga seornag kesatrya, bernama Dharma Kusuma, di Pandhawa, begitu kata beliau yang telah wafat, Bhagawan Ganggaspati, yang ternyata sakti mandra guna.  
/19a/ Rah idane amanca warona, trus kawaktin Bhagawan Ganggaspati, sang prabhu ngandika halus, ento edangengspang, pangandikane sang pandhita twara luput, apan ya polih yasa, sakecap kudungan dadi. Ambulto ban ucapang, tan carita sang prabhu di jro puri, Raden narasoma kawuwus, mamarggi di tengah alas, alas wayah, sayan katah bedan ipun, anghing Raden Narasoma, tan kengguh ida di marggi. Pamarggine malon-alonan, nolih kori meling teken Tirthawati, anghing jrihe teken sang prabhu, dane Raden Narasoma, tan carita wenten malih ne kawuwus, ri panagara madhura, Darahnya lima warna, begitulah kesaktian Bhgawan Ganggaspati, Raja berkatya dengan halus, hal itu jangan dilupakan, perkataan sang pendeta tidak pernah gagal, karena beliau memang berhasil dalam tapa bratanya, apa saja yang dikatakannya pasti terjadi. Sebatas itu yang dapat dikatakan, tidak diceritakan lagi tentang Raja dalam istanya, sekarang diceritakan tentang Raden Narasoma, berjalan di tengah hutan, hutan rimba, bertambah banyak gangguannya, akan tetapi Raden Narasoma, tidak pernah takut di jalan. Berjalan dengan santai, melihat ke belakang ingat dengan Tirthawati, namun karena terlalu takut dengan sang raja, beliau Raden Narasoma, tidak diceritakan ada lagi yang dapat diceritakan, di Negara Madhura,  
/19b/ ratu agung nakrawarti. Mapesengan Kontibhoja, ring Maadhura madwe oka kakalih, ne lanang kaliwat bagus, mapasengan Basudewa, nene istri hayune liwat lewih, twara ada papadanna, mapasengan Dewi Kunti. Dewi Kunti nali brata, wahu medal ari-arine yaksi, tur gdhe manukur, teguhe twara padha, Kuntibhoja pangandikane raris sahud, lamun Dewi Kunti neneng, nutugang tuwuh kayang kelih. Masanggup newambarayang, ngundang-undang ratu salahe nagari, yen bisa mademang puniku, ari-arine yaksa, to makatang Dewi Kunti puniku, jani sampun mengpeng deha, sang prabhu nawur punagi. Sang prabhu makarya surat, ada seorang raja yang memerintah. Bernama Kontibhoja, di Maadhura mempunyai anak dua, yang laki tampan sekali, bernama Basudewa, yang perempuan cantik sekali, tidak ada yang menandingi, bernama Dewi Kunthi. Dewi Kunti menunjukkan tanda-tanda yang aneh, ketika baru lahir uri-urinya berwujud raksasa perempuan, kuat tidak ada yang mampu menandingi, Raja Kuntibhoja terlanjur berkata, kalau Dewi Kunti selamat hidup, berlanjut selamat sampai dewasa, (Raja) berjanji mengadakan sayembara, mengundang semua raja dari semua Negara, siapa yang dapat membunuh, ari-ari yang menyerupai raksasa besar, mereka yang berhak mendapatkan Dewi Kunti, sekarang sudah menjadi gadis dewasa, Raja membayar kaulnya. Raja membuat surat,  
/20a/ ring praratune salahe nagari, pacang newambarayang puniku, Dewi Kunti nali brata, kacarita glis sira mangun tutur, kocap glising carita, kahundang sampun prapti. Rahuh kanagara Madhura, jejel supenuhring jro puri, kahodal ida sang prabhu, katangkil di bancingah, pangrawose, pacang newambarayang puniku, sane malih tigang rahina, mangwiwitin masewambari. Tan carita di bancingah, hane nangkil kawuwus di jro puri, Dewi Kuntine puniku, mobot sampun tigang bulan, Basudewa brahmantyane kalangkung, raris Dewi Kunti kajambak, rambute Sang Dewi Kunti. Manangis Dewi Kuntya, (ditujukan) kepada semua raja, agar berkenan mengikuti sayembara itu, ari-ari raksasa milik Dewi Kunti, diceritakan dengan cepat menyusun cerita, konon cerita dipercepat, yang diundang sudah berdatangan. Sampai ke kerajaan Madhura, sudah penuh sesak di istana, lalu Raja keluar, di hadap di bencingah, perkataannya, tentang sayembara itu, lagi tiga hari yang akan datang, sayembara itu akan dimulai. Tidak diceritakan di halaman bencingah (bagian paling luar istana), diceritakan yang sedang menghadap di puri, Dewi Kunti itu, ternyata sudah hamil tiga bulan, Raja Basudewa sangat marah, lalu raja menjambak rambut Dewi Kunti. Dewi Kunti menangis,  
