Selayang Pandang Nusa Penida (Suada, 2005)

Thanks to advisor Made ‘Bombom’ Widana in Denpasar, this book FINALLY surfaced. Below text takes you through the relevant parts of Suada’s book, which ‘at a flying glance’ presents a plea for improving amenities on the neglected island group of Nusa Penida. Suada talks about its history, culture and political situation around 2001, and takes a close look at the potential for tourism and what room there is for development benefiting its inhabitants. Subheadings and square brackets by G.Dijkman. THIS ARTICLE IS UNDER REVISION.

‘Historical’ Background: observations on mythological folk tales

[p.4] Ada pepatah menyebutkan: “Historia vitae magistra”, artinya: sejarah menjadikan orang bijaksana, demikian sebuah peribahasa menyebutkan. Jadi bukannya sejarah itu ingin membuka luka lama. Sejarah itu dipelajari untuk mengetahui masa lampau karena ada kaitannya dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Sejarah adalah sebagai cermin untuk berbuat yang lebih baik di masa mendatang. Janganlah kita selalu membawa masa lampau ke masa sekarang untuk menimbulkan masalah yang negatif. Sejarah dipelajari untuk mengarah ke hal yang positif, bukan ke hal yang negatif. "Historical Mindedness" demikian Louis Gollcalk dalam bukunya Understanding History. Artinya, dalam meneliti atau menyelidiki masa lampau, kita harus kembalikan pada jiwa jamannya. Sudah jelas maksudnya, jangan masa lampau itu dibawa pada jaman sekarang dengan tujuan yang negatif atau tujuan-tujuan tertentu. Demikian sekedar uraian untuk menambah sedikit wawasan dalam pengetahuan sejarah.

Selayang Pandang online

Di desa Blanjong Sanur, ditemukan sebuah tugu besar dari batu padas berbentuk stamba yang berisi tulisan-tulisan kuna. Bentuknya bulat panjang yang tingginya 177 cm dengan garis tengah 70 cm Pada bagian atasnya berbentuk teratai. Oleh karena sangat pentingnya

[p.5] arti dan tugu tersebut, maka prasastinya disebut "Prasasti Blanjong".

Peninggalan ini merupakan peninggalan yang sangat autentik, sehingga hingga kini menjadi pengawasan Lembaga Purbakala di Bali dan dibuatkan balai kecil untuk melindungi dari kerusakan-kerusakan. Keunikan dari batu yang bertulis itu adalah memakai dua jenis huruf dan dua jenis bahasa (bilingual). Tidak banyak yang dapat diketahui dari isi prasasti tersebut karena telah banyak yang rusak.

Pada bagian huruf yang dapat dibaca menyebutkan tahun pembuatannya dengan candra sengkala yang berbunyi: "Kecara wahni murti'', artinya : Kecara = bintang bernilai 6, Wahni = api bernilai 3, Murti sama dengan badan bernilai 8, sehingga nilai dari candra sengkala itu adalah 836 caka. Pada bagian lain dapat dibaca menyebutkan nama raja Kesari Warmadewa dulu, malahang musuhnya di gurun di Swal: Raja Kesari Warmadewa mengalahkan musuhnya di Gurun dan di Swal. Nama Gurun disamakan dengan Nusa dan nama Swal disamakan dengan Bali.

J.J. de Hollander menyebutkan terkait dengan Nusa Penida "Groen-eiland"*, yang artinya dengan Nusa Gede atau Pulau Penida. Ini adalah suatu pulau besar bebas tergantung dan yang lainnya yang terdiri dari karang kapur, pada tempat masuk dari sebelah selatan Selat Lombok. Pulau tersebut masuk kerajaan Klungkung. (1)

Note 1: J.J. de Hollander, Handleiding bij de beoefening der Land en Volkenkunde van Broese & Compagnie (1898), p.689 [my findings: 1861, p.396].

*) this surely is a mistake, as ‘P.Hidjoe of Groen-eiland’ is said to be located northeast of ‘Laboehan Amok-baai’, probably today’s Gili Tepekong. On the same page 396, just below, De Hollander gives ‘P.Pandita’ = Bandieteneiland, as the name for Nusa Penida.