/20b/ masasambatan napi dosan tityange beli, tityang hening jati langkung, Basudewa glis ngandika, lumrah masa sing ada malinge ngaku, twara ngedalemang bapa, undang-undangan sampun prapti. Rambute sampun kajambak, Sang Basudewa raris ngunus kris, Hyang Naradha raris rawuh, maneleg raris ngandika, pangandikane, Hyang Naradha semu halus, nden-nden malu Basudewa, bapa mituturin cai. Rambute Dewi Kunti kalebang, kerise raris kawugang malih, Basudewa glis humatura, singgih Sanghyang Naradha, sapunapi, krana Bhaþara glis rahuh, ngandika Hyang nardha, bapa mituturin cai. Adin cai tan -/- padosa, sambil berkata-kata apa sebenarnya dosa hamba, saya benar-benar masih suci, Basudewa cepat berkata, sangat lumrah mana ada maling mengaku, sampai hati tidak menjaga nama baik ayah, para undangan sudah berdatangan. Rambutnya (Dewi Kunti) sudah dijambak, Raja Basudewa lalu menghunus keris, tiba-tiba datang Hyang Naradha, berdiri tegak lalu berkata, Hyang Naradha berkata dengan wajah ramah, tunda dulu hai Basudewa, ayah akan menceritakan sesuatu. Rambut Dewi Kunti dilepaskan, keris itu dimasukkan ke dalam sarungnya, Basudewa dengan cepat berkata, Duhai Yang Mulia Hyang Naradha, apa sebabnya Ratu Batara cepat sekali datang, Hyang Naradha lalu berkata, Aku datang hendak menasehati kamu. Adikmu tidak berdosa,  
/21a/ jati hening adin caine kelih, Bhaþara Suryya puniku, lungha manglanglang bhuwana, kacingakan adin caine ditu, di taman malancaran, Bhaþara Suryya ningakin. Wenten kayun Bhaþara Suryya, teken Dewi Kunti, Bhaþara tan kayun nuronin, kaman idane raris labuh, ento bakat langkahina, raris beling, ento keto apang cening tahu, unduk ida I Nalibrata, Basudewa matur glis. Inggih tityang Hyang Naradha, sapunapi antuk Bhaþara ngrawosin, Hyang Narada ngandika halus, nah lawutang jalanang, pasewambarane, bapa twah bakal sumanggup manwang belingan punika, apanga waluya jati. Kocap glising -/- carita, adikmu memang benar masih suci, itu Bhatara Surya, sedang pergi berjalan-jalan, dilihatnya adikmu di sana, di taman sedang bermain-main, dilihat oleh Betara Surya. Lalu muncul keinginan (naluri seksual) Betara Surya, terhadap Dewi Kunthi, Batara Surya ingin bersebadan, lalu sperma beliau terjatuh, itu yang dilangkahi (oleh Dewi Kunti), lalu hamil, begitu agar anakda mengetahui, perihal I nalibrata (Dewi Kunti yang memiliki ari-ari raksasa), Basudewa cepat berkata. Baiklah Hyang Naradha, bagaimana cara Betara memecahkan masalahnya, Hyang Naradha berkata dengan ramah, nah silahkan jalankan sayembaranya, aku sanggup mengambil kandungan itu(bayidalam kandungan itu), namun (dewi Kunthi) tetap suci (perawan). Konon cepat diceritakan,  
/21b/ Hyang Naradha sareng ring Dewi Kunti, ngararis ka taman santun, sarawuhe di taman, Hyang Naradha ngandika wabdhane halus, nanak luh kema masiram, Dewi Kunti masiram nglisang. Sahusan ida masiram, raris gelis Ida Dewi Kunti, parek ring Bhaþara Hyang Naradha ngandika halus, nah jani dong kidemang, paningalane Dewi Kunti, inggih sampun, raris Ida Hyang Naradha, ngawastonin Dewi Kunti. Okan dane raris medal saking karona, nanghing te Dewi Kunti, tan meling ida ring kayun, okane sampun di lwar, malih lanang bagus kaliwat langkung, glis Ida Sanghyang Naradha, rarane kakutang glis. Nuli kawadahin tabla,-/- Hyang Naradha dengan Dewi Kunthi, lalu pergi ke taman bunga, sesudah sampai di taman, Hyang Naradha berkata dengan kata-kata halus, hai engkau anak perempuan, silahkan kamu mandi, Dewi Kunthi mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi, lalu dengan cepat Dewi Kunti, menghadap kepada Bhatara Hyang Naradha, yang berkata dengan halus, sekarang pejamkan matamu hai Dewi Kunti, ya sudah, lalu Hyang Nardha memastu (mengeluarkan kata-kata keramat) terhadap Dewi Kunti. Bayinya lalu keluar melalui lubang telinga, akan tetapi Dewi Kunti tidak oernah sadar, kalau bayi dalam kandungan itu sudah lahir, dan lagi laki-laki yang tampoan, lalu dengan ceoat Hyang Naradha, mengambil bayi itu lalu dibuang. Lalu dimasukkan dalam table (kotak dari kayu),  
/22a/ ring panganggo madaging surat akidik, hane madwe putra puniku, okan Bhaþara Suryya, Sang Karona haran punika jajuluk, raris tinutup kang tabla, tablane kanudang glis. Tan kocapan ne kanudang, kacarita Dewi Kuntine mangkin, Hyang Naradha ngandika halus, duh nanak Basudewa, jani siddhayang, pangandikan sang prabhu, lahutang jani masewambara, Nalibrata ajak mulih Bapa mantuk ka swarggan, Hyang Naradha raris makeber glis, Basudewa raris mantuk, sareng Dyah nalibrata, kacarita sampun rawuh, di jro kadhatwan, sampun waluya apadang, tan carita Dewi Kunti. Kacarita di bancingah, disertai pakaian dengan surat sedikit, (yang menyatakan) bahwa anak itu adalah milik Bhatara Surya, diberi nama Sang Karna, lalu kotak itu ditutup, dan kotak itu cepat dihanyutkan. Tidak diceritakan yang sedang hanyut, sekarang diceritakan Dewi Kunti, Hyang Naradha berkata dengan halus, duhai engkau putraku Basudewa, sekarang sudah berhasil, sesuai dengan perkataan seorang raja, silahkan lanjutkan sayembara itu, Dewi Kunti di ajak pulang. Ayah akan pulang ke sorga, Hyang Narada lalu cepat terbang, Basudewa lalu pulang, bersama Dyah Nalibrata, diceritakan sudah datang, di istana, sudah jelas semuanya, tidak diceritakan tentang Dewi Kunti. Diceritakan sekarang di bencingah,  
/22b/ ne nangkilin ratu slahe nagari, pangrawose sampun puput, pacang masewambara, ngamimitin di budha kliwon wara ugu, titi tanggal ping dawa, rah tunggal tenggek ping kalih. Sang Prabhu Kontibhoja mangandika ring Sang prabhu Basukanti, ngandika wabdhane halus, nanak bagus Basudewa, kema kahukin ari-arine tunden pesu, i raksasa Lodra, bapa manahur punagi. Jagurnang maryyam maswara, ring gagambelan kulkul padha mamuni, prasidha karyya sang prabhu, Dewi Kunti raris munggah, kapanggungan apang kacingak ditu, rtu slahe nagari, durmma ya ne mamuni. Kacarita mimitan -/- masayambara, yang menghadap itu adalah raja dari dua puluh lima Negara, pembicaraan sudah selesai, akan mengikuti sayembara, dimulai pada hari Rabu Keliwon minggunya Ugu, tanggalnya sepuluh (hari ke sepuluh setelah bulan mati), satuannya satu dan puluhannya dua (tahun saka xx21). Raja Kontibhoja berkata kepada raja Basukanti, berkata dengan kata-kata halus, anakku Bagus Basudewa, anda tolong panggil agar ari-ari itu keluar, Si Raksasa Lodra, ayah akan membayar kaul. Meriam si Jagur bersuara, dengan gambelan, kentongan juga bersuara, tanda agar pekerjaan Raja sukses, Dewi Kunthi lalu naik, di atas panggung tinggi agar dilihat oleh banyak orang, oleh raja dari dua puluh lima negara, diganti dengan pupuh durma.  