Disebutkan pada akhir abad XIX itu (1898) penduduknya mencapai sekitar 1000-2000 jiwa. Pulau ini

[p.6] sangat kaya dengan sapi dan babi. Berdasarkan informasi lisan belum lama ini (Maret 2001) sekarang penduduk Nusa Penida sekitar 30.000 orang lebih.  Berdasarkan kenyataan di lapangan sekarang memang sapi dan babi cukup banyak dipelihara di pulau Nusa Penida. Laut antara Nusa Penida dengan Bali disebutkan bemama Veilige Passage yang artinya penyeberangan laut yang aman. Di bagian barat laut dikatakan masih ada pulau kecil. Mungkin yang dimaksud adalah Nusa Ceningan dan Lembongan. Ada sumber bahwa dulu Nusa Penida adalah sebagai tempat pembuangan dari kerajaan Klungkung. Orang-orang yang dibuang ke sana adalah orang-orang yang bagi raja diangkat sebagai orang yang bersalah. "Bandit Island" suatu nama yang disebutkan dalam bukunya disebut (Bernet Kempers, A.J.Monumental Bali, Introduction to Balinese Archaeology, Guide to the Monuments, 1989, p.3).

Disebutkan juga bahwa dialek Nusa sangat berbeda dengan orang-orang yang ada di Bali. Itu menurutnya karena letaknya terpisah dengan Bali. Namun yang tinggal di sana adalah orang-orang Bali. (Bernet Kempers, A.J.Monumental Bali, Introduction to Balinese Archaeology, Guide to the Monuments, 1989, p.37)

Terkait dengan hal ini, ada yang mengartikan Gurun itu sama dengan Nusa Penida, sedangkan Swal [Suwal] artinya pulau Bali. Dengan demikian berita untuk Nusa Penida telah ada sejak jaman Bali Kuna, kalau pendapat tentang nama Gurun itu benar sama dengan Nusa Penida.

Dalam beberapa sumber di Bali ada menyebutkan bahwa raja Bali kuna yang terakhir adalah Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang pusat pemerintahannya di Bataanyar (?) (Mungkin di sekitar Bedahulu sekarang). Nama lain beliau adalah Gajah Watra/Gajah Wahana.

[p.7] Istana beliau di Bedahulu hancur lebur, namun tempat permandian beliau yang disebut Pura Rejuna Metapa masih utuh sampai sekarang. Raja ini dapat dikalahkan oleh kerajaan Majapahit tahun 1343 masehi dan gugur dalam pertempuran di sekitar Bedahulu. Keputusan untuk gugur di medan laga ini diambil setelah putranya yang bernama Madatama gugur melawan bala tentara Majapahit.

Terkait dengan keberadaan Dalem Bungkut yang menjadi penguasa di Nusa Penida, ada sumber [what sources?] yang menyebutkan, bahwa beliau ini adalah salah satu di antara putra dari raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten. Kalau benar pendapat ini, rasional beliau tidak mau tunduk terhadap pemerintahan Dalem di Gelgel, karena masih menaruh dendam. Pemerintahan yang keras dan kurang adil dipakai alasan untuk melakukan serangan oleh kerajaan Gelgel. Laporan tindakan sewenang-wenang tersebut dilaporkan oleh Ki Pasek Bandesa Pangeran Gelgel alias De Gurun Gelgel. Peristiwa ini terjadi tahun 1468. Tindakan pertama dilakukan oleh raja Gelgel adalah dengan mengirimkan Kyai Paminggir untuk mengakhiri kekuasaan Dalem Bungkut

Tindakan kedua dilakukan oleh Dalem Gelgel (Dalem Waturenggong) adalah dengan mengirimkan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol ke Nusa Penida pada tahun 1483. Dengan keris Ki Pencok Saang, riwayat Dalem Bungkut dapat ditamatkan.