/23a/ i raksasa Lodrapati, raris mangarepang, di tegale ne jimbar, di alun-alun nagari, i raksasa Lodra, manangtangin ya ajurit. Mai nemi raksasa Lodrapatya, ari-arine Dewi Kunti, raris mvetu ring tegal, tumenggung Krettayudha, raris ngarepang majurit, mangaba tumbak, managjagin Lodrapati. Raris numbak i raksasa Lodrapatya, tan hana bisa kanin, teguhe kalintang, raaris Tumenggung Kretabhaya, maruket syate jani, Sang Krettayudha, kasawup teken Lodrapati. Kasabatang Tumenggung Krettayudha, ulung di dewa Pribadi, di nagara tegal, Tumenggung Krettayudha, tan meling ring marggi, Sang Kertayudha, Pupuh Durma: Diceritakan tentang sebab-sebab dilakukannya sayembara, I Raksasa Lodrapati, lalu menampilkan dirinya, di lapangan yang luas, di tanah lapang kerajaan, I Raksasa Lodara lalu menantang perang tanding. Hai engkau Raksasa Lodrapati datanglah kemari, ari-ari dari Dewi Kunthi, tiba-tiba muncul di lapangan, tumenggung Krettayudha, lalu berhadapan perang tanding, membawa tombak, mejemput Raksasa Lodrapati. Lalu menombak raksasa I Lodrapati, tidak luka, sangat kebal, lalu Tumenggung Kretabhaya, berkelahi saling pegang, Sang Krettayudha ditangkap oleh Lodrapati.  
/23b/ tan kacarita ne mangkin. Tumenggung Krettayudha dilemparkan, jatuh di desa Pribadi, di Negara Tegal, Tumenggung Krettayudha tidak tahu jalan, diceritakan sekarang Sang Krettayudha. Kacarita Sang Prabhu Campa nagara, maparab jaya Suwakti, raris mangarepang, managjagin ya numbak, nanghing twara mangundili, Sang Prabhu Campa, kasawup tan bisa ngusik. Kasabatang prabhu Campa nagara, tan hana carita malih, glising carita, kawuwus ida di margi. Kacarita Raden Narasoma, sampun rawuh di nagari, glis ka bancingah, ningak wong masewambara, I Narasoma ningakin, tan kacarita, ne masewambara mangkin. Mangarepang tumenggung Bokapala, mapasengan Suranadi, karep ngaba tumbak, nagjagin raksasa Lodra, teguhe kaliwat wakti. rak I Raksasa Lodrapatya, Diceritakan tentang Raja dari negeri Campa, bernama Jayasusakti, lalu menantang perang, menjerbu lalu menombak, akan tetapi tidak berhasil melukai, Sang Prabu Campa ditangkap, tidak berkutik. Sang Prabu Campa dilemparkan, tidak ada cerita lagi, ceritanya dipercepat, diceritakanlah beliau yang sedang ada di dalam perjalanan. Diceritakan Raden Narasoma, sudah sampai di kerajaan, lalu cepat datang ke bencingah, menyaksikan orang-orang sedang sayembara, I Narasoma melihat, tidak diceritakan mereka yang sedang melakukan sayembara. Tumenggung Bokapala sedang maju, bernama Suranadi, datang dengan membawa tombak, menyerbu ke arah raksasa Lodra, yang sangat kebal. Raksasa Lodrapati tidak terluka sama sekali, Sang Lokapala, ditangkap lalu dipegang,  
/24a/ anghing tan hana mintulin, Sang Lokapala, kasawup raris kagisi, kasabatang Sang Prabhu Lokapala, hulung di nagara Pribadi, tan meling ring raga, Sang Lokapala, tan kacarita malih, nadan kacarita, anake masewambari, Kacarita ratune slahe nagara, undang-undangane sami, tan hana munggguh poliha, sami sampun kasabatang, teken raksasa Lodrapati, ne slahe nagara, undang-undangane sami. Kacarita dane Narasoma parek, ring Basudewa Sang haji, inggi tityang matura, ring palungguh cokor i ewa, tityang manunas mangiring, masewambara, yan tan manawi sisip. Mangandika dane raden Sang Prabu Lokapala dilemparkan, jatuh di negara Pribadi, tidak ingat diri lagi (pingsan), Sang Lokapala, tidak diceritakan lagi, tidak diceritakan, orang-orang yang mengikuti sayembara. Diceritakan raja dari dua puluh lima negara, para undangan semua tidak ada yang berhasil, semua sudah dilemparkan, oleh I Raksasa Lodrapati, yang dua puluh lima negara itu, para undangan semuanya. Diceritakan beliau Narasoma menghadap, kepada Raja Basudewa, baiklah, saya menghaturkan permohonan kehadapan Anda, saya ingin ikut, sayembara, kalau memang tidak menjadikan saya bersalah.  
/24b/ Basudewa, inggih tityang tan sahuning, dane wawu prapta, Raden Narasoma matura, inggih tityang okan nrepati, saking mandharaka, Sang Basudewa nahurin. Inggih durusang beli masewambara, Raden Narasoma nawurin, tityang nunas lugra, ring cokor i dewa, tityang nunas mapamit, Sang Basudewa, rarisang inggih beli. Raris ngarepang dane Narasoma, ring tegal umijil, geleng sang yaksa sura, managjagin Narasoma, Raden Narasoma glis, nebek sang yaksa, tan dumade manungkiling. Glis bangun raksasa Lodrapatya, mangrak mangusak-asik, kasahup I narasoma, makecog sambil nebekin. Raden -/- Narasoma merange Raja Raden Basudewa berkata, baiklah, saya tidak tahu, anda baru saja datang, Raden Narasoma berkata, ya hamba ini putra raja dari Mandharaka, Sang Basudewa menjawab. Ya silahkan kakanda ikut sayembara, Raden Narasoma menjawab, saya minta maaf, kepada anda, saya mohon pamit, Sang Basudewa (berkata) silahkan kakanda. Lalu Narasoma menantang, muncul di lapangan, sang raksasa memandang dengan tajam, mendatangi (menyerang) Narasoma, Narasoma cepat menusuk sang raksasa, sehingga terjungkal. Raksasa Lodra Pati cepat bangun, dengan garang hendak menyerang, Narasoma lalu (hendak) ditangkap, (Narasoma) melompat sambil menusuk.  