[p.8] Terkait dengan nama Dalem Bungkut, memang perlu dianalisa lebih mendalam mengenai masalah nama tersebut. Bungkut dapat diartikan sudah tua, dan dapat pula diartikan Dalem Bali (Penguasa keturunan dari penguasa Bali Kuna). Sedangkan menyangkut nama Nusa Penida, ada yang mengartikan Nusa/pulau yang besar. Pemberian nama ini dapatlah dimengerti karena di antara tiga pulau disana, yakni Nusa Ceningan, Nusa Lembongan dan Nusa Penida sendiri, Nusa Penidalah yang terbesar. Ada juga pendapat menyebutkan bahwa nama Penida itu sama dengan Penida yang berarti tua atau ayah atau beliau yang tertua. Namun ini hanya pendapat saja.

Menurut Babad Blahbatuh, bahwa keberangkatan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol setelah mengalahkan Dalem Bungkutdari Nusa Penida berangkat menuju pantai Kusamba. Barang-barang rampasan yang dibawa waktu itu disebutkan berupa Pacanangan bermata Kawotan dua buah potong keluaran Kilap, Gong Satu Barung dan kendang, 40 bentuk cincin, 10 buah cudamanik dan lain-lain (Babad Blahbatuh, koleksi Gedong Kirtya, Singaraja (lampiran 13b). 

Masihkah perangkat kesenian gong ini sekarang? Kalau masih di manakah. Bila masih, lebih baik dikembalikan ke Nusa Penida dan dimuseumkan. Dengan cara demikian, ada kemungkinan nanti kepariwisataan berkembang di Nusa Penida.

Ratu Gede Mecaling once ruled at Batuan, Sukawati.

[p.9] Dalam masa pemerintahannya di Jungut, Batuan Sukawati, Ratu Gede Mecaling bertindak sewenang-wenang, sehingga penguasa Bali saat itu, yakni Dalem Waturenggong memerintahkan Dewa Babi untuk mengakhiri masa hidupnya. Dalam perang tanding yang terjadi, sama-sama perwira keduanya. Tidak ada yang

terluka akibat tusukan senjata. Oleh karena itulah akhirnya kedua sepakat akan berperang mengadu keutamaan, yakni dengan perjanjian. Siapa yang terbakar tali gulingnya, saat nguling, dialah yang harus pergi dari Jungut. Ada dua macam guling yang memakai tali kupas dan tali benang. Ratu Gede Mecaling memilih tali benang, sedangkan Dewa Babi sisa yang dipilih, yakni memakai tali kupas, ternyata akhirnya yang putus tali gulingnya adalah Ratu Gede.

Mecaling oleh karena itulah beliau yang harus pergi dari Jungut, Batuan Sukawati. Banyak rakyatnya yang mengiringi ke Nusa Penida. Daerah yang dituju adalah Jungut Batu. Dalam masa pemerintahannya di sanapun beliau diberitakan bertindak sewenang-wenang, sehingga dikirimkan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol untuk mengakhiri kekejamannya, sebagaimana telah disebutkan di depan. Kalau benar sumber ini, ada kemungkinan perangkat kesenian dibawa saat pergi dari Batuan, Sukawati (5. Catatan Pribadi I Nyoman Suada).

Folk tale from Nusa Penida

[p.10] I Nyoman Usana, salah seorang dalang dan sekaligus juga sekarang anggota DPRD Tingkat II Klungkung mengemukakan bahwa antara sebenarnya antara Dalem Dukut dan Dalem Bungkut itu sama. Sedangkan Ratu Gede Mecaling itu bukan Dalem Bungkut atau Dalem Dukut yang dimaksud. Ada lagi menurutnya yang disebut Dalem Sawang, putra dari Batari Utari. Beliau berwujud Raksasa. Dalem Dukut lahir hasil dari pengeredanan Ida Batara Toh Langkir. Menyangkut Nusa Ceningan berdasarkan cerita turun-temurun yang didapatkan olehnya, bahwa asalnya dari perahu milik salah seorang bernama I Renggan. la adalah manusia sakti yang ingin memusnahkan Bali.