/25a/ kalintang, de ning twara bisa kanin, raksasa mangrak, managjagin I Narasoma, Raden Narasoma miris, i raksasa manawup ngelepasin. Raris surup Sanghyang Diwangkara, rahina kaganti wengi, mararyyan mayudha, hane nonton sami budal, benjang pasemengan malih, raksasa Lodra, sampunmanjing ka jro puri. Raden Narasoma raris kadunungan, di umah panagku wakti, nampek ring bancingah, raris Raden Narasoma, ngandika wabdhane manis, raksasa Lodra, teguhe kaliwat wakti. Glis matur I Togog sauning tityang, yan sampun ari-ari, wantah abu punika, Raden Narasoma sangat marah, karena (Raksasa) itu tidak terluka, raksasa itu bersiap akan menyerang Narasoma, Narasoma berkelit, Raksasa tidak berhasil menangkap. Matahari lalu terbenam, siang berganti malam, pertandingan itu berhenti, yang menonton semuanya pulang, besok paginya dimulai lagi, Raksasa Lodra, sudah masuk ke istana. Raden Narasoma lalu ke tempat penginapannya, di rumah seorang pendeta yang sakti, dekat dengan bencingah, lalu Raden Narasoma berkata, berkata dengan kata-kata yang manis, itu Raksasa Lodra, kebal dan sangat sakti. I Togog cepat berkata setahu saya, kalau suah berbentuk ari-ari, dia itu hanya abu,  
/25b/ maratus antuk uyah, madaging kunit akidik, pacang nampurona, makaput antuk upih. Nanghing ampurayang hatur tityang, ring i dewa, Raden narasoma nahurin, nah mani indayang, yen suba nira mayudha, teken raksasa Lodrapati, Raden Narasoma katuran hajengan glis. Raris majengan dane Narasoma, I Togog ya mangiring, anghing masawosan, i mangku glis matura, ampurayang tityang gusti, haturan tityang, wantah tityang wwong miskin. Raden Narasoma nawurin inggih bapa, niki katarima ugi, kocap glising carita, sampun usan majengan, Raden Narasoma mangraris -/- bercampur dengan garam, bersisi sedikit kunir, lalu dicampur, dibungkus dengan upih (pelepah pinang). Akan tetapi maafkan kata-kata hamba, terhadap anda, Raden Narasoma berkata, ya besok akan saya coba, kalau saya sedang berperang, menghadapi raksasa Lodrapati, Raden Narasoma dengan cepat disilahkan makan. Lalu Raden Narasoma makan, ditemani oleh Togog, akan tetapi berlainan, I Mangku cepat berkata, maafkan hamba Ratu, perkataan hamba, sebagai orang miskin. Raden Narasoma menyahut, silahkan bapa, ini saya terima, konon ceritanya dipercepat, setelah selesai makan, Raden Narasoma lalu bergegas  
/26a/ kapakoleman, I Togog ya mangiring. Kocap glising mangiring tembang, ngaba carita malangkah, sampun tatas rahina, raris Raden Narasoma, ka bancingah tumuli glis, i raksasa Lodra, mijil ka bancingah glis. Glis nagjagin raksasa Lodrapatya, Raden narasoma glis, manebek yaksa sura, raris sang yaksa sura, manahup ngalepasin, Raden narasoma, makecos sambil nebekin. Anghing sang yaksa merange tan sapaira, de ning nahup ngalepasin, sambil ngulah Raden Narasoma, galake tan sapira, Raden Narasoma mabalik, nebek yaksa tan kanin. menuju ke tempat tidur, ditemani oleh I Togog. Konon (cerita) dipercepat mengikuti lagu, membawa cerita berlanjut, setelah hari siang, lalu Raden Narasoma, ke bencingah, lalu dengan cepat I Raksasa Lodra, tampil di bancingah. Raksasa Lodrapati cepat menyerbu, Raden Narasoma cepat menusuk, raksasa itu, lalu raksasa itu menangkap tetapi luput, Raden Narasoma melompat sambil menusuk. Namun Raksasa itu sangat marah, karena tidak berhasil menangkap, sambil menghalau Raden Narasoma, galak sekali, Raden Narasoma berbalik, menusuk raksasa tetapi tidak kena.  
/26b/ Glis nagjagin I Togog ya mangaba, abu makaput upih, glis Raden Narasoma, manarima kakaputan, I Togog raris malahib, mangasisiyang, Raden Narasoma glis. Mangjagin i raksasa Lodrapatya, sang yaksa glis nagjagin, sampunang pisan Raden narasoma, manapel matan sang yaksa, antuk abu punika, sang yaksa manumpalik. Raris pvejah sang yaksa Lodrapatya, suryyake mawanti-wanti, malih bedil maswara, kulkul lawan gambelan, suryake lwir ajurit, Sang Nalibrata, turun di panggung glis. I Dewi Kunti managjagin Raden Narasoma, marggi mantuk ka jrowan, tityang -/- mangiring beli, I Togog cepat mengejar sambil membawa abu dibungkus dengan upih, Raden Narasoma dengan cepat menerima bungkusan itu, I Togog lalu lari, ke pinggir, Raden Narasoma dengan cepat. Mengejar I Raksasa Lodrapati, raksasa itu ceat mengejar, jangan sama sekali Raden Narasoima menambal mata raksasa itu dengan abu itu, raksasa itu terjungkal. Raksasa Lodrapati gugur, sorak sorai bersahut-sahutan, juga bedil bersuara, kulul dan gambelan, sorak sorai sedang menang berperang, Sang Nalibrata, cepat turun dari panggung. Dewi Kunti menyongsong Raden Narasoma, mari pulang ke istana, hamba akan menemani kakanda,  
/27a/ Raden narasoma, ngandika bdhane aris. Adi ayu inggih beli mangiringang, Sang Basudewa gipih, adi Narasoma, nunas mantuk kajrowan, Raden narasoma nahurin, tityang ngiringang, sapakayunan beli. Raris mamarggi Sang Basudewa, kajrowan, kahiring rahi kakalih, sampun rawuh di jrowan, di bale panangkilan, sang prabhu ngandika aris, nanak Raden Narasoma, durusang nanak malinggih. Raden Narasoma matur inggih sang natha, tityang nunas lugra ugi, sang natha ngandika, nah mai dini manegak, Raden Narasoma malinggih, Sang Nalibrata, raris ka jrowan gelis. Sang prabhu ngandika dumredeg, Raden Narasoma berkata dengan kata-kata yang mesra. Adinda, ya hamba mengikuti, Sang Basudewa tergesa-gesa, adinda Narasoma, mari pulang ke istana, Raden Narasoma menyahut, saya ikut, sekehendak kakanda. Lalu Sang Basudewa berjalan, ke istana, disertai oleh dua orang adiknya, setelah sampai di istana, di bale tempat menghadap, Raja berkata dengan sopan, anakku Raden Narasoma, silahkan anakda duduk. Raden Narasoma lalu berkata, ya tuanku Raja, saya mohon maaf, Raja berkata, Ya marilah duduk disini, Raden Narasoma duduk, Sang Nalibrata lalu cepat masuk ke dalam. Sang Prabu berkata dengan cepat,  
/27b/ bapa tandruh sawyakti, eda nanak salit manah, de ning bapa twara nawang, saking panagara punapi, putran sapa sira, Narasoma matur glis. Sadyan bapane nanak bisa ngamademang, arin-arin Dewi Kunti, sadyan caine mawak, amunto ban ngucapang, wenten kacarita malih, prabhu Astina, Bhagawan luwih wakti. Mapesengan Ida Bhagawan bhisma, tatiga putrane sami, ne paling duhura, mapesengan Dretarastra, anghing mala twara ningalin, darakeng rat, waktine tani gigisin. Sang panguluwan atengeran Sang Widhura, anghing malane sawyakti, tukul cokornya, malihne paling noman, lemete kaliwat wyakati, baguse ngonang, Ayah memang benar tidak tahu, jangan anda salah paham, karena Ayah memang belum tahu, dari negara mana dan putra siapa, Narasoma cepat berkata Ayah merasa bahagia karena telah dapat membunuh, ari-ari milik Dewi Kunti, bahagianya anda juga, begitu banyak orang membicarakan, konon ada cerita lagi, prabhu Astina, begawan yang sakti sekali. Bernama Bhagawan Bhisma, tiga putranya semua, yang paling tua, bernama Drestarastra, akan tetapi cacat tidak dapat melihat, termashur di dunia, saktinya tidak kepalang tanggung. Yang kedua bernama Sang Widhura, akan tetapi cacat sekali, kakinya bengkok, dan lagi yang paling Nyoman, lemah lunglai, akan tetapi sangat tampan,  