Ketika I Renggan ngeregep alias memuja, terlihat oleh Ida Batara Toh Langkir. Akhirnya menjadilah I Renggan itu Nusa Ceningan dan Lembongan. Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Galih, menurunkan I Gotra. I Gotra bersemadi di Bias Muntig (Toya Pakeh), ngacep ke Pura Batu di Padangbai. Lalu dianugrahkan oleh Batara Ludra dan wujudnya I Gotra diubah menjadi orang yang macaling.

Dalem Sawang sangat takut dengan diangkatnya Ratu Gede Mecaling sebagai patih Dalem Sawang. Beliau yang banyak patih yang berasal dari Wong Samar. Itu katanya asalnya dari semua bandega yang ada di Nusa dipastu menjadi Wong Samar. Wong Samar itulah dipenntahkan untuk mengusak asik jagat raya ini, terutama membuat grubug. Hal ini diketahui oleh Batara

[p.11] Toh Langkir. Itulah sebabnya beliau murka dan mengambil padang kasna sehingga menjadi senjata "patuk manik dewata (cucuk kedis suwarga).

Setelah merasa andel Dalem Bungkut (Dalem Dukut) dengan kekuatannya, akhirnya mengadu keperwiraan dengan Dalem Sawang. Dalam mengadu keperwiraan ini, Dalem Sawang dapat dikalahkan. Semua patih berupa Wong Samar diserahkan kepada Dalem Dukut. Ketika patih wong samar diserahkan, terjadi bisama. Adapun bisama itu bunyinya antara lain: "Wong samar tan wenang angawag-awag anadah wong, yaning wong pada siaga amaturaken, tan wenang anadahakena" (Note 6: Survai Langsung di Nusa Penida. Di antaranya informasi didapatkan dari I Nyoman Usana, asal Lembongan.)

Berkat mendapatkan anugrah dari Batara Toh Langkir, Dalem Bungkut menjadi sakti dan namanya menjadi terkenal di seluruh jagat, bahkan tersiar sampai di tanah Bali. Oleh karena merasa sakti, akhirnya timbul keangkaramurkaannya. Semua gadis-gadis cantik yang ada di Nusa hams diserahkan kepadanya. Bila ada yang menolak perintahnya, pasti menerima imbalan yang berat seperti dibunuh, nah itulah akhirnya dalam Gelgel mengirimkan I Gusti Ngurah Jelantik Bogol untuk mengakhiri kekejaman Dalem Bungkut dan berhasil.

Kegiatan di Kecamatan Nusa Penida pernah dikatagorikan Program Unggulan Pelestarian Budaya (PUPB) dan Dinas Kebudayaan Bali. Nama obyek adalah Sanghyang Grodog yang jumlahnya 16 sanghyang. Termasuk kesenian sakral, karena dipentaskan terkait dengan upacara keagamaan. Kalau dikategorikan termasuk kategori klasik atau sarat nilai, yang kondisinya

[p.12] temasuk telah pinah. Diharapkan dalam waktu 6 bulan (sekitar bulan Juni 2001 berfungsi kembali).

Diprogramkan agar bisa berfungsi kembali. Dalam memfungsikan kembali telah melibatkan LSM, tokoh budayawan, adat, Dishub. Diprogramkan Juga menginventarisasi gerak dan gending-gending sanghyang itu, latihan-latihan, pengadaan kembali tanaman bunga dan bambu sebagai sarana Tari Sanghyang oleh masyarakat Lembongan-Ceningan, Kekeran desa, Perbaikan Pura Penguntalan karena terkait dengan Tari Sanghyang, Pengadaan buku gending-gending sanghyang, penulisan bisama ke dalam lontar atau prasasti, dan kehiduan pariwisata diupayakan sebagai bagian dari penguatan dana. Yang lain yang perlu dibina antara lain: Drama Calonarang, Pesantian, Angklung, Gong Kebyar, Penulisan Lontar dan Seni Lukis. (Note 7: Survai Langsung di Nusa Penida. Di antaranya informasi didapatkan dari I Nyoman Usana, asal Lembongan)