/28a/ Sang Pandhu haraneki, Ida bagawan ngandika, ring Sang Pandhudewa, nanak Pandhu jalan malali, kema ka Madhura, mabalih anak masewambara, newambarayang Dewi Kunti, Prabhu Madhura, mangundang selahe nagari, Raris mamarggi Ida Bhagawan Byasa, Sang Pandhudewamangiring, kalih lan I Semar, kocap glising carita, tan kocapan ida di marggi, gancanging satwa, ring Madhura sampun prapti. Kacarita Sang Prabhu Kuntibhoja, di jaba tengah katangkil, kalih Raden Narasoma, pepek punggawa, Bhagawan Byasa prapta, kapanangkilan, sang prabhu raris nagjagin. Singgih Sanghyang bawu -/- prapta, bernama Sang Pandhu. Ida Baghawan berkata, kepada Sang Pandhudewanata, ananda Pandhu, mari kita berjalan-jalan, ke sana ke Madhura, menonton orang sayembara, mensayembarakan Dewi Kunthi, Prabhu Madura mengundang raja dua puluh mima Negara. Lalu Bhagawan Byasa berjalan, diikuti oleh Sang Pandhu, bersama I Semar, konon cepat cerita, tidak diceritakan di jalan, cepat cerita, telah sampai di Madhura. Diceritakan Sang Prabhu Kuntibhoja, dihadap di luar istana, disertai Raden Narasoma, lengkap dengan punggawa, Bhagawan Byasa datang, ke tempat menghadap, Raja lalu menjemputnya. Ya tuanku yang baru datang,  
/28b/ padandha ngandika aris, beli mara teka, durusang maha Mpu Dhanghyang, mungguh inggih sapangandikan i adi, raris munggaha, ida gdhe malinggih. Sang prabhu malinggih di pungkuran sareng, I Semar mangiring, kocap glising panarita, Sang Prabhu Kontibhoja, matur ring bhagawan glis, ratu padandha, sira punika ngiring. Hana wuri mpu dhanghyang ngadika sang natha, wantah pyanak adi mangiring, i ya I Pandhudewa, sadya beli mangocekang, sang prabhu glis nawurin, inggih bhagawan sampun usan i tuni. pedanda berkata dengan halus, ya kakanda baru datang, silahkan Maha Mpu Danghyang, silahkan duduk, ya sesuai dengan perkataan adinda, lalu duduk, Ida Gede duduk. Sang Prabu ikut duduk di belakang, disertai oleh Ki Semar, konon cepat cerita, Sang Prabhu Kontibhoja, cepat berkata kepada sang bhagawan, Ratu Pedanda, siapa ini yang menyertai anda. Dang Hyang ceoat menjawab perkataan Raja, yang menyertai ini memang anak saya, namanya Pandhudewa, saya memang sdianya iktu mempertandingkan, Raja dengan ceoat menjawab, sudah selesai adi.  
Tlas Selesai  

Babon takepan puniki druwen Ida I Dewa Gdhe Catra, Jro Kanginan Sidemen; malinggih ring Paya, jalan Untung Surapati Gang Plamboyan Nomer 2 Amlapura, Karangasem. Katedun olih I Wayahan Getas ring utah menak Dewa Tista, Kacamatan Abang kabupaten Karangasem. Puput sinurat dina, Bu, Wa. wara Menahil, titi pang ping 12 wawih asadha, iwaka 1912. Tanggal masehi 20 Juni 1990. nanghing ampura sasuratan wwang wimudha.

Iki Gaguritan Narasoma puput katedun duka tanggal 15 Mei 2008 olih I Dewa Ayu Mayun Trisnawati, ksamakna ngwang mudhalpha wastra. Asal Rontal: Nusa Penida, Klungkung. Sane nedunin: I Dewa Ayu Mayun Trisnawati, Jl. Untung Surapati, gang Flamboyan No. 2 Amlapura. Tanggal ketik 7 Mei 2008.

Reference

  • Zoetmulder, Petrus Josephus - Kamus Jawa Kuna - Indonesia (bekerjasama dengan S.O Robson), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1982; fifth print 2006

Source

  • Gagurita Narasoma Nusa Penida, 'Proyek Tik' collection by Dr. H.I.R. Hinzler, Leiden; catalogue number HKS (Hooykaas Ketut Sangka) 7584; Leiden, June 2015. The origina 'Babon' is with Ida I Dewa Gdhe Catra at Amlapura. It was first transliterated by I Wayahan Getas / Dewa Tista in 1990; in May 2008, it was typed for computer by I Dewa Ayu Mayun Trisnawati.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24