Dance in Nusa Penida - Gandrung

Sebagaimana halnya di Bali, di Nusa Penida juga ditemukan tari gandrung. Tari Gandrung adalah tari yang masih bertahan yang penarinya berjumlah 3 orang laki-laki. Ketika rombongan Dinas Kebudayaan Bali pernah berkunjung ke Nusa Penida tahun 2002, tari ini sempat dipentaskan di wantilan Pura Dalem Ped. Bila dilihat sepintas, kain bawah yang dipakai penari adalah kain tenun asli Nusa Penida. Gelungan adalah tampaknya terlihat kuna, dan memang benar asli atau kuna menurut beberapa sekaan yang sempat dimintakan informasinya. Pada bagian atas dan belakang gelungan terdapat hiasan

[p.13] bunga, yang sebagian besar dari bunga jepun. Hiasan pada bagian bawah kepala dipakai daun pisang Nusa Penida yang muda, sehingga kelihatannya unik. Di pinggang terselip anteng atau senteng berwarna kuning. Penari memakai kepet. Lamanya kurang lebih satu jam lebih.

Menyangkut gambelan, terdiri atas tingklik, gender seperti gender angklung daun lima, cengceng, klenang, petuk, kemong dan kempur. Dilihat sepintas, sebagian besar gerakan tangan penari kemuka dan ke belakang. Terlihat juga banyak tarian menggerakkan kepala ke samping. Setelah lebih 10 menit keluar semacam pengibing sambil berkata-kata yang tampaknya bernada lucu. Gandrung ini juga hampir mengalami kepunahan.

Oleh karena itulah Dinas Kebudayaan Bali bekerjasama dengan masyarakat di sana agar kesenian khas Nusa Penida itu dilestarikan. Bahkan masyarakat percaya bahwa bila masyarakat tidak melestarikan merasa dosa, bahkan lebih jauh dari itu, selama gandrung tidak dipentaskan, terjadi grubug di Nusa Penida. (Note 8: Pengamatan langsung di Nusa Penida Juni 2001.)

Khusus mengenai Nusa Penida, I Wayan Sutena yang ketua DPRD Klungkung pernah menjelaskan bahwa pariwisata mempunyai harapan yang cerah di masa mendatang. Agar Nusa Penida dapat ditangani dengan baik, maka direncanakan pulau yang kering itu dibagi menjadi tiga kecamatan. Beberapa pasar juga akan dikembangkan. Hingga yang mendapat pasaran baik adalah sarang burung walet. Pulau yang penduduknya kita telah mencapai 35.000 itu. Sapi Nusa Penida katanya juga mempunyai pasaran yang cerah untuk diekspor. (Hasil wawancara dengan I Wayan Sutena, Ketua DPRD Klungkung tahun 1999.)

Baris Jangkang

[p.14] Bari Jangkang adalah kesenian Sakral yang ada di Nusa Penida. Penarinya berjumlah 9 orang laki-laki. Di belakang penari terselip keris. Pakaian serba putih. Baju bertangan panjang. memakai destar yang juga berwarna putih. Membawa tongkat dengan ujungnya berisi bulu ayam. Di belakannya terselip keris. Dilihat sepintas ini, kemungkinan melanbangkan keprajuritan yang siap maju ke medan perang. Di pinggangnya terselip selendang dengan warna yang berbeda-beda di antara penari itu. Setelah menari sekitar 5 minit, keris dihunus dan dipermainkan. Setelah berlangsung kurang lebih 8 minit, selesai. 

Ada dari seorang sekaa memberikan masukan kepada pembina, bahwa dikatakan tarian baik gandrung maupun Baris Jangkang itu seperti "ayam grubugan". Bila perlu harus diadakan perubahan-perubahan. Namun oleh beberapa pembina seperti memberikan komenter bahwa menyangkut soal gerak tari kalau memang khas Nusa Penida dari dulu perlu dipertahankan. Mengingat wilayah Nusa Penida sangat luas, tidak menutup kemungkinan kesenian-kesenian kuna masih banyak yang terpendam, sehingga sangat perlu diadakan penjajagan-penjajagan seperti ke daerah yang agak selatan seperti: ke Suana, Semaya, Pura Batu Madan, Pura Batu Kuning, Pelilit, Tanglad, Wates, Sekartaji, Tabuanan, Soyor, Pejukutan, Sebuluh, Batukandik, Metakih dan Sakti. (Hasil wawancara dengan I Wayan Tangled, Bandesa Adat Lembongan)

Menurut Bandesa Adat Lembongan Ceningan, I Wayan Tangled, bahwa Sangyang Telek yang ada di Desa Adat Lembongan-Ceningan pada mulanya adalah milik

[p.15] kelompok Belasan tahun terakhir Ini Sangyang Telek tidak diaktifkan kembali dengan alasan banyak pendukungnya merantau ke Danpasar. Untuk melestarikan kesenian sakral Sanghyang Telek itu, menurut KADIS Kebudayaan Bali Drs. Ida Bagus Pangjaya kesenian itu lebih baik "anggen tapakan Ida Batara". Banjar yang termasuk desa Adat Lembongan yang berada di Nusa Lembongan ada lima, yakni: Banjar Kauh, Banjar Kangin, Banjar Kaja, Banjar Kelod dan banjar Pedagungan. 

Sedangkan di pulau Ceningan juga terdapat lima banjar yakni Banjar Parangan Tengah, Banjar Amben Tiying, Banjar Anggrek, Banjar Batu Melawang dan Banjar Ceningan Tengah. Perlu juga diketahui bahwa di Lembongan ada dua Kepala Desa, yakni kepala desa Jungut Batu. Desa adat Jungut Batu terdiri dari 4 Banjar, yakni Banjar Kelod, Kangin, Kaja, dan banjar Klatak. (Hasil wawancara dengan I Wayan Tangled, Bandesa Adat Lembongan)

Apabila kita melihat alam Bali tampak kehitam-hitaman dan di sela-sela kehitam-hitaman itu tampak pula embun putih Gunung Agung tampak dengan jelas dari pulau yang bentuknya sepintas seperti kapal udara itu. Pantai bagian utara terutama ombaknya bisa bersahabat, dalam arti tidak begitu keras, namun pada bagian timur dan barat keras, apalagi ketika angin barat datang dengan kencangnya.

Several types of Sanghyang

Desa adat Lembongan dan Ceningan merupakan sebuah obyek budaya yang sangat unik, di mana satu desa mi vang terdiri dari dua pulau kecil menyimpan sejarah

[p.16] perabadan Bali masa silam. Dari karakter budayanya menyiratkan nafas jaman di mana keterkaitannya dengan kerajaan Gelgel dan keberadaan pulau dengan perjalanan Empu Jumpung. Pada jaman ini kehidupan agama masih dipengaruhi oleh kebudayaan Bali Kuna yaitu dengan adanya persembahan Tari Sanghyang. Perjalanan tari ini adalah sebagai wujud bakti sekaligus sebagai cermin norma-norma kehidupan masyarakatnya. Adapun [16] jenis tarian sanghyang itu adalah: Sanghyang Sampat, - Lingga, -Joged,- Jaran, - Dedari, - Menjangan, - Deling-delingan, - Kebo, - Bangan, - Barong, - Tujo, - Perahu, - Kelor, - Bunga, -Ukupan, - Grodog. (Penelitian langsung di Nusa Penida tahun 2001)

Tahun 1970-an kesenian yang sakral ini sudah punah. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan Bali merencanakan akan menghidupkan kembali kesenian yang telah punah ini. Pada pnnsipnya menurut I Nyoman dan I Wayan

[p.17] Tangled, bahwa tarian dari segala jenis sanghyang bertujuan untuk mohon kesclamatan jagat yang ada di daerah Nusa, antara lain di Nusa Lembongan-Ceningan dan Nusa Penida.

Telek

Tari Telek sempat dipentaskan di Wantilan Nusa Lembongan sangat memukau penonton. Penonton dari segala penjuru berdatangan, sehingga jalan yang ada di sebelah timur wantilan macet. Penarinya berjumlah 3 orang, 2 orang wanita dan seorang laki-laki. Pertama yang keluar adalah penari wanita dengan menggunakan tapel berwajah wanita. Pakaian hampir mirip dengan pakaian arja. Namun berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan dari beberapa tokoh tua di Nusa Penida, katanya pakaiannya dari segi bahan telah mengalami perubahan. Setelah berlangsung kurang lebih 10 menit, keluar penari laki-laki dengan pakaian seperti pakaian penari topeng. Tapelnya mirip dengan wajah Rahwana dalam cerita Ramayana. Pertunjukan ini menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit.

Sanghyang

Nusa Penida sangat kaya dengan tari Sanghyang. Tari Sanghyang ini banyak ditemukan di Lembongan. Tari Sanghyang yang penarinya adalah seorang wanita yang berusia sekitar 14 tahun. Prosesnya adalah: Pertama sang penari ditandu oleh seorang wanita menuju arena wantilan. Dibarengi dengan nyanyian oleh sekitar 20

[p.18] orang wanita, Sang Pendari menari mengikuti nyanyian. Bila berhenti, ada seorang wanita yang memegangnya agar penari tetap berdiri. Setalah sekitar 45 menit berlangsung, gegendingan sanghyang dialihkan ki pihak yang laki-laki yang jumlahnya barkisar sekitar 15 orang. Demikian juga penari sanghyang mengikuti nada lagu dari nyanyian itu.  Setelah sekitar 1 jam 15 menit, penari berhenti menari.

Bandesa Adat Lembongan I Wayan Tangled menjelaskan bahwa belasan tahun lalu sanghyang tetap berjalan setiap sasih karo. Pementasan berlangsung selama 6 hari, karena jumlahnya ada 14 sanghyang. Dan setiap satu hari, dipentaskan 2 sanghyang karena yang enam sanghyang itu ada pasangannya. Ketika diminta komentarnya tentang yang bisa menarikan sanghyang, dikatakan siapa saja bisa. Kalau demikian halnya, maka dapat dikatakan bahwa penari sanghyang itu tidak bersifat turun-temurun. Khusus mengenai Sanghyang Ukupan, katanya terkait dengan sesangi. Setiap satu malam, dipentaskan terjadi adu kekuatan dalam mempermainkan sanghyang jaran, tegasnya. Bisa saja sanghyang itu dilempar. Sudah tentu di sana katanya akan tampak kekuatan seseorang dalam mempermainkan sanghyang tersebut. (Hasil wawancara dengan I Wayan Tangled, Juni 2001)

Menyangkut mengenai nyanyian sanghyang, menurut tokoh Nusa Penida yakni Wayan Tangled ada juru gendingnya yang kalau tempo dulu tidak mendapatkan imbalan yang wajar. "la hanya mendapatkan jaja kukus", tutur Tangled. Karena perkembangan jaman

[p.19] pada akhirnya juru gending mendapatkan upah. Itu secara rasional wajar saja, karena demikian sulitnya membuat gending itu.

Namun pada akhirnya kesenian yang bersifat sakral itu dilangsungkan dengan beberapa alasan seperti masalah biaya dan pendukungnya. Yang tak kalah pentingnya menurut Wayan Tangled, bahwa pementasan sanghyang itu memerlukan lapangan yang luas. Menyangkut mengenai masalah bahan pembuatan sanghyang, dicarikan bahannya di sekitar daerah Lembongan maupun di Nusa Gede. Kadang kala bisa saja sanghyang itu beringas, nah itu katanya sanghyang sudah "nadi". 

Menurut Nyoman Usana, bahwa sebagian besar bahan dari sanghyang itu adalah bambu ampel. Pertunjukan bersifat nyatur desa, yang diselanggarakan pada sasih karo pada panglong apisan. la akan berusaha semaksimal mungkin untuk membangkitkan masyarakat dengan berbagai approach. Diharapkan pembinaan-pembinaan terus dilakukan agar masyarakat bangkit. Ketika Drs. Ida Bagus Pangjaya masih menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Bali, pernah menyarankan kepada masyarakat agar tetap melestarikan kesenian yang bersifat sakral ini. "Jangan mendatangkan penguruk dari luar, kalau bila perlu agar orang luar yang belajar di Lembongan. Agar bisa bangkit kembali, anggen wewalen ring pura", saran Pangjaya Pura yang ada di Desa Lembongan jumlanya enam, yakni: Pura Taman, Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, Pura Segara, Pura Sakenan. Sesuai dengan harapan Pangjaya, bahwa tari sanghyang itu agar dipentaskan setiap ada piodalan di

[p.20] pura, sangat cukup. Dengan dipakai sebagai tapakan Ida Batara, niscaya kesenian sakral itu tidak mengalami kepunahan

Bayangan orang sebelumnya terutama yang tidak pernah ke Nusa Lembongan maupun Ceningan, dua pulau kecil ini tidak menyimpan apa-apa. Nyamun ternyata di pulau Lembongan yang bentuknya seperti “Kapal Terbang” dan pulau Ceningan yang bentuknya lonjong itu menyimpan tarian kuna yang sangat bernilai tinggi. Bila ini tidak dilestarikan, kebudayaan Bali akan semakin berkurang dan akan mengurangi taksu atau roh kebudayaan Bali. Kata I Wayan Tangled, bahwa kini telah bangkit sekitar pesantian di Lembongan dan Ceningan. Bahkan katanya di Nusa Lembongan pernah muncul drama gong yang cukup ngetop sekitar tahun 1973.

Sedangkan menyangkut dalam di Lembongan ada 2 dalang, yakni I Nyoman Usana dan Pak Saklat. Keduanya dari banjar Kelod. Di Lembongan saja, kata Wayan Tangled yang telah dipercaya oleh masyarakat Desa Adat Lembongan menjadi Bandesa Adat sejak tahun 1999 hingga kini, jumlah KK yang ada di desa adat ini jumlahnya mendekati 1000 KK dengan penduduk kurang lebih 4000 orang. Dari segi jumlah penduduk, kiranya cukup mendukung bila kesenian sanghyang itu dihidupkan kembali Bila ditambah lagi dengan yang ada di Ceningan, tentunya lebih besar lagi pendukungnya. (Hasil wawancara dengan I Wayan Tangled, Juni 2001)

Kalau mencari pengajar, mengenai yang menjadi sanghyang itu, katanya tidak ada yang mengajar. Katanya kalau memang telah diencep oleh Ida Batara, pasti bisa

[p.21] Penari dengan pernah putusnya tari sanghyang itu dilakukan, maka rakyat di Lembongan masalah yang tidak terselesaikan. Seolah-olah itu disebabkan karena terhentinya pertunjukkan sanghyang itu dengan adanya kepercayaan itu, masyarakat Lembongan dan Ceningan sekarang mulai bangkit lagi untuk menghidupkan kembali tari sanghyang itu. Instansi terkait yakni seperti Dinas Kebudayaan Bali pernah memberikan sport terhadap masyarakat di sana agar mau membangkitkan kembali.

Mudah-mudahan Bali tetap jaya sebagaimana ada orang mengartikan Pulau Bali ini berarti bala atau kuat, walaupun ada yang mengartikan Bali berarti walui atau upacara dan wewalen (tari yang terkait dengan upacara). Marilah kita persatuan dua arti Bali ini, yakni Bali harus tetap kuat mempertahankan budayanya termasuk tari-tari kuna seperti yang ada di Nusa Penida, Ceningan dan Lembongan. (Hasil wawancara dengan I Wayan Tangled, Juni 2001)

  • Source: Suada, Drs. I Nyoman (2005) - Selayang Pandang Nusa Penida (Ditinjau Dari Perspektif Sejarah); Ed. Yayasan Dewata, Denpasar, p.3-21

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. research: Godi Dijkman http://guidomansdijk-talen.nlsocial facebook box white 24